Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 25


__ADS_3

Tiga hari berlalu, malam itu, Feroze membawa Nina menuju hotel D'Cozy milik Queena. Presidential suit adalah kamar yang disiapkan untuk Nina dari Feroze.


"Sayang, kita punya rumah, kenapa harus menginap di hotel? Kamu benar-benar menghina Mama Papa." Nina ngambek karena terus dipaksa untuk menginap di hotel.


Feroze mendekati Nina. Ia memeluk ramping pinggang Nina. "Kamu Kan sudah selesai. Aku pun mau buka puasa. Aku tidak ingin Mama Papa mendengar jeritanmu di malam hari karena kamarmu tidak kedap suara, ya Habibty." Feroze mulai menciumi Nina.


"Dasar mesum! Kamu ini."


Tanpa banyak bicara, Feroze membawa Nina ke atas tempat tidur. Membaringkan Nina lalu menghimpit tubuh Nina. "Aku merindukanmu."


Malam itu pun menjadi malam yang bahagia untuk Feroze untuk melepas hasrat yang ia tahan setelah satu minggu. Tubuh Nina bagai candu untuk Feroze. Tetapi malam itu Feroze sungguh berbeda. Ia hanya melakukan sekali dan meminta Nina untuk istirahat segera. Pukul sepuluh Nina sudah tertidur. Saat Nina tertidur, Feroze keluar pergi dari kamarnya. Feroze masuk ke salah satu kamar. Cukup lama ia barada di sana. Pukul dua belas ia baru keluar dari kamar itu lalu ia kembali ke kamarnya dengan wajah yang sangat bahagia.


Ia masuk kedalam kamar. Betapa terkejutnya Feroze melihat Nina yang terbangun menatapnya.


"Darimana?" tanya Nina pada Feroze.


"Ah... Aku ... Aku dari bawah meminum kopi. Kenapa kamu terbangun?" Feeoze menghampiri Nina, naik ke atas tempat tidur dan duduk disamping Nina memeluk Nina.


Ninamendorong tubuh Feroze.


"Kenapa?" tanya Feroze bingung.


"Kenapa tubuhmu bau parfume perempuan?" tanya Nina dengan wajah marah.


"Hmmmm ini hanya parfume pelayan tadi. Dia memang menggunakan parfume berlebihan."


"Bohong! Ini benar-benar nempel dalam pakaianmu! Kamu pasti berpelukan dengan seorang wanita, kan? Kau jahat Feroze!" Nina menangis merasa kecewa pada Feroze. "Baru saja kamu tidur denganku. Sekarang sudah berpelukan dengan wanita lain."


"Nina, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Mana mungkin aku berpelukan dengan wanita lain. Tidak, Habibty. Ini ..."


"Apa? Ini apa? Jika Kamu tidak berpelukan dengan wanita, bagaimana tubuhmu bau parfume wanita? Kau jahat, Feroze." Nina terus menangis memukul dada Feroze.


Aduh bagaimana ini, bodoh! Kenapa aku harus berpelukan dengannya. Batin Feroze.


"Habibty, please percaya padaku. Aku tidak..."


"Cukup! Kamu pergi sekarang!"


"Nina, ini kamarku juga, kenapa Kamu mengusirku?"


"Oh iya, maaf Sultan Feroze, aku lupa kamar ini, kamu yang membayar. Oke biar aku yang pergi!" Nina beranjak dari tempat tidur. "Awwww" Nina merasa perih di area intimnya. "Sial, rasa sakitnya masih ada dan dia justru berpelukan dengan wanita lain."


"Nina, kau tidak apa-apa?" tanya Feroze panik membantu Nina berdiri namun Nina menolaknya.


"Jangan sentuh aku, Feroze!" Teriak Nina.


Nina berdiri, ia mengambil hijabnya lalu mencoba pergi, tetapi ditahan oleh Feroze.


"Jika kamu tidak ingin melihatku, aku akan keluar dari kamar ini. Istirahatlah." Feroze mengusap kepala Nina namun ditepis Nina.


Feroze pun keluar kamar. Setelah Feroze keluar, Nina menangis sejadi-jadinya. Ia tak menyangka bahwa Feroze berkhianat.


Feroze kembali menuju kamar tadi. Ia masuk.


"Kenapa?" tanya seorang wanita pada Feroze.


"Diusir istriku. Ia mencium bau parfumemu. Ia benar-benar marah padaku. Kau juga kenapa memelukku? Aku sudah katakan jangan buat dia curiga!"


"Halah kau sungguh berlebihan, Feroze. Aku ini saudara kembarmu. Wajarlah memelukmu. Iya, 'kan?" ujar Feroza tersenyum pada Feroze.

__ADS_1


"Terserah padamu, lah. Kapan suamimu kembali? Besok hari special untuk Nina justru dia bekerja dan belum kembali!" Gerutu Feroze.


"Dia akan datang pagi setelah pekerjaannya selesai. Lagian kamu juga mengadakan acara memberitahunya mendadak."


"Ya namanya juga surprise untuk Nina. Sudahlah, aku mau tidur." Feroze berjalan menuju tempat tidur Feroza.


"Eh mau ngapain? Keluar!" Feroza mengusir Feroze.


"Kau yang buat aku diusir, jadi kau harus bertanggung jawab. Sudahlah, aku mengantuk. Besok adalah hati special untuk Nina, aku harus terlihat segar."


"Dasar Feroze!"


Akhirnya, Feroze tidur bersama Feroza karena Nina yang salah paham padanya.


**


Pagi hari pun tiba. Setelah salat subuh, Nina kembali tidur. Semalaman ia menangis hingga subuh. Setelah salat ia baru merasa ngantuk dan tertidur. Tak lama setelah Nina tidur, Feroze masuk kedalam kamar. Nina benar-benar tertidur sangat lelap hingga tak merasakan Feroze yang berbaring dan memeluknya.


Hanya beberapa jam tidur tanpa memeluknya sunggu membuatku tak nyaman. Nina, kau sungguh menjadi hal terpenting dalam kehidupanku. Feroze mengusap wajah Nina yabg terlihat sembab.


Maaf, Habibty. Aku harus membuatmu menangis seperti ini. Tetapi aku janji, malam ini akan menjadi malam Kebahagiaan untukmu. Aku sungguh mencintaimu. Ferose memeluk Nina, lalu ia pun tertidur.


**


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, Nina dan Feroze masih belum keluar kamar membuat semua keluarga merasa heran.


"Kemana Kak Nina? Tumben jam segini belum keluar kamar. Aku bertanya pada pelayan juga tidak qda pesanan di kamar mereka?" tanya Queena.


Feroza hanya tertawa.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Queena.


"Ada kejadian tragis semalam," ujar Feroza.


"Apa yang terjadi?" tanya Nadira.


"Semalam Feroze datang ke kamarku. Tidak sengaja aku memeluknya. Saat ia kembali ke kamar, Nina marah menyangka Feroze selingkuh karena bajunya tercium parfume perempuan sampai ia diusir dari kamar. Sepanjang malam Feroze tidur di kamarku. Baru setelah subuh ia kembali ke kamarnya. Entah sampai sekarang belum melihat mereka lagi. Entah juga apa yang terjadi," ujar Feroza.


"Benarkah? Astaga, hahahahahaha." Semua orang tertawa mendengar perkataan Feroza. Mereka benar-benar tak percaya bahwa seorang Kak Nina bisa cemburu buta juga.


"Kak Nina benar-benar mencintai Feroze ternyata dan yang lebih mengejutkan, kak Nina cemburu."


Di dalam kamar, Nina menatap Feroze yang tertidur Nina kembali terisak mengingat kejadian semalam yang membuat Feroze terbangun.


"Habibty, kenapa Kamu menangis?" Feroze mengusap air mata Nina yang bagai air terjun mengalir.


"Kau jahat Feroze!" Nuna menatap Feroze dengan tatapan yang sangat marah dan kecewa.


"Ninaku sayang, akan aku jelaskan siapa wanita itu. Jangan menangis lagi, ya." Feroze mengecup lembut kening Nina.


"Benar, kan ada perempuan lain?" Nina semakin menangis.


"Habibty, berhentilah menangis. Oke akan aku katakan, perempuan itu Feroza."


"Bohong! Feroza sedang berada di rumah Tante. Untuk apa tengah malam berada di sini? Kamu bohong, 'kan?" Nina kembali menangis.


Feroze meraih ponselnya. Ia menelepon Feroza dan meminta untuk menemuinya dikamar. Tak lama, pintu kamar mereka diketuk. Feroze berjalan membuka pintu.


"Jelaskanlah, aku tidak tega padanya karena terus menangis," ujar Feroze yang sudsh bingung harus berbuat apa.

__ADS_1


Feroza, Queena, Kania dan Nadira hanya tertawa kecil melihat Feroze yang sudsh tak berdaya menghadapi Nina. Mereka semua pun masuk kedalam kamar.


"Ya ampun, ternyata Kakakku bisa menangis karena laki-laki juga," celetuk Kania melihat wajah Nina yang sembab karena menangis semalaman.


Nina yang melihat semuanya tiba-tiba berhenti menangis. "Ka---kalian ngapain di sini?" tanya Nina bingung.


"Kami di sini untuk melihat drama Nyonya dan Tuan Sultan," goda Queena.


Feroza duduk disebelah Nina. "Nina, jangan menangis lagi. Yang semalam bersama Feroze adalah aku. Jika kamu tidak percaya, cium saja tubuhku. Baunya sama seperti yang semalam, kan? Tenang saja, saudara kembarku tidak akan selingkuh." Feroza menghapus sisa air mata Nina.


Nina benar-benar bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa mereka ada di hotel juga.


"Seharusnya ini adalah kejutan untukmu. Tapi, karena terjadi madalah begini ya terpaksa di bongkar. Sebenarnya, sore ini Feroze sudah menyiapkan sebuah resepsi pernikahan untukmu." Tambah Feroza lagi.


"Apa? Resepsi?" Nins terkejut mendengarnya.


"Iya, Habibty, kau tahu, kan kita menikah begitu mendadak. Bahkan kita menumpang resepsi pernikahan Feroza. Jadi, aku sengaja ingin memberi kejutan untukmu malam ini," ujar Feroze.


"Kkhhhmmmm kalian keluar dulu, lah. Aku ingin bicara dengan Feroze," ujar Nina.


"Baiklah."


Mereka semua pun pergi.


Setelah semua pergi, Nina memukul tubuh Feroze. "Dasar menyebalkan! Kenapa kamu tidak bilang akan mengadakan resepsi." Nina terus memukul Feroze.


"Habibty ampun berhentilah. Sakit." Feroze mencoba melindungi wajahnya agar tidak dihajar Nina.


"Menyebalkan! Lihat kondisiku sekarang. Sangat jelek dan buruk! Kenapa kamu tidak bilang semalam jadi aku tidak menangis membuat wajahku sembab begini."


"Nina berhenti." Feroze meraih tangan Nina. "Cukup! Tenanglah. Make up artis bisa menutupinya. Aku tidak memberitahu karena ingin memberimu kejutan. Justru keadaan tak mendukung. Sekarang, bersiaplah menuju spa. Kamu bisa merawat dirimu untuk nanti malam. Sudah ya, jangan marah lagi. Aku sangat mencintaimu, bagaimana mungkin aku menyakitimu. Kemarilah, peluk aku." Feroze menaikkan kedua tangannya menyambut pelukan Nina.


Dengan tersenyum, Nina memeluk Feroze. "Siapa yang menyiapkan nya?" tanya Nina.


"Papa ..."


"Jadi, klien ambassador Inggris itu bohong?" tanya Nina.


"Iya, itu hanya untuk mengelabuimu."


"Yah, baru saja gembira akan mendapat keuntungan besar, ternyata bohong."


"O hello Arinina Feroze Al-Barokh, kamu pikir aku tidak membayar ini semua? Mana ada seorang Feroze ingin gratisan. Wedding organizer, hotel, dan semuanya aku bayar tanpa discount. Kau benar-benar meremehkan suamimu, ya." Feroze mencubit pipi istrinya.


"Ampun, iya aku salah. Maafkan aku." Nina memeluk Feroze.


"Apa kita menggunakan adat Sunda?"


"Heeemmm"


"Pakai mahkota?"


"Tentu, mahkota berlian yang aku pesan khusus sejak lama," ujar Feroze.


"Kenapa harus berlian, sih! Asesoris biasa juga kan bisa. Benar-benar membuang uang!"


"Kamu ini, kan kita bisa turunkan untuk anak kita. Ini adalah sejarah indah untuk kita berdua. Aku harus menyiapkannya dengan sebaik mungkin."


"Baiklah, Sultan Feroze."

__ADS_1


Pada akhirnya, Nina begitu gembira dengan kejutannya. Kita tunggu ya bagaimana resepsi mereka.


To be continue ...


__ADS_2