
Keesokan harinya, seperti biasa, Nina dan Feroze salat subuh berjamaah. Setelah salat, mereka bertilawah beberapa ayat. Rumah itu terasa begitu damai mendengar suara indah Feroze dan Nina. Mereka saling bersahutan membaca ayat suci Alquran.
Setelah selesai, mereka kembali duduk bersama di dekat perapian sembari meminum teh hangat dan beberapa buah kurma ajwa sebelum sarapan. Itulah kebiasaan di keluarga Feroze. Sebelum sarapan atau setelah kegiatan rohani di pagi hari, mereka selalu minum teh hangat dan tujuh butir kurma ajwa
.
Saat itu adalah saat mereka berbincang bersama. Dimana mereka akan berbincang soal apa saja yang akan mereka lakukan pada hari itu. Seperti Feroze yang akan mengadakan meeting di hotelnya beserta dengan semua divisi pada pukul sembilan pagi. Seperti biasa juga, Nina yang harus ikut menemani. Bukan hanya menemani dan duduk di ruang kerja Feroze, tetapi ia juga ikut masuk diruang meeting. Setiap Feroze meeting dimanapun, harus menyiapkan satu kursi khusus untuk sang istri tercinta. Memang tingkat kebucinan Feroze semakin tinggi pada Nina sejak perubahan pada diri Nina.
"Sayang, kamu duduk dulu, aku akan meeting sebentar. Setelah itu, kita akan pergi berkeliling kota," ujar Feroze.
"Habibi, aku tunggu di ruanganmu saja, ya. Aku malu, apalagi staff mu hampir lelaki semua. Memang kamu mau, wajah cantik istrimu ini jadi tontonan para bawahanmu itu." Nina merayu Feroze dengan memeluk Feroze agar ia tak ikut ke ruang meeting.
"Hmmmmmm benar juga, ya. Ya sudah, kamu tunggu di sini. Kalau butuh apa-apa, hubungi staff saja. Aku ke ruang meeting dulu." Feroze pun mengecup bibir Nina, lalu pergi.
Setelah Feroze pergi, Nina pun duduk di kursi kebesaran Feroze. Kursi CEO hotel bintang lima yang mewah. Ia duduk membalikkan kursinya, memandang kota Amsterdam dari lantai dua puluh. Sungguh indah dengan balutan putihnya salju.
"Feroze, Ik hoorde dat je zou komen, dus ik kwam om je te ontmoeten (Feroze, aku dengar kamu datang, jadi aku kemari untuk menemuimu)" Tiba-tiba terdengar seorang wanita datang. Nina yang sedang duduk pun berbalik.
Nina menatap heran pada wanita cantik berambut pirang itu.
"Wie ben jij? waarom zit je op de stoel van Feroze? (Siapa kamu? Kenapa kamu duduk di kursi Feroze?)" tanya wanita itu menatap tajam Nina.
"Ik ben de eigenaar van dit hotel (saya adalah pemilik hotel ini)" ujar Nina tersenyum.
Wanita itu tersenyum sinis pada Nina. Ia menatap Nija dengan tatapan meremehkan. " This is the Feroze's hotel. Get out now before I call security! (Ini adalah hotel milik Feroze. Keluar sekarang, sebelum aku panggil penjaga keamanan!)"
Nina tersenyum. "And Feroze is mine. Whatever Feroze has is mine. (Dan Feroze adalah milikku. Apapun yang dimiliki Feroze adalah milikku)"
"YOU!" Wanita itu terlihat kesal menunjuk wajah Nina.
"Elizabeth! Wat doe je hier? (Elizabeth! Apa yang kamu lakukan disini?)" Terdengar suara Feroze yang datang.
"Feroze." Wanita itu tersenyum bahagia melihat Feroze dan mencoba memeluk Feroze, namun Feroze hentikan.
"Stop it!" Feroze berjalan menghampiri Nina. "Elizabeth, she's my wife Nina."
Elizabeth adalah mantan kekasih Feroze sebelum Nina. Dia yang telah menyakiti Feroze dengan pergi bersama pria lain. Elizabeth dan Feroze kenal saat mereka kuliah dulu. Mereka berkuliah di Amsterdam. Karena sifat Elizabeth yang periang akhirnya Feroze menyukainya, begitu juga Elizabeth. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk bersama. Empat tahun mereka bersama. Feroze pun membangun hotel tersebut awalnya untuk Elizabeth, namun, di tahun ke lima, Elizabeth kepergok selingkuh dengan pria lain. Alasannya, karena Elizabeth tidak mau mengikuti agama Feroze hingga akhirnya Feroze memutuskan Elizabeth. Bertahun-tahun Feroze menutup hatinya untuk banyak wanita hingga bertemu dengan Nina. Kini, Elizabeth mencoba kembali masuk ke dunia Feroze.
"Feroze, siapa dia?" tanya Nina.
__ADS_1
"Mantan kekasihku," jawab Feroze santai.
Nina mencubit pinggang Feroze.
"Habibty, sakit!" Feroze meringis mengusap pinggangnya.
"Hey Feroze, jangan bercanda! Dia penggantiku? Yang benar saja." Elizabeth tertawa sinis.
"Maksudmu apa? Aku tidak pantas bersanding dengan Feroze? Hey kemarilah, akan aku tunjukkan kaca padamu. Kamu pikir kamu pantas untuk Feroze?" Nina tak kalah sengit membalas Elizabeth.
"Hey, kau tahu? Aku cinta pertama Feroze!"
"Terus kenapa? Yang penting, aku cinta terakhirnya dan perlu kamu tahu, aku sudah memberikan anak kembar untuknya. Lalu, apa yang kamu berikan pada Feroze?"
"Kau!" Elizabeth menunjuk Nina.
"Apa?"
Feroze terkejut dengan perkataan Nina. Bahkan mulutnya sampai terbuka, ia tak menyangka, Nina si pendiam dan kalem bisa menyeramkan saat berhadapan dengan 'musuh' nya.
"Akan aku balas kamu!" Elizabeth pergi dengan wajah kesalnya.
"Aku menunggu!" Teriak Nina.
"Kau pikir aku siapa?" Nina melepas tangan Feroze dari bahunya.
Feroze merangkul pinggang Nina tersenyum padanya.
"Apa?" tanya Nina.
"Ternyata sisi dingin Mecca ada padamu ya. Aku pikir, istriku ini kucing angora yang lucu dan menggemaskan. Ternyata harimau betina juga."
"Siapa yang tidak marah jika miliknya yang paling berharga akan direbut? Kucing angora saja akan mengamuk jika ikannya direbut kucing lain," jawab Nina.
"Kamu pikir aku ikan?"
"Kamu juga pikir aku kucing angora?"
"Kamu itu menggemaskan, Darl."
__ADS_1
"Ih panggilan baru lagi. Dengar dari mana tuh Darl Darl ? Jangan-jangan kamu panggil si kuntilanak itu Darling lagi!" Gerutu Nina.
"Kuntilanak? Apa itu?" tanya Feroze.
"Sejenis hantu betina." Nina tertawa.
"Kamu ini." Feroze memeluk Nina.
"Awas ya berani membuka hati untuknya, akan aku bawa Medina dan Mecca jauh dari hidupmu." ancam Nina.
"Inilah alasanku selalu membawamu kemanapun. Agar kamu tidak curiga padaku." Feroze mencolek hidung Nina.
"Untung saja aku di sini, jika tidak, mungkin kuntilanak itu sudah memelukku. Ingatlah! Tubuh ini milikku." Nina menunjuk tubuh Feroze.
"Seperti yang Nyonya Feroze katakan, apapun yang aku miliki, adalah milikmu. Termasuk tubuh ini. ini juga, kau boleh menciumnya." Feroze menunjuk bibirnya.
"Ih itu sih mau nya kamu."
"Ayolah Darl."
"Sudahlah ayo, kamu bilang mau ajak aku jalan-jalan."
"Kiss dulu."
"Tidak, Sultan Feroze."
"Pelit! Ayolah." Feroze merengek.
Nina tertawa kecil, lalu mengecup bibir Feroze.
"Ahhhh bagaimana aku tergoda Elizabeth dan wanita lain, jika dalam hati dan pikiranku hanya penuh dengan nama Arinina? Ayolah kita pergi, lama-lama berduaan denganmu, Malaikat terus membisikkan sesuatu."
"Apa?" tanya Nina.
"Memberimu nafkah batin." Bisik Feroze.
"Kau ini." Nina memukul bahu Feroze manja.
"Sudah ayo, kamu sungguh menggoda, Nina. Lama-lama denganmu aku tidak tahan."
__ADS_1
Akhirnya Feroze dan Nina pun pergi untuk jalan-jalan di Amsterdam. Menikmati baby moon mereka tanpa anak-anak rusuh nya itu.
To be continue ....