Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 28


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Kevin, Nina menjadi berubah. Nina yang awalnya pendiam, ia semakin diam. Ketika Feroze ingin menyentuhnya pun, banyak alasan yang Nina berikan. Feroze benar-benar bingung dengan perubahan Nina.


Saat itu, Nina sedang berdiri di balkon. Feroze menghampiri Nina menyelimuti Nina dengan selimut, lalu memeluk Nina dari belakang. "Habibty, ini sudah larut. Ayo kita masuk. Angin malam sungguh tidak baik untukmu."


"Tinggalkan aku sendiri, Feroze." Nina melepas pelukan Feroze tanpa menatapnya.


Feroze yang benar-benar jengkel dengan sikap Nina yang berubah, menarik tangan Nina membawanya masuk kedalam kamar. Feroze hempaskan tubuh Nina hingga Nina terduduk di atas tempat tidur. Nina benar-benar terkejut dengan perlakuan Feroze. Feroze medekatkan dirinya pada Nina. Kini wajah mereka begitu dekat.


"Apa yang terjadi padamu, Nina? Kenapa kau mengacuhkanku sejak resepsi pernikahan? Apa salahku padamu?" Feroze terus menatap Nina.


Nina yang tidak sanggup menatap Feroze yanya memalingkan wajahnya. Feroze meraih dagu Nina, memaksanya menatap mata Feroze.


"Katakan! Apa yang terjadi?" tanya Feroze.


Nina masih diam tak menjawab pertanyaan Feroze.


"Arinina! Jawab aku!" bentak Feroze.


Dengan penuh keberanian, Nina menatap Feroze. "Aku ingin bercerai!" ujar Nina dengan tegas.


Deg! Jantung Feroze seperti tersayat pedang mendengar perkataan Nina.


"Apa kamu bilang?" tanya Feroze tak percaya apa yang ia dengar.


"Kita bercerai." ujar Nina penuh penegasan.


Feroze yang tak percaya perkataan Nina, mundur menjauh.


"Lebih baik kita bercerai." Kembali Nina mengatakannya.


"Apa yang kamu makan, Nina! Kenapa tiba-tiba ingin berpisah? Apa salahku padamu?" Feroze menatap Nina dengan mata yang berkaca.


"Ini bukan salahmu, ini salahku. Daripada semakin dalam perasaan kita, lebih baik kita berpisah segera


," jawab Nina dengan menahan air matanya.


"Kau!" Feroze menunjuk Nina dengan amarah yang memuncak.


Feroze tiba-tiba keluar dari kamarnya. Sedangkan Nina, ia menangis terisak melepaskan semua yang ia tahan. "Maafkan aku, Feroze." Nina terus menangis.


Nina mengemasi pakaiannya. Ia ingin kembali ke tanah air malam itu juga. Setelah mengemas barang, Nina menuju ruang kerja dimana Feroze berada sekarang. Nina begitu terkejut melihat ruang kerja yang berantakan. Terlihat Feroze berdiri menopang tubunya dengan kedua tangannya di meja.


"Feroze ..."

__ADS_1


Feroze yang dipanggil menoleh. Feroze terkejut melihat Nina membawa koper. Ia menghampiri Nina. Meraih tangannya.


"Kau mau kemana?" tanya Feroze.


Nina melepas paksa genggaman tangan Feroze. "Aku ingin kembali ke Indonesia," ujar Nina.


"Tidak! Kamu tidak boleh pergi, Nina! Kau istriku dan selamanya akan tetap sama!" ujar Feroze yang mencengkram tangan Nina.


"Tidak, Feroze. Aku ingin berpisah. Lepaskan aku. Kamu bisa mencari wanita yang lebih layak."


"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi!" Feroze melempar koper Nina. Ia menarik tangan Nina dengan kasar, membawa Nina pergi.


"Feroze lepas!" Nina terus memberontak.


Karena begitu kesal, Feroze meraih tubuh Nina dan menggendongnya.


"Lepaskan aku! Aku ingin pergi!" Nina memukuli punggung Feroze. Namun semua sia-sia.


Feroze membawa Nina menuju kamarnya. Mereka masuk. Feroze menghempaskan tubuh Nina di atas tempat tidur. Feroze menghimpit tubuh Nina.


"Kau istriku. Selamanya kau akan menjadi istriku! Lewati mayatku jika ingin lepas dariku!" Feroze melepas paksa hijab Nina. Ia menciumi Nina dengan kasarnya.


"Lepas, Feroze!" Nina terus berontak.


Semakin Nina berontak, semakin buas Feroze mencumbu Nina. Feroze merobek paksa pakaian Nina. Nina yang kalah tenaga akhirnya tak bisa melakukan apapun, ia hanya menangis. Feroze mencumbu Nina dengan kasar. Ia tak seperti Feroze sebelumnya yang lembut saat mencumbu Nina.


"Aku sudah melakukan yang terbaik untukmu. Merendahkan diriku untukmu! Tapi apa balasanmu untukku? Kalau dengan cara kasar bisa membuatmu disampingku, akan aku lakukan!" Feroze meraih pakaiannya, memakainya, lalu pergi keluar kamar dengan mengunci kamar Nina.


Nina menangis tersedu-sedu mencengkram selimut yang menutupi tubuhnya.


Feroze menuju ruang gym. Feroze yang marah terus menerus meninju samsak. Ia melempari benda yang ia bisa raih. "Nina..." Teriak Feroze penuh amarah.


Feroze benar-benar menyakiti dirinya untuk mengalihkan perasaan sakit dalam dadanya. Semua orang menghampiri ruang gym dimana terdengar begitu ribut.


"Sultan ..." Fayez begitu terkejut melihat ruang gym yang sudah hancur terlebih melihat Feroze yang penuh luka bekas pecahan kaca bahkan kepalanya berlumuran darah. Dengan cepat, Fayez meraih tubuh Feroze yang sedang mengamuk itu.


"Lepaskan aku, Fayez!" Bentak Feroze.


"Sultan, berhentilah." Fayez terus menahan tubuh Feroze.


"Lepas, Fayez!" Bentak Feroze kembali.


Tiba-tiba tubuh Feroze ambruk terduduk. Ia menangis.

__ADS_1


"Pergilah kalian, hubungi Sheikh Hanafi dan Madame," ujar Fayez pada Pelayan yang melihat kejadian ini.


Feroze benar-benar terpuruk. Ia terus menunduk menangis. Hingga tiba-tiba Feroze pingsan. Dengan cepat, Fayez membawa Feroze menuju mobil dan menuju rumah sakit.


Setengah jam berlalu, Fayez sampai di ruang IGD. Dengan cepat, mereka menangani Feroze.


"Dokter bagaimana?" tanya Fayez yang panik.


"Kita harus segera melakukan operasi. Keadaan sultan cukup parah kepalanya mengalami luka karena bekas hantaman benda tumpul. Dan Sultan kehilangan banyak darah. Kita butuh transfusi darah segera. Tetapi, darah Sultan begitu langka O negative. Kita tidak memilikinya. Juga sudah menghubungi bank darah jenis O negative sedang kosong. Apakah keluarga Sultan ada yang memiliki darah yang sama? Jika ada, Kita harus segera melakukan transfusi darah," ujar Dokter.


"Rawatlah Sultan dengan baik. Soal darah, saya akan mencarinya," ujar Fayez.


"Baiklah, Saya permisi." Dokter pun pergi.


"Madame Aisyah memiliki darah yang sama dengan Sultan Feroze. Tetapi, keadaan Madame tidak memungkinkan untuk transfusi darah." Fayez terus berfikir. "Ah... Madame Feroza."


Dengan cepat, Fayez meraih ponselnya menelepon Feroza.


"Assalamualaikum, Madame." Fayez mengucap salam.


"Waalaikumsalam. Ada apa, Fayez?" tanya Feroza.


Fayez pun menceritakan segalanya pada Feroza. Feroza begitu terkejut dengan apa yang ia dengar. Feroza menangis mendengar Saudara kembarnya terluka parah.


"Aku akan kembali sekarang juga. Jagalah Feroze."


"Baik, Madame."


Mereka pun memutuskan panggilannya.


"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Irsyad yang melihat Feroza menangis.


"Aku harus pulang ke Dubai sekarang juga. Aku mohon siapkan pesawat jet, Irsyad." ujar Feroza menangis.


"Apa yang terjadi?" tanya Irsyad bingung.


Feroze menceritakan segalanya pada Irsyad. Irsyad begitu terkejut dengan perkataan Feroza.


"Aku belum tahu apa yang terjadi pada Feroze. Tapi, aku harus segera kembali. Feroze butuh darahku," ujar Feroza terus menangis.


"Tenanglah. Aku akan menelepon Nizam untuk menyiapkan semuanya. Bersiaplah." Irsyad menelepon Nizam untuk menyiapkan segalanya segera.


Irsyad pun menelepon Queena. Menjelaskan segalanya pada Queena. Tak lupa, Irsyad menelepon Arsyad juga mengatakan pada Eriska dan Dito juga. Eriska pun segera menghubungi Vita dan Tian.

__ADS_1


Apa yang terjadi pada Feroze? Queena bertanya-tanya.


To be continue ...


__ADS_2