Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 30


__ADS_3

Tak lama, Baba dan Ummu sampai di rumah sakit. Dengan wajah panik, Ummu dan Baba menghampiri Nina, Fayez dan Musa.


"Nina ..." Panggil Ummu pada Nina.


"Ummu ..." Nina menangis memeluk Ummu.


"Apa yang terjadi pada Feroze?" tanya Baba.


Nina yang mendengar pertanyaan Baba sungguh merasa takut. Apa yang akan mereka pikirkan jika mereka tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Feroze ..." Sebelum mengatakan, Fayez berbicara terlebih dahulu.


"Sultan kecelakaan saat pulang bekerja, Sheikh," jawab Fayez.


Nina yang mendengar, merasa terkejut menatap Fayez.


"Bagaimana mungkin? Bukankah ia masuk rumah sakit tengah malam?" tanya Ummu.


"Sultan memang lembur, ia menolak diantar supir. Mungkin karena lelah, Sultan mengantuk lalu menabrak pembatas jalan," jawab Fayez kembali.


"Lalu, bagaimana keadaannya?" tanya Baba.


"Sultan masih kritis. Kepalanya mengalami pendarahan. Sultan harus di operasi. Tapi, stok darah O negative sedang kosong. Maka dari itu, kami menunggu Madame Feroza sampai terlebih dahulu untuk melakukan transfusi darah," ujar Fayez.


"Ambillah darahku. Darahku sama dengan Feroze," ujar Ummu yang sudah menangis dan panik.


"Madame tidak bisa melakukan transfusi darah karena keadaan Madame yang tidak sehat. Tenanglah, Madame. Sebentar lagi Madame Feroza sampai," ujar Fayez.


Sepanjang subuh itu, kelima nya duduk menunggu Feroze. Fayez menghampiri Musa. Ia membawa Musa untuk berbicara agak jauh.


"Musa, pulanglah. Urus semua kekacauan di sana. Katakan pada semua pelayan untuk menutup mulut atas kejadian ini. Jangan sampai keluarga tahu apa yang terjadi sebenarnya."


"Tapi kenapa?" tanya Musa.


"Sudahlah, ini pesan dari Madame Balqis.


Cepatlah pulang bereskan tempat gym seperti semula. Ingatlah untuk menutup mulut para pelayang."


"Apakah ini berhubungan dengan Madame Nina?" tanya Musa.


Fayez hanya mengangkat kedua bahunya. "Cepat pulanglah."


Musa mengangguk, lalu pergi.

__ADS_1


**


Semua yang dari Indonesia telah sampai di rumah sakit. Queena, Alif, Triplets G, Feroza, Irsyad, Eriska, Dito, Vita dan Tian berjalan cepat mwnuju ruang ICU.


"Ummu." Feroza berlari menghampiri Ummu nya lalu memeluknya. Ia menangis memeluk Ummu.


"Feroze..." Feroza menangis.


"Nina ..." Vita memanggil Nina yang sedang termenung. Wajah Nina benar-benar sembab dan tatapan penuh penyesalan.


"Mama ..." Nina menangis memeluk Nina.


"Sabarlah, Sayang." Vuta mengusap lembut punggung Nina.


"Madame ..." Fayez menghampiri Feroza.


"Bagaimana?" tanya Feroza.


"Madame istirahatlah sebentar. Madame baru saja sampai, kan?"


"Tidak bisa, Fayez! Kita tidak bisa mengulur waktu mempertaruhkan nyawa saudara kembarku! Cepat bawa aku untuk transfusi darah," ujar Feroza yang air mata nya terus jatuh. "Cukup sekali aku hampir kehilangannya. Aku tidak ingin lagi."


"Baiklah, Madame. Mari, ikut saya."


Feroza menatap Irsyad. Irsyad hanya mengangguk. Feroza dan Fayez pun pergi. Mendengarkan perkataan Feroza, Nina benar-benar semakin merasa bersalah. Air matanya semakin cepat turun. Queena yang menatap Nina merasa semakin tahu bahwa kecelakaan ini memang karena mereka bertengkar.


Queena menghampiri Nina yang sedang duduk menangis.


"Kak, ayo ikut aku." Queena meraih tangan Nina.


Nina pun berdiri mengikuti Queena. Mereka berjalan menuju taman belakang rumah sakit. Taman yang bersih juga asri dengan angin yang cukup untuk menyejukkan.


"Nyonya, ini." Musa memberikan sandwich dan teh hangat.


"Terimakasih. Pergilah," titah Queena.


Musa pun pergi. Setelah kepergian Musa, Nina menangis sejadi-jadinya.


"Aku sangat jahat, Queen." Nina terus menangis histeris. Ia lepaskan tangisan yang ia tahan.


Queena memeluk Kakaknya itu. Awalnya Queena ingin marah pada Nina. Tetapi, melihat kondisi Nina yang benar-benar terpuruk hatinya ikut sedih.


"Aku istri yang buruk. Aku tidak pantas untuk Feroze." Nina terus menangis merasa bersalah.

__ADS_1


"Tenanglah, Kak. Feroze pria yang kuat."


Tiga puluh menit berlalu, tangisan Nina sudah mulai reda. Pertanda Nina sudah mulai tenang.


"Katakanlah, apa yang terjadi?" tanya Queena.


Nina menatap Queena ragu. Ia sungguh takut mengatakan apa yang terjadi.


"Tenanglah, aku disini akan membantu Kakak." Queena mengusap air mata Nina.


Nina pun menceritakan segalanya. Dimana ia meminta cerai pada Feroze, tetapi Feroze menolak dengan keras. Ia bahkan ingin kembali ke Indonesia mengurus perceraiannya hingga membuat Feroze murka. Mendengarnya, Queena memijat kepalanya.


"Astagfirullah Kak Nina, apa karena Kevin lagi?" tanya Queena.


Nina hanya mengangguk.


Queena mendengus kesal.


"Aku hanya merasa bersalah melanggar janjiku padanya. Aku tidak mau menjadi orang yang melanggar janjiku."


"Apa Kakak sadar kalau apa yang Kakak lakukan sekarang melanggar janji pada Suami Kakak dan lebih parah melanggar janji pada Allah?" Kesal Queena.


Deg! Nina merasa tertusuk mendengar perkataan Queena. Ia menatap Queena.


Queena menghela napasnya dengan berat.


"Aku tidak mengerti padamu, Kak. Dimana Kak Nina-ku yang dewasa dan memiliki pemikiran bijak? Kenapa sejak menikah mejadi labil seperti ini? Kakak lebih paham tentang makna takdir diantara kita adik-adikmu, kan? Apa Kakak ingat apa yang Kakak katakan saat aku patah hati oleh Langit? Dan tiba-tiba dipaksa menikah dengan Bang Alif?"


"Ini semua takdir terbaik untukmu, Queena. Langit bukan yang terbaik untukmu. Allah masih sayang menunjukkan keburukannya sebelum kalian bersatu. Dan Alif, Alif adalah takdir terbaik yang Allah berikan untukmu. Terimalah. Apa yang menurutmu baik, belum tentu terbaik menurut Allah. Begitu juga sebaliknya. Itu kan yang Kakak katakan padaku? Apa Kakak lupa dengan perkataan Kakak sendiri? Kakak juga bilang Kakak percaya takdir, kan? Semua orang menganggap kakak itu aneh, hanya percaya cinta pada pandangan pertama. Sampai diusia tiga puluh tahun Kakak belum menikah hingga Kakak bertemu Feroze. Cinta pada pandangan pertama yang selalu Kakak harapkan. Itu takdir dari Allah. Jika kakak tidak punya pemikiran aneh itu, jodoh kakak bukan Feroze. Tapi, ini semua takdir Kakak. Kakak tidak bisa melawan takdir!"


Nina hanya diam dengan perkataan Queena. Apa yang dikatakan Queena memang benar. Tetapi, ia masih keras kepala merasa bersalah pada Kevin.


"Setelah Kakak bercerai dari Feroze, lalu apa yang mau kakak lakukan? Menikah dengan Kevin? Apakah itu membuat Kakak bahagia?" tanya Queena.


Nina hanya menunduk.


"Katakan padaku, apa itu yang membuat Kakak bahagia? Jika memang itu yang membuat Kakak bahagia, aku akan membantu Kakak untuk bercerai dari Feroze. Raihlah apa yang kakak mau. Cukup sakiti Feroze. Sejak Kakak kenal Feroze, apa Kakak pernah melihat perjuangannya? Apa Kakak pernah melihat ketulusannya?" Queena mulai menangis. "Feroze pria yang baik, Kakak. Meski dia selalu berlebihan, tapi ia tulus. Aku tidak pernah melihat Feroze seberjuang ini demi mendapat seorang Wanita. Cukup sakiti dia, Kakak. Kakak memang Kakakku, tapi Feroze juga Kakakku. Sebelum aku menikah, Feroze lah yang selalu menjadi pelindungku. Aku tidak tahan melihat dia menderita seperti ini. Kali ini, Kakak benar-benar menyakitinya."


Queena benar-benar tak tahan melihat Feroze seperti ini. Hatinya begitu hancur melihat keadaan Feroze dan merasa kecewa pada Nina yang menyakiti perasaan Feroze.


"Aku serius. Jika Kakak ingin berpisah dari Feroze, akan aku bantu Kakak. Daripada kalian saling menyakiti, lebih baik kalian berpisah." Queena berdiri, lalu pergi meninggalkan Nina sendiri yang masih terpaku disana.


Nina meremas sandwich yang diberikan Queena tadi. Lagi dan lagi ia hanya bisa menangis.

__ADS_1


Apakah aku akan bahagia jika berpisah dengan Feroze? Kehilangan pria yang aku cintai? Kehilangan senyuman dan tatapan penuh cintanya? Feroze ...


To be continue ...


__ADS_2