Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 13


__ADS_3

Sepanjang malam Feroze tidak bisa tidur karena merasa bersalah pada Nina. Ia merutuki dirinya sendiri karena sudah memperlakukan Nina dengan tidak baik bahkan sampai membuat Nina menangis.


Feroze berjalan menuju mushollah yang berada di rumahnya. Dengan menggunakan gamis putih serta membawa Alquran, Feroze duduk di mushollah itu. Ia mulai sholat sunnah. Ia merasa berdosa sudah berbuat jahat pada gadis polos itu.


Ya Allah, ampuni dosaku. Ampuni aku. Aku sungguh khilaf. Feroze terus meminta ampun.


Ia berdiri berjalan cepat dengan wajah penuh penyesalan. Feroze pergi menuju kamar Nina. Ia berniat untuk meminta maaf. Jika menunggu besok, pasti Nina tidak akan mau menemuinya.


Feroze mengetuk pintu. Tak lama, Nina membuka. Betapa terkejutnya Nina saat melihat siapa yang datang. Dehgan segera Nina menutup pintu, tetapi tangan Feroze tak kalah cepat menahan pintu.


"Nina, aku mohon jangan tutup pintunya."


"Pergi!" ujar Nina dengan perasaan yang masih kecewa pada Feroze.


"Aku mohon, Nina. Aku ingin meminta maaf padamu. Aku tahu aku salah maafkan atas segala yang aku lakukan padamu. Aku khilaf. Maaf Nina."


"Pergilah, Tuan."


"Apakah aku harus bersujud padamu agar kamu memaafkan aku?" tanya Feroze.


"Tidak usah, baiklah aku memaafkan Tuan. Sekarang pergilah." Nina menutup pintunya.


"Nina ... Aku tahu kamu belum memaafkan aku, aku mohon maafkan aku, Nina. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Nina ..." Feroze masih terus meminta maaf pada Nina.


Nina menangis dibalik pintu. Menangisi semua perasaannya pada Feroze.


**


Esok hari pun tiba. Acara lamaran Irsyad diadakan begitu mewah di hotel milik Feroze.


"Wah lamaran kita kalah mewah, ya," ujar Nadira.


"Kenapa? Iri ?" tanya Arsyad.


"Kalau aku bilang iri, bagaimana?" tanya Nadira.


"Akan aku ganti saat pernikahan nanti," bisik Arsyad.


"Ganti pakai apa?" tanya Nadira.


"Kamu boleh meminta bulan madu kemana pun," bisik Arsyad.


"Kkhhhhmmmmm, seperti obat nyamuk, ya Kakak," sindir Nina.


"Tuh lihat, Feroze terus menatap kesini," ejek Arsyad.


"Kak, terima saja sih Feroze. Sok jual mahal banget. Anak Sultan, loh, Kak," ejek Nadira.


"Karna anak Sultan, aku tidak mau menerima," lirih Nina.


"Apa kak?" tanya Nadira.


"Tidak apa-apa,"


Acara pun dimulai. Seperti acara lamaran lainnya, kedua keluarga saling berbincang untuk kelangsungan pernikahan, acara pemberian seserahan juga tukar cincin untuk Irsyad dan Feroza.


Acara begitu mewah dengan dekorasi yang super elite. Bertema putih dengan lampu-lampu berwarna ungu menghiasi malam di hotel mewah milik Feroze itu. Irsyad yang menggunakan tuxedo hitam begitu menawan sedangkan Feroza menggunakan semacam lehenga berwarna gold terlihat sungguh cantik dan anggun. Meski jarak usia Feroza dan Irsyad cukup jauh, tetapi mereka tampak serasi.


Acara resmi telah usai. Kini, mereka tengah bersantai sembari berbincang. Ditempat lain, terlihat Nina yang sedang berjalan di tepi pantai menikmati suasana malam di pantai. Angin bertiup menyejukkan suasana. Nina terkejut saat seseorang menutupi tubuhnya dengan jas.


"Angin malam tidak baik, untuk kesehatan," ujar Feroze.

__ADS_1


"Tuan ...." Nina terkejut melihat Feroze bersamanya.


"Sudah aku katakan, jangan panggil aku Tuan!"


"Maaf ..."


Mereka berdua pun duduk disalah satu kursi yang tersedia.


"Apa kamu suka dengan kota ini?" tanya Feroze.


"Lumayan," jawab Nina.


"Apa kamu mau tinggal disini?" tanya kembali.


"Maksudmu?" tanya Nina.


"Kau tahu maksudku apa, Arinina Putri," ujar Feroze menatap Nina.


Nina yang kikuk ditatap Feroze tiba-tiba, langsung memalingkan wajahnya.


"A---aku tidak mengerti maksudmu apa," ujar Nina menunduk.


"Hey, jika berbicara, tatap mata yang berbicara." Feroze meraih dagu Nina mengarahkan untuk menatapnya.


Tatapan merekapun saling terkunci. Ada perasaan yang luar biasa yang mereka rasakan.


"Aku mencintaimu, Arinina." Feroze menatap Nina.


Nina menunduk malu.


"Maaf, aku harus pergi." Dengar segera, Nina beranjak dari duduknya.


"Feroze, aku mohon lepaskan."


"Tidak! Sebelum kamu menjawab, aku tidak akan melepaskanmu," ujar Feroze yang masih menggenggam erat tangan Nina.


"Feroze, aku mohon."


"Jawab dulu."


Nina benar-benar bingung apa yang harus ia jawab. Satu sisi ia merasa sangat menyukai Feroze. Disisi lain, ia merasa tidak pantas dan ia takut akan dicampakkan.


Nina terkejut saat Feroze memeluknya dari belakang.


"Fe--Feroze, aku mohon jangan seperti ini." Nina mencoba melepaskan pelukan Feroze.


"Katakan jika Kamu juga mencintaiku."


Nina menghela napasnya. "Maaf aku tidak bisa." Nina melepas pelukan Feroze lalu pergi.


"Aaaahhhhhhhh!!!" teriak Feroze benar-benar kesal. "Apa isi hatimu, Nina! Aku melihat cinta di matamu, tapi kenapa kau menolakku? Aaahhhhhh!!!"


Feroze benar-benar kesal dengan gantungnya jawaban Nina.


"Maafkan aku, Feroze. Aku tidak layak untukmu." Nina menatap Feroze dari kejauhan.


Feroze masih terduduk di sana dengan perasaan kacaunya. "Apa lagi yang harus aku lakukan untuk mendapatkanmu, Nina!" Feroze mengacak rambutnya karena kesal.


Sedangkan Nina, dengan cepat menuju kamarnya. Ia menangis di atas tempat tidur. Ia benar-benar kalah oleh perasaannya. Perasaannya begitu mencintai Feroze, tapi logika menghalanginya. Ia tidak siap menjadi istri dari seorang Sultan. Ia tidak siap dengan kehidupan mewah, ia tidak siap jika harus berubah menjadi orang lain. Ia tidak siap dengan segalanya ketika menikah dengan Feroze.


"Apa yang harus aku lakukan agar Feroze menyerah? Ya Allah jangan buat perasaan kita semakin dalam jika memang kita tidak bisa bersama. Aku benar-benar lelah."

__ADS_1


Keduanya saling memikirkan cara yang berbeda. Yang satu memikirkan cara untuk bisa bersama, satunya lagi memikirkan cara untuk menjauh.


Dengan segera, Nina meraih ponselnya. Ia mencari penerbangan paling awal untuk kembali ke Indonesia.


"Masih ada yang akan terbang lima jam lagi. Aku harus segera bersiap."


Dengan cepat, Nina membereskan barang-barangnya. Setelah siap, ia meraih ponselnya lalu menelepon Queena.


"Assalamualaikum, Queena."


"Waalaikumsalam. Kak, ada apa?" tanya Queena.


"Queena, aku akan pulang sekarang. Penerbanganku masih ada empat jam lagi. Aku hanya ingin mengatakan padamu. Aku tidak bisa pamit pada Om dan Tante. Besok tolong kamu katakan pada mereka. Katakan saja jika aku ada urusan mendadak."


"Kak, apa yang terjadi?" tanya Queena.


"Tidak apa-apa, Queena. Aku hanya ingin cepat pulang." Lirih Nina.


"Baiklah, Kak. Sebentar, aku akan kesana."


Tak lama, pintu kamar Nina diketuk. Terlihat Queena disana. Nina membukakan pintu.


"Kak, katakan, apa yang terjadi? Kakak tidak pernah seperti ini sebelumnya. Apa Feroze menyakiti Kakak lagi?" tanya Queena.


"Duduklah." Nina mempersilahkan Queena duduk.


"Dia terlalu baik untukku. Aku tidak layak untuknya, Queena."


"Kakak tidak boleh berbicara seperti itu. Siapa yang mengatakan kalian tidak pantas?"


"Kita berbeda, Queena. Aku hanyalah wanita biasa sedangkan dia? Kau tahu maksudku. Aku tidsk siap dengan kehidupan mewah, berubah menjadi bukan diriku."


"Kak, katakan, apa kamu mencintai Feroze juga?" tanya Queena.


"Aku menemukan yang aku inginkan darinya. Cinta pada pandangan pertama. Sejak pertama kali melihatnya, aku merasakan getaran yang belum pernah aku rasakan. Apalagi selama hampir setengah tahun ini is terus mengejarku, perasaanku semakin dalam padanya."


"Lalu, kenapa kakak tidak menerimanya?" tanya Queena.


"Kamu tidak akan mengerti perbedaan kita, Queena. Baiklah, Kakak akan pergi sekarang. Tolong katakan pada yang lain maaf karena aku pulang lebih dulu. Jaga diri baik-baik, ya. Kakak pergi sekarang." Nina memeluk Queena dengan erat.


"Aku akan suruh Musa mengantar Kakak ke bandara."


"Tidak perlu, kakak bisa menggunakan Taksi."


"Tidak! Aku tidak akan mengizinkannya. Tunggu." Queena meraih ponselnya lalu menelepon Musa.


"Halo, Musa. Siapkan mobil. Antarkan Kak Nina ke bandara."


"Baik, Nyonya."


"Baiklah, kakak jalan sekarang. Kakak akan menunggu di lobby. Jagan triplets G ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati-hati, kak. Jika sudah sampai, hubungi aku." Queena memeluk Nina.


"Baiklah."


Nina pun pergi menuju lobby menunggu Musa.


"Kakak, ya ampun kenapa kisah cintamu seperti ini? Susah payah menemukan cints, malah rumit. Kenapa juga harus mencintai Feroze." Queena menggelengkan kepalanya bingung dengan keadaan kakak sepupunya itu.


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2