
Hari keberangkatan Feroze dan Nina untuk umroh pun datang. Dengan hati yang bahagia, mereka pergi menuju bandara. Akhirnya, impian Nina terwujud untuk pergi ke Tanah Suci dengan sang suami dan calon anak mereka yang masih dalam kandungan. Dengan menggunakan jet pribadi, Feroze dan Nina pergi menuju Madinah terlebih dahulu.
Hanya butuh waktu dua jam untuk sampai Madinah. Feroze memapah Nina untuk turun dari pesawat. Sudah ada seseorang menjemput mereka untuk membantu perjalan mereka selama umroh.
"Assalamualaikum, ya Sheikh Feroze Al-Barokh." Salam Sheikh Ghoffur, sahabat Feroze.
"Waalaikumsalam ya Abdul Ghoffur, janganlah formal seperti itu." Feroze memeluk sahabatnya itu.
Ghoffur pun tertawa. "Luar biasa kamu, Feroze. Sudah lama tak kemari, tiba-tiba datang membawa istri dan calon anakmu. Hebat." Ghoffur menepuk bahu Feroze.
"Sudahlah cepat bawa kita ke Abyar 'Ali agar cepat mulai umroh kita," ujar Feroze.
"Baiklah, ayo ikut aku."
Dari bandara, Feroze dan Nina dibawa menuju miqat Masjid Dzulhulaifah atau lebih dikenal Abyar 'Ali.
Sampailah mereka di Miqat. Miqat ini terletak di Madinah, di sini Feroze, Nina dan Ghoffur melakukan persiapan sebelum ihram, mulai dari mandi, mengenakan pakaian ihram, berwudhu dan mengerjakan sholat sunnah ihram 2 rakaat. Setelah itu niat mengerjakan ibadah umroh dengan membaca bacaan niat umroh.
"Labbaikallahumma 'umratan (Aku sambut panggilanMu ya Allah untuk menjalankan umroh)"
Setelah mengenakan pakaian ihram, seorang jamaah umroh dilarang untuk melakukan hal-hal yang sudah ditentukan syariat. Yaitu untuk laki-laki Bagi pria, dilarang memakai pakaian biasa, memakai alas kaki yang menutupi mata kaki, menutup kepala dengan peci, topi, dan sebagainya. Bagi wanita, dilarang, memakai kaos tangan, menutup muka. Lalu, bagi pria dan wanita, dilarang, memakai wangi-wangian, memotong kuku, mencukur atau mencabut rambut/bulu, memburu atau mematikan binatang apa pun, menikah, menikahkan atau meminang wanita untuk dinikahi, bermesraan atau berhubungan intim, mencaci, bertengkar atau mengeluarkan kata-kata kotor, memotong tanaman di sekitar Mekah.
Setelah melakukan itu semua, Feroze, Nina dan Ghoffur pergi ke Mekkah untuk menuju Masjidil Haram. Mereka akan melaksanakannya esok hari karena kondisi Nina.
Sampailah mereka di salah satu hotel bintang lima yang sangat dekat dengan Masjidil Haram. Dengan memesan presidential suite, Feroze dan Nina bermalam di sana. Nina begitu gembira karena bisa melihat kabah dari kamarnya. Sungguh Feroze ingin bermesraan dengan Nina, tetapi saat itu dilarang untuk bermesraan.
"Astagfirullah ...." Feroze hanya bisa beristigfar menjauhi Nina.
Nina sungguh heran dengan kelakuan suaminya itu.
Esok hari pun tiba. Mereka sudah siap untuk menjalani serangkaian umroh. Kini, mereka akan pergi menuju Masjidil Haram untuk tawaf. Dalam perjalanan menuju Masjidil Haram, Nina, Feroze dan Ghoffur memperbanyak bacaan kalimat talbiyah yang selalu diucapkan Rasulullah SAW ketika umroh dan haji.
__ADS_1
"Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaik Laa Syarika Laka Labbaik. Innal Hamda Wan Ni'mata Laka Wal Mulk Laa Syarika Lak"
Setelah sampai, mereka siap untuk masuk ke dalam masjid. Sebelum masuk Masjidil Haram, Nina, Feroze dan Ghoffur berwudhu terlebih dahulu. Mereka boleh masuk Masjidil Haram lewat pintu mana saja, tapi dianjurkan mengikuti contoh Rasulullah SAW yang masuk melalui pintu Babus Salam atau Bani Syaibah. Saat masuk Masjidil Haram, disarankan untuk mengucap doa "Bismillah Wash Sholatu Was Salamu 'Ala Rasulullah. Allahummaftahli Abwaba Rahmatika. (Dengan nama Allah, shalawat dan salam untuk Rasulullah. Ya Allah bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu)"
Setelah itu mereka turun dan terus menuju tempat thawaf (mataf). Jamaah mulai thawaf dari garis lurus (area dekat Hajar Aswad) antara pintu Kabah dan tanda lampu hijau di lantai atas Masjidil Haram. Mereka pun memulai tawaf dengan mengitari kabah. Saat mereka melewati hajar aswad, mereka terus menciuminya. Bahkan Nina sampai menangis bisa menciuminya. Terbesit dalam pikiran Nina pasti begitu luar biasa jika ia bisa melahirkan kedua anaknya itu di kota suci para Nabi itu. Pikiran itu terus terbesit dalam pikiran Nina, hingga saat putaran ke lima, Nina merasakan mulas. Nina hanya merasa itu kontraksi palsu yang disebabkan karena ia sedang tawwaf. Tetapi, semakin kesini mulasnya semakin terasa.
Hingga di putaran ke tujuh, Nina terduduk karena benar-benar merasakan mulas ysng luar biasa. Feroze yang melihat pun menghampiri Nina.
"Habibty, kamu kenapa?" tanya Feroze.
"Feroze, perutku sakit. Sepertinya aku akan melahirkan," ujar Nina yang menggenggam tangan Feroze meringis kesakitan.
"Apa? Ingin melahirkan? Tapi kandunganmu masih tujuh bulan, Nina."
"Aku sudah tidak kuat. Anak-anak terus mendorong ingin keluar." Nian terus meringis.
"Ghoffur, cepat cari medis. Istriku akan melahirkan. Siapkan salah satu ruangan di sini!" teriak Feroze panik.
"Sheikh, Madame, selamat. Kedua anak Sheikh dan Madame berjenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan keadaan sehat. Tapi, kita harus segera membawa ke rumsh sakit untuk mendapatkan penanganan," ujar salah satu team medis.
"Alhamdulilah. Terimakasih untuk pertolongannya."
Tak lama, ambulan datang membawa Nina dan kedua anaknya menuju rumah sakit. Sepanjang jalan, Feroze terus menteskan air mata menggendong putrinya. Ia tak menyangka bahwa kedua anaknya akan lahir lebih cepat yang lebih mengharukan mereka lahir di Masjidil haram dan tanah kelahiran Rasulullah salallahu alaihi wassalam.
Sepanjang jalan, tak henti-hentinya Feroze bersholawat hingga mereka sampai di rumah sakit. Semua tim medis segera mengurus Nina dan kedua anaknya. Feroze pun menunggu ketiganya untuk siap dibawa ke ruang rawat.
"Selamat, ya Sheikh atas kelahiran anak-anakmu." Ghoffur memeluk Feroze.
"Terimakasih, Sheikh. Tolong, berikan sedekah untuk kelahiran kedua anakku. Semua aku serahkan padamu."
"InshaAllah, Sheikh."
__ADS_1
Setelah selesai, Nina dan kedua anaknya dirawat di kamar VVIP. Tak lupa, mereka mengabari semua keluarga bahwa Nina telah melahirkan di Masjidil Haram. Semua keluarga tampak begitu bahagia atas kelahiran anak Feroze dan Nina. Keluarga Indonesia akan pergi menuju Dubai, sedangkan Baba dan Ummu akan menunggu kepulangan mereka ke Dubai.
Feroze pun dengan berurai air mata mengadzani kedua anakknya.
"Ya Allah, jadikanlah kedua anak kami menjadi anak salih dan salihah seperti para Nabi dan para sahabat serta menjadi wanita yang salihah. Aamiin." Feroze menciumi kedua putra dan putrinya.
"Medina dan Mecca ... Itulah nama mereka," ujar Nina.
Feroze menatap Nina. Membaringkan anaknya, lalu berjalan menghampiri Nina.
"Yakin ingin memberi nama itu?" tanya Feroze.
Nina tersenyum dan mengangguk. Feroze mengecup kening Nina.
"Baiklah. Hhmmmm bagaimana jika Muhammad Medina Al-Barokh dan syarifah Mecca Al-Barokh?" tanya Feroze.
"Nama yang indah," ujar Nina.
"Terimakasih, ya Habibty atas kado terindah ini. Semoga kedua anak kita bisa memiliki sifat luar biasa seperti para pendahulunya yang lahir di tanah suci ini."
"Aamiin Allahumma Aamiin. Sayang, ingatlah untuk melanjutkan umrohmu. Berdoalah mewakiliku," ujar Nina.
"InshaAllah."
To be continue ...
MashaAllah, welcome to the story duo M. Semoga hari-hari novel Dikejar Anak Sultan semakin indah dengan kehadiran Mecca dan Medina.
By the way, di dunia nyata ada, loh kisah seorang wanita hamil yang melahirkan di Masjidil Haram. Pada tahun 2015 Dilansir dari laman emirates247.com, wanita yang tidak disebutkan namanya namun diketahui berasal dari Indonesia, melahirkan bayi yang sehat di halaman Masjidil Haram. MashaAllah, begitu beruntung anak itu ditakdirkan bisa lahir di tanah kelahiran Rasulullah salallahu alaihi wassalam. Semoga anak itu menjadi anak yang salih dan bisa menjadi kebanggaan keluarganya, ya.
Visualisasi baby Mecca dan Medina
__ADS_1