
Feroze terus menarik tangan Nina dengan wajah yang kesal menuju kamarnya. Nina begitu bingung dengan sikap Feroze. Sampai di kamar Feroze menggerutu sendiri dengan bahasa Arab yang buat Nina bingung.
"Feroze, kamu kenapa?" tanya Nina bingung.
Feroze menghela napasnya saat menatap Nina. Ia memeluk Nina dengan erat. Nina benar-benar bingung dengan tingkah Feroze.
Feroze benar-benar kesal pada keluarganya. Mereka mengatakan Nina adalah wanita yang tidak punya etika karena tidak bisa berbaur dengan mereka. Feroze tahu betul sifan Nina yang memang susah beradaptasi dengan orang baru. Jangankan dengan keluarganya, dengan Feroze saja, Nina jarang mengobrol. Karena itu, Feroze kesal. Ia tak suka ada seorangpun yang mengatakan hal buruk soal Nina.
"Kau memang obat penenangku." Feroze terus memeluk Nina dengan erat. Sepanjang malam Feroze memeluk Nina.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Nina sudah mulai gelisah karena belum makan cookies dan orange juice di ruang makan. Ia mencoba melepaskan pelukan Feroze untuk pergi menuju dapur. Sebenarnya bisa saja ia menyuruh pelayan membawakan makanan itu, tapi tidak bisa. Dia harus makan di ruang makan. Setelah itu, baru dia bisa tidur nyenyak.
Dengan susah payah, akhirnya ia bisa melepaskan pelukan Feroze. Dengan berjalan pelan, ia keluar kamar menuju ruang makan.
"Ya ampun, ini rumah besar sekali. Dari kamar ke ruang makan saja sungguh melelahkan," gerutu Nina.
Sampai di ruang makan, sudah tersedia sepiring cookies dan orange juice.
"Selamat malam, Madame." Sapa Fayez.
"Selamat malam. Ini punya siapa?" tanya Nina menunjuk cookies dan orange juice.
"Oh ini untuk Madame. Sheikh Feroze mengatakan mulai malam ini sampai seterusnya harus menyiapkan cookies dan orange juice setiap malam untuk Madame. Silahkan, Madame." Fayez menarik kursi untuk Nina.
Nina tersenyum mendengar perkataan Fayez. Sungguh manis perbuatan Feroze dibalik sifat menyebalkannya. Ia pun memakan cookiesnya yang setia dijaga oleh Fayez sepanjang makan.
"Kau duduk saja, jangan berdiri seperti itu," ujar Nina pada Fayez.
"Tidak, Madame. Saya hanya akan berdiri. Silahkan, lanjutkan."
Nina pun melanjutkan sampai cookies dan orange juice nya habis. Nina berdiri untuk kembali ke kamar. "Baiklah, saya sudah selesai. Cookies juga orange juice nya sangat enak. Terimakasih, Fayez. Saya permisi ke kamar dulu." Nina pun pergi berlalu.
Fayez tersenyum. Ia benar-benar bahagia karena Feroze mendapatkan wanita yang sangat baik untuk mendampinginya. "Keluarga Madame Eriska memang keluarga yang baik. Bukan hanya Madame Balqis, juga tuan Irsyad. Madame Nina pun sungguh wanita yang baik."
Nina pun masuk kedalam kamar. Ia terkejut melihat Feroze yang duduk diatas tempat tidur menatapnya. "Feroze, kamu bikin aku terkejut saja." Nina mengusap dadanya.
Feroze tak menjawab. Ia menghampiri Nina. Meraih tangannya, membawanya ke walk in closet. Ia mendorong pelan tubuh Nina masuk ke dalam, menutupnya dan mengunci Nina.
"Ya Allah, kumat lagi." Nina mendengus kesal. "Feroze buka pintunya ..." Nina menggedor pintu. "Ih nyebelin banget sih punya suami aneh. Feroze!" Nina mendengus kesal. "Untung saja bukan di kamar mandi. Setidaknya masih nyaman. Memang beda rumah Sultan tuh." Nina melihat sekeliling.
__ADS_1
Nina pun berkeliling walk in closet milik Feroze. Ia melihat-lihat. "barang branded semua limited edition juga."
Ia membuka satu lemari berwarna putih. Lemari yang sangat besar memiliki lima pintu samping juga satu pintu kaca transparan. Betapa terkejutnya ia melihat begitu rapi pakaian wanita. "Apa ini pakaian yang Feroze beli tadi siang? Astaga banyak sekali."
Bukan hanya pakaian, begitu banyak juga tas, sepatu dan hijab yang sangat luar biasa mahalnya. "Aku takut dengan semua ini aku menjadi orang yang takabur." Nina menatap dirinya dalam cermin.
Ya Allah, semoga aku tidak menjadi orang yang takabur setelah menjadi istri Feroze.
Nina kembali menuju sebuah sofa panjang di dekat pintu dan meja rias. "Sepertinya lain kali harus simpan tempat tidur di sini agar saat terkunci lagi tidak merasa tersiksa. Untung saja ada sofa ini. Kalau tidak tidur di lantai.' Nina menepuk-nepuk sofa itu. "Nina ... Nina ... Setelah sekian lama menunggu untuk menikah, eh dapat suami aneh." Nina pun melepas hijab nya menggerai rambut indahnya lalu berdoa dan berbaring mencoba untuk tidur.
"Setidaknya malam ini tidak dijamah Feroze." Nina terkekeh. "Selamat malam, Suamiku ..."
Tak lama, Nina pun tertidur.
**
Azan subuh berkumandang. Feroze terbangun karena mendengar suara azan. Ia menatap tempat tidur di sebelahnya yang kosong.
"Loh, Nina kemana?" Feroze beranjak bangun dari tempat tidurnya. Ia pergi menuju kamar mandi. Ia membukanya tidak ada siapapun.
"Nina ... Nina ..." Feroze memanggil Nina.
"Feroze ... Kamu sudah bangun? Feroze buka pintunya." Terdengar suara Nina di ruang walk in closet.
"Nina ... Kamu tidak apa-apa?" Feroze memeluk Nina dengan wajah panik. "Apa aku tidur berjalan lagi?" tanya Feroze.
"Iya. Kamu menarikku lalu memasukanku kesini. Untung saja tidak di kamar mandi lagi." Gerutu Nina.
"Habibty maafkan aku. Ayo keluar." Feroze membawa Nina keluar.
Mereka pun duduk di atas tempat tidur.
"Kamu kenapa? Sebelumnya kamu tidak tidur berjalan, kenapa malam ini tidur berjalan lagi? Ada apa?" tanya Nina.
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa kesal. Saat perasaanku tidak enak memang suka tidur berjalan. Maafkan, aku. Aku benar-benar merasa bersalah. Sudah dua kali kamu terkunci olehku." Feroze kembali memeluk Nina.
"Tidak apa-apa, tetapi aku meminta satu hal padamu," ujar Nina.
"Apa itu?" tanya Feroze.
__ADS_1
"Siapkan tempat tidur di walk in closet. Jadi, saat kamu tidur berjalan lagi dan mengunciku, aku bisa tidur nyenyak disana."
"Apa? Hahahahahaha kau ini." Feroze mengecup ujung kepala Nina. "Aku akan berusaha untuk tidak tidur berjalan lagi. Maafkan aku."
"Tidak apa-apa. Setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing. Seperti kamu yang tidur berjalan, begitu juga aku yang suka makan cookies dan orange juice di tengah malam. Terimakasih, Suamiku atas cookies dan orange juicenya." Nina menatap Feroze dengan tersenyum.
"Kamu mengatakan apa?" Tanya Feroze.
"Hah? Apa? Terimakasih?" tanya Nina.
"Bukan."
"Lalu?"
"Kamu panggil aku apa? Suamiku?" tanya Feroze.
Nina tersipu malu. "Kenapa? Kamu tidak suka?" tanya Nina.
Feroze memeluk Nina semakin erat. "Itu adalah kata-kata yang sangat manis yang aku pernah dengar. Katakan lagi."
"Lepas dulu pelukannya, sangat sesak."
"Oh maaf, aku sangat gembira." Feroze mengendorkan pelukannya. "Katakan lagi."
"Apa? Tidak mau."
"Ayolah, Habibty, katakan lagi."
"Sudahlah, waktu subuh akan cepat berlalu, ayo Kita salat." Nina beranjak dari duduknya.
Feroze mendengus kesal. Nina tersenyum menatap suaminya kesal. Nina kembali lalu mengusap pipi Feroze. Ia membungkuk menatap mata Feroze. "I love you, my hubby." Nina mengecup lembut bibir Feroze.
Feroze terkejut dengan perkataan Nina. Baru kali ini Nina mengatakan bahwa ia mencintai Feroze juga menciumnya. Feroze yang begitu bahagia membalas ciuman Nina dengan lebih dalam lagi.
"Feroze, salat dulu ..." teriak Nina.
"Setelah salat, aku tidak akan melepasmu, Nina."
"Dasar Sultan cabul." teriak Nina.
__ADS_1
"I love you, Arinina."
To be continue ...