
Setelah selesai transfusi darah, akhrinya Feroze mulai dioperasi. Sepanjang Feroze dioperasi, Nina berada di Masjid berdoa untuk kelancaran operasi suaminya.
Queena, salah satu yang menunggu Feroze di ruang tunggu operasi.
"Aku harus ikut campur sepertinya."
Queena meraih ponselnya. Mencari sebuah nama.
"Halo aku Queena."
"....."
Queena pun berbincang dengannya. Perbincangan cukup lama.
"Akan aku siapkan segera. Kau bersiaplah."
Queena pun mematikan panggilannya.
Tujuh jam berlalu. Lampu operasi pun mati. Semua yang menunggu berdiri saat dokter keluar.
"Dok, bagaimana keadaan Feroze?" tanya Queena.
"Alhamdulilah operasi berhasil. Keadaan Sheikh juga sudah lebih baik. Kami akan memindahkan Sheikh ke ruang perawatan. Untuk sementara, jangan terlalu banyak orang yang menunggu, karena Sheikh harus steril dan harus dalam keadaan hening untuk beristirahat," ujar Dokter.
"Alhamdulilah. Terimakasih, Dok," ujar Sheikh Hanafi.
"Itu sudah tugas kami, Sheikh. Baiklah, kalau begitu, saya permisi dulu." Dokter pun pergi meninggalkan semuanya.
"Alhamdulilah Feroze melewati masa kritisnya." Feroza benar-benar lega.
Feroza melihat sekeliling. "Dimana Nina? Sejak awal Feroze operasi tidak terlihat?" tanya Feroza.
"Madame Nina berada di Masjid. Sejak awal operasi, ia di sana untuk berdoa," ujar Musa yang ditugaskan Queena untuk menjaga Nina selama di masjid.
__ADS_1
"Manis sekali," ujar Feroza tersenyum. "Baiklah, aku akan menemuinya untuk mengatakan keadaan Feroze. Suamiku, tunggulah disini. Aku ingin menemui Iparku dulu."
"Baiklah." Irsyad mengusap kepala Feroza.
Feroza pun pergi menuju masjid rumah sakit.
"Assalamualaikum..." Feroza berbisik mengucap salam.
"Waalaikumsalam." Nina menoleh, betapa terkejutnya Nina melihat Feroza. "Feroza! Kamu membuatku terkejut saja." Nina mengelus dadanya.
"Kau tidak pegal duduk disini selama tujuh jam? Ayo ikut aku." Feroza menarik tangan Nina.
"Tunggu. Aku lepas ini dulu," ujar Nina yang melepas mukenanya.
Setelah melepas mukenanya, Feroza menarik Nina keluar.
"Kita mau kemana?" tanya Nina.
"Cafe. Aku ingin kopi. Aku benar-benar mengantuk," ujar Feroza.
"Halah, aku sudah biasa donor darah."
Mereka menyebrang jalan menuju cafe sebrang jalan.
Duduklah mereka di salah satu kursi. Dua cangkir latte serta sepotong red velvet dan tiramisu menemani obrolan kedua ipar itu.
"Apa kamu yakin ingin meminum kopi?" tanya Nina.
"Sudah aku katakan, aku sudah biasa donor darah. Dua kantong saja sudah biasa untukku," ujar Feroza menyeruput kopi nya.
"Kau tahu? Aku dan Feroze selalu mendonorkan darah ya tiga sampai empat bulan sekali. Kita sudah melakukannya sejak remaja. Jadi, sudah terbiasa. Kau tahu sendiri darah O negatif itu langka. Maka dari itu, aku dan Feroze selalu mendonorkan darah. Bukan hanya di UAE, setiap negara yang Kita kunjungi juga pasti kita mendonorkan darah," ujar Feroza.
Nina tersenyum dengan perkataan Feroza.
__ADS_1
"Astagfirullah aku lupa. Bagaimana dengan operasi feroze?" tanya Nina.
"Oh iya, aku juga lupa. Alhamdulilah operasi lancar, keadaan Feroze juga jauh lebih baik,"
"Kalau begitu, aku pergi dulu melihatnya."
"Hey tenanglah. Ia masih harus dipindahkan ke ruang rawat masih ada waktu. Duduklah." Feroza menghentikan Nina.
Nina pun duduk kembali.
"Kau sungguh mencintainya. Pantas saja Feroze begitu menggilaimu. Kau tahu? Feroze tidak pernah seperti ini terhadap wanita manapun. Aku pikir sebelumnya Feroze penyuka sesama jenis karena tidak mau dekat dengan wanita," ujar Feroza tertawa.
Tiba-tiba tawanya berhenti. Wajahnya kembali sedih. "Nina, bisakah kau berjanji padaku?" Feroza menatap Nina.
"Apa?" tanya Nina.
"Jangan pernah sakiti perasaan Feroze. Dia memang laki-laki bertubuh besar, tapi perasaannya rapuh. Mungkin karena dia dekat denganku dan Ummu, ia jadi begitu peka dengan perasaannya. Ia sunggun takkan perduli dengan perkataan atau perbuatan orang lain. Tapi, dia akan terpengaruh pada perkataan orang yang sangat ia cintai. Kau tahu? Saat remaja, Feroze pernah bertengkar dengan teman kelas kita yang hebat dalam bela diri. Kamu pasti tahu bahwa Feroze tidak bisa beladiri. Ia melakukannya karena aku berbohong padanya. Ia merasa sangat sakit hati hingga ia mencari masalah dengan teman kelas kita itu. Wajahnya habis babak belur. Aku, Ummu dan Baba begitu panik melihatnya. Ketika kita bertanya padanya kenapa bertengkar, ia hanya menjawab,"
"Dadaku begitu sakit ketika Feroza membohongiku. Itu sangat sakit, akhirnya aku lebih memilih dipukuli orang untuk mengalihkan rasa sakit di dadaku."
"Feroze memang bodoh dan berlebihan! Tapi itulah dia. Meski begitu, dia adalah saudara terbaik yang aku miliki. Sudah sering ia mengorbankan nyawanya untukku. Aku tidak ingin ia melukai dirinya kembali karena merasa sakit hati." Feroza menggenggam tangan Nina. "Nina, aku percaya padamu. Tetaplah mencintai Feroze. Ia memang aneh, bahkan sangat aneh. Tapi, dibalik keanehannya, Feroze adalah pria yang tulus." Feroza menghela napasnya.
"Kamu tahu? Keluarga kerajaan kami ini sangat besar. Kita memiliki banyak kayaan. Banyak dari kerabat kami yang berpoligami karena menurut mereka, mereka mampu memiliki istri lebih dari satu. Tapi, kamu bisa lihat, Baba hanya memiliki satu istri yaitu Ummu. Menurut Baba, memiliki istri lebih dari satu sangatlah berat. Bukan hanya harta yang harus adil, tapi segalanya. Jika suami tidak adil, celakalah dia. Maka dari itu, Baba lebih memilih memiliki satu istri. Itu juga yang ditanami Baba pada Feroze. Baba berkata, usahakanlah memiliki satu istri. Bahagiakanlah dia. Memiliki lebih dari satu istri memang diperbolehkan, tetapi syaratnya pun berat. Makanya, agar hidupmu tenang, milikilah satu istri. Berilah yang terbaik untuknya."
"Maka dari itu, Feroze sangat selektif dalam mencari pasangan. Karena ia hanya ingin memiliki satu istri, bahagia dengan satu istri seperti Baba. Aku sungguh bersyukur Feroze memilihmu. Aku selalu mendengar Balqis selalu memujimu sejak dulu. Aku tak menyangka sekarang kamu menjadi iparku. Terimakasih, Nina, karena kamu sudah mau menikah dengan pria aneh itu," ujar Feroza tersenyum pada Nina.
Nina yang mendengar cerita Feroza hanya bisa terdiam.
Aku tidak sebaik yang kamu bayangkan, Feroza. Karena aku, saudara kembarmu terluka. Apakah kamu akan memaafkanku jika kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?. Nina menangis membayangkan segalanya.
"Nina, kenapa kamu menangis?" tanya Feroza. "Tenanglah, Feroze akan sembuh segera. Kamu pasti merindukannya 'kan?" Feroza mengusap tangan Nina. Mencoba menguatkan Nina.
Nina benar-benar merasa bersalah pada Feroze. Ia sangat bodoh jika melepas pria luar biasa seperti Feroze.
__ADS_1
Habibi, bangunlah. Aku mohon. Aku berjanji akan menebus segalanya. Nina mengusap air matanya.
To be continue...