Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 35


__ADS_3

Setelah mendengar kehamilan Nina, Feroze benar-benar bersemangat. Bahkan ia sudah bisa duduk meski baru selesai operasi. Rasa sakit itu seakan tak berarti mendengar bahwa ia akan menjadi seorang Ayah.


Tiga jam berlalu, akhirnya Nina sadar. Ia menatap sekeliling yang penuh dengan keluarganya. Nina masih diam mengerjapkan matanya.


"Nina ..." Vita menatap sang anak.


"Mama ... Aku dimana?" tanya Nina yang masih bingung.


"Kamu pingsan tadi kata Feroze," ujar Vita.


Mendengar nama Feroze, tiba-tiba Nina duduk. "Aduh..." Nina menyentuh kepalanya yang pusing.


"Habibty, kamu kenapa?" tanya Feroze panik.


Nina yang mendengar suara Feroze menoleh ke arah kiri. Terlihat Feroze yang duduk dengan wajah khawatirnya.


"Feroze ..." Nina menangis.


"Hey, kenapa menangis? Jangan menangis."


Nina dengan cepat menghampiri Feroze,


"Nina infusmu."


Nina yang tidak tahu sedang di infus menjerit kesakitan karena infus nya tertarik hingga bajyak darah yang keluar.


"Mama sakit ..." Rengek Nina.


"Kamu juga lagian bukan lihat dulu tangan di infus apa tidak." gerutu Vita.


"Mau kesana ..." Rengen Nina yang ingin menghampiri Feroze.


Semua orang tertawa melihat tingkah aneh Nina. Untung mereka sudah tahu Nina yang tengah hamil. Jika tidak, mungkin mereka akan merasa aneh.


Setelah infusnya di pasang kembali, Nina pun berbaring.


"Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku dirawat juga?" tanyanya.


"Nina, kemarilah."


Nina pun turun dari atas tempat tidur. Dengan hati-hati ia berjalan menuju brankar milik Feroze.


"Ribet banget sih harus di infus segala. Aku sehat, kok!" gerutu Nina.


"Sehat apanya? Kamu dehidrasi, kelaparan, stress tertekan. Kamu hampir membunuh anak kita, Nina!" Feroze menarik hidung Nina.


"Sakit, Feroze! Ini juga salahmu kenapa buat aku seperti itu. Eh tunggu, anak? Anak siapa?" tanya Nina.


"Anak kita," ujar Feroze.

__ADS_1


"Anak dari mana?" tanya Nina lagi.


"Dari sini." Feroze mengelus perut Nina.


"Feroze, malu dilihat yang lain." Nina memukul pelan tangan Feroze.


"Kenapa? Aku ingin mengusap anakku," ujar Feroze terus mengusap perut Nina.


"Anak, memang aku Ham.... Aku ???" tanya Nina menatap Feroze dengan tatapan tak percaya.


"Iya, Habibty, kamu hamil. Hamil anak kita," ujar Feroze menyentuh kedua pipi Nina.


"Ka---kamu tidak bercanda, kan?" tanya Nina yang sudah berkaca-kaca.


"Aku tidak bercanda, untuk apa aku bercanda."


Nina memeluk Feroze. Ia menangis. "Terimakasih, Habibty ..." Fweoze mencium kening Nina.


"Kkhhhhhmmmmm." Queena berdehem. "Kalian tidak menganggap keberadaan kita, nih?" tanya Queena.


Nina pun melepas pelukannya. Ia merasa malu.


Ummu tersenyum menghampiri Nina. Ia memeluk Nina. "Selamat ya, Habibty..."


"Terimakasih, Ummu."


"Selamat Sayang ..." Vita memeluk Nina.


"Kita kalah cepat ya dengan Feroze dan Nina," ujar Feroza.


"Kamu pikir perlombaan. Ini semua tergantung pada Allah. Mungkin Allah masih mau kita berduaan saja. Tidak apa, nanti kita coba lagi." Bisik Irsyad.


Feroza tersenyum malu mendengar perkataan Irsyad.


Setelah memberi selamat, Queena dan Feroza mengantar Nina untuk melakukan ultrasound. Sampailah Nina di ruang Dokter Aminah.


"Madame Nina. Bagaimana keadaanya sekarang?" tanya Dokter Aminah.


"Meena..." Panggil Feroza terkejut.


"Feroza..." Ujar Dokter Aminah tersenyum.


"Kalian saling kenal?" tanya Nina.


"Meena ini teman collage ku dulu. Tidak disangka menjadi dokter kandungan." Feroza memeluk Meena sang teman.


"Baiklah, kita periksa Madame Nina dulu," ujar Dokter Meena.


Nina yang tadi di kursi roda pun pindah ke atas brankar.

__ADS_1


Suster menyibakkan pakaian Nina hingga atas perut. Suster memberikan gel di perut Nina, lalu Dokter Meena mulai melakukan USG.


"Tahan, ya, Madame." Dokter menekan sedikit perut bawah Nina.


"Alhamdulilah, benar Madame tengah hamil. Usia kandungannya empat minggu dan MashaaAllah ini ada dua yang artinya kembar."


"Aduh tidak akan heran ini kembar. Semua keluarga memiliki gen kembar. Kau tahu Meena, dia memiliki anak kembar tiga," ujar Feroza tertawa menunjuk Queena.


"Hati-hati kamu kembar empat, Feroza. Kamu kembar, Irsyad juga kembar. Kalian lebih dominan," ejek Queena.


Alhamdulilah, ya Allah. Engkau beri kepercayaan untukku memiliki dua anak sekaligus. Nina begitu bahagia dengan kehamilan kembarnya ini.


Setelah melakukan USG dan mendapat nasehat dari Dokter, mereka kembali ke ruang rawat.


"Bagaimana?" tanya Feroze yang penasaran.


Nina tersenyum memberikan hasil USG nya.


"Aku tidak mengerti membaca hasil ultrasound ini. Katakanlah," ujar Feroze.


"Hamil anak kembar ..." Queena dan Feroza menyahut.


"Kembar? Benarkah?" tanya Feroze berbinar.


Nina mengangguk cepat.


"MashaAllah kita akan mendapat cucu kembar," ujar Vita bahagia.


"Kembar berapa? Tiga kah seperti Kak Queena?" tanya Irsyad.


"Dua saja," jawab Nina.


Sungguh Feroze ingin memeluk dan mencium Nina. Tetapi, ia malu dihadapan keluarganya. Feroze hanya bisa meraih tangan Nina lalu mengecupnya berulang-ulang.


"Aku mencintaimu," ujar Feroze dengan tatapan yang penuh cinta.


"Aku juga mencintaimu, Habibi." Nina mencium tangan Feroze.


Setelah puas berada di rumah sakit, semua orang kembali pulang. Feroze pun menyuruh Nina untuk tidur disampingnya. Tidak mengizinkan Nina tidur di brankarnya. Hanya Fayez dan beberapa pengawal yang menunggu, itupun mereka menunggu di luar ruangan.


Feroze tengah asik mencium Nina dan tangannya yang bekerja didalam pakaian tidur Nina.


"Feroze, yang benar saja, kita ini pasien!" gerutu Nina mencoba melepaskan tangan nakal Feroze.


"Suruh siapa membuatku puasa begitu lama." Feroze masih terus menciumi Nina.


"Cukup, Feroze. ini rumah sakit. Kamu juga baru sadar dari masa kritis. Aku juga masih lemas."


"Tenanglah, aku hanya ingin menyentuh tubuhmu."

__ADS_1


Nina hanya bisa pasrah. Ia hanya membuang waktu berdebat dengan Feroze yang keras kepala.


To be continue ...


__ADS_2