
Keesokan hari pun tiba. Semua anak muda berniat untuk pergi jalan-jalan ke mall terbesar di Ibu kota. Semua bersiap. Nina mendapat satu mobil dengan Feroze juga Irsyad dan Feroza. Irsyad mengemudi serta Feroza duduk di samping Irsyad. Sedangkan Nina duduk di belakang dengan Feroze. Nina benar-benar canggung duduk bersama Feroze. Ini kali pertama ia bisa dekat dengan Feroze dan melihat jelas wajah tampannya itu.
Ya Allah, sungguh sempurna ciptaanmu. Hidung mancung, mata tegas, rahang keras dan brewok tipis. Sungguh sempurna. Nina menatap Feroze tanpa berkedip.
"Kkhhhmmmm." Feroze berdehem membuat Nina tersadar.
"Aduh." Nina merasa malu hingga membuang mukanya. Wajahnya merah karena ketahuan menatap Feroze.
"Sepi banget kaya kuburan," ujar Irsyad.
"Dengar musik aja deh," jawab Feroza.
"Maher Zain," jawab Nina dan Feroze berbarengan.
"Oh ada yang kompak ini," ejek Irsyad.
Nina menatap heran pada Feroze.
"Suka lagu-lagu Maher Zain juga?" tanya Feroze.
"Wah bukan suka lagi, kak Nina. Penggemar lagu religi. Bukan hanya Maher Zain, tetapi lagu Sayf Adam, lalu Harris J dan siapa tuh yang dari Kwait?" Tanya Irsyad.
"Humood Alkhuder," jawab Nina dan Feroze barengan lagi.
"Ya ampun kalian berjodoh sekali bisa kompak begitu," ujar Feroza tertawa geli.
Nina memberikan ponselnya pada Irsyad. "After hardship came ease," ujar Nina.
Musik pun mulai dinyalakan. Terdengar suara indah penyanyi Religy dari Inggris, Sayf Adam dengan lagu manisnya After hardship came ease. Itu adalah lagu Favorite Nina. Ia tak pernah bosan mendengar lagu tersebut.
Feroze tertawa tanpa suara. Ia tak menyangka ada orang yang memiliki kegemaran musik yang sama dengannya.
Kau benar-benar membuatku semakin tertarik padamu. Batin Feroze menatap Nina.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mereka sampai di mall Grand Indonesia. Mereka semua masuk kedalam mall beriringan. Semua mata tertuju pada perkumpulan Queena dan yang lain. Bagaimana tidak jadi pusat perhatian? Wajah cantik dan tampan serta pakaian yang menandakan mereka adalah kalangan atas. Apalagi saat orang melihat Queena Diora. Semua orang riuh saat melihat Queena Diora.
"Hadeuh mulai deh," ujar Kania dan Nadira.
Kania dan Nadira memang sudah terbiasa dengan kericuhan saat pergi dengan Queena. Ditambah sekarang mereka berjalan dengan yang lain semakin membuat riuh seisi mall.
Para pengawal mulai menjaga ketat para Nona muda dan Tuan mudanya.
"Tahu gini, suruh Mama bilang tutup mall dulu," gerutu Queena.
"Aih Nona besar hebat ya bisa tutup-tutup mall," ejek Tiffany.
"Kau lihat sendiri bagaimana riuh nya mall," gerutu Queena.
"Abang kan sudah bilang jangan ikut, kamu ngeyel banget," ujar Alif yang mendorong kursi roda Queena.
Queena hanya mendengus kesal. "Aku mau shopping, Abang!" Gerutu Queena.
Mereka benar-benar didesak oleh pengunjung sesekali saling tertabrak. Nina hendak jatuh, tiba-tiba Feroze meraih pinggangnya.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Feroze.
"Terimakasih," jawab Nina malu.
Feroze hanya mengangguk dan tersenyum.
Dengan susah payah, akhirnya mereka sampai disalah satu brand kenamaan dunia. Dengan melalui Nizam pastinya meminta untuk menutup sesaat untuk mereka berbelanja.
"Ahhhh finally bisa bebas juga." Kania merebahkan tubuhnya diatas sofa.
"Sayang, kamu mau belanja apa?" tanya Alif.
"Kita kesana saja, ya." Queena menunjuk area pakaian.
"Ok sayang." Alif mengusap kepala Queena.
Arsyad dan Nadira pergi ke area sepatu, Irsyad, Feroza, Nizam dan Amanda ke area tas. Tiffani ke area pakaian bersama Queena. Sedangkan Kania, Nina, Tarren dan Feroze berada di sofa.
"Kak, kita doang yang jomblo ya." Kania memeluk tangan Nina.
Nina hanya tersenyum mengusap kepala adiknya itu.
"Kan ada aku, pacaran denganku saja." Tiba-tiba Tareen duduk disamping Kania.
"Pacaran ndasmu!" Kania menoyor kepala Tarren.
"Kak lihat, dia jahat sekali padaku." Tarren mengusap kepalanya.
"Kalian berdua ini masih kecil, fokus pada kuliah dulu, baru pikirkan pacaran," ujar Nina mengusap kepala Kania dengan berbicara sangat lembut.
Kania pun mulai berdiri dan berjalan mencari sepatu yang dikejar oleh Tarren. Sedangkan Nina masih duduk di sofa nya.
"Kkhhhhmmm boleh aku duduk?" tanya Feroze.
"Oh tentu, silahkan," jawab Feroze.
Feroze pun duduk disamping Nina. Nina merasa gugup duduk disamping Feroze. Meski selalu membantah soal perasaannya, tetap saja Nina merasa gugup.
"Kamu tidak berbelanja?" tanya Feroze.
"Ah? Kenapa?" tanya Nina.
"Kamu tidak ikut mereka berbelanja?" tanya Feroze kembali.
"Oh tidak," jawab Nina.
"Kenapa? Bukankah wanita sangat menyukai belanja?" tanya Feroze kembali.
"Aku suka berbelanja, tapi tidak di Brand besar seperti ini. Aku suka brand lokal," ujar Nina.
"Apa brand lokal di sini bagus?" tanya Feroze.
"Tidak berbeda jauh. Di mall ini ada beberapa Brand lokal langgananku. Apa kamu ingin melihatnya?" tanya Nina.
__ADS_1
"Apakah ada sepatu untuk olahraga? Tadinya aku ingin membeli di sini. Tapi jika brand lokal ada yang bagus, aku akan membelinya," ujar Feroze.
"Ada, ayo." Nina menarik tangan Feroze secara spontan.
Feroze yang digenggam hanya tersenyum penuh arti.
"Eh maaf." Nina melepaskan genggaman tangannya dengan wajah malu.
Feroze hanya tersenyum pada Nina.
Mereka berjalan berdua tanpa yang lain tahu saking sibuk dengan belanjaan mereka.
"Ini salah satu brand lokal yang bagus. Sneakers disini tidak kalah bagus dari brand kenamaan. Ayo masuk." Nina mengajak Feroze masuk.
Mereka pun masuk kedalam melihat-lihat sepatu brand lokal.
"Bagus," ujar Feroze tersenyum.
Nina pun tak kalah melihat-lihat. Setiap stand ia lewati hingga ia berhenti di sebuah stand sepatu olahraga. Ia meraih sepatu itu, sepatu untuk laki-laki berwarna hitam bergaris putih nampak manly untuk seorang Laki-laki. Nina berjalan menghampiri Feroze.
"Hhhmmmm Tuan, coba lihat yang ini." Nina memberikan sepatu itu pada Feroze. Feroze pun menerima.
"Hmmmmm selera yang bagus," ujar Feroze.
"Mbak ...." Panggil Nina.
"Iya, Kak, bisa dibantu?" tanya salah satu karyawan.
"Sepatu ini ukuran empat puluh tiga, ya," ujar Nina.
"Oh, baik, ditunggu ya, Kak." Karyawan itu pergi.
Tak lama, karyawan itu kembali dengan membawa box sepatu ukuran yang diminta Nina.
"Ini, Kak ukuran empat puluh tiga," ujar karyawan memberikan pada Nina.
"Terimakasih." Nina menerima.
"Ini, cobalah." Nina memberikan box sepatu itu.
"Apakah pelayan disini tidak bisa memasangkan?" tanya Feroze.
Aduh dasar anak Sultan. Pakai sepatu saja harus dipasangkan pelayan. Batin Nina.
Nina berjongkok di hadapan Feroze.
"Hey, kau mau apa?" tanya Feroze terkejut.
"Pasangkan sepatu untukmu," ujar Nina.
"Berdiri," Feroze meraih bahu Nina mengajaknya berdiri. "Jangan pernah lakukan itu lagi. Berlututlah hanya untuk Allah apapun alasannya, jangan pernah berlutut lagi. Aku akan memasangnya sendiri," ujar Feroze.
Nina hanya terpaku dengan apa yang di katakan Feroze. Ia hanya bisa mengangguk tak mengatakan apapun.
__ADS_1
Deg deg deg deg jantung Nina berdetak dengan cepat saat Feroze berbisik padanya.
to be continue....