Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 29


__ADS_3

"Hey siapapun, bukakan pintu!" Nina terus menggedor pintu kamar yang terkunci oleh Feroze.


Terdengar seseorang membuka pintu.


"Madame ..." Seorang pelayan dengan wajah panik menghampiri Nina.


"Kemana Feroze? Sungguh menyebalkan ia mengunciku!" Kesal Nina.


"Sultan ..." Pelayan menunduk takut.


"Katakan dimana dia?"


"Sultan di rumah sakit, Madame." Pelayan itu masih terus menunduk.


"Apa? Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Nina.


"Sultan Feroze."


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Nina panik.


"Sultan terluka parah, Madame. Karena ..." Pelayan sungguh takut mengatakannya.


"Cepat jelaskan!" Bentak Nina.


Untuk pertama kalinya Nina membentak pelayan. Pelayan sungguh merasa takut. Nina benar-benar panik.


"Ka---kami tidak tahu apa yang terjadi pada Sultan. Kami menemukan Sultan mengamuk di ruang gym. Ruang gym sungguh hancur dan Sulta... Sultan terluka parah. Wajahnya penuh luka karana pecahan kaca dan kepalanya penuh darah. Setelah mengamuk, Sultan tak sadarkan diri. Pak Fayez membawa Sultan ke rumah sakit," ujat Pelayan.


Seketika tubuh Nina terkulai lamas. "Madame... Madame ..." Pelayan itu membantu Nina masuk kedalam kamar.


"Feroze ..." Nina menangis mendengar perkataan Pelayan.


"Madame... Madame tidak apa-apa, kan?" Tanya pelayan.


"Panggil Musa, segera!" ujar Nina.


"Baik, Madame." Pelayan pun pergi memanggil Musa.


**


Di dalam pesawat, Feroza terus menangis dalam pelukan Irsyad.


"Suamiku, Feroze akan baik-baik saja, 'kan?" Tanya Feroza yang terus menangis.


"Tenanglah, Sayang. Feroze adalah lelaki yang kuat." Irsyad terus mencoba menenangkan Feroza.

__ADS_1


Queena yang berada di kursi belakang hanya terdiam. Ia berpikir panjang dengan apa yang terjadi pada Feroze.


Flashback on


"Assalamualaikum, Madame Balqis."


"Waalaikumsalam. Katakan, apa yang terjadi pada Feroze," ujar Queena bertanya pada Fayez dalam telepon.


"Saya tidak tahu pasti apa yang terjadi pada Sheikh. Tapi, kami menemukan Sheikh mengamuk di ruang gym. Sheikh nampak begitu marah dan terlihat dari tatapannya begitu sedih. Ruang gym benar-benar hancur. Bukan hanya ruang gym, tubuh Sheikh Feroze juga penuh luka sayatan pecahan kaca." Feroze berhenti menjelaskan. "Maaf, Madame. Sepertinya Sheikh bertengkar dengan Madame Nina. Sheikh selalu memanggil nama Madame dengan wajah yang sedih," ujar Feroze kembali.


"Fayez, jangan katakan soal kemungkinan pertengkarang Feroze dan Nina pada siapapun. Aku akan mencari tahu semuanya," ujar Queena.


"Baik, Madame."


"Jagalah Feroze. Kami akan lepas landas. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati-hati, Madame."


Flashback off


Apa yang terjadi? Kenapa Feroze bisa sampai sehancur ini? Kak Nina, apa yang kamu lakukan? Jangan sampai kamu melakukan hal bodoh, Kak. Menghancurkan masa sekarang dan masa depanmu hanya untuk masa lalu. Batin Queena.


**


Ya Allah semoga Feroze tidak kenapa-kenapa. Nina terus berdoa untuk suaminya.


"Fayez ..." Nina memanggil Fayez yang sedang duduk menunggu di depan ruang ICU.


"Madame." Fayer berdiri.


"Fayez, bagaimana keadaan Suamiku?" tanya Nina yang terus menangis.


"Sheikh mengalami benturan yang cukup parah di kepalanya. Sheikh harus di operasi segera mungkin. Tapi ..."


"Tapi apa?" tanya Nina.


"Stok darah golongan O negative kosong. Jadi, kita harus menunggu madame Feroza terlebih dahulu. Kondisi Sheikh kritis."


"Astagfirullah..." Nina terduduk lemas menatap ruang ICU.


"Maafkan aku, Feroze." Nina terus menangis menyesal dengan apa yang dilakukan pada Feroze.


"Bolehkah aku melihatnya?" tanya Nina.


"Saya akan bertanya pada Dokter." Fayez pergi menemui Dokter.

__ADS_1


"Tenanglah, Madame." Musa mencoba menghibur Nina.


Tak lama, Fayez datang dengan seorang suster.


"Madame bisa masuk, tapi hanya lima belas menit. Ikutlah dengan suster mengganti pakaian Madame," titah Fayez.


Nina hanya mengangguk, lalu pergi mengikuti suster.


Nina pun masuk ke ruang ICU dengan mengganti pakaian dan sudah di sterilisasi. Nina duduk di kursi samping brankar, menatap Feroze yang keadaannya menyedihkan. Kepala yang di perban, dan wajah yang penuh luka, selang oksigen yang menempel di hidung, dan alat lainnya menempel di tubuh Feroze. Nina menahan suara tangisnya. Jika tidak berada dalam ruangan ICU, mungkin ia sudah histeris melihat keadaan suaminya.


"Astagfirullah... Astagfirullah... Apa yang kau lakukan, Nina. Kau sungguh istri durhaka." Nina mertuki dirinya sendiri melihat keadaan Feroze.


Ia menatap tangan Feroze. Sungguh ingin menggenggamnya. Tetapi ia tak berani. Sungguh ia merasa tak pantas untuk Feroze. Ia yang berani menyakiti Feroze sampai seperti ini hasilnya.


"Sa---" Nina menghentikan panggilan itu sebelum ia selesai mengatakannya.


"Maafkan aku, maafkan aku ..." Hanya itu yang ia bisa katakan.


Nina mengingat lagi kejadian semalam. Perkataan Feroze yang terakhir kalinya.


Lewati dulu mayatku jika kau ingin lepas dariku!


Suara Nina semakin pecah mengingat perkataan Feroze. Sekarang, ia takut kehilangan Feroze.


Ya Habibty, kau sangat cantik.


Panggil aku Habibi.


Hey jangan bersedih, ada aku disini.


Habibty, ini cookies dan orang juice mu.


Aku mencintaimu, ya Habibty.


Bayangan-bayangan manis Feroze berlarian dipikiran Nina yang membuatnya semakin takut kehilangan Feroze. Nina menggenggam erat tangan Feroze.


"Sadarlah, Feroze. Aku mohon. Aku memang Istri yang buruk. Hukumlah aku. Tapi jangan seperti ini." Nina terus menangis menciumi tangan Feroze.


"Madame, waktunya habis. Tolong keluarlah." Suster datang memberitahu Nina di ujung pintu.


Nina mengusap air matanya. Ia mendekat pada Feroze. "Aku mencintaimu, ya Habibi." Nina mencium kening Feroze, lalu pergi.


Tetes air mata jatuh diujung mata Feroze ketika Nina pergi.


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2