
Feroze terus menemani Nina yang pingsan. Ia benar-benar merasa bersalah karena sudah memaksa Nina melihat Tiger. Apalagi saat dokter mengatakan Nina memiliki riwayat penyakit jantung meski baru diagnosanya.
"Eeuummm..." Nina mulai tersadar dari pingsannya.
"Habibty ... Kamu sudah sadar?" Feroze menatap Nina.
Nina menatap Feroze dengan keadaan bingung. Perlahan ia ingat apa yang terjadi.
"Pergi! Kau jahat Feroze! Kau mau membunuhku! Pergi! Aku benci padamu! Aku mau pulang!" Tiba-tiba Nina histeris.
Betapa takutnya dia saat mendengar aungan Tiger.
"Nina, maafkan aku. Aku janji tidak akan membawamu ke sana lagi." Feroze memeluk Nina dengan erat.
"Tidak! Kau jahat! Aku benci padamu, Feroze! Lepaskan aku!" Nina meronta melepas pelukan Feroze.
"Tidak, aku tidak pernah berniat mencelakaimu. Aku sangat mencintaimu, bagaimana mungkin aku mencelakaimu. Maafkan aku, Nina. Aku janji tidak akan membawamu bertemu Tiger lagi."
"Aku mau pulang! Aku tidak mau disini! Kau jahat, Feroze. Kau selalu melakukan kehendakmu tanpa bertanya dulu padaku! Lepaskan aku!" Nina terus menangis mencoba melepaskan pelukan Feroze. "Lebih baik kita berpisah! Aku tidak sanggup hidup denganmu!"
Feroze terkejut mendengar perkataan Nina. Ia melepaskan pelukannya, menatap Nina dengan tatapan marahnya. "Apa kamu bilang?" Feroze mencengkram bahu Nina dengan kencang.
Nina meringis kesakitan. "Lepas, sakit."
"Katakan padaku, apa yang kamu katakan tadi?" tanya Feroze dengan sangat marahnya.
Nina begitu takut dengan tatapan Feroze. "Ki---kita pisah! Aku mau pulang ke negaraku. Aku tidak mau disini lagi menjadi bonekamu!"
Feroze melepaskan cengkramannya. Wajahnya sangat merah padam mendengar perkataan Nina. Tangannya mengepal begitu kencang. "Jangan harap kau bisa pergi dari sini!" Dengan cepat, Feroze pergi meninggalkan Nina dengan membanting pintu, membuat Nina ketakutan.
Feroze benar-benar emosi dengan apa yang Nina katakan. Kata-kata Nina yang ingin berpisah terus terngiang hingga semakin membuatnya emosi.
"Fayez! Katakan pada boxing club siapkan orang terhebat di club nya."
"Sheikh, apa yang terjadi?" tanya Fayez.
"Jangan banyak tanya, Fayez! Cepat katakan pada mereka. Aku ingin duel dengan anggota boxing terhebat di sana!" Dengan cepat Feroze masuk kedalam Ferrari hitamnya lalu pergi dengan kecepatan tinggi.
"Apa yang terjadi pada Sheikh?" Fayez bertanya-tanya.
__ADS_1
Fayez pun menelepon boxing club terbaik di kota itu. "Siapkan anggota terbaik Kalian untuk duel dengan Sheikh Feroze. Sebentar lagi, Sheikh akan sampai di sana." Fayez pun menutup panggilannya.
Fayez berjalan menghampiri Musa.
"Musa, pergilah ke boxing club xxx Sheikh sedang ingin berduel. Aku masih ada urusan dengan Sheikh Hanafi yang akan pergi ke Abu Dhabi."
"Apa yang terjadi pada Sheikh?" tanya Musa.
Fayez hanya mengangkat bahunya, lalu pergi.
Apakah Sheikh bertengkar dengan Madame? Musa menatap kamar Feroze dan Nina.
Musa pun pergi menyusul Feroze.
Di tempat lain, Nina terus menangis. "Astagfirullah... Kenapa aku sangat bodoh mengatakan kata perpisahan itu. Pantas Feroze begitu marah. Kenapa aku tidak bisa mengatakan secara baik-baik padanya? Nina ... Kenapa kamu sangat bodoh jika dihadapan Feroze." Nina mengusap wajahnya secara kasar. "Aku harus menemui Feroze. Aku harus meminta maaf padanya." Nina beranjak meraih hijabnya, lalu keluar dari kamarnya mencari Feroze.
Pertama, Nina pergi menuju ruang kerjaannya. Ia membuka pintu ruang kerja Feroze, namun ruang kerjanya kosong. Ia mencari keseluruhan rumah tetapi tetap tidak menemukan keberadaan Feroze.
"Fayez, dimana Feroze?" tanya Nina yang bertemu Fayez.
"Sheikh tadi keluar." jawab Fayez.
Aduh apa yang harus aku katakan? Fayez benar-benar bingung bagaimana ia menjalaskannya.
"Sheikh ingin bertemu seseorang. Mungkin sebentar lagi pulang."
Nina menghela napasnya. "Baiklah, aku akan menunggunya," ujar Nina yang berjalan ke ruang depan.
Nina pun duduk di sofa. Ia menatap pintu utama menunggu Feroze kembali. Perasaan Nina begitu gelisah entah kenapa. Ia benar-benar khawatir pada Feroze yang meninggalkannya dengan keadaan emosi.
Dua jam berlalu, tetapi Feroze masih belum pulang. Hingga terdengar suara mobil datang. Dengan segera, Nina beranjak dari duduknya berjalan menuju pintu. Lalu pintu terbuka. Betapa terkejutnya Nina saat melihat Musa membopong tubuh feroze yang lemah dengan banyak luka di sekujur wajahnya.
"Astagfirullah, Feroze." Nina menghampiri Musa. "Apa yang terjadi?" tanya Nina khawatir.
"Kita bawa Sheikh dulu ke kamar, ya, Madame."
Nina pun mengangguk. Nina benar-benar khawatir dengan Feroze. Mereka berjalan menuju kamar. Musa membaringkan Feroze yang tak sadarkan diri itu.
"Madame tidak perlu khawatir. Sheikh sudah ditangani Dokter."
__ADS_1
"Apa yang terjadi, Musa? Kenapa Feroze babak belur seperti ini?" tanya Nina benar-benar khawatir.
Musa menghela napasnya. "Sepertinya Sheikh sedang sangat marah. Dia selalu seperti ini saat benar-benar marah."
"Maksudmu?"
"Sheikh selalu pergi ke club bela diri terbaik di kota saat sedang benar-benar marah. Ia selalu duel dengan anggota club terhebat. Sebenarnya, Sheikh tidak bisa bela diri, tetapi ia selalu memaksa untuk berduel saat marah. Ia tidak akan pernah berhenti berduel sampai ia tumbang. Seperti sekarang, Sheikh datang ke boxing club berduet di atas ring hingga seperti ini. Entah apa yang membuatnya marah seperti ini. Sheikh bukan tipe orang yang suka merusak barang saat emosi, tetapi ia sangat suka menyakiti dirinya," ujar Musa menatap Feroze. "Baiklah, Madame, Saya permisi keluar dulu. Ini obat untuk Sheikh." Musa memberikan obat serta yang lainnya pada Nina.
Nina benar-benar merasa bersalah sekarang. Ia tak menyangka perkataannya bisa membuat Feroze melakukan ini. Nina berbaring di sebelah Feroze, memeluknya dengan erat. "Maafkan, aku." Nina menangis memeluk Feroze.
Nina benar-benar tidak bisa tidur. Ia terus menunggu Feroze sadar. Hingga akhirnya Feroze sadar.
"Feroze ..." Nina menggenggam tangan Feroze. "Mana yang sakit." Nina melihat wajah Feroze yang meringis.
Feroze menatap Nina. Hatinya benar-benar masih sakit ketika melihat Nina dengan mengingat perkataan Nina.
"Katakan, yang mana yang sakit?" tanya Nina.
"Apa kamu masih perduli dengan rasa sakitku?" Tanya Feroze. "Di sini, Nina. Di sini aku merasakan sakit." Feroze menunjuk dadanya. "Aku sudah melukai tubuhku agar rasa sakit itu berpindah. Tapi tetap saja rasa sakit di dadaku masih sangat terasa." Wajah Feroze sudah berkaca-kaca.
Feroze mencoba bangkit, Nina membantu tetapi Feroze tolak.
"Kau tahu? Aku melakukan segala yang terbaik untukmu. Memperlakukanmu seperti Ratu-ku. Aku berikan segala yang terbaik yang aku bisa berikan untukmu. Apalagi yang kurang, Nina? Hingga kamu ingin berpisah dariku? Apakah perjuanganku selama ini tidak ada artinya untukmu? Jika masalah Tiger tadi siang, aku akui aku salah, jika kau tidak ingin Tiger berada di sini, aku akan memberikannya pada kebun binatang. Tapi perkataanmu yang aku menjadikanmu bonekamu, aku benar-benar tidak mengerti. Aku tidak pernah berfikir kamu adalah bonekaku. Kamu adalah Ratu-ku, itu yang benar. Apa karena aku merubah pakaianmu? Merubah kehidupanmu hingga kamu berfikir aku menjadikanmu bonekaku? Katakan, apa kesalahanku hingga kamu ingin berpisah dariku? Kamu bisa mengatakan apa kesalahanku hingga aku bisa merubahnya. Tapi, kenapa Kamu menyakitiku dengan kata-kata perpisahan? Lebih baik kau menghajarku daripada harus menyakiti hatiku, Nina." Tak terasa Feroze meneteskan air matanya.
Seorang Feroze Al-Barokh. Pria gagah berkharisma yang tidak pernah menangis akhirnya kalah hanya dari kata-kata seorang wanita biasa yang bukan lain adalah istrinya.
Nina benar-benar merasa bersalah pada Feroze. Ia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Hingga akhirnya ia hanya bisa memeluk Feroze.
"Dalam sebuah hubungan, komunikasi adalah hal terpenting. Setiap saat aku selalu mencoba berkomunikasi denganmu. Tetapi kamu selalu diam, Nina. Bagaimana aku tahu hal yang Kamu sukai dan hal yang tidak kamu sukai jika kamu hanya diam? Aku hanya berusaha memberikanmu yang terbaik sebisaku. Jika apa yang aku berikan salah, maafkan aku. Tapi jangan mengatakan kamu ingin pisah dariku. Itu sangat menyakitiku, Nina. Aku benar-benar mencintaimu." Feroze terus menunduk. "Kau lihat? Seorang Feroze menundukkan kepalanya dan menangis hanya untuk seorang wanita?" Feroze tertawa sinis.
"Lepaskan aku, Nina. Mungkin aku memang tidak layak untukmu."
Feroze melepas pelukan Nina. Ia beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju keluar kamar, saat melangkahkan kakinya, ia terjatuh. Dengan cepat Nina menolongnya tetapi Feroze menolaknya. Ia bangkit sendiri lalu pergi dari kamarnya meninggalkan Nina.
Nina menangis menatap kepergian Feroze. Ia menangis merasa bodoh dengan apa yang ia lakukan. Ia tak menyangka perkataannya benar-benar menyakiti Feroze.
"Maafkan aku, Feroze." Nina terus menangis sepanjang malam. Merasa bersalah telah menyakiti pria yang begitu mencintainya hanya karena kurangnya komunikasi.
To be continue ...
__ADS_1