
Nina dan Feroze akan pergi menuju Belanda untuk melakukan perjalanan bisnis. Duo M dan triplets G pun dititipkan kepada Ummu dan Baba Hanafi. Feroze begitu bahagia karena bisa pergi berdua dengan Nina, tidak akan ada lagi Medina yang terus menempel pada Nina.
"Akhirnya kita bisa berduaan." Feroze yang terus memeluk pinggang Nina sepanjang perjalanan menuju Belanda dengan jet pribadinya.
"Sultan Feroze sungguh bahagia meninggalkan anak-anak." Nina mengusap pipi Feroze yang sedang bertumpu di bahu Nina.
"Setidaknya kita bebas sedikit dari keisengan mereka. Sungguh luar biasa mengurus lima anak. Awalnya aku ingin memiliki tujuh anak bersamamu, tapi, saat melihat anak-anak di rumah, aku merasa kasihan padamu yang pasti akan lelah menjaga mereka. Bisa bahaya jika saat bersamaku, kamu sudah merasa lelah. Jadi, kuurungkan niatku memiliki tujuh anak," ujar Feroze yang terus menciumi wangi tubuh Nina.
"Jadi, kamu tidak ingin memiliki anak lagi?"
"Aku tidak mengatakan aku tidak ingin memiliki anak lagi, aku hanya mengatakan mengurungkan niat untuk memiliki tujuh anak. Hmmmmm bagaimana jika empat anak?" tanya Feroze.
"Ya selagi Allah masih memberiku kepercayaan InshaAllah aku siap," jawab Nina.
"Jadi, selain perjalanan bisnis, bagaimana jika kita baby moon?" Feroze mengecup pipi Nina dengan gemas.
"Sultan Feroze sungguh menyiapkan rencana, ya. Pantas saja akan pergi selama satu bulan, ternyata, ada udang di balik batu."
"Jarang-jarang kita bisa pergi berdua. Ini juga pesan dari Ummu agar kita memberikan cucu lagi untuk mereka," bisik Feroze.
"Ah sudahlah jangan bawa-bawa Ummu dan Baba. Ini kan maunya kamu."
"Kan Habibty-ku juga menikmati. Ah lama sekali sih sampainya. Aku sudah tak tahan tergoda olehmu."
"Ih kapan aku menggodamu? Dasar mesum. Sudah ah, aku ingin meminta makanan. Aku lapar. Apa kamu lapar? Aku membuat nasi kebuli untukmu."
"Boleh, kamu tinggal panggil saja pramugari nya, biar mereka yang memanaskan makanannya."
Bisa habis aku jika di sini terus oleh Feroze.
"Tidak, aku akan memanaskannya sendiri karena itu untuk suamiku tercinta. Tunggulah sebentar." Nina pun langsung pergi meninggalkan Feroze.
__ADS_1
**
Di kediaman Sheikh Hanafi, semua anak-anak begitu ramai. Ghifari, Medina dan Ghianina yang sedang bermain kejar-kejaran, sedangkan Mecca dan Ghifarial yang sedang berbincang dengan Sheikh Hanafi tentang ilmu bisnis. Sheikh Hanafi begitu merasa takjub dan heran pada Ghifarial dan Mecca yang selalu suka hal-hal berat tak selayaknya anak kecil lainnya.
"Dada Abbu, Practiquemos el tiro con arco (kakek, ayo kita berlatih memanah)" Mecca terus menarik tangan sang kakek untuk berlatih memanah.
"Dada abu tidak bisa memanah lagi, Mecca. Ajak Chachu Fayez atau Chachu Musa saja, ya.
"Dadoo gak seru! Farial, ayo kita temui Chachu." Mecca menarik tangan Ghifarial.
"Hahahahaha kedua anak itu memang luar biasa." Baba Hanafi tertawa bahagia melihat tingkah semua cucunya.
"Apa yang membuatmu tertawa?" tanya Ummu.
"Lihatlah semua cucu kita, mereka sungguh luar biasa." Baba Hanafi begitu terlihat bahagia menatap semua cucunya.
"Betul, Alhamdulilah kita memiliki cucu yang luar biasa. Aku sungguh bahagia. Hmmmmm aku juga sangat merindukan Cinta. Pasti ia sangat lucu sekarang," ujar Ummu yang merindukan anak Feroza dan Irsyad.
"Minggu depan kan mereka akan datang, jangan bersedih. Ayo, kita bermain dengan mereka." Baba dan Ummu pun ikut bermain dengan semua cucunya.
Setelah menempuh perjalan selama enam jam, akhirnya Nina dan Feroze sampai di Amsterdam. Saat itu sedang musim dingin hingga semua terlihat putih karena salju. Nina begitu bahagia kembali ke Amsterdam karena memang Feroze memiliki beberapa hotel di Belanda, termasuk Amsterdam.
Nina terus menatap indahnya kota Amsterdam. Feroze merangkul pinggang Nina, membuat Nina menoleh pada Feroze. Nina tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Feroze. Sedangkan Feroze mengusap lembut kepala Nina.
Setelah menempuh perjalan selama tiga puluh menit, akhinya Nina dan Feroze sampai di kediamannya. Feroze memang sengaja memiliki rumah di Amsterdam karena Nina sangat menyukai kota itu. Feroze hanya membeli rumah yang tak begitu besar karena Nina yang meminta. Rumah yang hanya akan ditempati mereka berdua saja tanpa pelayan satupun. Jadi, hanya Nina yang akan mengurus segala keperluan di rumah mereka itu.
"kom morgenochtend om negen uur terug. heb je alle benodigdheden gekocht waar ik om vroeg? (Kembalilah besok pagi pukul sembilan. Apakah kamu sudah membeli keperluan yang saya minta?)" tanya Feroze pada sang supir.
"het is allemaal in huis, meneer. (Semua sudah ada di dalam rumah, Tuan.)" jawab supir yang bernama Abraham.
__ADS_1
"oke, je kunt nu gaan. (Oke, kamu bisa pergi sekarang)"
Abraham pun pamit pada Feroze dan Nina. Sedangkan Feroze dan Nina masuk ke rumah. Mereka duduk sejenah di ruang keluarga untuk beristirahat.
"Sungguh bahagia bisa datang ke sini lagi," ujar Nina yang tengah bersandar di tubuh Feroze.
"Kau sungguh menyukai negara ini daripada Dubai?" tanya Nina.
"Lebih suka Indonesia, lah." Nina terkekeh.
"Dasar wanita Indonesia. Dengarlah, kau sudah separuh Emirati sekarang." Feroze menari hidung Nina.
"Ih enak saja, aku masih tetap Indonesian, dong!"
"Tidak, kamu Emirati sekarang. Kamu lupa banyak cairanku yang masuk kedalam tubuhmu? Itu tandanya tubuhmu sudah tercampur denganku."
"Mana ada begitu? Dasar aneh. Sudahlah, aku mau mandi." Nina beranjak dari duduknya.
"Hey ini winter."
"Terus kenapa? Kan ada air panas. Lagipula, jika aku tidak mandi, suamiku mana mau memeluk dan menciumku karena badanku bau."
Feroze tersenyum dan menarik tangan Nina hingga Nina terduduk di pangkuan Feroze.
"Bagaimanapun aroma tubuhmu, kamu selalu menggoda, Habibty." Feroze mencium bibir Nina.
"Lepas, aku mandi dulu." Nina pun pergi dengan segera karena terus digoda oleh Feroze. Lama-lama ia akan terlena juga.
Feroze hanya tersenyum menatap Nina yang pergi meninggalkannya. Ia sungguh makin cinta pada Nina. Nina yang dulu nya pendiam, kini lebih terbuka pada Feroze. Nina juga sudah tak malu menunjukkan rasa cintanya pada Feroze. Maka dari itu, semakin hari, Feroze semakin mencintai Nina.
__ADS_1
Nina yang ketus dan selalu menghindar saja membuat Feroze tergila-gila, apalagi Nina yang menunjukkan rasa cintanya? Karena itu, Feroze selalu ingin Nina berada disampingnya hingga selalu membawa Nina serta duo M dalam perjalanan bisnisnya baik di dalam maupun di luar negeri. Karena duo M sudah mulai sekolah, hanya Nina lah yang ia bawa. Ia sungguh gembira karena masih bisa 'berpacaran' dengan Nina seperti sekarang tanpa gangguan Medina atau Mecca.
To be continue ....