
Satu bulan sudah Mecca dan Medina bersekolah, mereka cukup menikmati kegiatan mereka. Mecca yang suka karena di sekolahnya memiliki perpustakaan yang begitu besar dan memiliki banyak buku, sedangkan Medina yang begitu bahagia karena memiliki banyak teman yang asik menurutnya.
"Mecca .... Medina ...." Terdengar seorang anak memanggil duo M yang tengah bermain di halaman belakang.
"Ghia, Ghifari dan Farial ...." Medina begitu gembira melihat sepupunya datang.
Mereka semua berpelukan saling menyapa satu sama lain.
"Assalamualaikum keponakan Aunty yang manis."
"Aunty Queena ...." Mecca berlari memeluk aunty kesayangannya.
"Cocok memang mereka berdua," ejek Nina.
"Apa kabar, sayang?" Queena memeluk dan mencium Mecca.
"Baik. Aku sangat merindukan Aunty," ujar Mecca dengan senyum di wajahnya.
Mecca hanya bisa tersenyum dan bertingkah seperti anak kecil lainnya saat bersama Queena. Semua dibuat heran dengan tingkah Mecca pada Queena, termasuk Nina.
"Queen, sepertinya Ghia dan Mecca tertukar, deh. Kenapa dia justru lebih mirip denganmu?" tanya Nina.
"Kakak ini, ada-ada saja. Mecca mirip Kakak, lah. Ya memang sifatnya sedikit dingin itu dari Feroze. Memang kakak tidak lihat, kalau diluar sedingin apa Feroze?"
"Iya juga sih, tapi dia lebih mirip kamu," bisik Nina.
"Umma, aku lebih senang jadi anak Aunty Queena. Setidaknya, bahasa Arab Aunty jauh lebih baik daripada Umma," ujar Micca dengan wajah datarnya.
"Mecca, aku ini Ummamu, loh. Kasih Umma senyuman, ya."
"Lancar dulu berbicara Arab, baru Mecca berikan senyuman."
"Hahahahaha anakmu ini sungguh menggemaskan, Kak."
Nina hanya menyebikkan bibirnya.
Kedatangan Queena serta triplets G itu bukan untuk liburan atau berkunjung, tetapi ada hal lain. Yaitu, masuk sekolah di Al-Qodir Academy. Triplets G memang sudah mendaftar sama seperti duo M, namun saat mulai masuk, mereka tidak bisa hadir karena kakek mereka Datuk Malik meninggal, hingga mereka tidak bisa hadir di sekolah.
Queena akan menitipkan triplets G pada Nina dan Feroze. Awalnya, ingin menitipkan pada Ummu dan Baba, tetapi triplets G ingin tinggal di kediaman Feroze karena ada Mecca dan Medina. Hingga akhirnya, mereka akan tinggal bersama.
"Bagaimana kondisi Academy?" tanya Ghia pada Medina.
"Luar biasa! Aku dan Mecca mengikuti kelas karate, memanah dan berkuda. Kau harus mencobanya, itu sungguh menyenangkan," ujar Medina.
"Oh ya? Wah aku harus mencobanya juga. Apakah ada kelas bahasa?" tanya Ghia kembali.
"Ada! Ada enam kelas bahasa. Tapi untuk pre-school, baru ada English. Di kelas satu sampai kelas enam bahasa Jepang dan Belanda. Kelas tujuh dan delapan bahasa Korea dan Turki lalu kelas sembilan sampai dua belas bahasa perancis dan Jerman."
"Yah, berarti harus menunggu sampai kelas satu untuk mempelajari bahasa Jepang dan Belanda? Sungguh tidak asyik!" gerutu Ghia.
"Selama Pre-school, kita lebih fokus hafalan Alquran, Ghia. Kau tahu sendiri peraturan disana bagaimana."
"Benar juga. Hafalan Alquran sungguh sulit. Aku saja baru hafal tiga juz."
__ADS_1
"Oh ya? Aku sudah lima dan Mecca sudah tujuh juz," jawab Medina.
"Wah, hebat sekali kalian."
"Baba dan Umma selalu menyuruh kami untuk menghafal setelah salat subuh. Kami akan menghafal dua sampai empat lembar setiap pagi. Sebelum hafal, kita tidak boleh sarapan. Apalagi sekarang sudah mulai sekolah. Jam tujuh harus siap berangkat. Jadi, harus semakin giat berhafal."
"Aku harus ikut menghafal dengan kalian sepertinya. Maamu memang luar biasa," ujar Ghia.
Maamu adalah sebutan Paman dari pihak Ibu. Triplets G memanggil Feroze dengan Maamu karena dari pihak Balqis.
Ghifarial bersama Mecca berada di kandang Miaw. Mereka berdua memang cocok. Sama-sama dingin dan memiliki hobi yang aneh.
"Keren sekali ini, Mecca. Aku sungguh iri padamu. Aku juga ingin memelihara sebuah panther, tapi Papa melarangku. Semua orang akan takut katanya," ujar Ghifarial.
"Kau bisa memeliharanya disini. Aku akan katakan pada Baba."
"Oh ya? Apakah Maamu akan mengabulkan?" tanya Ghifarial bahagia.
"Tentu. Kita tunggu Baba pulang, ya."
Ghifarial mengangguk bahagia.
"Ayo kita ke perpustakaan, Baba membuatkan sebuah perpustakaan, loh, untukku." Mecca mengajak Ghifarial menuju perpustakaan bawah tanah yang baru dibangun Feroze untuk Mecca.
Sungguh anak-anak luar biasa, meski pun begitu, mereka tetap memiliki jiwa anak-anak yang menyenangkan dengan caranya sendiri.
Hari dimana triplets G masuk sekolah pun datang. Ghifari dan Ghifarial ikut bersama Medina. Sedangkan Ghia, ikut dengan Mecca.
"Waalaikumsalam. Wah wah Einstein kita sudah datang. Ahmad, siapa anak kembar itu?" tanya Hussain salah satu teman sekelas Ahmad.
"Mereka teman baru kita. Kenalkan, Ilyas dan Ilyasa."
Ghifari memiliki sifat seperti Medina yang ramah dan asik berbeda dengan Ghifarial yang memiliki sifat yang sama seperti Mecca. Ghifari memiliki nama Ilyasa, sedangkan Ghifarial bernama Ilyas.
"Ilyas, kau duduklah bersama Ali. Kalian berdua tuh sama. Biar aku duduk dengan Ilyasa," ujar Medina pada Ghifarial.
Ghifarial menatap Ali yang tengah membaca buku tentang tata surya. Ia tersenyum ternyata ada juga teman yang asik seperti Mecca. Ghifarial pun berjalan menghampiri meja Ali, lalu duduk disampingnya.
"Ilyas," ujar Ghifarial tanpa menoleh.
"Ali," jawab Ali yang tetap membaca bukunya.
"Aku sudah membaca buku itu lebih dari tiga kali. Apa kau mau melihat buku Astronomi yang lebih lengkap?" tanya Farial.
Ali pun akhirnya menoleh pada Farial. "Kau memilikinya?"
"Tentu." Farial meraih sesuatu di dalam tas nya. Yang bukan lain adalah buku tata surya berbahasa Inggris dengan ketebalan buku sampai seribu halaman.
"Wow, ini luar biasa. Aku sudah mencari buku ini sejak lama tidak aku jumpai." Ali meraih buku itu.
"Tentu kau tidak bisa menemukannya, buku ini keluaran NASA hanya ada seratus di dunia."
"Hebat sekali kau bisa memilikinya."
__ADS_1
"Sebenarnya, ini bukan milikku. Tetapi milik sepupu parempuanku. Dia sungguh keren, di rumahnya, ia memiliki perpustakaan khusus astronomi. Dia memang bercita-cita ingin menjadi astronot."
"Oh ya? Pasti gadis yang pintar."
"Sangat," jawab Ghifarial. "Sayang sekali kita tidak boleh berhubungan di dunia luar, kalau bisa, akan aku bawa kerumahnya. Kau tahu, dia memiliki peliharaan harimau putih."
"Oh ya? Aku juga memiliki peliharaan harimau, hanya bukan harimau putih."
"Wow keren. Aku pun ingin memelihara panther," ucap Ghifarial.
Ali dan Ghifarial benar-benar sangat cocok. Mereka berdua seakan memiliki dunianya sendiri.
"Kau lihat? Mereka berdua cocok. Ditambah Mecca, sempurna triple aneh itu," bisik Medina pada Ghifari yang membuat mereka terkekeh.
Di kelas putri, Mecca berjalan menuju kelas bersama Ghianina yang di Academy bernama Zahra.
"Syarifah ...." Hajjar melambaikan tangannya pada Mecca.
"Siapa?" Tanya Ghianina.
"Teman sebangkuku yang sama bawelnya denganmu," jawab Mecca ketus.
"Kau ini, menyebalkan sekali!" gerutu Ghia.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Wah kamu siapa?" tanya Hajjar.
"Kenalkan, namaku Zahra. Aku murid disini, hanya telat masuk," Ghia terkekeh.
"Oh kenalkan, aku Hajjar. Alhamdulilah akhirnya aku memiliki teman yang normal. Kau tahu? Dia menyebalkan sekali, kaku seperti mummy," ejek Hajjar pada Mecca.
Mecca hanya memutar bola matanya, lalu duduk. Mecca hanya bisa menghela napasnya. Berteman dengan Hajjar saja membuatnya pusing, sekarang ditambah Ghianina.
To be continue ....
bonus Visualisasi triplets G, Hajjar dan Ali
Ghifari dan Ghifarial
Ghianina
Hajjar
Ali
__ADS_1