Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 47


__ADS_3

Setelah mengatur liburan bersama, keesokan harinya Nina, Feroze, Arsyad, Nadira dan si kecil Rasyad siap untuk mengunjungin salah satu tempat wisata yang belum Nina kunjungi yaitu Madurodam. Nina begitu bersemangat karena sebelum-sebelumnya ia dan Feroze hanya selalu diam di Amsterdam.


Mereka akan menggunakan minibus luxury yang Feroze miliki untuk hotelnya. Ia sengaja menggunakan minibus karena untuk kenyamanan selama perjalan mengelilingi negara kincir angin tersebut. Nina pun begiti bahagia karena Feroze benar-benar mewujudkan keinginannya.



Mereka akan menuju kota Den Haag yang berjarak 65 KM dari kota Amsterdam. Sepanjang jalan, mereka berempat berbincang seru banyak hal. Dari soal bisnis, soal anak-anak dan lainnya.


"Rasyad lucu banget, sih." Nina terus bermain dengan Rasyad yabg sedsng dslam pangkuannya.


"Udah cocok nambah lagi tuh kak," sahut Nadira.


"Sedang proses, doakan, ya. Si duo M sekarang benar-benar tidak bisa jadi mainan lagi. Apalagi semenjak ada triplets G. Kakak sampe kesel kalo mau manjain mereka. Katanya 'kita sudah besar, Umma. Malu sama triplets G masa dikekepin Umma terus. Mending Umma kasih adik saja buat Umma mainin.' begitu jawab mereka," ujar Nina.


"Hahahahahaha Mecca pasti yang bilang, ya? Dia benar-benar mirip kak Queena, deh. Dingin gitu wajahnya apalagi kalau sedang berduaan dengan kak Queena, seperti anak kandung. Justru Ghia yang mirip kak Nina." Nadira tertawa yang selalu saja meledek bahwa Mecca dan Ghia tertukar.


Dua wanita itu tertawa bersama membahas anak kembar itu. Sedangkan Feroze dan Arsyad membahas akan nonton bareng seoak bola di Amsterdam minggu depan.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, mereka pun sampai di Madurodam.



Madurodam adalah taman miniatur yang terletak di distrik Scheveningen di kota The Hague (Den Haag), Belanda, dekat Scheveningen Beach. Taman miniatur ini dibuka pada tahun 1952 dan telah dikunjungi oleh kurang lebih 10 juta pengunjung. Madurodam memiliki total area seluas 10,000 m2 dan di dalamnya kita bisa melihat bangunan model replika dari bangunan-bangunan bersejarah dan terkenal di Belanda yang dibuat dengan skala 1:25 ukuran aslinya. Beberapa bangunan terkenal yang bisa Anda jumpai miniaturnya di Madurodam di antaranya adalah Rijks Museum, Anne Frank's House, Peace Palace, Binnenhof, Delta Works, kincir angin, Cheese Market, pabrik sepatu kayu, kebun bunga tulip, dan masih banyak lagi.


Selain bangunan model, di Madurodam juga terdapat berbagai media interaktif yang bisa dimainkan, playground, toko suvenir, dan juga restauran. Dengan merogoh kocek sebesar €46,50 untuk anggota keluarga sebanyak empat orang, kita bisa melihat miniatur tempat wisata di Belanda.


Sepasang suami istri itu keluar dari van nya. Mereka berjalan masuk kedalam tempat wisata. Begitu indah, itulah yang terlihat di mata Nina. Bangunan-bangunan kecil yang indah membuat nya kembali seperti anak kecil. Nina bersemangat untuk melihat satu per satu bangunan-bangunan itu.


"Assalamualaikum. Lihatlah, Umma sedang dimana." Nina tengah melakukan panggilan video call dengan anak-anaknya.


"Waalaikumsalam. Umma, itu keren sekali. Kalian sedang dimana?" tanya Medina yang begitu iri melihat bangunan kecil itu.


"Kami sedang berada di Madurodam. Lihat, ada Om Arsyad, Tante Nadira dan si kecil Radyad juga bersama kita." Nina menunjukkan keluarga kecil itu.


"Assalamualaikum, Medina. Lihatlah, kita sedang jalan-jalan dengan Baba dan Umma mu. Ah sayang sekali kamu tidak ikut," ujar Nadira.


"Enjoylah. Kami juga disini gembira," jawab Mecca dengan datarnya.


"Hey anak gadis, apa kamu tidak merindukan Umma mu?" tanya Nina pada Mecca.


"Tidak! Aku justru senang tidak ada Umma, tidak ada lagi yang cerewet."


"Feroze, lihatlah anakmu itu. Dia sungguh tak punya hati." Rengek Nina pada Feroze.


"Cih drama." Mecca pun pergi meninggalkan Medina yang masih berbicara dengan Umma nya.

__ADS_1


Setelah melakukan panggilan video call, Nina dan yang lain kembali bersenang-senang. Nadira dan Nina pastinya akan terus berfoto, bahkan Nina sudah membeli kamera profesional keluaran terbaru untuk mengabadikan momen bahagianya itu.


"Habibi, yang bagus, ya, fotonya," ujar Nina yang sedang berdiri di sebelah miniatur sebuah kastil.


Cekrek, cekrek, cekrek. Feroze memotret istri kesayangannya itu. Arsyad dan Nadira hanya bisa tersenyum melihat kelakuan kakaknya itu. Semakin hari, Nina semakin ceria. Berbeda dengan Nina yang dulu si pendiam. Feroze begitu banyak memberikan cinta hingga Nina begitu bahagia.


"Feroze ...." Teriak seseorang.


Feroze dan yang lain berbalik ke arah suara.


"Elizabeth."


"Cih si setan betina lagi," gerutu Nina.


"Aih kak, sejak kapan itu mulut berkata kasar? Astaga."


"Lihat itu, wanita tidak tahu diri yang ingin merebut Feroze," ujar Nina pada Nadira.


"Siapa dia?" tanya Arsyad.


"Manta Feroze. Sejak beberapa hari ini menggangu kita terus! Kesel kakak."


Terlihat Feroze dan Elizabeth tengah berbincang. Tak lama, Feroze kembali menghampiri Nina.


"Habibty, Elizabeth sedang di sini juga, terus kita sedang membicarakan bisnis. Jangam cemburu."


"Ih siapa yang cemburu?" elak Nina.


"Kkhhhhhmmmm kak Nina bisa cemburu juga ya? Kirain kayak Mecca cuek bebek," ejek Nadira.


"Ih aku gak cemburu."


"Feroze, don't forget." Elizabeth seperti memberi isyarat untuk menelepon lalu mengedipkan sebelah matanya.


Nina yang kesal melayangkan tinjuan pada lengan Feroze. Ia juga menginjak kaki Feroze yang membuat Feroze meringis.


"Sakit, Habibty."


"Siapa suruh genit sama setan betina itu!" Nina berjalan meninggalkan Feroze.


"Nina tunggu ..." Feroze mengejar Nina.


—oOo—


Setelah puas bermain di Madurodam, kini, mereka bersiap untuk ke tempat wisata selanjutnya. Mereka akan pergi menuju Desa Kinderdijk yang berada di Alblasserwaard, Provinsi Belanda Selatan yang berjarak 53 km dari Den Haag atau sekitar dua jam perjalanan.

__ADS_1


Sampailah mereka di desa Kinderdijk. Desa yang terkenal dengan 1.000 kincir ini merupakan salah satu tempat wisata di Belanda yang paling populer. Tempat wisata di Belanda yang satu ini terletak sekitar 15 km dari kota Rotterdam atau tepatnya berada di Alblasserwaard, Provinsi Belanda Selatan.


Kincir angin merupakan salah satu ikon dari negara Belanda. Desa Kinderdijk dulunya merupakan dataran rendah yang posisinya di bawah permukaan laut dan sangat rawan banjir. Pada awalnya untuk mengatasi masalah banjir di lokasi ini, hanya dibangun sebuah kanal sederhana. Namun, karena ketinggian air terus meningkat, pada tahun 1740 serangkaian kincir angin dimanfaatkan untuk membantu polder (daratan yang posisinya di bawah level air) tetap kering. Sedangkan menara berbaling-baling berfungsi sebagai pemompa air untuk dialirkan ke waduk menuju sungai. Sekarang terbukti bahwa cara tersebut berhasil membuat Kinderdijk bebas dari banjir.


Saat ini Desa Kinderdijk populer sebagai salah satu tempat wisata di Belanda yang paling banyak dikunjungi. Kita bebas menikmati panorama indah Kinderdijk dengan berjalan kaki atau bersepeda. Tetapi, jika ingin mengetahui lebih dalam mengenai kincir angin yang ada di sana, kita bisa megunjungi museumnya yang dibuka setiap pukul 09.00 – 17.30 (15 Maret – 31 Oktober ) dan 11.00 – 16.00 (November – Desember).


Pada saat musim panas (bulan Juli) kita bisa menyaksikan beroperasinya pompa air tradisonal ala Belanda. Sedangkan pada saat musim dingin, kamu bisa bermain ice skating karena pada saat itu permukaan air sungai akan membeku.


"MashaAllah, indah sekali desa ini." Nina selalu takjub dengan desa Kinderdijk. Ia sudah tiga kali mengunjungi desa itu, namun tetap ia masih selalu mengagumi keindahan desa itu.


Mereka pun berencana berskating di canal yang beku itu. Mereka memang sudah membawa perlengkapan sendiri hingga tsk oerlu menyewa. Mereka begitu bahagia berkeliling desa dengan ber—skating ria. Rasyad pun terus bertepuk tangan dalam gendongan sang Papa.



Kincir-kincir angin raksasa itu terlihat indah dengan terbungkus putihnya salju.



Setelah puas ber—skating ria, mereka duduk dipinggiran sungai. Nina menyandarkan kepalanya dibahu Feroze. Begitu juga dengan Nadira yang melakukan hal yang sama pada Arsyad. Dua pasang anak manusia itu menikmati indahnya matahari tenggelam. Momen indah yang jarang mereka lalui karena sibuk dengan aktivitas sehari-hari.



"I love you Feroze." Nina menatap Feroze.


"I love you too Arinina." Feroze memeluk Nina dengan lembutnya.


Arsyad dan Nadira tersenyum melihat kedua Kakaknya itu.


"Kita kalah romantis dari mereka ternyata," ujar Nadira.


"Ah kata siapa?" Arsyad mencium bibir Nadira dengan begitu lembut.


Ah, untung saja Rasyad sedang tidur, kalau tidak, ia pasti terbengong melihat apa yang dilakukan kedua orang tua nya.


"Aku mencintaimu, Nadira."


"Ah tapi aku tidak mencintaimu, Arsyad. Aku mencintai Papa nya Rasyad putraku."


"Kau ini." Arsyad memeluk erat tubuh sang istri serta Putra kesayangannya.


To be continue ...


Hai reader semua ... huhuhuhu maaf ya Author sudah lama gak up. lagi sibuk di dunia nyata nih. Terimakasih untuk semua reader yang masih setia membaca novel karya Mrs. A ini. Semoga pada suka ya dengan part ini.


salam manis dari Mrs. A ♥️

__ADS_1


__ADS_2