Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 23


__ADS_3

Dua hari berlalu, Ummu dan Baba telah kembali dari Abu Dhabi. Mereka sungguh terkejut melihat Feroze yang babak belur.


"Astagfirullah, Habibi. Kamu sudah janji pada Ummu untuk tidak melakukan ini lagi. Kenapa sekarang kamu seperti ini lagi? Apa yang terjadi, Nak?" tanya Ummu yang begitu sedih karena melihat wajah Feroze yang babak belur.


"Ini karena menantu Ummu yang minta ..."


Sebelum selesai mengatakan, Nina menginjak kaki Feroze hingga Feroze meringis. Ia tidak ingin Ummu dan Baba tahu permasalahan mereka.


"Kalian ini sudah sama-sama dewasa. Kalian bisa kan berbicara baik-baik tanpa perlu seperti ini? Feroze, kamu sekarang adalah seorang kepala keluarga, kamu harus bisa menahan emosimu lebih baik lagi. Apa kamu akan begini terus? Bagaimana jika nanti kamu memiliki anak dan anakmu melihat tingkah konyolmu ini? Kamu mau anakmu mengikuti? Ingatlah, jangan lakukan hal bodoh ini lagi. Kasihan pada istrimu. Dia pasti sangat sedih," ucap Baba menasehati Feroze.


"Dengarlah apa yang dikatakan Baba, Sheikh Feroze," sindir Nina.


"Oh berani ya mengejekku di depan Ummu dan Baba? Aku seret ke kandang Tiger, ya."

__ADS_1


"Ummu, lihatlah. Feroze sungguh kejam padaku." Nina mencari perlindungan pada ibu mertuanya dengan memeluk Ummu.


"Feroze, kau ini! Bagaimana Nina tidak jengkel padamu? Kamu sungguh menyebalkan. Ummu sudah katakan berikan saja Tiger pada kebun binatang. Kan bisa memelihara kucing. Banyak keutamaan dan manfaat memelihara kucing," ujar Ummu yang mengusap kepala Nina.


"Tiger juga kucing, hanya saja tubuhnya besar," jawab Feroze.


"Kucing apa? Dia bisa menerkam kita!" Kesal Nina.


"Kalian ini sunggu seperti anak kecil." Ummu tertawa melihat tingkah anak dan menantunya itu.


"Dalam sebuah pernikahan, akan ada tujuh puluh cobaan yang akan kalian hadapi. Ada dua puluh dari suami, ada dua puluh dari istri. Sepuluh dari orang tua, sepuluh dari anak dan sepuluh lagi dari sekeliling kalian. Maka dari itu, saling mendukung, saling percaya dan yang paling penting adalah saling terbuka terhadap pasangan masing-masing adalah cara terbaik menjaga rumah tangga kalian. Sebisa mungkin, masalah apapun itu entah masalah besar, masalah kecil, bahkan Kebahagiaan, kalian harus hadapi sama-sama. Janganlah ada rahasia diantara Kalian. Pikulah segalanya bersama." Sambung Baba. "Untukmu, Feroze. Jagalah ucapanmu terhadap istrimu. Jangan pernah berkata kasar, berbuat kasar bahkan memukul istrimu. Ingatlah, seberapa besar kedua orang tua mencintainya, merawatnya, memberi banyak cinta dan segala yang terbaik dari ia lahir sampai ia menikah denganmu. Mungkin tanpamu pun ia bisa bahagia bersama orang tuanya. Tetapi, ia lebih memilih tinggal bersamamu yang baru ia kenal. Ia percayakan sisa hidupnya bersamamu. Jadi, jagalah ia dengan baik. Ingatlah, kamu memiliki saudara perempuan dan ibumu adalah perempuan. Bagaimana perasaanmu jika mereka disakiti? Begitu juga kamu harus memperlakukan istrimu. Dan ingatlah, jangan pernah mudah berkata cerai atau berpisah dari mulutmu. Meski hanya bercanda atau terbawa emosi, saat kata-kata itu keluar dari mulutmu, itu sudah jatuh talak. Maka, bersabarlah menjadi seorang suami."


"Dan untukmu, Nina. Hormatilah suamimu. Karena wanita setelah menikah, surganya ada pada suaminya. Carilah keberkahan dalam keridhoan suami. Jangn pernah berbicara dengan nada tinggi terhadap suamimu. Sama seperti kamu menghormati orang tuamu, maka kamu harus lebih menghormati suamimu. Bahkan Rasulullah salallahu alaihi wassalam pernah berkata, jika seorang manusia bisa bersujud pada manusia lain, maka itu adalah istri yang bersujud pada suaminya. Karena kamu tahu? Beban seorang suami sangatlah berat. Ketika ia selesai mengucapkan ijab kabul, itu berarti semua tanggung jawab kedua orang tuamu berpindah pada suamimu. Bukan hanya itu, Suami pun akan bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan. Maka dari itu, bekerja samalah suami dan istri untuk mendapatkan ridho Allah, meraih surganya Allah bersama. Suami adalah pakaian untuk sang Istri begitu juga sebaliknya. Maka dari itu, jagalah nama baik satu sama lain. Ya Habibty, kau tahu? Allah menciptakan wanita itu sangat special, yaitu memiliki perasaan yang lebih peka daripada seorang pria. Ketika pria menggunakan logikanya, para wanita lebih menggunakan perasaannya. Maka dari itu, pria dan wanita harus bekerja sama untuk memutuskan sesuatu agar semua berjalan baik. Wanita juga diberi cobaan oleh Allah yaitu memiliki mulut yang banyak bicara. Yang artinya, Kita sebagai wanita harus menjaga kata-kata kita dengan sangat bijak. Kenapa pikiran kita ditaruh diatas dan mulut dibawah? Karena Allah ingin menunjukkan agar kita berpikir dulu sebelum bicara. Apakah yang akan kita ucapkan itu banyak manfaatnya atau banyak mudharatnya. Jika kita bimbang dalam berucap, lebih baik kita diam. Dan ingatlah, jaga mulut kita supaya tidak mudah meminta pisah terhadap suami. Karena itu bisa memberi dampak buruk dalam sebuah hubungan. Ketika bertengkar atau memiliki masalah, bicarakan berdua baik-baik, jika kalian berdua tidak memiliki jalan, maka lakukan mediasi, meminta pendapat pada keluarga, jika masih belum bisa menemukan jalan, berdoa pada Allah karena Allah lah Maha Segalanya. Kata perpisahan adalah kata yang sangat jauh yang harus kalian pikirkan. Ingatlah kata-kata Ummu dan Baba. Berumah tangga bukan hanya menyatukan cinta antara wanita dan pria, tetapi menyatukan segalanya dan saling melengkapi untuk mendapat ridho Allah," ujar Ummu tersenyum pada Nina dan Feroze.

__ADS_1


"Ummu, Baba, terimakasih atas nasehatnya. Sungguh ini sangat kita butuhkan. Nina sungguh beruntung bisa menjadi menantu Ummu dan Baba padahal Nina hanyalan wanita biasa yang tidak memiliki apapun."


"Jangan berkata seperti itu, Nak. Setiap makhluk yang Allah ciptakan adalah istimewa. Begitu juga kamu. Kami pun sangat bahagia dan beruntung memiliki menantu yang luar biasa sepertimu," ujar Baba pada Nina.


"Terimakasih, Baba, Ummu. Nina sangat menyayangi Ummu dan Baba." Nina memeluk Ummu begitu erat. "Feroze, peluklah Baba," ujar Nina pada Feroze.


"Panggil aku Habibi dulu," jawab Feroze.


"Kau ini! Awas saja, aku akan rebut Ummu dan Baba darimu."


"Kau sudah merebut seluruh duniaku, apalagi yang akan kau rebut?" tanya Feroze tertawa.


"Kalian ini." Ummu dan Baba tertawa melihat tingkah Feroze dan Nina.

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2