Dikejar Anak Sultan

Dikejar Anak Sultan
part 10


__ADS_3

Hari demi hari dilalui Nina dengan cukup berat. Pasalnya, Feroze terus mengejar Nina dengan cara aneh. Setiap hari, Feroze akan mengirimkan sebuah bunga palsu untuk Nina.


[Ya Habibty, apa kau suka dengan bunga yang aku kirimkan?]


Begitulah pesan yang selalu dikirim oleh Feroze.


[Terimakasih, Tuan. Anda tidak perlu sampai seperti ini]


Begitu juga selalu Nina balas.


Bukan hanya bunga palsu, setiap siang hari selalu ada kiriman makan siang untuk Nina yang dikirim dari restaurant mewah. Seperti siang ini, Nina mendapatkan seporsi Sushi dari restaurant mewah.


"Astaga Feroze, kau sungguh berlebihan." Nina menggelengkan kepalanya.


Sejujurnya, dibalik rasa tidak enaknya, Nina merasa terharu karena ada seseorang yang begitu perhatian padanya.


"Kkhhhmmm yang baru dapat makan siang mewah lagi nih," ejek Terry yang baru masuk ke ruangan Nina.


Nina hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Wah sushi supreme ini. Bu, boleh coba gak ? Satu aja," Terry memelas pada Nina.


Nina tertawa kecil. "Ambil lah. Ini sumpitnya." Nina memberikan sumpit pada Terry.


Feroze sangat tahu bahwa Nina selalu membagi makanannya. Nina bilang porsinya terlalu besar maka dari itu, Feroze pun selalu pesan extra alat makan agar Nina tidak sharing alat makannya.


"Astaga Bu, makanan mahal memang beda ya. Ini enak banget, Bu!" Terry begitu excited saat mencoba sushi yang harganya puluhan juta itu.


Ddrrttt ... Dddrrrttt ... Ddrrrttt ... Ponsel Nina bergetar. Terlihat nama Tuan Feroze di sana dengan panggilan video call. Setiap makan siang di waktu Indonesia, Feroze memang selalu menelepon Nina meski Nina selalu menolak untuk melakukan panggilan video karena Nina selalu merasa jantung nya tidak sehat jika melihat wajah sempurna Feroze. Nina menekan tombol voice call.


"Assalamualaikum." Nina mengucap salam.


"Waalaikumsalam, Nina. Apa kamu sudah makan siang?" tanya Feroze.


"Alhamdulilah, sudah. Terimakasih atas makan siangnya. Tapi, ..."


"Sssttttt jangan ada keluhan dengan apa yang aku berikan. Selagi makan atau barang yang tidak menimbulkan alergi, aku akan memberikan yang terbaik untukmu," ujar Feroze yang tidak ingin ditolak.


"Tapi ini sungguh berlebihan, Tuan. Sushi ini jika beli di tempat langganan saya bisa mentraktir seluruh karyawan disini."


"Oh kamu ingin menteraktir karyawanmu dengan sushi yang aku berikan hari ini? Ok aku pesankan sekarang. Ada berapa orang? Seratus?" tanya Feroze.


"Eh jangan Tuan." Nina panik karena ia tahu apa yang diucapkan Feroze akan menjadi kenyataan.


"Sore ini aku akan terbang ke Jakarta bersama Feroza untuk acara lamaran Arsyad. Apa kamu ingin sesuatu dari sini?" tanya Feroze.


"Tidak perlu, Tuan, terimakasih," jawab Nina.


"Selalu berkata seperti ini. Hhmmmm kau sunggu berbeda, Nina."


"Aku manusia, apa yang berbeda?"


"Kamu istimewa, sangat cantik."

__ADS_1


Astaga, Sultan ini sungguh gombal. Batin Nina.


"Maaf, Bu. Kita harus segera kerumah Bu Jessica untuk persiapan besok," ujar Terry yang sudah melihat jam sudah menunjukkan pukul satu siang.


"Oh, baiklah," jawab Nina


"Tuan, saya harus pergi sekarang menuju kediaman Nadira untuk persiapan besok," ujar Nina.


"Baiklah, hati-hati di jalan. Jangan terlalu lelah juga. Sampai bertemu nanti malam, ya Habibty."


"Nina, Tuan. Bukan Habibty."


"Feroze, Nina. Bukan Tuan." balas Feroze.


"Baiklah, Tuan Feroze. Saya undur diri. Assalamualaikum."


"Hemmmm baiklah Waalaikumsalam."


Mereka pun mematikan panggilannya. Setiap selesai telepon, Nina selalu tersenyum. Nina memiliki perasaan yang sama besarnya pada Feroze. Apalagi selama empat bulan ini Feroze mendekatinya, memberi perhatian luar biasa pada Nina. Tapi, Nina masih merasa tidak pantas untuk Feroze. Ia selalu menolak jika Feroze menyatakan lamarannya. Bahkan selama empat bulan itu, sepuluh kali Feroze datang menemui Nina hanya karena mendengar Nina bersin atau batuk. Feroze benar-benar gila menurut Nina. Hanya karena mendengarnya batuk atau bersin selalu menyangka dirinya sakit. Hingga setiap ia merasa ingin bersin atau batuk ketika Feroze menelepon, Nina selalu mematikan panggilannya.


"Ayo, Terry. Kita jalan sekarang."


Nina dan Terry berjalan keluar perusahaan menuju kediaman Jessica untuk mempersiapkan acara lamaran Arsyad dan Nadira.


**


Malam pun datang. Feroze dan Feroza telah sampai pukul sembilan malam di kediaman Eriska. Meraka disambut oleh semuanya termasuk Nina. Feroze begitu bersinar saat melihat orang yang ia cintai itu. Mereka semua pun berbincang juga makan malam bersama hingga pukul sepuluh malam. Semua orang telah masuk kedalam kamar masing-masing.


[Ya Habibty, aku tunggu di ruang makan, ya]


Feroze mengirim pesan pada Nina.


"Apa maksudnya ???" tanya Nina.


[Aku mohon, datanglah. Kita makan cookies dan orange juice]


Feroze mengirim pesan kembali.


[Ok sepuluh menit lagi, aku turun]


Begitu balasan Nina.


"Yessss!!!" Feroze begitu bahagia hingga segera ia keluar dan turun menuju dapur.


Feroze meraih cookies yang ia bawa dari Dubai. Cookies terbaik yang chef buat untuk Nina. Tidak lupa, ia menuangkan dua gelas orange juice. Terlihat, Nina datang dengan piyama navy dengan hijab senada tak lupa kaca mata bulat yang bertengger dimatanya.


"Habibty." Feroze menghampiri Nina lalu memeluknya.


Nina sontak terkejut. Dengan segera, ia melepaskan pelukan Feroze.


"Tuan, jaga batasanmu," ujar Nina merasa tidak nyaman.


"Maaf, aku khilaf. Ayo duduk." Feroze menarik kursi untuk Nina.

__ADS_1


Nina pun duduk.


"Ada apa Tuan memintaku kesini?" tanya Nina.


Feroze tersenyum. "Makanlah dulu Cookiesnya." Feroze menyuapi Nina.


"Aku bisa sendiri." Nina meraih cookies dari tangan Feroze, tetapi ditolak oleh Feroze.


"Ayolah, agar aku bisa tidur nyenyak dan tidak tidur berjalan lagi." Feroze kembali menyuapi Nina.


Nina merasa canggung, tetapi hatinya tak bisa menolak hingga ia menerima suapan Feroze.


"Heemmmm cookies ini enak sekali. Ini tidak seperti cookies yang biasa aku makan?" tanya Nina bingung.


Feroze tersenyum. "Ini aku bawa dari Dubai untukmu. Kamu selalu menolak apa yang aku berikan. Lalu aku ingat kamu selalu makan cookies setiap ingin tidur, jadi aku minta chef di rumah membuatkan untukmu. Apa kamu suka?" tanya Feroze.


"Suka, ini sangat enak. Terimakasih," ujar Nina tersenyum.


"Ini masih ada sembilan toples lagi. Ada di kamar. Besok aku berikan, ya."


"Hah? Sembilan toples? Tidak salah?" tanya Nina terkejut.


"Itu stock untukmu. Jika habis, akan aku kirim dari Dubai." Feroze terus menyuapi Nina.


"Ah tidak perlu, sungguh merepotkan." Tolak Nina.


"Aku senang jika kamu senang. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu tersenyum." Feroze membersihkan sisa cookies disamping bibir Nina.


Nina benar-benar merasa bimbang dengan perasaannya. Ia sungguh gembira Feroze memperlakukannya seperti ini. Tetapi ia juga takut terbuai dengan segalanya.


"A---aku masuk kamar dulu, ya. Besok harus bangun lebih awal untuk mempersiapkan segalanya."


"Baiklah, ayo kita ke atas."


Mereka pun berjalan menuju kamar mereka yang berada di lantai dua.


"Istirahatlah. Besok jangan terlalu sibuk, kamu tidak boleh terlalu lelah, nanti sakit." Feroze menepuk pelan pipi Nina tetapi Nina menghindar.


Feroze mendengus kesal. "Aku sungguh ingin menikahimu segera, Nina! Ayolah kita menikah."


"Maaf, Tuan. Aku tidak bisa menerimanya." Nina tertunduk.


"Apa sebenarnya yang membuatmu menolakku? Katakan! Apa kurang ku padamu? Aku akan merubahnya."


"Maaf, Tuan. Aku masuk dulu." Dengan buru-buru, Nina masuk kedalam kamarnya.


"Nina ... Nina ... Ahhhh shit!" Feroze pergi dengan keadaan kesal. Ia masuk kedalam kamar juga menguncinya. Ia pasti tahu saat tidur akan mengalami tidur berjalan lagi karena moodnya yang kacau.


Kamu terlalu sempurna untukku. Sedangkan aku, tidak pantas bersamamu, Feroze. Nina menangis di balik pintu.


"Ya Allah, kenapa Engkau berikan perasaan ini untuk Feroze? Kenapa tidak pada pria biasa saja." Nina mengusap dadanya yang terasa sakit.


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2