
Pagi hari pun tiba. Nina begitu sedih karena sepanjang malam sampai pagi, Feroze tidak kembali ke kamar mereka. Nina pun akhirnya salat subuh sendiri lagi. Ia menatap sajadah yang biasa Feroze gunakan ketika mereka salat bersama. Setelah melepas mukenanya, ia meraih hijab nya lalu berjalan keluar kamar mencoba menemui Feroze.
Nina bingung harus mencari Feroze kemana. Kamar di kediaman Feroze begitu banyak. Hingga Nina mendengar suara ribut. Nina menghampiri suara tersebut. Yang ternyata seorang pelayan terkunci di gudang. Semua orang sudah maklum dengan kejadian seperti ini yang berarti Feroze tidur berjalan lagi.
"Madame, apakah anda membutuhkan sesuatu?" tanya pelayan.
"Dimana Feroze?" tanya Nina.
"Ada di kamar Sheikh Hanafi, Madame. Semalam Sheikh tidur berjalan lagi lalu menuju kamar Sheikh Hanafi." ujar Pelayan kembali.
"Baiklah, terimakasih." Nina pun pergi menuju kamar mertuanya.
Sampailah ia didepan kamar mertuanya. Nina benar-benar canggung masuk ke dalam tanpa seizin mertuanya. Baba dan Ummu memang sedang tidak ada di rumah karena tengah pergi ke Abu Dhabi.
"Masuk saja, Madame. Tidak apa-apa." Terdengar suara berat seorang pria dari belakang Nina.
"Musa."
"Masuk saja, Madame. Sheikh sedang demam. Sheikh pasti membutuhkan Madame."
"Demam? Astagfirullah ... Ambil lah plester demam." Dengan segera, Nina masuk ke dalam kamar mertuanya itu.
Terlihat Feroze tengah berbaring menggunakan gamis berwarna navy yang berarti Feroze baru selesai salat. Nina duduk di bibir tempat tidur. Ia menyentuh dahi Feroze. Benar saja, Feroze demam tinggi.
Nina kembali berjalan cepat dengan wajah panik mencari Musa.
"Musa, cepat panggilkan Dokter. Demam feroze benar-benar tinggi," ujar Nina panik.
"Baik, Madame. Ini plesternya." Musa memberikan plester penurun demam pada Nina.
Nina pun masuk kembali kedalam kamar. Ia tempelkan plester tersebut. Feroze yang merasa dingin di dahinya membuka mata. Ia melihat Nina dengan wajah khawatirnya.
"Feroze ..." Nina memeluk Feroze dengan menangis. "Maafkan aku ... Aku mohon maafkan aku ..." Nina terisak dalam pelukan Feroze.
"Bantu aku untuk duduk," ujar Feroze.
Nina membantu Feroze untuk duduk.
"Kemarilah ..."
Nina pun memeluk Feroze. "Maaf ... Maaf ..." Nina terus menangis menyesali perbuatannya.
Feroze mengusap kepala Nina dengan lembut. "Berjanjilah, jangan mengatakan hal itu lagi. Aku tidak ingin mendengarnya. Kamu selamanya akan tetap istriku. Suka atau tidak." Feroze melepas pelukannya. Ia menghapus air mata Nina yang jatuh. "Berjanjilah akan selalu bersamaku. Hanya maut yang akan memisahkan kita."
Nina mengangguk.
"Aku ingin mendengar jawabanmu, bukan anggukan."
"Aku janji padamu. Hanya Allah yang bisa memisahkan kita."
Feroze tersenyum lalu memeluk Nina kembali. "Jika kamu tidak suka, jika aku salah, katakanlah, Nina. Aku akan menuruti semua maumu. Kita bisa menyelesaikan baik-baik."
"Jangan pernah melukai dirimu seperti ini lagi. Aku sangat takut kehilanganmu. Lihatlah, wajah tampanmu jadi rusak begini." Nina mengusap wajah Feroze yang babak belur.
"Jangan pernah menyakiti hatiku, Nina. Atau aku bisa melakukan hal yang lebih parah daripada ini."
"Jika kamu melakukan ini lagi, aku benar-benar akan pergi meninggalkanmu." Ancam Nina.
__ADS_1
"Berani mengancam Feroze?" Feroze mencubit pinggang Nina.
"Awww sakit, Feroze!" Nina meringis.
"Berani mengancam Feroze Al-Barokh? Hah?"
"Baiklah ampun, Sultan ..."
Pintu kamar diketuk.
"Sepertinya Dokter sudah sampai. Aku akan membukanya." Nina hendak beranjak tetapi ditahan oleh Feroze.
"Pergilah ke walk in closet. Lihat, kamu masih mengenakan piyama."
"Baiklah." Nina mengecup pipi Feroze lalu pergi menuju walk in closet.
"Mulai nakal ya Kamu," ejek Feroze.
Nina hanya tersenyum malu berlari menuju walk in closet.
Tak lama, Musa dan Dokter pria masuk kedalam. Dokter memeriksa keadaan Feroze.
"Sheikh, kenapa bisa begini?" Dokter yang heran melihat Feroze babak belur.
"Namanya juga laki-laki, Dok. Beberapa hari juga membaik," jawab Feroze.
"Sudah menikah bukannya berubah justru makin parah. Saya akan buatkan resep untukmu. Luka ini akan sembuh segera. Beristirahatlah."
"Terimakasih, Dokter."
"Baiklah, saya permisi dulu."
"Baiklah, Sheikh."
Musa pun keluar dari kamar mengantar Dokter.
"Habibty, keluarlah."
Nina pun keluar.
"Kemarilah."
Nina pun naik ke atas tempat tidur, duduk di samping Feroze.
"Kenapa aku seperti selingkuhanmu harus bersembunyi?" protes Nina.
"Memang tidak malu, menggunakan piyama seperti ini?" tanya Feroze menatap piyama bergambar SpongeBob.
"Hehehehehehe." Nina hanya tertawa malu.
"Kamu ini, sudah berusia tiga puluh tahun, tapi suka menggunakan piyama kartun." Feroze mencubit pipi Nina.
"Memang kenapa? Lucu tau! Nanti saat pulang ke Indonesia, aku akan beli piyama couple bergambar mickey dan Minnie. Bagaimana?" tanya Nina.
"Tidak! Bikin malu saja!"
"Ayolah, pasti sangat lucu Suamiku ini menggunakan piyama bergambar mickey mouse." Rayu Nina.
__ADS_1
"Kau ini, ada-ada saja. Kemarilah, aku ingin tidur memelukmu."
Nina pun mendekat dan mereka berbaring bersama. Nina berbaring dalam pelukan Feroze.
"Kenapa masih belum jadi juga ya? Sudah satu bulan aku berusaha." Feroze mengusap perut Nina.
"Mungkin Allah belum memberikan kepercayaan. Sabar saja."
"Sepertinya aku harus mencoba lebih sering," goda Feroze.
"Jangan macam-macam! Lihat tubuhmu masih terluka begitu."
"Hanya wajah yang terluka, yang bawah kan tidak." Goda Feroze.
"Ih Feroze! Jangan macam-macam." Wajah Nina sudah merona mendengar perkataan Feroze.
"Baiklah, aku hanya ingin tidur. Semalam aku tidak tidur nyenyak memikirkanmu." Feroze mengusap lengan Nina dengan lembut. "Setelah memarku hilang, kita pulang ke Indonesia, ya."
Mendengar itu, Nina menatap Feroze. "Benar?"
"Iya, memang kapan aku pernah berbohong padamu? Tapi janji akan kembali kesini bersamaku."
"Tapi Perusahaanku bagaimana jika aku tidak ke kantor? Siapa yang akan mengurusnya?" tanya Nina.
"Tenang saja, aku akan mengutus seseorang untuk mengurus Perusahaanmu. Kamu hanya perlu menjadi istriku yang baik di sisiku."
"Jadi, aku hanya akan di rumah? Apa yang bisa aku lakukan? Kau tahu sendiri aku sejak remaja sudah bekerja."
"Bukankah kamu ingin menjadi penulis? Menulislah di rumah ini. Aku akan memberimu segalanya agar kau betah di sini. Kamu bisa pergi jalan-jalan, shopping atau melakukan apapun. Tugasmu hanya menemani hari-hariku. Bahagia di sisiku." Feroze mulai menciumi wajah, leher dan telinga Nina.
"Feroze geli ..."
"Panggil aku Habibi." Feroze terus menggoda Nina.
"Ti---tidak mau."
"Baiklah jika kamu tidak mau, rasakan hukuman ini." Feroze terus menciumi Nina.
"Sa---sayang hentikan."
"Kamu panggil apa?" tanya Feroze.
"Sa---sayang," ujar Nina dengan wajah yang sudah merah karena kerjaan Feroze.
Feroze tersenyum. "Katakan lagi." Feroze terus menciumi Nina yang membuat Nina kelabakan.
"Sayang ..."
"Katakan lagi ..."
"Sayang ..."
Feroze tahu arti kata Sayang karena selalu mendengar Alif memanggil Sayang pada Queena. Juga Irsyad yang selalu memanggil Feroza Sayang hinggal Feroze tahu bahwa Sayang adalah panggilan untuk orang terkasih.
Pagi itupun Nina kalah lagi oleh perlakukan hangat dan lembut Feroze. Penyatuan cinta setelah bertengkar memang selalu jauh lebih dalam. Setelah penyatuan cintanya, mereka pun tertidur kembali.
Dasar Sultan mesum! Dan aku pun selalu terbuai. Dasar kau lemah, Nina!
__ADS_1
To be continue ...