
Huh, gara-gara calon kakek itu aku jadi dikurung kan. Huh, menyebalkan. Aku nggak terima, pokoknya, aku harus kabur!
Dua hari lalu saja aku bisa memanjat pohon setinggi dua meter. Masa iya sekarang aku nggak bisa. Aku merotasikan bola mataku.
Lagipula aku tidak mungkin bermalam di sini kan? Lihat saja, gudang kosong dengan debu yang bertebaran, kardus-kardus yang tak rapih, hewan-hewan seperti tikus lari ke sana dan ke mari.
Belum lagi serangga-serangga yang bertebaran. Ini baru yang dilihat dengan mata, belum lagi dengan yang tertutup kardus. Sebenarnya aku bingung, apakah kakek tua itu tak pernah membersihkannya?
Dia punya banyak pelayan, tapi kenapa gudang ini tak pernah terurus? Namun, aku rasa, penasaranku sangat tinggi. Aku bertanya-tanya, barang apa saja yang ada di gudang ini. Apakah memang benar ini semua barang-barang yang tidak terpakai? Membuat aku heran saja.
Ah, entahlah. Intinya aku sebal. Apa iya karena aku mengerjai Miya, aku sampai dihukum seperti ini? Tau begitu, tadi aku tidak hanya dikit mengerjainya.
Menyesal? Ya, aku menyesal kurang mengerjainya tadi. Membuat kakek tua itu malah lebih semena-mena daripada aku. Aku heran, terbuat dari apa hatinya.
Kata Miya tadi, aku ini sebenarnya bukan cucu kandungnya. Namun, aku hanyalah cucu yang diangkat menjadi anak oleh anak kakek tua itu sebelumnya.
Namun, karena anak kakek tua itu sudah pergi, tidak diketahui ke mana perginya, maka saat ini Miya lah yang diurusnya. Orang yang waktu itu mengurus aku juga sebenarnya bukan orang tuaku. Bahkan, kakakku yang Leon itu, merupakan kakak tiriku.
Eh, tunggu. Aku pernah merasa nyaman bersama salah satu cucu kakek tuaku, apakah itu berarti aku memiliki perasaan yang lebih kepada cucunya yang merupakan kakak sepupu tiriku. Huh. Memusingkan. Aku saja sebenarnya tidak tahu benar sejarah keluarga ini.
Aku berharap ketika nanti aku sudah berhasil keluar dari sini, Miya akan menceritakan lebih lanjut silsilah keluarga Theo Walcott ini.
Tapi tidak penting. Aku harus keluar. Aku mengambil kardus-kardus yang berserakan. Aku menyusunnya layak tangga. Jadi, aku bisa naik ke jendela.
Namun, sayangnya. Kakek tua itu lebih pintar. Dia menutup jendela itu dari luar, serta dia menyiapkan beberapa penjaga dengan tubuh kekar. Aku tak berani meloncat, sebab nanti pasti aku akan terkurung lebih parah dari ini.
Bisa saja aku memaksakan diri, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa nanti aku akan ketahuan. Ya, aku tidak mau ambil resiko.
__ADS_1
Aku duduk di jendela itu. Karena meskipun dikunci, jendela itu tetap memiliki kaca yang transparan. Keren sekali memang.
Jujur saja, aku sangat bosan di sini. Meskipun aku jadi tidak perlu latihan, tapi aku juga tidak bisa bermain-main dan pergi ke taman.
Penjaga mondar-mandir. Sesekali dia akan duduk dan berganti jaga dengan penjaga lain. Sesekali mereka juga melirik ke arahku. Aku tak tahu apakah mereka bisa melihatku atau tidak.
Satu yang pasti, aku akan melancarkan aksiku malam nanti. Aku berharap malam segera tiba. Tepat di saat mereka berganti penjaga, di sana celahku untuk pergi.
Entah nantinya akan menjadi seperti apa, aku sudah tidak peduli. Aku ingin pergi. Waktu berlalu cepat denganku yang terus bergumam tak jelas. Tak terasa malam tiba.
Aku bertekad melancarkan aksiku. Aku membuka jendela yang terkunci dengan tali tis itu. Aku mendongak ke bawah.
"Oh em ji, ini kan rendah banget, bisa lah ya."
Aku memberanikan diriku untuk meloncat. Meskipun seluruh badanku terasa tak nyaman dan lain-lain. Aku harus bisa keluar sebelum penjaga itu balik.
Aku mendongak, memerhatikan keadaan di sekelilingku. Pintu berduri besi, pintu yang kecil dan bisa membuat orang pingsan, atau mati, jika seandainya menyentuh duri itu.
Aku berusaha tidak panik, bagaimanapun juga aku masih tidak mau mati, terlebih banyak hal yang masih menjadi misteri di sini. Aku ingin membongkar semua rahasia itu dulu agar aku mati dengan tenang.
Oh ya, kemarin juga aku sempat baca, tapi entah benar atau tidak, jaman yang aku lalui sekarang adalah jaman era baru setelah kerajaan-kerajaan itu tak lagi memiliki kuasa. Entahlah, aku tidak begitu mengerti dengan kalimat di dalam buku itu. Semoga saja benar, sih.
Sejak aku mengobrol dengan kalian, aku sudah berhasil melewati pintu itu dengan selamat. Namun, sekarang masalahnya, di depan sana sudah ramai penjaga yang menuju ke sini, aku harus bersembunyi di mana?
"Eh, itu Nona muda, tangkap dia!" ini sudah perintah dari Tuan Besar. Jadi dia memiliki kekuasaan yang lebih tinggi daripadaku.
Aku tidak tahu kakek mencari penjaga seperti mereka di mana, semuanya bagaikan anak bebek. Mungkin, tuan penjaga itu sudah pusing, makanya dia menangkapku dengan cepat. Tentunya dalam sekali tarik.
__ADS_1
Tuan penjaga itu menyeretku, aku tahu, dia pasti membawaku menuju ruangan kakek tua. Apes sekali sekarang, sudah pasti hukuman untukku bertambah kan? Atau malah dibebaskan? Toh, Miya juga sudah sehat kan?
Aku baru saja melihat Miya melintas dari kejauhan. Inikah peluang untukku? Ya, kakek tua itu memang harus melepasku!
"Pelan-pelan, ish." saat menuju ruangan kakek tua yang berjarak beberapa langkah lagi, dia semakin menarikku, tampaknya dia sangat tidak sabar melihat hukuman lainnya yang menantiku. Awas aja, aku tandain kamu! Batinku kesal.
Jantungku berdebar tidak karuan saat sampai di depan ruangan kakek tua. Kalau aku tidak salah ingat, ini adalah ruang bacanya. Dia mengetuk pintu, "Saya Juna siap melapor." ucapnya tegas.
Sama seperti perawakannya, dia sangat berwibawa, tapi jangan lupa, dia sangat menyebalkan. Bagaimana bisa dia menyeretku dengan kasar dari sana.
"Masuk!" entah suaranya dari mana tapi aku tau itu adalah kakek tua. Juna membawaku masuk, kali ini dia membawaku lebih santai.
"Nggak, gapapa." ucapku saat kakek tua bertanya.
Juna mengeratkan tangannya yang menggandeng tanganku itu. Dia seolah berkata, "jangan macam-macam".
Kakek tua kembali bertanya, "ada apa, Juna?" tanyanya. Aku merotasikan bola mataku malas, terlalu banyak drama.
"Nona Zeva kabur dari ruangannya, Tuan Besar." ucapnya melepaskan tanganku dan menunduk.
"Kok bisa? Kalian tidak becus ya?" tanyanya. Sepertinya sekarang aku harus kabur. Tapi bagaimana caranya?
"Saat kami lengah dan berganti penjaga dia kabur, Tuan."
Kakek tua menghembuskan napas kasar, dia menyuruh Juna pergi. Aku hanya bisa menggenggam jari-jemariku sendiri.
Tatapan kakek tua itu sangat tajam, menekan ulu hatiku sampai tak berasa lagi. Aku tidak berani menatapnya, maka aku hanya bisa menundukkan wajah.
__ADS_1