Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 55


__ADS_3

Zeo tidak menyangka. Zevanya akan menerima lamaran singkatnya dan menyuruh Zeo sendiri datang ke rumah Zevanya untuk berbicara dengan sang kakak, yakni Vania.


Saat ini, Zeo tampak gugup, dia memakai kaos dan celana panjang. Berulang kali Zeo merapihkan rambutnya. Huh, jika mau bertemu dengan kakak Zevanya, kenapa Zeo jadi takikardi sendiri?


Serius deh, Zeo benar-benar tidak tahu bagaimana tampang kakak Zevanya. Apakah dia menyeramkan? Apakah dia galak? Sungguh, semua itu abu-abu, bahkan Zevanya yang adiknya sendiri diam. Zevanya bahkan memilih untuk membuat Zeo penasaran tanpa memberikan clue sama sekali.


“Duh, mana Zevanya gabisa dihubungin sama sekali. Ini masa iya aku masuk ke rumahnya langsung bilang, halo kak aku mau lamar Zeva, duh, gila aja kali.” Zeo berkali-kali mendumel sendiri. Bagaimana tidak? Dia sedang ingin ditemani, Zevanya malah tidak bisa dihubungi, malah Zevanya tidak aktif sejak obrolan mereka semalam.


Apakah Zevanya sengaja? Sungguh, jika iya, Zeo ingin marah dengan Zevanya. Apa-apaan maksud dia seperti itu. Berulang kali Zeo mendumel. Dia juga berulang kali menenangkan diri.


“Huh, baiklah, mari selesaikan ini, kita mgobrol sama kakaknya. Eh, tapi, enaknya gimana ya. Apa gini, halo kak, aku pacar Zeva, aku mau menikah sama dia, eh, jangan gitu. Gini aja deh, hai kak, aku pacarnya Zevanya, aku mau melamar dia, apa boleh? Nah gitu, cakep deh.”


Kemudian, Zeo keluar dari mobilnya. Dia kembali memperbaiki tampilannya, saat dirasa sudah oke, Zeo lantas berdehem, dan menuju ke pintu besar rumah Zevanya.


Zeo sebenarnya agak kaget, sebab rumah Zevanya yang dia pikir biasa saja sangatlah mewah. Bahkan, rumah Zevanya ini tampak bukan seperti rumah yang murah, karena dari ukiran-ukiran yang ada di sana, dapat dipastikan bahwa Zevanya sebenarnya adalah orang berada. Kemungkinan keluarga Zevanya memiliki pesona yang memikat hati. Maksudnya, pesona dalam pekerjaan, ya berduit, berkharisma, dan sangat disegani orang-orang.


Namun, Zeo sendiri tidak tahu, apa yang menjadi pekerjaan orang tua Zevanya. Pebisnis? Ahli hukum? Dokter? Pejabat? Nah, Zeo sama sekali tidak dapat menentukan itu.


Zeo mengetuk pintu, “kakak mau ngapain ke sini?” tanya Miko. Ya, karena Miko sedang di ruang tamu, tentu saja jaraknya adalah yang paling dekat untuk membukakan pintu. Makanya, Miko inisiatif saja. Dia juga tahu kok kakak-kakaknya sedang sibuk.


“Kamu siapa, Dek?” sungguh, Zeo takut kedatangannya mengganggu. Zevanya tidak pernah berkata dia memiliki adik, apakah ini keponakan Zevanya?


“Aku ya manusia,” jawab Miko tengil. Sudahlah, tidak perlu dijelaskan betapa menyebalkannya muka Miko saat ini. Zeo bahkan tidak sungkan untuk mengelus rambutnya. Ya, memang, Miko semenggemaskan dan setengil itu.

__ADS_1


“Em dek, ini bener rumahnya Zevanya bukan?” tanya Zeo. Setidaknya dia masih ingat dengan tujuan awalnya.


“Bukan, ini rumahnya kak Nia.” Ucap Miko.


“Nia? Siapa Kak Nia?” Zeo kembali bertanya. Apakah Nia nama dari kakak Zevanya? Dia harus meluruskan ini, sebab bocah itu sendiri sangat menyebalkan.


“Ya kakaknya kak Zevanya sama kakak aku lah.”


Jika Zeo semakin bingung, maka Miko semakin menjadi-jadi keusilannya. Untungnya di jawaban terakhir, Zeo langsung paham. Jika Nia adalah kakak Zevanya dan kakak dari dia, maka dia, bocah di depannya adalah adik dari Nia dan Zevanya.


Tak berselang berapa lama, Zeo berhasil masuk dan duduk di ruang tamu. Sementara, adik dari Zevanya yang bernama Miko itu memanggil sang kakak, Nia. Ya, tujuan Zeo ke sini adalah untuk bertemu dengan kakak Zevanya.


“Halo kak.” Sapa Zeo. Melihat aura yang terpancar dari kakak Zevanya itu membuat Zeo pangling.


“Kamu Zeo anaknya Pak Umar bukan?” tanya Vania memastikan. Jika iya, sahabat mamanya itu ada masalah apa sampai mengutus anaknya datang kemari? Mencari dirinya pula.


“Iya, Kak. Tapi aku ke sini buat mengobrol sesuatu, ini tentang Zevanya. Bukan masalah dari keluargaku atau bahkan dari papa sendiri.” Sudah dibilang, Zeo itu kenal dengan Vania!


“Ouh, oke. Ke ruang kerja aku aja.”


Meskipun ini ruang tamu, jika obrolan itu membutuhkan ruang privasi dan mencakup obrolan serius, Vania seringkali memilih untuk mengobrol di ruang kerja yang memang didesain khusus untuk menerima tamu.


Keduanya berjalan beriringan. Mereka bahkan berpapasan dengan Zevanya, tapi tidak ada yang saling bertegur sapa. Sebab peraturan di keluarga Zevanya adalah tidak mencampuri urusan masing-masing jika sedang ada tamu.

__ADS_1


Zeo juga selaku tamu dari Vania hanya diam. Memangnya Zeo ingin dicap tidak sopan hanya karena menyapa Zevanya? Mengingat sang tuan rumah pun tidak bertegur sapa dengan adiknya sendiri.


“Kenapa?” tanya Vania. Sesaat setelah mereka masuk ke ruang kerja Vania dan mendudukkan diri di sofa.


Zeo menghela napas, seketika dia bingung harus memulai dari mana. Berulang kali Zeo mengambil napas, dan selama itu juga Vania menunggu dirinya.


Sebisa mungkin Zeo tetap bersikap sopan dan berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi bahwa dia sedang ketakutan.


“Apakah aku boleh melamar Zevanya, Kak?” tanya Zeo. Mungkin ini terdengar lancang, tetapi Zeo ingin mengurusi masalah ini dengan cepat.


“Apa yang membuat kamu mau melamar dia?” tanya Vania setelah beberapa saat.


“Banyak, salah satunya dan yang paling utama adalah karena aku cinta dengan Zevanya.” Zeo menjawab tanpa berpikir. Itu membuat Vania yakin bahwa Zeo benar-benar serius dengan adiknya. Meskipun itu tidak bisa dijadikan patokan bahwa dia menyetujui permintaan Zeo.


“Kamu tahu kan, melamar seseorang apalagi perempuan itu sebuah pertanggung jawaban? Jika sebuah hubungan yang disebut pacaran, mungkin saja hanya melibatkan perasaan tanpa memikirkan hal lain. Namun, ketika kamu sudah melamar dia, kamu berarti berjanji bahwa kamu sudah serius dengan dia, meskipun janji itu tidak diucapkan.” Vania benar-benar menjawab dengan sangat-sangat bijak sekali.


“Ya, aku paham, Kak.” Zeo sendiri menjawab tegas.


“Kamu sudah siap mental untuk menghadapi sikap marah dan tidak jelasnya seorang perempuan tanpa berbuat kekerasan?” tanya Vania lagi. Banyak yang harus dia pastikan sebelum memberi izin.


“Aku tidak bisa berjanji untuk tidak melakukan itu. Namun, saat aku sadar, sepenuhnya aku berjanji bahwa aku tidak akan melakukan kekerasan atau membuat dia menangis sedih karena aku.” Zeo juga berkali-kali membuat Vania yakin untuk memberikan dia izin.


“Dekat dengan Zevanya, berarti kamu juga siap untuk menghadapi keluarga besarnya?” Vania kembali bertanya, ini bukan hanya sekadar kesiapan finansial. Namun, ada mental yang harus dipertahankan.

__ADS_1


Sebab, Vania sendiri juga paham sekali dengan pernikahan. Cerita-cerita yang sering temannya ceritakan membuat Vania paham betul dengan apa arti dari pernikahan.


__ADS_2