Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 59


__ADS_3

“Sakit.” Zevanya merintih. Dia tidak suka rasa ini. Rasa yang membuat dia tidak ingin melahirkan.


Benar, 30 Juni 2023 adalah hari melahirkan Zevanya dan waktunya anak Zevanya untuk melihat dunia. Entah siapa nama yang akan Zeo dan Zevanya berikan kepada buah hati mereka.


Zevanya terus-terusan meringis, membuat Zeo juga ikut merasakan sakitnya. Sungguh, Zeo akan meminta untuk menggantikan Zevanya jika dia bisa. Melihat Zevanya kesakitan untuk melahirkan buah hatinya membuat Zeo ikut tersayat hatinya.


Namun, Zeo juga ikut bahagia. Sebab, inilah penantian yang akan berbuah setelah menunggu sembilan bulan lamanya. Dari trimester pertama yang mengalami morning sickness. Trimester kedua yang disulitkan dengan segala ngidamnya Zevanya. Sedangkan trimester ketiga, Zeo juga masih disulitkan dengan protesan-protesan Zevanya dan juga pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan oleh Zeo sendiri.


“Sayang, sakit banget, ya?” tanya Zeo. Bukannya tidak paham, tapi Zeo ingin membuat atensi istrinya itu fokus dulu kepadanya. Sebab, Zeo paham betul bagaimana rasa sakitnya, apalagi Zevanya melahirkan untuk yang pertama kalinya.


“Kamu pikir gimana?” tanya Zevanya berdecak. Suami macam apa yang tak peka dengan wajah yang istrinya tunjukkan. Huh, sungguh tidak layak mendapatkan julukan suami siaga.


“Ya gitu, pokoknya gitu, hehe.” Zeo terkekeh. Melihat ekspresi Zevanya, dia memilih untuk mundur dan membantu Zevanya bergerak di bola yang katanya bisa membantu pembukaan lebih cepat.


“Eungggghhhhh,” rintih Zevanya. Wanita yang sebentar lagi menjadi ibu mengerang sekencang-kencangnya bersama dengan dorongan yang dia berikan untuk si bayi.


“Ayo, bu! Lagi, bu!” seru bidan. Di saat suami Zevanya menjadi tempat pelampiasan. Para bidan itu malah membagi tugas untuk membantu Zevanya.


Salah satunya ada Bidan Yura, dia selalu sigap membantu Zevanya sedari kontraksi awal. Bidan yang pertamanya membuat Zevanya tegang, tapi hanya sementara, sebab setelah itu, mereka malah mengobrol dan sering melupakan kehadiran Zeo.


Namun, Zeo sendiri tidak masalah. Dia tahu, Zevanya butuh teman bicara selain dirinya. Sebab, jika mengobrol dengan dia saja, dapat dipastikan Zevanya harus menelan rasa bosan.


Di dorongan ke lima, Zevanya berhasil mengeluarkan bayinya. Entah apa jenis kelamin bayinya, tapi Zevanya benar-benar merasa senang. Zevanya bahkan menangis haru saat mendengar tangisan bayinya.


Seketika, satu ruangan menjadi penuh dengan tangisan bayi kecil yang baru keluar dari rahim ibunya. Betapa besar perjuangan seorang ibu untuk melahirkan bayi kecil seperti itu. Bahkan, mereka rela menahan sakit dan menjalani nikmatnya kontraksi.

__ADS_1


Tidak hanya Zevanya, Zeo juga merasakan bahagia bercampur bangga. Bibit unggulnya, akhirnya berhasil lahir ke dunia dengan keadaan sehat sentosa, bahkan tidak mengalami gangguan pernapasan. Zeo juga bahagia, sebab anak itu lahir dari rahim perempuan yang sangat dia sayangi.


“Sekarang kita sudah jadi orang tua, Ze,” ucap Zeo. Dia berbinar haru, bahkan matanya selalu memperhatikan bayi mungil yang tengah digendong seorang bidan agar badannya bisa dibersihkan.


“I-iya, Sayang. Aku juga nggak nyangka.”


Memang, Zevanya tidak pernah berpikir bahwa dia bisa menjadi ibu dalam waktu yang secepat ini. Zevanya memang sudah siap, tapi menjadi ibu di umurnya yang baru berkepala dua membuat Zevanya berulang kali merasakan kaget yang tidak terduga.


Keduanya saling berpelukan setelah Zevanya mendapatkan jahitan karena sebagian dari jalan keluar bayinya robek.


Usia bayi Zeo dan Zevanya itu sudah menginjak satu bulan kurang lima belas hari. Karena Zeo bukanlah seseorang yang bisa mengambil cuti dan bersantai. Makanya, seringkali Zeo meninggalkan Zevanya di rumah besar mereka sendiri.


“Gapapa kan aku tinggal?” Zeo kembali memastikan. Dia takut bahwa Zevanya sedang berada di fase-fase manjanya.


“Iya, gapapa. Sana pergi.” Ucap Zeva, toh dia sudah biasa ditinggal meeting oleh suaminya kan?


Beberapa saat setelah memastikan mobil Zeo melaju, tepat dari jendela kamarnya. Zevanya menaruh bayi perempuan itu di atas kasurnya yang berada di dalam box bayi.


Kemudian, Zevanya mengambil posisi tengkurap. Dia menenggelamkan wajahnya di bantal. Zevanya mulai terisak kecil. Ya, dia menangis.


“Gue capek! Gue capek!” teriak Zeva yang tertahan suaranya di bantal itu.


Benar, jika Zevanya boleh jujur, dia merasa capek, sangat-sangat capek. Selain harus merawat anaknya, ada suami yang juga harus Zevanya perhatikan. Sungguh, ternyata punya anak tidak semudah yang Zevanya lihat.


Ya, benar. Kondisi Zevanya tidak baik-baik saja. Dia butuh perhatian yang lebih. Bukan hanya dituntut untuk merawat sang anak. Zevanya juga memerlukan perhatian yang ekstra. Mengingat umurnya juga yang baru menginjak kepala dua. Tepatnya, Zevanya bisa disebut sebagai mahmud.

__ADS_1


Jika orang berkata, “dulu juga orang usia dua belas tahun bisa ngerawat anaknya, ga cengeng kayak gini, kok kamu kayak gini sih.” Zevanya sangat ingin menampar mukanya.


Itu kan dulu, bukan sekarang. Lagipula, kondisi mereka dan apa yang Zevanya alami sekarang sudah berbeda. Bahkan, Zevanya dan mereka saja sudah berbeda. Bagaimana mungkin bisa disama-samakan seperti itu.


Seperti tahu dengan kondisi sang ibu yang sedang bersedih, bayi dari Zevanya itu menangis. Hal itu membuat Zevanya menatap ke arah bayi yang baru lima belas hari melihat dunia itu.


“Aku tuh capek, kamu tau nggak sih!” sentak Zevanya. Kenapa bayi itu nggak mengerti dia sama sekali sih? Dia tuh capek! Dia butuh istirahat! Memangnya bayi itu pikir Zevsnya adalah robot? Zevanya capek mengurusnya!


Bukannya mereda, bayi itu malah semakin menangis. Zevanya lagi-lagi menyentak bayi itu. Kemudian, Zevanya sendiri memilih pergi menjauh, dia masih sadar untuk tidak melukai bayinya sendiri.


Zevanya menangis sejadi-jadinya. Benar apa yang pernah kakaknya ucapkan, kehidupan pernikahan tidak selalu indah seperti bucin-bucinnya mereka pada saat awal. Mengingat hal itu, Zevanya kembali meringis. Dia rindu momentum itu. Namun, itu sudah pasti tidak akan terulang lagi.


“Zevanyaa!” teriak seseorang dari lantai bawah. Dia menuju atas saat tak menemukan siapapun di lantai bawah.


Zevanya langsung mengusap tangisnya, dia tidak mau kakaknya itu tahu bahwa dia sedang menangis. Zevanya tidak mau terlihat lemah di hadapan kakaknya.


“Kamu habis menangis?” tanya Vania penuh selidik. Meskipun tak ada air mata di sana, Vania tahu, adiknya habis menangis, melihat mata dan pipinya yang sedikit membengkak.


“Nggak kak.” Zevanya membantah, bisa mati dia kalau kakaknya tahu.


“Huh, jujur sama kakak. Zeo nyakitin kamu?” tanya Vania lembut.


“Nggak kak.” Lagi, jawaban yang sama Zevanya berikan.


Kakaknya merayu, sampai akhirnya Zevanya bercerita. Kemudian, kakaknya berkata, “kemungkinan kamu mengalami baby blues, Sayang. Kakak nginep sini deh beberapa saat ini, nanti malam, kakak bawa Miko juga. Bilang ke suami kamu, tuh.”

__ADS_1


Memang, di saat ibu yang habis melahirkan mengalami baby blues, justru di saat itulah peran orang-orang di sekitarnya.


__ADS_2