Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 47


__ADS_3

Wollfi memutuskan berangkat dengan satu tas besar yang tidak seorangpun tahu isinya. Dia hendak berkelana setelah kemarin hari dia memutuskan kontrak perjodohan antara dirinya dan Zevanya atas kesepakatan Wollfi dan Theo Walcott.


Tentunya ini semua telah dilalui oleh banyak pertimbangan sampai mereka berdua setuju dan mau. Sampailah pada hari ini, ketika mereka semua sudah membebaskan Zevanya, dan Wollfi bisa pergi ke dunia peri.


Untuk sampai ke sana, Wollfi membutuhkan perbekalan yang sangat banyak. Sebab dirinya akan melewati beberapa Gunung yang berbahaya. Jika dirinya kurang persiapan, ada banyak kemungkinan dirinya mati dan tidak bisa ke dunia peri. Lantas, jika begitu, Zevanya dan Zeo akan semakin tersiksa.


Ya, sesaat sebelum pergi, Wollfi sudah pamit kepada Tuan Theo Walcott dan berjanji akan memohon kepada Para Peri untuk perjanjian silam yang pernah mereka buat. Perjanjian yang mementingkan ego masing-masing alias perjanjian yang terlalu naif, bahwa Wollfi akan memiliki Zevanya seutuhnya, meski seluruh dunia akan membentang penolakan.


Wollfi adalah Wollfi, Zeo adalah Zeo, Zevanya adalah Zevanya. Hati mereka tidak akan pernah sama, dan mereka tidak bisa menikahi satu perempuan bersamaan. Tepatnya, mereka harus memilih pasangan masing-masing dari bangsa yang sama. Tidak boleh seperti Wollfi yang dari bangsa Serigala Langit dan ingin menikah alias menyatukan diri dengan Zevanya.


Bisa-bisa akan ada bencana besar yang terjadi. Wollfi tidak mau itu terealisasi, Wollfi lebih memilih dia sendiri yang terluka, daripada seluruh dunia harus tahu kehancuran Bangsa Rayon. Wollfi sudah tahu tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Wollfi bahkan terus-terusan bermimpi tentang waktu yang berlalu dan semakin dekat menuju kehancuran.


Wollfi tidak mau itu terjadi, intinya dia menolak. Pada akhirnya, Wollfi sampai di Puncak Gunung Helo, Gunung yang sama dengan saat Zevanya terjebak di sini. Wollfi menghembuskan napas, dirinya mulai kedinginan. Namun, masih ada beberapa jam lagi agar dia bisa turun Gunung dan masuk ke dalam dunia Peri.


Sungguh bukan perjuangan yang sederhana bagi Wollfi. Namun, menurut Wollfi, ini adalah bukti cinta dan perjuangan yang sesungguhnya untuk cinta yang hanya bisa dilihatnya. Cinta yang mengajarkan betapa sakitnya mencintai dan harus mengikhlaskan. Cinta yang mengajari bahwa cinta tidak selalu memiliki. Cinta yang mengajari untuk bersabar.

__ADS_1


Sungguh segala sesuatu yang hebat tentang cinta. Sebuah perjuangan tanpa keinginan untuk memiliki. Desiran darah yang tidak karuan saat dekat tetapi harus menjauh. Cinta yang dekat, tetapi sungguh miris. Namun, cinta bukanlah obsesi, dan menurut Wollfi sendiri, dia tidak perlu berdebat langsung siapa yang pantas untuk memiliki atau tidak.


Akhirnya, Wollfi berhasil untuk sampai ke Dunia Peri melewati Gua. Ya, sama seperti saat Zevanya ingin pulang, tetapi tali berwarna merah keemasan yang menghubungkan antara dunia manusia dan Peri itu berada di ujung Gunung.


Satu Gunung yang sama, tetapi banyak jalan untuk mencapai puncak dan turun ke satu pesisiran ke pesisiran bukit yang lainnya. Begitupun dengan Wollfi yang sudah pernah berkunjung beberapa kali. Wollfi sudah sangat hapal dengan jalan-jalanan di sana. Naga di sana juga sudah mengingat Wollfi yang pasti ke dunia Peri, jadi tidak ada drama serang menyerang antara serigala dan naga di Gunung Bersalju itu, atau dikenal Gunung Helo.


“Anakku, kau kemari lagi?” tanya Ibu Peri. Ibu dari segala peri.


“Ya, Ibu. Apakah kau tahu perjanjian silam yang terikat benang merah sewaktu dulu?” tanya Wollfi.


“Tentu anakku, memangnya apa yang ibu tidak tahu?” tanya Ibu Peri, bahkan dia tahu semuanya.


“Belum. Kamu memang sudah memutusnya, tapi keluarganya belum terima tentang itu. Meskipun dia yang ikut setuju, dia belum terima, sebab banyak aspek yang menurutnya kamu adalah yang terbaik. Kamu masih terikat dengannya. Ibu lihat, dia juga memiliki tanggungan perbuatan atas perjanjian yang banyak.”


Tidak mudah memang hidup Zevanya. Jika ditelisik jauh dan dalam, hidup Zevanya sangatlah tidak enak dan tidak menguntungkan, maju salah, mundur juga salah.

__ADS_1


“Apakah Ibu bisa membantu kami?” tanya Wollfi. Dia sungguh berharap, dia mau Zeva bisa bahagia dan kembali ke dunia awalnya tanpa membawa-bawa nama dendam itu.


“Dia masih terikat dendam, anakku. Tidak mudah untuk melepaskan dia darimu. Kamu harus membantu dia melepaskan dendamnya, dan kalian akan terputus. Dia bisa memilih hidupnya sendiri, begitu juga kamu, dan Zeo.” Ibu Peri menghela napas, dia sudah tahu kehidupan dan masa lalu dari mereka. Mereka memang dari sini, tapi jiwa mereka bukanlah dari alam ini. Mereka harus segera kembali. Ibu Peri paham dan sadar, ya memang pada akhirnya dia harus turun tangan dan membantu ikatan antara mereka agar tidak banyak kesalahpahaman terjadi.


“Ibu, aku saja tidak bisa mendekatinya, bagaimana aku membuat dia melepaskan dendam itu?” tanya Wollfi. Ibunya ini sungguh memiliki banyak misteri yang tidak bisa dia ketahui. Memang dari tingkat kultivasi saja, dia dan Ibu Peri ini sudah berbeda.


“Ajak dia untuk belajar melepaskan dendam. Ingat, jangan mengajarkannya kultivasi dari berburu hewan, karena itu akan semakin membuat dendamnya menguasai diri, dan membuat dia mati.” Ucap Ibu Peri.


Wollfi dan Ibu Peri lantas bercakap-cakap. Mereka berdua sangat akrab dan bisa mengobrol apa saja. Wollfi bahkan sudah tahu apa yang menjadikan Ibu Peri nyaman dengannya. Sekalinya datang, Wollfi juga membawa banyak pertanyaan dan rasa penasaran yang cukup membuat Ibu Peri kesusahan. Namun, Wollfi mana peduli?


Mereka mengobrol sampai hari mulai menggelap. Wollfi memutuskan untuk menginap, dia tidak menemukan solusi, tepatnya belum. Dia masih harus mencari tahu banyak hal, terlebih untuk melepaskan ikatan yang terhubung antara dia dan Zevanya. Dia kan hanya berharap Zevanya bahagia, bahkan dia sendiri saja rela mengorbankan permatanya itu.


Semalaman, otaknya dipenuhi dengan Zevanya. Bahkan, Wollfi hanya tertidur selama beberapa jam saja, sisanya? Dia memikirkan ikatan yang tercipta dari Zevanya, Zeo, sampai dirinya.


Sementara di sisi lain, Zeo sedang kebingungan mencari Wollfi. Dia tidak menemukan Wollfi di mana-mana. Ke mana Wollfi? Mengapa Wollfi tidak memberitahunya? Apakah dia harus mencari Ibu Peri?

__ADS_1


Astaga, mereka selalu mengandalkan Ibu Peri saat merasa kesusahan sedikit saja, padahal Ibu Peri bukanlah Tuhan, tapi kenapa mereka menemui Ibu Peri terus? Oh, astaga, bolehkah Ibu Peri meminta undur diri dan pergi ke langit tertinggi saja?


Begitulah mereka, dengan segala ceritanya yang berbeda-beda. Sampai saat Wollfi kembali ke tempat asalnya, yakni bukit, Wollfi masih dipusingkan dengan cara menarik benang merah itu. Sebab menurut Ibu Peri, “batu itu adalah permintaan orang lain, jadi tidak seratus persen memurnikan perjanjiannya.”


__ADS_2