
Aku mengaku menyerah. Namun, bukan berarti ini selesai, tantangan dipindah ke belakang, yang artinya tetap harus dikerjakan. Menyebalkan.
Sampai saat ini bahkan aku masih bingung, mengapa mereka memilih aku? Sementara banyak anak lain yang menginginkan posisi ini. Dasar kakek tua tidak pengertian.
Aku mengambil napas, lalu mulai memanjat. Percobaan pertama dan kedua gagal. Memang sulit, tapi aku percaya, aku bisa tanpa tangga.
Sebab saat latihan kemarin aku bisa melakukannya. Jadi, tidak mungkin saat ini aku tidak bisa. Benar? Ya, aku sangat percaya dengan kemampuan diriku sendiri.
Aku mencoba berulang kali sampai aku tidak tahu percobaan ke berapa. Aku berhasil memanjat pohonnya. Saat ini aku sudah di atas. Aku masih mengambil napas.
Sementara, bisa aku lihat di bawah sana banyak yang sedang menungguku untuk segera pergi. Aku berdiri, menyeimbangkan posisi tubuhku agar tidak terjatuh.
Percaya atau tidak, aku trauma dan tidak bisa jika disuruh untuk jatuh. Huh, jatuh itu menyakitkan, dan aku tak mau.
Aku melompat dari satu dahan ke dahan lainnya dengan hati-hati. Aku terus melakukan aksi itu hingga aku sendiri merasa lelah. Aku melihat ke sekeliling, sepertinya aku tersesat. Terlebih, aku seperti pernah melihat jalan ini sebelum beristirahat seperti sekarang. Ini salah kakek tua itu, bisa-bisanya dia menyuruhku untuk memanjat dan mencari jalan keluar di atas dahan begini.
Aku menggerutu kesal. Namun, saat aku ingin berdiri, tiba-tiba seseorang datang dan dengan tidak sopan duduk di sebelahku. Huh. Seperti tidak memiliki urat malu. Bahkan mungkin saja urat malunya sudah putus.
“Kau mendumel seperti itu? Oh My God aku tak percaya, di saat aku ingin menemuimu kau bersikap seperti ini? Heh, dan lagi, yang tak punya malu itu siapa? Manjat-manjat pohon, lompat sana-sini, bener-bener mirip sama kembaranmu.” Serunya dengan senyum yang tertekan.
“Ini suruhan kakek tua ya! Bukan aku yang mau. Kamu jangan sembarangan nuduh bisa nggak?” tanyaku.
“Nggak. Aku ditakdirkan untuk menjadi pengganggu manusia. Jadi, aku takkan bisa berhenti.” Sahutnya dengan senyum seperti bulan gosong.
“Terserahmu saja. Kau kenapa bisa ke sini?” tanyaku lagi.
“Menggunakan otak dan kaki.” Ucap Reyhan. Ya, orang yang mengagetkanku tadi adalah Reyhan. Orang yang kupikir tidak akan pernah kutemui lagi menampakkan dirinya di sini. Dia pikir aku peduli? Tentu tidak.
__ADS_1
Aku lebih memikirkan dengan bagaimana diri ini bisa lepas dari kakek tua. Meskipun aku tak ingin bohong, sedikit hatiku mungkin merindukan dia. Eh, sedikit? Sepertinya tidak. Aku tidak boleh termakan perasaan, aku dan dia hanya dua manusia yang tidak bisa disatukan. Huh, aku harus sadar diri.
“Kau kenapa bengong?” tanyanya.
“Memikirkan kenapa bisa bertemu dengan orang yang tidak kukenal dalam hutan yang juga tidak aku kenal.” Sahutku malas.
“Rey, tunjukkan jalannya.” Ucapku merengek untuk kesekian kalinya. Dia kembali menggelengkan kepala. Huh, memang dasar, Reyhan sangat menyebalkan.
“Kamu nggak nanya kabar aku dulu?” tanya Reyhan kaget, mungkin dia kaget karena melihatku yang berdiri tanpa mempedulikan ucapannya.
“Buat apa? Toh kamu juga nggak mau nunjukin jalannya kan?” seruku malas. Benar, dia memang bilang tidak akan menunjukannya dan aku harus mencari sendiri. Hei, tolonglah, aku sudah lelah.
Daripada aku membuat waktuku untuk mengobrol, mending cari jalan kan? Lagipula dia selalu sok akrab jiks bertemu denganku. Menyebalkan.
“Aku janji akan memberitahumu, tapi kamu janji dulu akan mau berduaan denganku.”
Dari sini, aku bisa mendengarkan debaran jantungnya. Debaran yang sangat mengikuti ritme. Beraturan dan menenangkan. Aroma tubuhnya juga sangat membuatku merasa candu.
Semakin dalam, semakin erat, aku semakin merindukan tubuhnya. Aku tidak tahu dia memakai wewangian apa untuk mandi, tapi aku menyukai, sangat-sangat menyukai. Dia juga mengelus surai rambutku dengan salah satu tangan yang tak memeluk tubuhku.
“Heh, lepaskan.” Seruku saat dia mulai erat memeluk pinggangku. Bisa bahaya jika ketahuan. Mengapa tidak memikirkan ini dari tadi sih.
Aku mendengus. Mungkin dia tahu aku kesal, makanya setelah itu, dengan cepat dia menuruni aku dan membuat posisi duduk kita bersampingan. “Jadi, Ze. Apa kamu merindukanku?” tanya Reyhan dengan kerlingan matanya yang pas.
“Iya, eh, nggak! Aku nggak rindu sama sekali. Jangan suudzon.” Serunya.
“Kamu nggak bisa bohongi hati kamu sendiri, Sayang. Aku tahu kamu belum menyadarinya, tapi aku percaya, di lubuk hatimu yang terdalam. Kamu adalah seseorang yang akan mengisi hatiku nantinya. Mungkin ini terdengar seperti candaan, tapi, aku serius.” Lagi-lagi, dis mengerlingkan msta menggodaku.
__ADS_1
Dia pikir, aku tergoda? Tentu saja, bahkan aku juga terpesona dengan perut sixpacknya yang tidak tertutup dengan sempurna oleh daun berbentuk baju itu.
Aku bahkan heran. Reyhan ini mahluk apa? Dia suka sekali memakai baju ini dan itu, terkadang mewah, terkadang seperti miskin. Jadi, dia ini miskin atau kaya.
Di saat aku tengah melamun. Reyhan memanggilku, “Ze...” begitu ucapnya. Sontak aku memalingkan wajahku untuk melihatnya.
“Kenapa?” tanyaku menatapnya heran.
“Kakek kamu tegas banget ya.” Ucapnya lagi.
“Tegas kenapa?” aku mengernyit, apa maksud dia? Apakah dia pernah bertemu kakekku? Jika benar pernah, sungguh, Reyhan hebat.
“Ze, kamu mungkin gatau satu hal ini, kamu pasti selalu berpikir bahwa segala sesuatunya, kakekmu itu hanya tegas padamu karena kamu calon pewarisnya, tapi kamu salah Ze. Bukan Cuma kamu. Semua orang yang dekat sama kamu pasti juga akan merasakannya. Kamu tahu beberapa hari ini aku ke mana?” tanyanya menatap manikku, yang kubalas menatapnya juga.
Aku menggeleng kecil, aku tak tahu, benar-benar tak tahu. Sepertinya dugaanku jika dia pernah bertemu kakek adalah benar.
“Selama beberapa hari ini, ketika kamu belajar, aku diminta mempersiapkan diriku sampai akhirnya, ya tiba saatnya. Hari ini. Aku diperbolehkan untuk menemui dan menuntunmu hingga akhir hutan ini.” Jelas Reyhan membuatku kaget.
Mempersiapkan diri? Apa maksud dari ucapannya? Lalu, menuntunku? Oh tidak. Ini sudah direncanakan. Dasar kakek tua. Aku menggerutu.
“Katanya, untuk bisa menemui kamu, aku harus berubah menjadi pribadi yang mandiri, tidak mengandalkan orang tua dan lain-lain. Kamu tahu pakaianku ini? Baju yang aku kenakan dan terbuat dari daun pisang ini aku yang buat sendiri untuk bisa bertemu kamu.” Dia jadi menceritakan kisahnya sendiri.
“Kenapa kamu ingin bertemu denganku?” tanyaku.
“Karena kamu... Ya karena kamu sahabatku lah.” Ucapnya gugup. Aku bisa mengetahuinya berbohong.
“Aku harap, nggak ada perasaan lebih antara kita. Aku masih ingin hidup sendiri dengan perasaan yang tak tertaut siapa pun.”
__ADS_1