Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 51


__ADS_3

“Dokter! Dokter!” Seorang suster berteriak memanggil dokter. Sungguh, memangnya siapa yang tidak terkejut? Orang yang sudah koma selama lima tahun dan dinyatakan hampir memasuki masa kematiannya kembali membuka mata.


Bagaimanapun juga, sebagaimana mestinya, tentu saja semua orang kaget. Sama seperti suster yang tengah berjaga sekarang ini. Bahkan, data pasien di tangannya pun sempat jatuh karena kegugupannya itu.


Seorang dokter yang memang sudah biasa merawat Zevanya itu segera datang selepas tombol merah di sebelah ranjang Zevanya ditekan. Dia datang tergesa-gesa. Awalnya dia pikir Zevanya semakin kritis. Namun, nyatanya, Zevanya menunjukkan keadaan yang lebih baik. Dia sangat-sangat bersyukur sekali. Ya, memang sebahagia itu jika melihat orang yang koma bisa seperti ini, bisa bangun dan menunjukkan peningkatan yang mendetail seperti itu.


“Sejak kapan dia sadar?” tanya Sang Dokter.


“Sesaat sebelum saya memanggil anda, Dokter.” Suster itu memilih tersenyum. Senyum yang mmebuat dokter itu mendengus sebal.


Dokter kembali berkata, “jangan menggoda saya!” Penuh peringatan adalah definisi yang tepat.


Dokter itu melakukan pemeriksaan secara singkat pada Zevanya. Memang semuanya terjadi secara singkat dan mengejutkan, tapi ini bukan pasien pertama yang mengalami kondisi seperti ini. Bahkan, ada beberapa pasien yang mengalami nasib lebih parah.


Contohnya, Iva. Dia salah satu pasien yang juga dirawat oleh Dokter Bima. Iva adalah pasien yang bunuh diri di sungai dan terbawa arus, lalu saat ke rumah sakit, Iva dinyatakan koma, lalu, ketika 10 tahun sudah berlalu, Iva kembali sadar dengan kondisi yang dibilang sangat normal.


Sementara, menurut penuturan medis dan pelajaran di kuliah Bima, hal seperti sangat minim terjadi dan jikapun normal pasti ada efek samping, tapi semuanya baik-baik saja. Begitupun banyaknya pasien lain yang juga membuat Bima kaget. Semua kondisi yang hampir di ujung tanduk tapi kembali selamat. Memang, kuasa Tuhan dan hukum takdir takkan ada yang bisa melawan.


Dokter Bima, seseorang yang sudah berusia 42 tahun dengan banyaknya pengalaman dan kenangan yang dijalaninya. Seorang Dokter yang sudah mengabdi selama 20 tahun terakhir itu selalu mendapati hal-hal yang mencengangkan dan aneh.

__ADS_1


Namun, itulah Bima. Seseorang yang baik dan juga memiliki istri yang berawal dari pasiennya sendiri. Iya, pasien yang tadi Bima ingat itu adalah Iva, dan Iva juga istrinya. Iva adalah seseorang yang sangat berarti bagi Bima, dan begitupun bagi Iva, Bima sangat berarti bagi dirinya. Sungguh, tak ada yang tahu takdir.


Pemeriksaan singkat yang dilakukan Bima sudah selesai. Dia menyuruh Zevanya untuk memanggil namanya. Zevanya melakukan itu dengan baik meski sedikit terbata. Sesuai dengan yang dia katakan, Zevanya membutuhkan waktu untuk pulih.


“Gimana, Dek?” tanya seseorang yang baru masuk ke dalam pintu. Seorang wanita yang memiliki paras cantik! Zevanya tebak, usianya masih sekitar 25 tahun.


“Maksudnya?” Nampaknya Zevanya hilang ingatan.


“Kamu hilang ingatan, Dek?” Dugaan sang kakak. Meskipun tadi dokter tidak berkata bahwa adiknya lupa ingatan, tapi dia curiga bahwa dokter itu tidak mendeteksi atau malah dia tidak dengar?


Namun, itu tidaklah penting bagi Vania, selaku kakak dari Zevanya itu. Dia tampak panik bercampur khawatir, meskipun raut muka yang ditunjukkan olehnya tetap datar. Ya pikir saja, mana mungkin seorang Kakak tidak panik jika adiknya yang sudah koma bertahun-tahun kembali ada.


Di setiap saat, Vania selalu menemani Zevanya. Terhitung ini adalah hari ketiga Zevanya di rumah sakit dan ini adalah pemeriksaan terakhir yang harus ia jalani, sebelum kembali ke rumah dia yang sebenarnya.


Vania selalu menyempatkan waktunya untuk Zevanya. Entah saat Zevanya koma, atau malah Zevanya sudah bangun seperti saat ini. Kasih sayang Vania melebihi batas, dia bahkan sangat protektif berlebihan.


Contohnya, seperti hari ini. Pagi-pagi sekali, Vania selalu menyempatkan datang untuk sarapan bersama sebelum berangkat bekerja. Saat jam makan siang, jika Vania ada waktu, atau sudah menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, Vania juga selalu berjaga di rumah sakit menemani Zevanya.


Kemudian, saat malam, seringkali Vania juga menginap, lalu dia akan pulang subuh sekali untuk sekadar mandi dan berganti baju. Memang Vania sesayang itu dengan Zevanya, bahkan Vania rela untuk selalu menemani Zevanya di tengah kesibukannya bekerja.

__ADS_1


Vania sendiri bekerja sebagai CEO di dua perusahaan yang salah satunya merupakan perusahaan sang ayah. Vania memang memiliki dukungan yang besar untuk menjalankan perusahaan, terlebih ayahnya sudah tidak ada sejak dua tahun lalu. Vania menghela napas, bekerja di dua perusahaan sebagai CEO bukanlah hal yang mudah.


Selain bekerja di belakang layar dan mengurus kontrak ini dan itu, banyak perusahaan cabang yang juga membutuhkan perhatiannya, selain itu, sebagai CEO, Vania harus mau mengecek kondisi lapangan.


Bahkan, jika pekerjaannya penuh, atau menuju akhir bulan, Vania akan disibukkan dengan laporan dari berbagai administrasi, dan devisi. Namun, tidak sekalipun Vania mengeluh, sebab dia juga sadar akan tanggung jawab yang sudah harus dia emban.


Kembali lagi dengan kedua kakak beradik itu. Mereka saling bercanda tawa dengan Vania yang lebih dominan usil terhadap Zevanya. Bagaimana mungkin Vania bisa menahan kegemasannya, sementara, jika sedang seperti ini (pemeriksaan), wajah Zevanya selalu lucu.


Ditambah, muka Zevanya yang polos-polos sesat itu. Sudah baby face, polos begitu, siapa yang tidak bisa menahan untuk tidak merasa lucu? Begitulah yang Vania rasakan.


“Hasil pemeriksaannya sudah keluar, Mbak.” Ucap Dokter yang tidak lain adalah Dokter Miya.


Vania dan Zevanya menatap Miya lama, mereka menunggu. Namun, serius, Zevanya merasakan tidak asing pada muka Miya. Eh, benar. Miya yang berprofesi menjadi dokter ini adalah Miya yang menikah dengan anak kakek Theo.


“Kak Zevanya sudah boleh keluar dari rumah sakit, setelah cairan obat di dalam botol infusan ini habis. Setelah itu, saat pulang, usahakan agar tidak memiliki banyak beban pikiran, karena hal itu akan berpengaruh pada kondisi dan kesehatan Kak Zevanya sendiri.” Dokter Miya berucap, sambil tersenyum. Uh, hati Zevanya kan jadi meleyot.


Zevanya kemudian memberikan ucapan terima kasihnya, begitupun Vania. Memang benar jika Vania membayar mereka untuk mengobati Zevanya, tetapi jika mereka tidak mau dan menolak juga Vania bisa apa? Memangnya hanya uang saja bisa menyembuhkan adiknya? Vania cukup sadar diri untuk mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan.


Keduanya menghiasi kesepian dengan canda tawa, Vania juga seringkali membagikan hal lucu yang dia temukan. Untungnya Vania dan Zevanya satu frekuensi, jadi mereka tidak kesulitan untuk berkomunikasi.

__ADS_1


Vania benar-benar menjadi kakak yang sangat baik dan sangat nyaman untuk adiknya, Zevanya. Menjadi kakak yang mempunyai adik lengkap membuat Vania menjadi kakak yang benar-benar berharga.


__ADS_2