
Tahun demi tahun berlalu, masa indah dan buruk yang sudah berakhir, pun dengan kisah cinta antara Zevanya dan Zeo seorang. Di balik sifat dingin anak Zeo dan Zevanya pada orang-orang yang tak dikenalnya, gadis yang merupakan anak Zeo dan Zevanya ialah gadis bucin.
Bahkan, jika dilihat-lihat, bucinnya anak gadis Zevanya itu sangat diluar nalar. Cinta manis yang membuat semua orang seakan buta terhadap apa yang mereka inginkan. Bahkan, kedua pasangan yang memiliki status pacaran itu juga lebih memilih untuk berduaan dibandingkan berkumpul dengan keluarga besar mereka.
Sungguh, bibit dari Zeo dan Kevin itu sangat unggul. Buktinya, masing-masing dari anak mereka memiliki kesamaan yang mirip dengan keduanya. Bahkan, anak mereka lebih suhu dibandingkan orang tuanya. Seperti saat ini, Zela Anastasia Manoban terus mengikuti langkah kaki Devan Pratama Smith Alexander.
“Ayolah, sayang.” Zela kembali merengek. Pasalnya, dia sudah terlanjur menyetujui rencana sahabatnya yang ingin double date. Tidak mungkin kan dia berpacaran dengan Devan tapi dia malah membawa orang lain? Apa kata dunia setelah ini? Huh.
“Nggak, Zela. Nanti malam aku harus ikut makan malam di rumah. Kali ini aku harus menurut. Please, ngertiin aku, ya.” Devan menuturkan katanya. Dia juga mau berkencan, tapi tidak untuk malam ini. Sebab, ada sesuatu yang harus dia urus mengenai masa depan antara dia dan Zela.
“Tapi aku udah janji sama mereka, Devvv,” rengek Zela kembali, dia hanya ingin Devan, Devan, dan Devan. Apakah dunia tidak mengerti?
“Aku ngambek nih kalo kamu gamau ikut aku.” Zela mengancam. Namun, bukannya takut dengan ancaman dari Zela, Devan malah terkekeh.
“Memangnya kamu sudah bisa berjauhan dariku?” tanya Devan, dia nenghentikan langkahnya dan menatap Zela saksama, bahkan satu alisnya pun dia naikkan.
“Y-ya bisa lah.” Ujar Zela, meskipun dirinya sendiri juga tidak yakin.
“Benar bisa?” tanya Devan, dia sih tidak mau memusingkan hal itu, paling lama juga Zela hanya akan mengambek satu hari. Devan sangat tahu bahwa Zela sangat tidak bisa berpisah darinya.
“Ze-zela bisa kok.”
__ADS_1
Oh astaga, lihatlah matanya itu. Mata yang sudah memerah dan hendak mengeluarkan air mata, jangan lupakan hidungnya juga yang sudah memerah.
“Hahahaaaa!”
Benar kan dugaan Devan, memangnya Zela mana kuat? Dia itu cengeng dan sangat terikat dengannya. Devan terus menertawakan Zela, sebab menurut Devan, saat ini Zela sangatlah lucu dan konyol.
“Huaaaaaaaaaaaa!”
Bukannya berhenti, Zela malah menangis semakin menjadi. Tentu saja hal itu membuat Devan kalang kabut. Devan langsung mendekap Zela untuk meredam tangisnya, jujur saja dia merasa kesal pada murid-murid yang berlalu lalang dan tidak mempunyai kesibukan itu, alias memperhatikan dia dan Zela.
“Zela sayangg, aku minta maaf deh, nanti aku yang bakal ngomong sama orangnya kalau aku gak bisa double date malam ini gimana?” Devan membujuk Zela, bisa bahaya jika Zela tidak kunjung mereda tangisnya.
“Ta-tapi aku pengen malam ini.” Zela mengangkat wajahnya, mata Zela dan Devan saling bertemu. Keduanya saling meresapi ketenangan yang dirasakan, tentunya dengan tangan Devan yang mengelus surai Zela yang berwarna hitam kecoklatan itu, khas mayoritas asia.
Bocah berusia 10 tahun itu menarik kemeja putih Devan dan menjadikannya tisu untuk ingus yang keluar dari hidungnya. Devan hanya bisa mendengus, terserah apa yang pacarnya inginkan itu, Devan kan hanya bisa pasrah.
Tentunya dengan umur yang masih 10 tahun, kedua bocah itu masih menduduki bangku sekolah dasar. Namun, jangan lupakan bahwa mereka bersekolah di internasional school dan mereka memiliki IQ yang di atas rata-rata. Jadi, seringkali pemikiran mereka lebih dewasa dari apa yang dipikirkan oleh bocah seumuran mereka.
Jika mereka hanya menyandang status pacaran, maka kalian semua salah paham. Dua bocah itu bahkan sudah mengerti tentang pacaran sungguhan, bukan sekali dua kali lagi untuk keduanya berciuman.
Sama seperti saat ini, Devan ******* bibir Zela, dan mengecup seluruh wajahnya membuat sang empunya terkekeh kegelian. Meskipun masih bocil, keduanya bahkan sudah mengerti dengan kenikmatan dunia. Mereka juga pernah meminta untuk dinikahkan, tapi kedua keluarga besar mereka melarang. Apa jadinya jika mereka nekat coba.
__ADS_1
Beruntungnya, setelah kejadian yang memalukan di depan kedua keluarga besar itu, tidak ada yang perlu dipisah atau dilakukan, mereka tetap dekat seperti biasanya. Bahkan hubungan mereka tambah dekat setelah kejadian memalukan itu.
“Gimana? Kamu setuju?” tanya Kevin, lelaki yang menabur benih di rahim istrinya juga ayah dan saudara bagi Devan. Pria yang sudah memiliki banyak pengalaman dan tentunya sudah sangat ahli.
“Ayah, apakah setelah itu aku benar-benar tidak dapat melihatnya?” tanya Devan. Dia juga tidak kuat, tapi Devan sendiri sadar, jika dia selalu ada di sisi Zela, kapan gadis itu akan mandiri dan bertumbuh dewasa?
Sebab, Devan tidak bisa menjamin bahwa dirinya akan selalu bersama Zela. Devan tidak akan tahu dengan takdir yang sering mempermainkannya itu akan berbaik hati atau tidak. Namun, Devan pastikan tidak akan ada satu orangpun yang bisa macam-macam jika Devan masih mampu melindungi Zela.
“Kamu bisa, tapi dia nggak.”
Setelah ini, jika Devan setuju, Kevin selaku ayahnya akan memesan tiket ke luar negeri untuk kelangsungan pendidikannya. Namun, Kevin juga tidak akan memaksa. Dia juga pernah ada di posisi Devan, jadi dia tahu perasaan Devan, kurang lebih seperti itu.
“Namun, setelah 5 tahun berlalu, kamu dan dia akan menikah, kalian bisa bersama seterusnya.” Kevin menjelaskan. Dia juga ingin yang terbaik untuk anaknya.
“Hah, baiklah. Aku mau.” Devan memutuskan. Hanya 5 tahun kan? Setelah itu dia dan Zela akan bersatu dalam jenjang yang sangat serius dan tidak terpisahkan.
Pada akhirnya, Devan memilih untuk berangkat dan bersekolah di luar negeri, tepatnya di Amerika. Untuk 5 tahun ke depan. Tentunya dia akan berpisah lama dari Zela.
Namun, dia tidak masalah, asal suatu hari nanti perjuangannya ini akan terbayar dengan pertemuannya kembali dengan Zela. Sungguh, Devan sudah tidak sabar dengan hari itu, akan tetapi masih banyak hari yang perlu dijalani.
Jika Devan menerims dengan ikhlas, maka Zela tengah meraung-raung di rumah keluarga besarnya. Hal itu membuat Zeo dan Zevanya pusing. Namun, tidak membuat mereka menghentikan Zela. Mereka biarkan saja anaknya itu menangis, jika sudah lelah kan berhenti sendiri.
__ADS_1
Semuanya sudah berlanjur dengan bahagia atas kisahnya masing-masing. Cinta tanpa obsesi masih terus dimiliki Kevin, tetapi dia sadar dengan hati yang harus dijaganya.