
Pagi-pagi sekali sekitar jam 4, Zeo sudah terbangun dari tidurnya yang hanya 2 jam itu. Zeo sebenarnya masih mengantuk, tetapi dia harus pergi berkuda menuju kerajaan seberang.
Kerajaan yang dulunya sempat menjadi musuh bebuyutan kerajaan Zeo. Namun, saat keduanya berganti raja baru dan menemukan akar masalahnya yang digali bersama-sama. Keduanya malah saling memaafkan dengan mudahnya. Bahkan mereka sekarang menjadi sahabatan.
Zeo pergi mandi dan bersiap-siap. Dia mengambil baju khusus pangeran-pangeran kerajaan yang dipakai saat waktu tertentu, contohnya sekarang.
Zeo keluar dari kamar mandi dengan baju putih yang berkilap emas itu. Kemudian dia menata rambutnya dan keluar kamar. Saat keluar, dia disambut beberapa pelayan yang hendak membersihkan kamarnya atas suruhan Zeo.
“Ya, masuk saja.” Zeo agak tidak ramah. Namun, semua pelayan itu memaklumi. Jadwal tidur Zeo yang berantakan tentu saja mempengaruhi moodnya. Jelas itu akan membuat Zeo memiliki perasaan yang buruk dan sensitif.
Zeo mengambil roti dan memakannya asal-asalan, kemudian pergi menuju kereta kudanya. Bukan Zeo yang mengendarai, ya.
Zeo termenung selama perjalanan. Tak ada seorangpun yang mengusiknya. Ramai kericuhan pasar juga tidak mengusiknya. Bahkan beberapa kali dia ketiduran. Zeo bingung, heran, semua rasa itu bersatu.
Diam-diam, dia juga terus memikirkan Zevanya. Bagaimana kabar Zevanya? Apa yang sedang dilakukannya? Apakah Zevanya juga memikirkannya? Banyak pikirannya yang terpusat pada Zevanya.
Tak ada seorangpun yang mengusiknya. Zevanya adalah prioritasnya, status pangeran mahkota adalah hambatannya. Begitu, menurut Zeo.
Selama perjalanan yang kurang lebih memakan waktu tiga jam. Pukul tujuh pagi, Zeo sampai di kerajaan seberang.
Asistennya Davin, sekaligus pengendara kereta kuda itu mendampingi Zeo untuk masuk ke dalam kerajaan yang dikunjunginya. Sebelum itu, Davin mengeluarkan kaca dan menata rambutnya yang terkena angin, sepoi-sepoi memang.
Zeo berdecak, menurut Zeo, asistennya ini sangat lama. Seharusnya kan sat-set biar cepat selesai. Kalau begitu, kenapa nggak dikerjain sendiri sih Zeo?
Zeo maunya sih begitu, tapi perintah dari raja sendiri yang melarangnya. Jadilah dia harus membawa dan memastikan asistennya itu baik-baik saja.
Aneh memang, jika biasanya hanya bawahan yang menjaga tuannya, ini malah seperti saudara yang melindungi satu sama lain. Namun, Zeo tak mau ambil pusing, dia hanya ingin semuanya berjalan cepat agar semuanya cepat selesai.
__ADS_1
Akhirnya, Zeo bertemu Putri Vina. Utusan dari raja itu sendiri dengan alasan yang tiba-tiba tidak enak badan. Putri Vina terus mendekati Zeo sampai-sampai Zeo muaak sendiri. Namun, dia tidak ingin mencari masalah, dia harus membuat sikap yang baik agar kesannya juga baik.
Zeo berjanji tidak akan segan jika sampai Putri Vina melewati batas. Sekarang dia sudah mengerti. Ya, dia mengerti dia mencintai Zeva, jadilah dia harus menjaga pujangga hatinya tersebut dengan tidak membuatnya sakit hati.
Zeo sadar, belum tentu Zeva akan menjaga perasaannya, tetapi kalau bukan Zeo yang memulai duluan, bagaimana bisa Zeva yang memulainya. Ya, begitulah kisahnya.
“Putri.” Peringat Zeo saat sang Putri ingin mengambil duduk di dekatnya.
“Kenapa, Pangeran? Kata Ayah aku harus lebih dekat denganmu.” Seru Putri Vina. Oh, ternyata suruhan ya? Putri Vina memang lucu, apalagi tingkah polosnya yang pasti akan membuat semua orang suka.
Namun, tidak dengan Zeo. Zeo kan sudah mempunyai targetnya sendiri, dari bangsanya sendiri, dan itu bukanlah Putri Vina. Davin tahu dengan niat Putri Vina yang masih ingin mendekati Zeo. Jadilah dia angkat bicara.
“Putri Vina, tolong jaga sikap anda agar hubungan persahabatan kedua kerajaan tetap baik-baik saja.” Peringat Davin. Hal itu membuat Putri Vina cemberut, tapi tetap bersikap profesional.
Putri Vina duduk di posisi yang seharusnya. Untuk mencegah ketidakfokusan yang akan terjadi, Davin lah yang menjelaskan tentang program kerja yang ingin kedua kerajaan itu lakukan.
“Jadi, bagaimana Putri Vina, apakah anda setuju?” tanya Davin kesal. Dia sudah baik hati menjelaskannya, tetapi didengarkan saja tidak.
“Putri Vina.” Tekannya. Barulah sang Putri menyahut. Dia berkata setuju dan membubuhkan tanda tangannya. Zeo tersenyum puas. Caranya memang licik, tetapi salah Putri Vina yang tidak serius dan membuat kerajaannya merugi.
Urusannya sudah selesai. Kini dia hendak pulang. Dia masih ada pekerjaan yang mengharuskannya bertemu dengan sang raja bangsa yang merupakan ayahnya sendiri.
Zeo pamit pulang.
“Pangeran udah mau pulang? Nggak mau makan dulu? Nggak sopan kalau nggak menyajikan tamu makanan kan?” tanya Putri Vina. Suaranya sengaja dibuat imut, tetapi bukannya berkesan, Zeo malah jijik. Dia tambah tidak niat untuk berkunjung sarapan. Lebih baik dirinya pulang, menyelesaikan semua urusan, naik tahta, dan menikahi Zevanya.
Zevanya lagi, Zevanya lagi. Putri Vina memang tidak ada apa-apanya sih dengan itu. Akhirnya, dengan segala macam drama dan bujuk rayu yang terjadi, Zeo pulang bersams Davin yang mengendarai kereta kuda.
__ADS_1
Zeo banyak mengobrol dengan Davin saat perjalanan pulang. Masalah sepele, tetapi tak boleh dianggap remeh. Davin memberikan jawaban yang semakin membuat Zeo gusar.
Benar juga, selama Zeo tidak ada, Zeva sedang apa dan melakukan apa saja? Ah, Davin ini membuat Zeo semakin banyak pikiran saja.
Zeo memasuki gerbang istananya. Semua tampak aman-aman saja. Maka, Zeo pergi ke tempat Ayahanda. Dia perlu berbicara sesuatu.
“Ayah di mana?” tanya Zeo pada penjaga yang berjaga.
“Raja berada di dalam kamarnya, Pangeran Mahkota.” Dia sangat sopan sekali, puji Zeo dalam hatinya. Biasa, penjaga atau pelayan di sini hanya cukup memanggilnya pangeran.
Seperti biasa, Zeo mengetuk pintu kamar Ayahandanya. Setelah mendapat izin, Zeo melihat Ayahandanya terbaring di kasur dengan tabib di sisinya.
“Ada apa ini?” tanya Zeo, perpaduan antara kaget, takut, sedih, dan lainnya. Zeo memang sesayang itu pada sang raja, entah apa alasannya.
“Raja terkena luka serangan, Pangeran. Entah dari mana, pada saat Raja sarapan, seseorang berbaju hitam datang dan melukai punggung Raja.” Jelas tabib itu mewakili Ayahanda Zeo.
“Apakah itu berbisa?” tanya Zeo kalem. Dia sudah tidak seheboh tadi.
“Benar, Pangeran. Serangan itu memiliki racun, bukan bisa.” Jawab sang tabib. Zeo menghela napas, pelan sekali.
“Ayah, apakah kau sudah sehat?” tanya Zeo. Baru saja diberitahu bahwa serangan itu memiliki racun, dan sekarang? Zeo malah bertanya demikian.
“Nggak, nggak sehat.” Ujar Ayahanda Zeo terkekeh sinis. Apa-apaan maksud putra pertamanya itu? Dikira dia monster yang lukanya bisa sembuh dalam sekejap kali, ya?
“Ah, maafkan aku ayahanda.” Kekeh Zeo.
“Permintaan maafmu ditolak!” ucap Ayahanda. Akhirnya, tabib keluar dan mereka mengobrol seperti biasa, ceria dan penuh canda tawa. Zeo melupakan niat awalnya datang ke kamar sang Ayah.
__ADS_1