Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 50


__ADS_3

“Memangnya kau pikir aku masih bodoh?” tanya Zevanya. Ya, Zevanya memang menerapkan sistem menghindar tanpa menyerang sedari tadi. Persis seperti pertarungan beberapa waktu lalu di Padang Gurun yang memiliki luas beribu-ribu hektar.


“Haha, memangnya kapan kau pintar?” Seseorang yang tidak lain adalah Tuan Petrus itu mencemooh Zevanya menggunakan kata-katanya yang sangat menyebalkan. Dia pikir dia siapa sih?


Ujaran sinis dan kata-kata yang tidak pantas keluar dari mulut mereka berdua. Keduanya saling mengumpati satu sama lain dengan perasaan kesal yang mendominasi hati masing-masing.


Namun, semua itu tidaklah berlangsung lama. Sebab, Tuan Petrus kembali menyadari tujuan utamanya datang ke sini. Yakni, menyelesaikan masalah.


“Jadi, gimana?” tanya Zevanya, dia meminta penjelasan lebih lanjut.


“Iya, memang kecelakaan itu aku yang menyabotase, tapi itu semua bukan salahku.” Tuan Petrus menghela napas. Ternyata untuk membuka lembaran pahit di masa lalu itu sangat sulit.


“Maksud kamu?” Mereka memang tidak lagi memakai sebutan anda–saya. Namun, mereka sendiri sudah masuk ke dunia, aku dan kamu.


“Aku akan menceritakan ini, tapi kamu janji dulu. Kamu ga boleh emosi, ya.” Zevanya mengangguk saja, memangnya apa yang bisa membuat dia emosi? Sungguh, dia tidak percaya.


Zevanya mengambil posisi untuk duduk berhadap-hadapan dengan Tuan Petrus itu sendiri.


Sungguh, ini bukan hal yang mudah. Tuan Petrus menyadari sendiri, ini bukan saatnya untuk berdiam-diaman. Waktu sudah semakin menipis saat ini.


“Baiklah. Kejadian silam lima tahun lalu. Tepatnya ketika orang tua kamu menyusul dan ingin menjemput kamu di pantai. Seseorang yang merupakan musuh terbesar ayah kamu tau bahwa dia meminjam mobilku. Seseorang itu menyuruh aku untuk menyabotase. Lalu, jika aku tidak melakukan apa yang dia minta, dia akan menghabisi keluargamu. Maksudnya, jika ayah dan ibumu tidak bisa menjadi sasarannya, maka yang akan terkena imbasnya adalah keluarga besar ayah dan ibumu. Aku terlalu naif. Waktu itu, aku pikir targetnya hanya orang tua kamu. Namun, ternyata tidak.”


“Hah?” Zevanya tidak percaya. Juga, maksud dari targetnya bukan hanya orang tua Zevanya itu gimana?

__ADS_1


Tuan Petrus kembali menjelaskan ulang apa yang sebelumnya dia katakan. Untungnya, di penjelasan kedua ini, otak Zevanya langsung nyambung.


“Jadi aku harus apa?” tanya Zevanya dengan nada yang melemah.


“Kamu mau kembali ke dunia itu kan?” Mereka terus bercakap-cakap.


Ruang waktu, dimensi yang tidak terbatas dan menghubungkan satu dunia ke dunia lain. Ruang yang bisa mengatur waktu dan kesempatan manusia. Entah untuk pergi ke masa depan, atau ke masa lalu untuk memperbaiki keadaan. Namun, meskipun begitu, Ruang Waktu tidak bisa ditemukan oleh siapa saja.


Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk, mengendalikan, dan keluar dari sini dengan selamat. Begitupun dengan Zevanya, dia hanya tersesat di sini dalam kendali Tuan Petrus.


Berbicara tentang Tuan Petrus. Dia adalah manusia yang sudah mencapai kultivasi terakhir sebelum menjadi master sesungguhnya. Terlebih latar belakangnya Tuan Petrus sebelum mengalami kehidupan ulang adalah Dewa Waktu. Kekuatannya untuk mengendalikan ruang waktu masih sama.


Kemudian, dia menggunakan kesempatan seperti saat ini untuk meluruskan sebuah kejadian yang membuat mereka semua terjebak di sini. Mereka terus bercakap-cakap. Entah apapun yang mereka bicarakan.


“Sudahi tertawamu, bunuh aku,” ucap Petrus, dia sudah sangat serius berkata, sebab dia sudah siap. Dia akan menerima konsekuensi dari semua perkataan dan perbuatan yang pernah dia lakukan.


“Ahaha.” Namun, bukannya melakukan apa yang diminta, perempuan bernama Zevanya itu lebih memilih untuk tertawa. Masa iya Tuan Petrus seserius itu, Zevanya tidak percaya!


“Aku serius!” Tuan Petrus itu menekankan Zevanya. Dia benar-benar serius, tapi Zevanya malah tertawa, apakah itu cara Zevanya untuk merendahkan dia?


Zevanya terdiam. Apakah Tuan Petrus sedang ingin bertemu dengan ajalnya? Namun, ajal bukanlah suatu hal yang bisa dipermainkan oleh manusia. Lantas Zevanya harus bagaimana?


“Aku serius, Zevanya Laureen.” Jika sudah menyebutkan nama lengkap seperti ini, itu berarti dia memang ingin bertemu dengan ajalnya. Apakah Zevanya harus menuruti dia agar Zevanya membunuhnya? Ah, Zevanya dilanda kebingungan.

__ADS_1


“Aku bahkan sudah membawa semua alat ini agar memudahkan kamu membunuhku.” Sungguh, dia sudah membuat banyak persiapan dari kesiapannya untuk bertemu dengan ajal.


“Aku tidak mau.” Zevanya mengutarakan penolakannya. Apakah tidak ada cara yang lebih baik untuk melepaskan dendam? Zevanya sungguh tidak mau. Sebab, tidak semua orang bisa melepas rasa dendam itu hanya dengan membunuh seseorang. Apalagi seseorang yang belum jelas keadaannya. Begitulah Zevanya, tidak mau berbuat sesuatu dengan gegabah.


Zevanya dan Petrus bertengkar dan melewati beberapa perdebatan. Sampailah pada saat ini, saat-saat yang menegangkan. Karena Tuan Petrus memilih untuk mengembalikan Zevanya ke dunia asalmya dengan cara yang biasa saja.


Tidak ada pertumpahan darah dan pertarungan semacamnya. Ya, meskipun sebelumnya mereka sempat bertarung juga, sih.


“Lalu, maunya kamu bagaimana?” Itulah yang ditanyakan oleh Tuan Petrus tadi. Mengingat Zevanya yang banyak maunya dan tidak memilih cara singkat.


“Memangnya kamu sudah berdamai dengan diri sendiri?” Pertanyaan yang juga kerap kali Tuan Petrus ulangi. Sebab, dia tidK bisa mengembalikan sembarang orang untuk kembali ke dunia asalnya, dari dimensi waktu mereka beberapa tahun lalu.


Memang benar, seseorang yang seringkali terlibat pertengkaran dan ikatan dengan kita ialah seseorang yang berdampak dan juga memiliki ikatan bersama di masa lalu. Hanya orang-orang tertentu yang bisa dan sanggup memutus tali ikatan itu. Sementara manusia yang lainnya adalah manusia yang biasa saja dan mengalami reinkarnasi terus menerus.


Seperti Zevanya. Dia selalu mengalami kehidupan berulang dengan berbagai macam jenis. Takdirnya pun selalu tidak jauh daripada Zeo. Di mana ada Zevanya di sana ada Zeo. Namun, Zevanya berharap jika dia sudah kembali ke kehidupan asalnya, dia tidak lagi bertemu dengan Zeo. Ya lantas semoga saja perasaan itu sudah hilang.


Dalam hitungan waktu yang kurang dari satu menit, Tuan Petrus sudah menghilangkan Zevanya dari dimensi waktu. Sementara dia memilih untuk mengeluarkan ular yang dibawanya dari ruangan kerajaannya tadi.


Tuan Petrus mengeluarkan ular itu, “tidak sia-sia aku membawamu. Ternyata kamu bisa menjadi berguna di saat genting seperti ini.” Kemudian, Tuan Petrus terkekeh sendiri, sungguh seram.


“Baiklah ular, makan aku dan keluarkan taringmu.”


Ular itu seakan mengerti dengsn apa yang diinginkan oleh Tuannya. Dia mengitari tubuh Tuan Petrus dan lebih berkelana di sekitar leher Tuan Petrus. Dia nampak sudah menemukan tempat yang pas.

__ADS_1


Tuan Petrus sendiri sudah merasa geli, tapi dia tahan saja. Pada akhirnya Tuan Petrus menghembuskan napas terakhirnya sebelum jatuh tepat di jam 8 malam.


__ADS_2