
“Ayo, Ma! Pa!” seru Zeo tidak sabar. Dirinya sendiri sudah memakai jas hitam kebanggaannya yang dipadukan kemeja putih untuk bagian dalam.
“Sabar dulu, Nak.” Layaknya keluarga harmonis, sang mama menyahut perkataan putranya.
Tidak membutuhkan waktu lama ketiga manusia itu sudah menaiki kereta kuda. Zeo sangat gugup, tetapi sebisa mungkin dia menetralkan wajahnya.
Jika ibu dan anak itu tengah mengobrol, maka lain hal dengan ayahanda Zeo yang merupakan raja, ya memang dia masih menjabat. Sebab, dia masih belum mau memberikan takhtanya untuk Zeo, meskipun putranya itu sudah sanggup. Tak ada yang tahu alasannya, Zeo juga tidak ingin bertanya lebih dalam, toh itu urusan ayahnya.
“Ma, nanti kita bakal diterima kan?” tanya Zeo yang sudah pesimis duluan.
“Kamu pikir aja, diterima gak ya.” Mama Zeo terkekeh. Berbeda dari Zevanya, keluarga Zeo ini bisa dibilang masih lengkap, ada ayah, ibu, dan anak. Sungguh komplit.
“Ih, mamaaaa.” Zeo benar-benar menjadi anak kecil di hadapan mamanya.
Tawa mamanya meledak melihat wajah Zeo yang cemberut. Meskipun begitu, wajah ayah Zeo masih sama, datar dan tidak terlihat apapun. Ya, Mama Zeo sadar. Anak sulung kebanggaannya, sebentar lagi akan memiliki keluarga.
Keluarganya sendiri dengan wanita pilihannya. Tidak seperti kisah cintanya dulu yang tidak layak. Zeo pasti bisa mengarungi lautan untuk istrinya dan anaknya kelak. Begitulah kira-kira pikiran Mama Zeo yang berkelana, sebab setelah ini, diapun sadar, waktu Zeo akan disibukkan dengan urusan-urusan bangsa Rayon.
Bangsa yang ditinggali, bahkan dipimpin Zeo dan Zevanya juga makhluk-makhluk lain. Bangsa yang damai selama 30 periode kepemimpinan raja. Damai diluar, meski tidak terlihat apa yang terjadi sebenarnya.
Zeo melihat Mamanya itu meneteskan air mata, dia seketika panik, mengapa Mamanya menangis. Zeo mengusap air mata itu.
Seraya bertanya, “mama kenapa?” Zeo bertanya. Mama dari Zeo itu menggeleng, dirinya hanya mengusap rambut Zeo yang tumbuh lebat berwarna hitam kecoklatan, sama seperti ayahnya.
__ADS_1
Zeo mendadak khawatir, apakah dirinya menyinggung sang mama. Namun, buru-buru Zeo menghapus pemikiran seperti itu. Dirinya tidak mau jika sampai sana malah terlihat penuh beban.
Tak perlu waktu berjam-jam untuk sampai di kediaman Zevanya. Ya, sedari tadi mereka tengah di perjalanan menuju kediaman Walcott. Mereka berencana meminang Zevanya untuk Zeo. Entah akan diterima atau tidak, yang penting berusaha dulu.
“Apa-apaan ini, Kek?” tanya Zeva tidak terima. Hati nuraninya menolak saat sang Kakek berkata, “aku sudah meminangmu dengan dia, pangeran kerajaan.”
“Kakek gak mau tau. Yang pasti kamu sudah dipinang olehnya. Besok kamu akan bertemu dengan keluarganya saat acara pertunangan. Kakek harap kamu bisa menjaga sikapmu.” Ucap Theo Walcott. Dia memang semena-mena!
“Kakek yang menerimanya kan? Berarti kakek aja yang bersanding sama dia,” seru Zevanya, dia masih menolak. Meskipun dia lumayan mencintai Zeo, Zevanya tidak akan melupakan ibu peri, yang terlebih akhir-akhir ini sering mendatanginya.
“Lah, kakek nggak belok, Sayang.” Theo Walcott kemudian terkekeh. Dia juga mengelus surai Zevanya yang panjang itu.
Dia hanya berharap cucu cantiknya ini memiliki topangan agar jabatan yang dirinya terima baru-baru ini kokoh. Apalagi Zevanya tidak memiliki atau menurunkan darah Walcottt, posisinya masih tidak aman. Terlebih yang iri pada Zevanya bukan hanya orang-orang di luar. Namun, keluarga Walcott alias semua orang yang bergaris darah Walcott iri pada Zevanya.
“Selamat ya, Ratu,” ucap para penjaga kediaman Walcott secara serempak.
Zeo menjemput Zevanya dengan kereta kudanya yang dikemudikan oleh penjaga kerajaan. Zevanya datang dengan air mukanya yang masam. Ya iya, bagaimana dia bisa bahagia jika saja pertunangan ini adalah paksaan, dan bahkan diterima tanpa sepengetahuan dirinya. Siapa yang tidak akan merasa sebal seperti Zeva memangnya.
“Sayang, jangan cemberut gitu dong, kan ini hari bahagia kita.” Rengek Zeo. Tidak di depan ibunya ataupun depan Zeva, dia tetap saja merengek. Sangat tidak tahu malu.
Sekitar 16 menit, keduanya sampai di aula kerajaan. Bak raja dan ratu, keduanya memasang topeng, yakni senyum termanis mereka yang dipaksakan. Mereka tersenyum layak pasangan sungguhan.
“Mari kita ucapkan selamat datang kepada calon raja dan ratu pemimpin kita!” teriak penjaga yang kini berubah menjadi MC. Yap, dia bersemangat, sungguh bersemangat.
__ADS_1
“Selamat datang, selamat datang, selamat datang kami ucapkan, kepada raja dan ratu Bangsa Rayon.” Lirik yang mereka ucapkan untuk menyambut Zeo dan Zevanya sampai ke panggung yang semestinya.
Zeonard dan Zevanya bergandengan tangan sampai menuju puncak panggung. Keduanya selalu tersenyum begitu manis. Uh, mereka selalu membuat orang yang melihatnya meleleh.
Namun, ada satu hal yang aneh. Bukankah kemarin Sang Kakek berkata dirinya akan dikenalkan dengan keluarga dari Zeo? Ya, benar. Kakeknya bilang saat mereka diberi ucapan selamat.
Satu hal yang sudah terjadi, tetapi sampai sekarang belum ada satupun keluarga Zeo yang dilihat oleh Zevanya. Apakah Zevanya yang belum sadar atau mereka yang tidak hadir? Zevanya menjadi gusar sendiri.
“Zeo, apakah keluargamu sudah memberikan ucapan selamat?” tanya Zevanya hati-hati, dia juga tidak ingin menyinggung perasaan Zeo yang tidak diketahuinya, ya mungkin sedang sensitif.
“Mereka ada di halaman belakang. Mereka sedang mempersiapkan sesuatu untuk acara kita selanjutnya. Kamu bisa bertemu mereka nanti.”
Benar saja, acara selanjutnya dilakukan di luar ruangan, ada banyak game yang dilakukan oleh rakyat, tentunya masing-masing game itu memiliki ketentuannya sendiri, dan banyak hadiah-hadiah yang akan mereka dapatkan.
Zevanya menelisik ke sekeliling, sampai Zeo memanggilnya. Zeo mendekati Zevanya dan membawanya. Zeo berniat mengenalkan Zevanya pada keluarganya.
“Kenapa, Ze?” tanya Zeva.
Zeo hanya menggeleng. Dia tak mau berkata apapun pada Zevanya. Zeo hanya ingin mengajak Zevanya pergi. Misinya berhasil.
Zeo membawa Zevanya ke salah satu meja yang terdapat keluarga Zeo dan juga Kakek Zeva. Zeo mengucapkan salam diikuti dengan Zeva. Kedua keluarga itu tersenyum puas, tetapi tidak dengan ayahanda Zeo.
Ayahanda Zeo tampak tak pernah melihat mata Zeva, bahkan ketika Zeva ingin bersalaman. Zeva awalnya tidak sadar, tetapi ketika dia mengangkat kepalanya, jantung Zeva bekerja dua kali lebih keras. Tetapi Zeva juga tidak tahu mengapa.
__ADS_1
“Zeva, perkenalkan dia ayah Zeo. Namun, hari ini sedikit murung. Kamu jangan tersinggung ya,” ucap Ibunda Zeo. Dirinya merasa sungkan dengan Zevanya selaku calon menantu.
Memang sih, mereka sudah bertunangan dan bertukar cincin, tapi itu tak memungkiri bahwa keduanya bisa putus, sebab belum ada ikatan kuat di antara mereka. Jadi, sebisa mungkin Ibunda Zeo itu menahan Zevanya.