Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 32


__ADS_3

Setelah dibuat pusing dengan misteri jam yang tertanam itu. Zeo memilih mengajak Zeva untuk pergi. Niatnya, Zeo ingin mengenalkan Zeva kembali pada keluarganya. Terlebih, pagi-pagi sekali, mamanya sudah berpesan untuk mengajak Zeva makan malam.


Mau tidak mau, Zeo harus menurutinya. Jadilah dengan segala bujuk rayu Zeo, dia mengajak Zevanya untuk berkunjung ke kerajaan. Mungkin saat mereka sampai nanti, ayah Zeo belum pulang.


Namun, masih ada ibunda Zeo yang tidak memiliki jadwal apapun hari ini. “Baiklah-baiklah, aku mau.” Zevanya memutuskan setelah beberapa saat dirinya terdiam.


Keduanya berjalan keluar dari kamar Zevanya. Mereka baru keluar setelah ribut yang dibuat-buat dan tidak jelas itu. Jika saat masuk paman dan bibi Zeva sudah berada di depan pintu. Kini, mereka juga sudah berada di samping tangga. Kanan dan kiri. Mereka ini lama-lama bisa disebut sebagai pelayan, lihat tingkahnya saja, sudah sangat cocok.


“Kalian benar-benar cocok, ya.” Seru Zevanya. Tak henti-hentinya dia mengolok kehadiran paman dan bibinya itu.


“Diam kamu.” Seru bibi Zevanya itu membuat Zeva mendelik.


“Pangeran, apakah anda tidak hendak makan dulu sebelum pulang? Saya sudah masak banyak dan pasti makanannya enak-enak.”


Jika mengikuti etika kerajaan, maka seharusnya Zeo menerima suguhan dari tuan rumah itu. Namun, posisinya sekarang bukan pangeran kerajaan, melainkan sebagai kekasih Zevanya. Tentunya Zeo memiliki hak untuk menolak.


“Tidak, Nyonya. Saya datang kemari sebagai kekasih dari Zevanya. Bukan sebagai utusan kerajaan ataupun pangeran mahkota.”


Dengan tidak mengurangi rasa hormat, tentu saja Zeo menolaknya secara baik-baik. Biarlah jika pasangan itu akan tersinggung, tapi jawabannya akan tetap sama seperti sebelumnya. Lagipula, selain Zeo sedang tidak lapar, dirinya juga tak dapat memastikan bahwa makanannya terdapat racun ataupun tidak.


“Kami berdua pamit dulu, Nyonya,” ucap Zeo. Tanpa menunggu jawaban darinya, Zeo sudah melangkahkan kakinya ke pintu utama rumah ini yang menuju ke luar. Tentunya tanpa melepaskan ikatan tangannya alias gandengan dari Zeva.


“Kamu tahan banget ya sama mereka, Ze,” ucap Zevanya terkekeh. Melihat interaksi antara Zeo dan bibinya tadi, Zeva dapat memastikan bahwa Zeo adalah orang yang sangat sabar. Zevanya merasa sangat bersyukur dalam hati, sebab Zeo sangatlah baik menurut hati Zevanya.


“Mau kita sebal atau gimanapun, kita juga harus tau bahwa dia tetaplah orang yang lebih tua. Lagipula, kami belum terlibat konflik apapun, jadi untuk sekadar basa-basi, menurut aku biasa aja.” Zeo menjelaskan dengan sabar. Dia tahu kekasih alias tunangannya ini seringkali abai dengan sekitar karena merasa sebal, sungkan dan lainnya. Namun, kalau belum ada masalah, kenapa harus terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka itu?

__ADS_1


Mereka berdua saling berbagi pemikiran masing-masing di dalam kereta kuda. Tak ada satupun yang tersinggung, sebab mereka sudah berkomitmen, bahwa mereka akan tetap menjaga kedamaian hati masing-masing. Unik memang.


Jika tadi perjalanan dari kediaman Theo menuju rumah lama Zevanya. Maka, sekarang adalah perjalanan dari kediaman Zevanya menuju kerajaan yang layak istana.


Perjalanan memang lama, tetapi tidak boring sebab keduanya selalu bercerita sepanjang perjalanan, bahkan tak terlepas dari gurauan santai. Akhirnya, merekapun sampai di halaman kerajaan. Keduanya turun dan masih sama, keduanya terus bergandengan tangan, seolah salah satunya akan kabur jika dilepas.


“Ahh, anak mama.” Seru Ibunda Zeo. Baru masuk saja, dirinya langsung menghampiri Zevanya. Zeo mendengus, yang anaknya itu siapa sih? Zeo atau Zevanya?


Jikapun dia bertanya begitu, maka mamanya hanya akan menjawab, “kalau sama kamu, mama udah bosen. Jadi anak mama yang baru Zevanya.”


Begitulah kira-kira. Sedangkan, jika ada apa-apa Zeo-lah yang diandalkan. Memang perempuan itu aneh.


“Yuk, Nak. Kita makan.” Ucap Ibunda Zeo yang sampai sekarang belum Zevanya tahu jelas asal-usulnya. Dia hanya tahu itu Ibunda Zeo, tetapi Zeva juga tidak mau bertanya hal seperti itu. Bisa saja Ibunda Zeo memang tidak nyaman ketika orang lain mengetahui namanya.


“Oke, bunda.” Zevanya tersenyum. Dia kemudian menggandeng tangan Ibunda Zeo yang membawanya menuju ruang keluarga, bukan ruang perjamuan.


Hatinya berdetak tidak karuan. Jika kemarin saat hari pertunangan Zeva hanya bisa menatapnya sedikit dan membuatnya tak nyaman.


Kali ini, Zeva bisa melihat wajahnya dengan jelas. Zeva bisa memastikan bahwa dia adalah seseorang yang sangat Zeva kenali. Seseorang yang pernah memberikan rasa manis dalam kehidupan Zeva yang sekarang, tapi setelah itu menghilang bersama dengan luka yang dia gores.


Laki-laki yang dulunya merupakan laki-laki teman ayah sambungnya. Dia yang selalu menemani ayah sambung Zeva untuk tetap semangat. Bahkan, Zeva masih mengingatnya dengan jelas.


Kala itu, Zeva baru selesai dan pulang dari berjalan-jalannya. Zeva pulang naik mobil yang dipinjam dari laki-laki itu. Namun, ayah Zeva tidak tahu bahwa mobil itu sudah disabotase. Alhasil, mereka masih beriang-riang, sampai akhirnya mereks menyadari itu saat sudah terlambat.


Ketiga manusia yang harmonis itu akhirnya runtuh. Ayah dan ibu Zeva tidak bisa selamat saat pintu mobil juga tidak bisa terbuka. Dengan segala pertimbangan, dan memanfaatkan kondisi yang ada, ibu Zevanya melemparkannya ke luar mobil.

__ADS_1


Tepat di area semak-semak dengan kepala Zeva yang terbentur batang pohon. Lokasi yang dibilang tidak strategis, tapi untung saja Zeva tidak dimakan oleh binatang buas.


“Zeva...” panggil seseorang yang tak lain adalah Ibunda Zeo.


“Eh, iya,” ucap Zeva.


“Salam dong sama Ayah Zeo.” Ibunda Zeo itu menyuruh Zeva, menurutnya ini adalah hal yang wajar, iya kan?


Zeva menurut, tetapi tidak seperti dia yang mencium punggung tangannya Ibunda Zeo. Dirinya hanya sedikit menunduk, kemudian kembali ke tempatnya.


Sebenarnya Ibunda Zeo merasa aneh, tapi dia tak berhak berasumsi apapun. Ayahanda Zeo itu seringkali dipergoki sedang melirik Zeva. Entah apa maksudnya.


Zeva sendiri sedari tadi mengalihkan pandangannya. Dia tidak kuat mengingat ini semua. Kejadian waktu itu terasa sangat nyata, bahkan sampai sekarang. Kilasan-kilasan kejadian itu bagaikan kaset rusak di dalam otak Zevanya.


Ibunda Zeo kemudian mengajak semuanya makan malam. Semua berjalan normal, sampai ayahanda Zeo angkat bicara.


“Ratu Walcott, tampaknya ada yang perlu kita bicarakan. Apakah anda punya waktu?” tanyanya. Dia tersenyum tampak seperti tak ada apa-apa.


Zevanya juga dengan topeng senyum miliknya berusaha tegar. Dia harus mengenyahkan pemikiran buruknya itu, meskipun dia juga tahu bahwa Raja yang dianut rakyat itu merupakan seseorang yang kotor alias penuh dosa.


Di sinilah keduanya berada. Di ruang perjamuan. Tanpa ada siapapun. Zevanya hanya diam tanpa mengucapkan apapun. Begitu juga dengan sang raja.


“Kamu pasti tahu aku.” Ucapnya penuh misteri.


“Anda juga mengenal saya, Raja Yang Terhormat.” Kesal Zevanya.

__ADS_1


“Maka dari itu, saya mengajak anda bertarung.”


__ADS_2