Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 36


__ADS_3

Kembali lagi, Zeva sudah menginjakkan kaki di rumah paman dan bibinya yang tak layak disebut rumah itu. Zevanya sudah memasang muka datar karena jika dia memperlihatkan kesedihannya, itu tidaklah mungkin, dia bisa menjadi bahan ejekan.


Berbeda sekali dengan waktu itu. Waktu di mana ia ke sini bersama Zeo. Jika Zeo kesal bersamanya karena dia terlihat sangat menyedihkan dan kedua paman dan bibinya langsung sigap ada di depan pintu, maka kali ini tidak lagi. Bahkan, Zeva bisa mendengar suara berisik mereka dari dalam kamar.


Zeva tidak tahu itu suara apa. Namun, Zeva bersikap tidak peduli saja. Yang penting itu bukan urusannya. Lagi-lagi Zeva dikejutkan dengan erangan yang sangat menyakiti telinga.


Zeva memilih untuk berjalan-jalan terlebih dulu di rumah yang sudah lama tidak ia lihat. Zeva juga merasa bebas, Zeo tidak ada, dan kedua manusia itu sedang sibuk untuk bermesraan.


Baiklah-baiklah. Mari kita lihat, Zeva memilih untuk menyusuri lantai bawah. Namun, ada yang janggal. Seingat Zeva, ketika kemarin dia (saat bangun dari koma) kamar di sini hanya ada lima, lalu mengapa hari ini ada enam? Huh.


Zevanya kembali melangkahkan kakinya, menuju ruangan yang sebelumnya Zeva tahu tidak ada. Ternyata ingatan Zevanya Laureen sangat jernih, ya.


Sedikit bau, batin Zeva.


Zevanya kembali menyusuri ruangan itu dengan sepatu tingginya. Dengan percaya diri tanpa pencahayaan apapun Zeva memasuki ruangan gelap itu.


Sebuah kamar yang didominasi warna gelap di bagian dindingnya, dilapisi keramik untuk lantainya, dan tidak memiliki pencahayaan apapun. Bahkan di kamar itu tak ada ventilasi yang mengarah ke luar.


Sangat gelap adalah dua kata yang tepat untuk ruangan itu. Sebab sama sekali tidak ada cahaya yang masuk. Bahkan Zevanya sendiri menutup cahaya yang masuk dari pintu itu.


Nah, bagaimana caranya Zeva melihat? Entahlah, tidak ada yang tahu pasti hal itu. Sebab Zeva sendiri tidak menunjukkan keanehan, dia tampak berjalan biasa seolah tempat ini tempat yang terang.

__ADS_1


“Gak ada yang menarik,” ujar Zevanya.


“Ah, yaudahlah, mungkin aku harus ke atas, supaya urusanku cepat kelar,” ucap Zevanya lagi.


“Yah lagi dan lagi, jam ini masih di sini.” Zevanya kemudian mengotak-atik jam itu. Sampai dia mendapatkan kesimpulan bahwa jam itu adalah hasil kerja keras jiwa sebelumnya.


Ya, memang. Zevanya sendiri sudah sadar. Bahwa dia bukanlah seseorang yang hanya lupa ingatan. Zeva bahkan menyadari jika dirinya terjebak di dalam dunia ini. Namun, tidak ada seorangpun yang tahu jika Zeva bukanlah Zeva yang asli.


Zevanya sendiri juga tidak tahu, mengapa dia bisa terjebak di sini, menggunakan apa, dan bagaimana dia kembali ke dunia yang sebenarnya. Sejujurnya, Zevanya sudah berulang kali menyerah. Terlebih, ketika dirinya sudah resmi menjadi kepala keluarga alias Ratu Walcott yang diidamkan oleh seluruh keluarga Walcott.


Semua hal yang diinginkan oleh Zeva sebenarnya terpenuhi. Apalagi dengan jabatannya sebagai Ratu Walcott, yang membuat semua orang tunduk takut terhadapnya.


Namun, satu hal yang tidak Zevanya sadari adalah tentang hidup yang tidak abadi. Zevanya masih terlalu banyak bermain dan memikirkan hidupnya sendiri. Tanpa dia lebih mengetahui bahwa dunia Walcott lebih kejam dari penglihatannya.


Juga tidak hanya para lelaki atau perempuan saja, tetapi hampir semua orang di dalam keluarga Walcott terlihat hal itu. Makanya, banyak yang mengincar posisi Zeva. Mereka bahkan berani untuk menghalalkan segala cara demi jabatan yang sedang diduduki oleh Zevanya.


Bahkan, jika orang-orang tidak tahu, Zeva yang lama adalah ratu terkuat di dunia malam. Ratu tercerdik, bahkan termisterius. Ya, hampir semua keluarga Walcott sudah memasuki dunia malam sejak umur mereka belum menginjak sepuluh tahun.


Di usia yang dini, mereka bahkan sudah mengerti tentang nafsu dunia dan kultivasi yang dijalani di dunia malam. Tidak penting bahwa kekuatan itu mereka dapatkan secara diam-diam atau bahkan kekuatan itu adalah kekuatan setan.


Mereka hanya ingin untuk tetap memiliki kekuatan. Apabila mereka bisa mempunyai kekuatan yang besar, maka di dunia ini mereka akan disegani. Oleh karena itu juga, banyak dari mereka yang datang dan berkunjung hanya untuk berkultivasi.

__ADS_1


Kultivasi yang juga ditutupi Zeo dari Zevanya selama ini. Semua orang bahkan tutup mulut dan tidak membiarkan Zevanya baru tidak tahu apapun. Memang sekejam itu dunia ini, jika orang itu tidak berusaha, maka mereka perlahan akan mati dengan kekuatan mereka yang habis.


Bahkan, raja dan ratu terdahulu sering sekali bersatu dengan alasan mencintai, selain itu juga mereka berkata, bahwa itu akan membesarkan kekuasaan dan kultivasi mereka. Begitupun saat ini, sampai saat ini, hanya keluarga Walcott yang bertahan dan tetap kuat meski tidak saling bersatu dengan orang-orang yang punya kultivasi tinggi. Ya, keluarga Walcott memang menyukai hubungan tanpa status. Tidak heran mereka menekuni dunia malam yang mereka anggap lebih nyaman.


Meskipun begitu, keluarga Walcott tetaplah keluarga yang hebat. Keluarga yang berhasil menyembunyikan semua topeng kebusukan mereka. Namun, masih ada satu ataupun dua keluarga Walcott yang tetap bersatu alias menikah demi menutupi alasan mereka semua mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang begitu tinggi.


Dari semua alasan itu. Hanya laki-laki dari bangsa Rayon, atau tepatnya pangeran-pangeran bangsa Rayon yang diperbolehkan untuk meminang perempuan dari bangsa lain. Dengan hal itu juga, bangsa Rayon dijadikan bangsa yang kuat, bangsa yang luas, dan kekal.


Sebab, dari semua peperangan yang sering terjadi, bangsa Rayon tetap mempertahankan apa yang menjadi miliknya dan selalu berhaisl menaklukkan lawan mainnya.


Begitupun dengan Zeva yang sudah berhasil menemukan sesuatu yang aneh. Sebuah benang berwarna merah darah dari sudut kanan lemari itu. Zeva sebenarnya ragu, dia takut untuk menariknya, tetapi Zeva juga penasaran.


“Apakah aku harus menariknya? Membiarkan, atau aku harus bagaimana?” gumam Zeva bingung.


Dirinya memilih duduk terlebih dulu di sebuah kursi yang ia tarik untuk menghadap lemari itu. Sesaat, sedetik, dua detik, dan kembali lagi Zeva menemukan hal aneh.


Sekelebat bayangan hitam dengan tangan di mana-mana muncul secara sekilas. Zeva berulang kali mengucek matanya, dia salah lihat tidak? Dan apa arti dari bayangan barusan? Sungguh, demi apapun Zeva merasa takut saat ini.


Zeva kembali berdiri, tapi kini jam itu berubah menjadi sebuah tayangan taman yang ada monster.


Damn it. Zevanya mengenali taman itu, dan ibu peri. Zevanya masih mengingat jelas apa yang ada di mimpinya kala itu. Apakah ini nyata? Dunia peri sedang dalam bahaya?

__ADS_1


Zevanya ingin menolong, tapi dirinya takut. Namun, setelah memberanikan diri, Zevanya menarik saja benang merah itu.


__ADS_2