Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 58


__ADS_3

“Selamat ya, Kak Lala.” Zevanya memberikan selamat. Ya, Lala, atau tepatnya Stella Agatha.


Perempuan yang juga reinkarnasi dari Putri Traco. Perempuan yang pernah berantem dengan Zeo di dunia kerajaan itu, kini bersatu dengan Kevin dalam ikatan pernikahan yang sangat suci. Disaksikan oleh Tuhan secara langsung.


“Selamat juga, Sayangku. Aku dengar, kamu sudah hamil ya?” tanya Stella. Zevanya mengangguk, benar, tetapi mengapa Stella bisa tahu? Bukankah dia belum memberitahukan ini kepada siapapun selain Zeo?


“Kakak tahu dari mana?” Zevanya tidak mau terjebak dengan rasa penasaran. Zevanya lebih memilih untuk bertanya langsung daripada diam-diaman, dan berujung salah paham dari banyak pihak.


“Dari Kevin dong. Kan aku punya orang dalam sekarang.” Stella terkekeh. Ya, Kevin adalah orang dalam yang dia maksud. Begini, Kevin kan dekat dengan Zeo, jadi, kalau Stella mau tahu sesuatu tentang Zeva, tinggal minta ke Kevin.


“Ah, bisa aja, Kak.” Zevanya terkekeh. Lalu, Zevanya turun dari atas pelaminan setelah memberikan ucapan salam kepada pengantin baru itu.


“Mas udah pesen tiketnya?” tanya Zeva. Memang, mereka berniat memberikan kado pernikahan, yang berupa tiket pesawat untuk terbang ke Turki.


Memang, sewaktu itu mereka diberikan tiket untuk ke Maladewa, alias Maldives. Namun, berdasarkan hasil penelusuran suaminya, Kevin dan Stella sudah berniat pergi ke Turki, jadi keduanya sepakat untuk memberikan tiket terbang ke sana. Ya, sama seperti yang Kevin berikan, tiket kelas bisnis.


“Mas, besok temenin aku cek kandungan, ya. Aku udah bikin janji sama dokternya.” Zeva meminta Zeo untuk mengosongkan jadwalnya di siang hari juga. Tepat saat mereka akan berkonsultasi kepada dokter-dokter hebat yang ada di sana.


“Dokternya cewek apa cowok?” tanya Zeo posesif. Ya, dia tidak rela istrinya dilihat oleh pria lain, meskipun dia seorang dokter.


“Cewek kok. Kan kamu udah bilang.” Untung saja Zevanya mencari aman, dan beruntung dia menemukan dokter kandungan perempuan. Oh, baiklah. Aman.


Keduanya berbincang ringan, meskipun fokus keduanya berada di dalam diri masing-masing. Ya, keduanya tengah bersiap-siap untuk membaringkan tubuh ke ranjang.


Jika Zevanya sibuk dengan skincarenya, maka Zeo sibuk dengan rambut dan kumisnya. Ya, Zeo bukan lagi anak kecil, dia adalah pria dewasa yang memiliki rambut di mana-mana. Jadi, kalau mau ganteng, Zeo perlu mencukur rambut-rambut itu, kecuali rambut yang sudah ada sedari kecil.

__ADS_1


Ya, mereka selesai membersihkan diri masing-masing dan segera memposisikan diri untuk duduk. Posisinya, Zeo menyandar ke kepala kasur, sementara Zeva menyandarkan kepalanya ke dada bidang Zeo. Tidak jarang, Zeo mengusap rambut Zeva yang terasa wangi karena sehabis keramas.


Mereka membahas banyak hal sampai kedua manusia itu merubah posisi dan saling berpelukan sebelumnya benar-benar tertidur. Berbeda dengan salah satu pasangan yang sedang ribut dengan negara yang akan dituju.


“Cepetan! Ini loh, jam penerbangannya jam 5 pagi hari ini.”


Ya, tiket yang diberikan oleh pasangan yang tertidur itu adalah tiket yang membuat mereka merasa dikejar-kejar waktu.


Bagaimana tidak? Pesta pernikahan mereka baru selesai jam 11 malam, dan sekarang mereka harus membereskan barang bawaan sebelum pergi terbang ke Turki?


Memang sih, Turki menjadi tempat yang mereka pilih untuk honeymoon. Namun, tidak dengan pemberangkatan yang secepat kilat ini.


“Padahal waktu itu aku ngasih tiket, pengertian loh.” Kevin berdecak. Dia tidak mungkin menyia-nyiakan tiket pesawat itu.


Beberapa minggu sudah berlalu, begitupun dengan pasangan yang sudah kembali dari Turki itu. Mereka tengah bersantai di rumah menikmati hari weekend yang sudah tiba. Keduanya nampak sangat mesra, sampai Stella berlari ke kamar mandi.


Apalagi, jadwal bulanan Stella yang sudah mundur beberapa hari. Sebagai seorang suami dan calon papa yang baik, Kevin bahkan menghitung masa bulanan Stella, dan masa suburnya.


“Positif, Hubby.” Jawaban Stella berhasil membuat senyum lebat terbit dari dua sudut bibir Kevin.


“Beneran kan? Coba aku liat!”


“Iya, bener. Meskipun ini siang, tapi warnanya pekat, sudah bisa dipastikan aku hamil, Hubby.”


Kevin tersenyum sangat-sangat lebar. Dia puas dengan hasilnya. Kerja keras yang dia lakukan setiap hari akhirnya membuahkan hasil. Dia menggendong Stella, dia mengecupi seluruh wajahnya sebagai tanda bahwa perasaannya sedang berdentum dan gembira.

__ADS_1


Kevin menatap manik Stella dengan bersinar, “kita periksa ke dokter ya.” Stella mengangguk. Dia juga tahu bahwa mereka harus periksa ke dokter, bagaimanapun dokter lebih ahli daripada mereka yang hanya baru calon orang tua.


Kevin: “Anak gue otw, bro!”


Tidak ada notifikasi bahwa pesannya sudah dibaca, maklum saja, sekarang belum jam makan siang. Sudah dipastikan mereka sedang tidak memegang ponsel dan serius bekerja. Namun, biarlah. Nanti juga mereka akan membacanya, jika tidak tenggelam.


Lionel: “Selamat bang! Anak ke-dua gue juga masih otw jadi kecebong.”


Zeo: “Selamat ya, bro! Ntar malem gue mampir bareng my wife.”


Memang sih, meskipun grup itu hanya berisi tiga orang, tapi tali persahabatan mereka kuat sekali. Sampai-sampai tidak ada seorangpun yang merasa teracuhkan.


Waktu demi waktu berlalu, seiring dengan matahari yang tenggelam. Bulan pun sudah menampakkan diri beriringan dengan langkah kaki Zeo yang masuk ke dalam rumah mewah milik seorang pasangan, yakni, Kevin dan Stella.


Zeo merangkul pinggul istrinya. Mereka masuk tanpa membunyikan bel, sebab pemilik rumahnya sendiri sudah siap menyambut mereka di depan rumah.


“Congrats Kak Lala.” Zevanya tersenyum. Di usia kandungannya yang sudah mencapai akhir trimester pertama, Zevanya sangat bahagia dengan kehidupan janin kecil di tubuh temannya itu.


Iya, Stella adalah temannya, tetapi Stella juga sudah seperti kakaknya. Sebab, Stella juga akrab dengan Kakak Zevanya, yakni Vania. Memang sih, dunia itu sempit.


Zevanya kemudian bercakap-cakap tentang kehamilannya, mereka saling berbagi cerita hingga larut malam. Sementara, para pria itu melepaskan gundah karena tidak bisa menyentuh istrinya. Ya, istri yang sudah mereka buat hamil anaknya.


Di ruangan yang sama, ada dua kelompok dengan topik pembahasan yang berbeda. Ya, jenis kelamin saja sudah beda, bagaimana mungkin pembahasan mereka masih nyambung. Apalagi mereka sudah berstatus.


“Udah dulu deh, aku mau pulang. Udah malem, ga enak juga kan.” Zevanya pamit saat melihat waktu yang menunjukkan pukul 10 malam.

__ADS_1


“Nginep sini aja, Ze. Please, malam ini aja. Kamu kan udah masuk tiga bulan, bisa kali dibagi pengalamannya di bulan-bulan pertama. Please, nginep sini aja ya.” Stella memohon.


Beruntung, kedua pria itu juga setuju. Akhirnya mereka masih mengobrol sampai hari sudah berganti.


__ADS_2