Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 41


__ADS_3

“Dandan! Dandan!” panggil Kakek Tua alias Theo itu. Saat ini dia sedang berada di bukit.


“Kenapa sih, Pak Tua?” tanya Wollfi.


Iya, Dandan yang dipanggil oleh Theo Walcott ialah Wollfi. Hewan kesayangan yang sudah dianggap adik oleh Zeonard Leonardo Zurick.


Hamdani Zoel Anggara, nama samaran yang dipakai Wollfi. Namun, Wollfi lebih sering dipanggil Hamdan dan khusus kakek tua banyak tingkah ini, dia memanggil Wollfi sebagai Hamdan.


Wollfi sebenarnya sudah muak dengan dia, tetapi Wollfi juga tidak tega membiarkan dia kesulitan tanpa dirinya. Wollfi sebenarnya memiliki hati yang lemah lembut. Namun, semua itu tertutup dengan rupaya yang seringkali menyerupai wujud seseorang.


“Ada masalah apa lagi, Pak Tua?” tanya Wollfi, dia masih kalem.


“Apakah aku boleh mencabut perjanjian kita dulu?” tanya Pak Tua.


Wajah Wollfi menggelap, dia menggeram tidak suka. Memangnya Pak Tua itu siapa sampai berani memintanya untuk membatalkan perjanjian silam itu? Apa peduli Wollfi? Bukankah dia harusnya masih ingat dengan aturan dari perjanjian itu?


“Kenapa?” tanya Wollfi, suarabya seperti tercekat di tenggorokan. Jika membahas perjanjian-perjanjian silam, Wollfi memang tidak kuat, sebab banyak hal dan resiko yang sebenarnya harus diterima oleh Wollfi.


Bukan karena Wollfi kurang kekuatan, tetapi karena janji itu, Wollfi menyimpan banyak janji dan tidak bisa berkelana dengan bebas, kebanyakan waktu dari seluruh hidupnya dia pakai berburu dan bertapa, lalu, mengapa pria tua ini ingin membatalkan perjanjian yang sudah membuatnya hampir sekarat?


“Cucuku sudah menemukan orang yang dicintainya. Makanya, apakah aku boleh meminta keringanan?” tanya Kakek Tua alias Theo. Dia tampak ragu-ragu mengutarakan perasaan dan kegundahan hatinya.


“Bukankah kau tau dengan ketentuannya?” tanya Wollfi lagi. Dia memilih untuk tidak banyak berkata daripada hatinya harus jatuh sedalam-dalamnya dan semakin sakit lagi.

__ADS_1


Sebenarnya, Wollfi tidak begitu masalah, tetapi hati Wollfi bertentang dengan otaknya. Hati Wollfi tidak rela! Itu mengapa Wollfi lebih banyak diam, daripada dia harus mengeluarkan amarahnya di saat yang tidak tepat, benar kan? Wollfi tidak ingin kelepasan.


“Aku tahu, dan kau juga tahu, jika suatu saat seperti sekarang, aku bisa meminta untuk membatalkannya.” Tegas Kakek Tua, dia memang menginginkan yang terbaik bagi cucunya.


Mereka tengah membahas tentang perjanjian ikatan benang merah alias perjodohan antara Zeo dan Zevanya. Dulu sekali, kakek tua pernah meminta Wollfi untuk selalu membimbing Zevanya, dan setelah itu mereka melakukan perjanjian darah atas apa yang sudah Wollfi lakukan.


Ya, benar. Wollfi akan mendapatkan Zeva, ketika Zevanya menginjak usia 24 tahun. Masih ada waktu sekitar dua tahun lagi, tapi kakek Zeva itu berniat membatalkan perjanjian mereka.


Janji yang sudah ditandatangani dengan darah hanya bisa diimbangi dengan permata biru. Permata yang hanya ada di Gunung Bersalju, itupun harus melawan naga yang ada di sana. Sebab, permata biru bukanlah barang yang mudah untuk didapatkan, banyak perjuangan dan pengorbanan, seperti yang Wollfi lakukan kemarin. Ternyata benar, Pria Tua alias Suhu itu seperti bisa meramal masa depan.


Nsmun, apakah iya Wollfi harus melenyapkan perasaan yang sudah tumbuh lama pada Zeva itu berakhir di permata biru itu? Jika iya, Wollfi dilanda kegalauan tentang itu.


Kakek tua juga terdiam, dia sama pusingnya dengan Wollfi, tapi kakek tua lebih memikirkan bagaimana cara mengambil permata biru itu.


“Mau nggak?” tanya Kakek tua sekali lagi. Sebab, ini menyangkut masa depan Zevanya. Dia harus bertingkah laku dengan caranya.


“Biarkan aku berpikir terlebih dulu, Kek.” Sungguh, ini bukan hal yang mudah. Terlebih, Wollfi juga sudah menyadari bahwa dia sudah menyukai Zevanya. Meskipun dulu mereka lebih sering berinteraksi, Wollfi baru menyadari perasaannya ketika Zeo dan Zevanya sudah bertunangan.


Ketika mereka dekat dan menunjukkan kemesraan mereka, hati Wollfi terasa sakit. Ketika keduanya saling bercerita tanpa beban, Wollfi seringkali meremas dan melukai tangannya sendiri. Sampai di suatu hari Wollfi menyadari tentang hal itu.


Dia menyadari bahwa dia sudah jatuh dalam pesona Zevanya. Dia sudah jatuh cinta, entah berapa lama. Namun, di situ, Wollfi kebih memilih diam, seolah malah mendukung keduanya menuju jalan terakhir untuk proses penghalalan keduanya. Tapi percayalah, hati Wollfi berontak, dia tidak suka sebenarnya.


Kemudian, sekarang kakek tua itu menginginkan pembatalan perjodohan itu. Hati Wollfi semakin berontak, dulu dia menjadi mentor dalam mimpi Zevanya, itu sudah dilakukan sejak Zevanya masih kecil. Namun, nyatanya, semua akan diambil oleh Zeo.

__ADS_1


Ibaratnya Zeva adalah buah yang dia rawat dan sekarang akan dimakan oleh Zeo. Sama seperti itu, hati Wollfi sama hancurnya. Mengapa dunia tidak adil? Mengapa semua memihak Zeo? Ah, Wollfi rasanya ingin marah saja.


“Oke, aku mau membatalkannya.” Wollfi memutuskan untuk membatalkannya, cukup dia yang mencintai dan biarkan Zevanya melanjutkan cintanya. Biarlah cinta yang Wollfi inginkan tidak ada, tetapi dia akan tetap mencintai dan melindungi Zevanya, sampai batas waktu yang tidak ditentukan.


Entah pendapatnya akan diterima atau tidak, Wollfi tidak peduli. Terpenting, adik yang bukan adik dia itu bahagia dengan orang yang dicintainya. Bukan lagi tentang masalah Zeo, tetapi ini menyangkut kebahagiaan Zevanya. Jika Zeva tak bisa bahagia, apakah itu cinta?


“Tidak boleh,” ucap seseorang.


Theo dan Wollfi menolehkan muka mereka. Jujur saja mereka kaget. Sejak kapan Zeo berada di sana? Benar sekali, yang berada di sana adalah Zeo. Pertanyaannya, ialah bagaimana bisa Zeo berada di sana? Sungguh, apakah Zeo mendengarkan semua percakapan mereka?


“Aku udah denger semuanya. Gausah dibatalin, aku yang akan mengalah.” Zeo juga sadar diri. Dia tidak mau merebut apa yang menjadi kebahagiaan adiknya itu.


Namun, Zeo tidak sadar. Ini bukanlah tentang rasa mereka sebagai kakak dan adik, tetapi menyangkut rasa nyaman dan aman Zeva. Tidak peduli rasa mereka terbalas atau tidak, tapi ini tentang Zeva. Sebab, hidup Zeva adalah hidup mereka.


“Nggak, kak. Dia bahagia sama kamu, bukan sama aku.” Wollfi menolak.


Mereka mendadak berdebat tentang perjanjian itu. Perjanjian yang seharusnya hanya urusan antara Wollfi dan Theo kini tercampur oleh Zeo.


“Dandan, Zeo, cukup!” Theo berteriak, pasalnya diperingati baik-baikpun tidak dihiraukan oleh mereka berdua.


Theo mendengus. Diteriaki juga percuma saja. Alhasil, Theo memilih untuk menjadi penonton. Melihat mereka berdua yang berantem, Theo seketika nostalgia ketika anak-anaknya masih bocil. Dulu sekali mereka sangat dekat bahkan selalu menempel satu sama lain.


Namun, seiring berjalannya usia, semua mulai memasuki dunianya dan membangun rumah tangga sendiri. Hangat dan ramainya rumah Theo perlahan menghilang. Begitupun dengan senyum Theo yang kini terbit, keduanya sangat bisa membangun hati Theo yang sudab lama mati itu.

__ADS_1


__ADS_2