
Zeo: “Hai, aku Zeo. Besok, kamu ada waktu nggak? Kalau iya, bolehkah kita saling bertemu?”
Zeo, ya lelaki yang tadi meminta nomor ponsel Zevanya adalah Zeo. Entah bagaimana ceritanya, tapi doa Zevanya tidak dijabah, buktinya dia kembali bertemu dengan Zeo. Memang jika sudah takdir alami akan jadi susah untuk dilepas.
“Aaaa!” Zevanya menjerit tertahan. Sungguh, dia tidak menyangka Zeo berani mengchat dia duluan. Juga, langsung ke intinya untuk mengajak Zevanya makan siang. Siapa yang tidak melting coba?
“Baiklah, jadi, aku harus jawab apa ya?” tanya Zevanya bergumam, sebab ini pertama kalinya dia begini. Dichat cowok dan diajak makan. Jadilah, Zevanya belum profesional.
Zevanya: “Iya, ada kok. Besok juga aku ga–“
“Eh, jangan deh, gini aja.” Zevanya bergumam sendiri. Lalu, dia menekan tombol delete.
Zevanya: “Bisa.”
Ya, dia lebih memilih untuk menjawab singkat. Soalnya dia nggak kuat. Zevanya salting sebrutal-brutalnya. Namun, Zevanya sendiri mengakui, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Zeo.
Zeo: “Kalau jam 8 pagi, bisa?”
Mereka terus berlanjut berkirim pesan sampai waktu menunjukkan pukul 12 kurang 15 menit. Ya, ini sudah menjelang hari esok. Namun, keduanya masih aktif chatting-an. Seakan tidak ada waktu lain untuk mengobrol lagi. Bahkan, hal-hal konyol dan random juga menjadi pembahasan mereka.
“Kamu beneran mau pergi sendiri? Kakak antar ya? Sejalan kok sama tempat les Adek.”
Sebagai seorang kakak sekaligus orang tua pengganti untuk adik-adiknya. Vania merasa khawatir melepas Zevanya yang memaksa untuk naik goc*r. Bukan hanya karena Zevanya adalah adiknya, tapi banyak pertimbangan lain yang membuat Vania khawatir.
Pertama, Zevanya baru keluar dari rumah sakit beberapa hari lalu. Kedua, orang yang ditemui Zevanya bukanlah seseorang yang Vania kenal. Ketiga, mereka berencana untuk bertemu di sebuah kafe yang tidak begitu terkenal.
__ADS_1
Dari ketiga alasan itu saja sudah membuat Vania ketar-ketir karena khawatir. Memang sih, terlebih Vania juga memiliki trauma kehilangan saudaranya. Maklum, terlahir sebagai anak pertama membuat dia memiliki lebih banyak pengalaman dan cerita. Juga trauma yang tertimbun.
Namun, Vania itu hebat. Dia bisa mengontrol dirinya sendiri. Bahkan dia bisa menutupi semua kekurangan dan trauma yang dia rasakan dari kedua adiknya. Bahkan, dia tidak pernah lepas kontrol di depan orang lain.
Kemungkinan terbanyaknya, Vania menangis di malam sepi. Bahkan, bukan satu atau dua kali Vania kehilangan kontrol jika sedang sendiri, dia selalu melukai dirinya sendiri.
Ya, topeng yang selalu Vania pasang baik-baik di depan semua orang akan hancur ketika dia sedang sendiri. Vania, gadis kuat yang dipaksa oleh keadaan. Meskipun masih ada kakek, nenek, dan kerabat lainnya. Vania selalu menolak ketika mereka menawarkan bantuan. Sebab Vania sadar diri.
Vania sadar dengan tanggung jawab dan kewajiban yang harus dia emban sebagai anak pertama. Selain anak pertama, dia juga cucu perempuan pertama dari kedua keluarga besar ayah dan ibunya.
Hal itu juga yang menjadikan Vania memiliki dua perusahaan. Salah satunya adalah perusahaan yang diwariskan dari keluarga ibunya. Sedangkan satunya lagi adalah perusahaan yang didirikan setelah satu tahun Vania mengabdikan diri dan bekerja dari perusahaan keluarga ibunya.
Perkembangan Vania sungguh pesat, bahkan pemasukan yang Vania dapatkan selama satu bulan bisa lebih dari seratus miliar. Namun, hanya seperempat dari sana yang menjadi pendapatan bersih Vania. Sebab dia masih menggaji karyawannya dan seringkali memberikan bonus.
Namun, seperempat itu baru di perusahaannya sendiri yang masih tergolong sedang. Bisa dibayangkan sendiri dengan pendapatan dari perusahaan keluarga ibunya, dia mendapat berapa, dan kadang memberikan sebagian pendapatan itu untuk keluarga ibunya sendiri.
Vania marah? Tidak sama sekali. Dia legowo saja. Toh dengan begitu dia tidak semakin pusing dengan urusan di perusahaan. Begitu-begitu juga Vania masih manusia.
“Oke, tapi kakak ikuti dari belakang, ya.” Vania pasrah dengan keputusan adik pertamanya itu. Miko sendiri hanya diam melihat kedua kakaknya beradu argumen.
Zevanya berdehem. Dia sendiri juga sedang menunggu goc*rnya. Sebab sedari tadi Zevanya bersiap, gocarnya itu belum jalan. Kemudian, muka Zevanya nampak pias.
“Kenapa? Mana gocar kamu?” tanya Vania, sebab, adik keduanya, Miko juga sedang dikejar waktu untuk les. Meskipun les privat, tapi Miko lebih nyaman jika datang ke tempat gurunya, berbeda dengan gurunya yang datang ke tempat Miko. Makanya, sebagai kakak yang baik, dia selalu meluangkan waktu untuk sekadar mengantar adiknya.
“Batal.”
__ADS_1
“Maaf, nunggu lama, ya?” tanya Zevanya. Dia sangat tidak enak sekali. Mereka memiliki janji temu jam 8, sementara saat ini jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat 32 menit. Bagaimana Zevanya tidak merasa tidak enak coba?
“Gapapa, sans ae.” Zeo mendadak berubah menjadi cowok cool.
“Em, dia?” tanya Zevanya. Bukankah mereka hanya berjanji bertemu berdua saja? Lantas siapa yang dibawa Zeo saat ini? Zevanya memang merasa tidak asing, tapi Zevanya merasa aneh.
“Dia temanku. Namanya Kevin.” Zeo mengenalkan saja dengan biasa. Sekaligus pamer bahwa dia sudah memiliki Zevanya. Jadi, Kevin tidak boleh lagi meledeknya cowok jomlo.
“Oh, salam kenal, Kak.”
Zevanya rasa, Kevin itu juga Katingnya. Sebab jika dia berteman dengan Zeo, harusnya mereka dekat dan juga tidak memiliki perbedaan umur yang kentara sangat jauh. Paling-paling juga hanya memiliki rentang satu sampai tiga tahun.
“Salam kenal. Btw, kamu cantik banget loh.” Kevin mulai mengeluarkan aksi buayanya. Tidak sadar saja dia bahwa Zeo sudah mengeluarkan tanduknya.
Rona merah di pipi Zevanya menjadi bukti bahwa Zevanya sedang salah tingkah karena ucapan Kevin saat ini. Zevanya memilih tersenyum dan melihat sekitar. Zevanya berharap dua manusia itu tidak sadar, sebab Zevanya juga sempat menaruh blush on sehelum pergi.
Namun, mereka itu peka dengan tingkah Zevanya yang malah menunjukkan bahwa gadis itu salting. Jika Kevin tersenyum senang, maka berbanding terbalik dengan Zeo, dia sedang merasa cemburu abis dengan apa yang dilakukan oleh Zevanya.
“Ze, cita-cita kamu jadi apa memangnya?”
“Jadi manusia, dong.” Kekeh Zevanya.
“Bukannya sekarang udah jadi manusia?” tanya Zeo bingung.
“Ada seseorang yang pernah berkata padaku, begini katanya, jika kamu tidak belajar dan berlaku seperti manusia, kamu adalah monyet.” Zevanya kembali terkekeh. Dia masih sangat mengingat ucapan serta tamparan keras yang dia dapatkan itu.
__ADS_1
Kemudian, percakapan berlanjut, mereka saling mengobrol, membahas tentang perkuliahan dan segala sesuatunya, bahkan mereka mengulik cerita-cerita lucu di SMA.
Namun, meskipun ada satu hal yang mengganjal di otak Zevanya. Dia tidak berani mengungkapkan itu, sebab selain tidak aman, dia takut bahwa itu semua adalah ilusi yang dia rasakan. Jadi, Zevanya tidak berani berkata sesuatu hal yang menyinggung.