Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 21


__ADS_3

Selesai dengan penjelasan tentang kultivasi. Kini, Zeva merengek meminta diajari berkultivasi. Zeo mati-matian menahan untuk tidak tergoda.


Berbagai bujuk rayu Zeva lakukan. Namun, sampai saat ini tak ada tanda-tanda Zeva akan diberikan caranya. Hanya penjelasan saja, dan Zeva bisa apa? Makanya dia membujuk Zeo.


“Kalau kamu nggak mau ngajarin aku, aku minta Wollfi aja. Kan tadi dia bilang mau.” Ucap Zeva lagi mencari masalah. Dia pikir Zeo akan luluh? Tidak. Dia sudah terikat janji dan dia memiliki prinsip. Jika ingin terus melanjutkan, ikuti prinsip awal, jangan goyah hanya karena godaan setan.


“Gaboleh! Ada saatnya aku mengajari, bahkan aku bisa langsung mengajarimu berkultivasi paling aneh dan menyenangkan.” Sombong Zeo.


“Emm, kamu mau pulang gak?” tanpa menunggu jawaban Zeva, Zeo kembali bertanya.


“Pulang ke mana?” memangnya rumah Zeva ada berapa sih sampai bertanya seperti ini? Huh.


“Ke rumah Tuan Walcott dong. Ayo, kita pulang. Wollfi juga pasti mau mencari mangsa, jadi dia bakal tidur lagi. Kita nggak boleh ganggu.” Jelas Zeo. Zeva luluh, dia mau pulang. Zeo menghela napas selega-leganya.


Saat pulang, Zeo mengambil seekor kadal dan memperkenalkannya pada Zeva.


“Lucu warnanya, aku boleh pelihara nggak?” tanya Zeva. Zeo bimbang, meskipun dia sangat mengenal hutan ini, dia tidak bisa sembarangan membiarkan Zeva memelihara hewan liar di rumahnya.


“Nggak. Habitatnya di sini, kalau dipindahkan, dia harus beradaptasi kembali dan ada kemungkinan dia akan mati.” Jelas Zeo.


“Yah, padahal aku pengen pelihara di kamar.” Zeva menjawab.


“Kamu hanya bisa memeliharaku sebafai ularmu, Sayang. Tidak ada pria lain, ataupun hewan, bahkan orang lain yang bisa kamu dekati atau pelihara. Ingat, ya. Kamu harus inget aku terus.” Ultimatum Zeo. Semakin ke sini, Zeo semakin overprotektif, sekaligus posesif.


“Ya, ya, ya.” Ucap Zeva malas.


“Huh.” Dengus Zeo. Untung saja jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 17 menit berjalan, mereka sampai di kediaman Zeva.

__ADS_1


“Kamu ke kamar aja. Aku mau ketemu Tuan Theo.” Setelah itu mereka melakukan ciuman jarak jauh. Menjaga batas, sebab ini adalah kediaman Tuan Theo Walcott yang dipenuhi dengan berbagai barang-barang super canggih.


Zeo melangkahkan kakinya saat sudah melihat Zeva menjauh, bahkan masuk ke kamarnya. Zeo menuju ruangan kerja Tuan Theo Walcott.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar ketukan pintu yang dihasilkan dari tangan dan kayu yang terbentur. Kemudian, Zeo masuk setelah mendapat izin. Bagaimanapun juga dia harus memiliki kesan yang baik di mata Theo Walcott. Sebab, Zeo butuh restu darinya. Jika tidak, bagaimana dia bisa bersama Zeva.


Zeo sebenarnya tidak tahu ini perasaan apa, Zeo hanya ingin selalu bersama Zeva apapun yang terjadi. Zeo tidak paham tentang perasaannya, itulah yang membuat dia sulit memahami dirinya sendiri.


“Ada masalah apa hingga membuatmu kemari?” tanya Theo Walcott. Ada dua kemungkinan, antara masalah kerajaan atau cucunya, Zevanya Laureen.


“Tidak pa-pa, kek.” Memang sejak pertemuan pertama mereka sebelum Zeo membawa Zevanya ke hutan. Di akhir kata sebelum mempertemukan keduanya, Theo memang meminta Zeo memanggilnya kakek juga. Zeo sih menurut saja, mungkin ini salah satu tahap pendekatan untuk mengikat Zevanya dengannya. Kakek Zevanya ialah kakeknya, begitu. Namun, sampai saat ini Zeo belum juga mengenalkan Zeva pada keluarganya. Keluarganya Zeo mungkin sudah mengenal Zeva, tapi ingat, Zeva belum!


“Nggak mungkin kamu ke sini nggak ada apa-apa. Ayo, sekarang jujur, dan ceritakan apa saja yang sudah terjadi selama dia bersama kamu?” selidik Tuan Theo.


“Nggak ngapa-ngapain, kek. Kita hanya bertemu dengan peliharaan aku di bukit. Tapi setelah itu Zeva bertanya-tanya, tentang kultivasi dan lain halnya.” Ucap Zeo menahan napasnya, dia takut Tuan Theo marah padanya. Sebab, sebelum itu, Zeo sudah diberi ultimatum agar tidak membahas hal-hal yang mengandalkan kekuatan dan berbau mistis.


“Bohong. Tidak mungkin kamu tidak bahas sesuatu yang lain lagi. Cepatlah.” Desak kakek Theo. Sangat tidak sabar!


“Baiklah-baiklah, aku menjelaskan tentang kultivasi.” Ucap Zeo. Dia memang selalu dibuat tak berdaya jika bersama kakek Theo.


“Apa?” teriak kakek Theo. Untung saja ruangan itu termasuk ruangan kedap suara.


“Kamu tidak tahu ya, Zeva itu bukan orang yang seperti itu. Dulu, saat dia belajar kultivasi, dia memiliki masalah dan tertabrak, sejak saat itu, semua orang menyerangnya. Aku sebagai kakeknya tidak pernah membahas tentang itu. Aku tidak mau dia kembali terjebak dan malah ingat masa lalu.” Terdengar helaan napas kakek Theo.


“Iya, kek. Aku minta maaf sudah membuatnya mengetahui hal itu.” Zeo tertunduk dalam. Dia merasa bersalah dan menyesal membawa Zeva ke bukit.

__ADS_1


Jika saja dia tahu cerita Zeva dulu, mungkin Zeo akan melarang Wollfi bertemu Zeva yang membuat Zeva harus tahu.


Mungkin juga Zeo bisa mengajaknya ke hutan yang berbeda arah. Ataupun menemani rutinitas Zeva seharian penuh. Sayangnya, semua sudah terjadi. Tak ada kata-kata yang bisa disesali.


Sebab, semuanya sudah berlalu. “Sekarang, kita hanya bisa melakukan yang terbaik untuk merubah semuanya.” Kata kakek Theo. Dia kesal mempercayakan cucu kesayangannya pada Zeo, tetapi kakek Theo sadar, jika ini bukan saat yang tepat untuk dia marah.


“Kakek minta pertanggungjawaban kamu...” belum selesai kakek Theo berbicara.


“Pertanggungjawaban? Menikahinya?” tanya Zeo bersemangat. Meskipun umur kakek Theo tidak muda, dia menyadari bahwa Zeo sangat ngebet dengan cucunya.


“Nggak. Ini yang lain, kamu harus mempertanggungjawabkan untuk mengajari Zeva, cucuku. Berkultivasi sampai dia tidak bisa tersentuh.” Seru kakek Theo.


Heh. Tolong, Zeo agak kaget dengan kalimat yang dilontarkan kakek Theo. Serius kah kakek Theo memberikannya izin menjadi mentor Zeva? Apakah kakek Theo tidak takut Zeva malah bermain dengannya?


“Dia tidak akan bisa bermain denganmu, ada Miya yang selalu menjaganya nanti.” Kakek Theo tidak sebodoh itu. Dia akan menjaga Zeva melalui Miya, menantunya sendiri. Hitung-hitung menenangkan diri untuk Miya.


“Kakek bisa baca pikiranku ya?” tanya Zeo penasaran.


“Kamu pikir?” dia mendelik.


“Kakek tua, memang pantas sebutan itu untuk kakek.” Zeo berdecak.


“Mau jadi cucu menantu nggak sih, kamu.” Sebal kakek Theo.


Ya, begitulah obrolan laki-laki yang berbeda usia sangat jauh itu. Canda dan tawa mengiringi mereka sampai ketukan pintu dari pelayan menandakan waktu telah malam.


Zeo yang ikut makan malam membuat Zeva terkejut, tapi tak berani bertanya-tanya. Meskipun dia lumayan kurang ajar, Zeva masih tahu diri untuk tidak mendengar amukan kakek tua di saat tengah makan bersama.

__ADS_1


Zeva sudah kapok, dia sudah tidak mau memancing kemarahan kakek tua. Ya, memang seseram itu. Zeva menghabiskan makanannya dengan cepat. Sampai Zeo pamit, Zeva masih tetap diam.


__ADS_2