Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 22


__ADS_3

“Baiklah, kita persilahkan kepada Tuan Besar Theo Walcott selaku kepala keluarga yang masih menjabat untuk meresmikan acara hari ini!” suara seorang MC perempuan yang sangat bersemangat.


Suara tepuk tangan menggelegar. Entah karena memang senang atau sekadar memenuhi persyaratan. Zeva tak dapat memastikan hal tersebut.


Zeva tersenyum sepanjang waktu. Sebentar lagi, ya, tinggal menunggu beberapa menit lagi untuk Zeva menjadi kepala keluarga sesungguhnya. Meskipun terlihat senang, hati Zeva terasa diremas-remas. Sakit! Sebab semuanya penuh kebohongan, tak ada satupun yang tulus berteman jika sudah seperti ini.


Setiap kali air matanya hendak jatuh, Zeva menahannya dengan menatap ke atas. Zeva tidak dapat memastikan san berharap tak ada yang melihatnya. Ya, sebelum pesta ini, kakeknya selalu berkata, perlakukanlah orang dengan baik, tetapi jangan terjebak dalam tipu muslihatnya. Ya, artinya, Zeva disuruh berhati-hati dengan satu dan lain hal, akan kemungkinan yang bisa ataupun tidak terjadi.


Itu artinya, setelah perayaan hari ini yang terjadi di kerajaan, dia akan lebih sering ke kerajaan, tempat Zeo tinggal untuk meneruskan tahta ayahnya.


“Sekarang, tiba saatnya penyerahan mahkota turun-temurun keluarga Walcott, kepada Tuan Theo, dipersilahkan.” Setelah acara pemotongan pita yang menebarkan, saatnya penyerahan jabatan. Ya, penerimaan mahkota artinya serah terima jabatan. Keren, ya.


Zeva jadi grogi sendiri. Mahkota yang akan dipakainya untuk mengambil alih jabatan kakeknya yang memiliki koneksi besar, tepatnya di bangsa ini. Zeva juga sebenarnya ada rasa takut tidak bisa membantu bangsa ini dan malah membuat kacau.


Sang kakek mengelus pundak Zeva. “Tidak pa-pa, kakek yakin kamu akan bisa, percayalah dengan kemampuanmu sendiri, Sayang.” Ucap kakek Zeva itu. Dia terlihat sebagai sosok lemah lembut dan penyayang ketika berada di dekat Zeva.


“Tapi kek...” Zeva ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Dia takut jika perkataan selanjutnya akan menjadi beban untuk kakek Theo yang ingin bersantai. Egois memang, sebab dulu-dulu penurunan tahta dilakukan ketika pemimpin alias kepala keluarga sebelumnya sudah meninggal, bukan seperti ini.


“Gapapa, tarik napas kamu dan turunkan perlahan-lahan.” Ucap kakek Zeva itu melawak.


“Kakek, ini kan bukan acara naik-turun-naik itu, lagian, dikeluarkan bukan diturunkan!” protes Zeva.

__ADS_1


“Ahaha, iya kakek salah, kakek minta maaf.” Baru kali ini sang kakek agak manusiawi di mata Zeva.


Lah, lantas ke mana saja Zeva? Selama ini kakeknya sudah sedikit melunak, kenapa Zeva baru melihatnya sekarang? Jika dengan orang lain, mana akan kakek Zeva mengusahakan untuk berpikir bahwa manusia punya limit.


Theo hanya ingin pekerjaannya selesai, semuanya aman, dan tidak ada kendala. Selebihnya? Dia tidak peduli! Mau meringis sampai mati juga Theo Walcott tidak pernah peduli! Dia adalah penjahat sebenarnya.


Namun, hartanya menutup mata orang-orang. Seberapa kesal dan ingin melenyapkan Theo, bagi mereka tidaklah penting. Sebab hal terpenting adalah ketika Theo bisa membantu mereka menghasilkan banyak uang, meski dengan pekerjaan yang diluar akal sehat.


Namun, seringnya Theo selalu menjamin keselamatan mereka jika mereka terus setia dan tutup mulut. Theo tidak begitu peduli. Theo hanya peduli dengan tujuannya, dia akan melakukan segara cara yang menurutnya benar.


“Kek, aku bisa kan?” tanya Zeva. Zeva semakin tidak yakin, saat dia mendengar beberapa cibiran yang sampai di telinganya.


Mahkota itu sudah menghiasi kepala Zeva sedari tadi. Zeva juga disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh manusia-manusia, entah warga biasa atau bangsawan yang memenuhi aula.


Zeva sebenarnya tidak menyangka, seberkuasa apa keluarga Walcott sampai banyak orang datang hanya untuk memberi ucapan selamat? Zeva hanya menyalimi mereka sampai dia sudah sangat muak. Ingin pergi tetapi harus bersabar, Zeva sangat tertekan sekarang.


Kurang lebih, Zeva sebenarnya uring-uringan. Zeva ingin melakukan segala hal, tapi dia sudah terikat janji, dia sudah berkata akan mengikuti proses ini sampai akhir. Jadilah, Zeva hanya bisa pasrah sambil semakin uring-uringan dalam hati.


Zeva kesal, sebab banyak hal yang dia  inginkan, tetapi tidak tersampaikan. Salah satunya ialah kehadiran Zeo, eh, tunggu, Zeo? Sementara orang yang sedang bersalaman dengan Zeva sekarang ialah Wollfi. Jika Wollfi di sini, bukankah berarti dia diutus atau paling tidak diberitahu Zeo?


Jadi, artinya Zeo masih peduli dengan Zeva? Tapi Zeva tidak boleh kepedean. Bisa saja Wollfi hanya menghadiri acara ini sebagai utusan yang memenuhi syarat ini. Ah, gagal sudah upaya Zeva untuk bertemu Zeo.

__ADS_1


Acara jabat tangan dan memberi hormat kepada Ratu Walcott yang baru sudah selesai. Semua orang kembali mengikuti acara tanpa membawa-bawa Zeva lagi. Hanya ada kakek Theo, dan beberapa orang kepercayaan keluarga Walcott yang berdiri di sana. Sementara, Zeva sudah turun bersama Miya.


Kali ini, Zeva akan berganti baju kembali. Acara selanjutnya dilangsungkan secara tertutup, dan ini ialah proses yang paling penting dari semuanya. Pemberkatan dari kerajaan.


Meskipun begitu, Zeva tetap tidak akan bertemu Zeo  Serindu-rindunya Zeva, dia harus menahan diri untuk tidak teriak bahwa dia merindukan Zeo.


Bisa-bisa dia membuat malu keluarga Walcott. Mana ada Ratu yang baru seperti itu. Bisa-bisa hujatan dan hal-hal lain yang tidak baik beredar dengan membawa nama cantiknya.


Raja tidak ada, sebab ada pertemuan di kerajaan sebelah. Pada akhirnya, utusan rajalah yang mendampingi Zevanya untuk menandatangani surat-surat. Sebelum Zevanya tanda tangan, surat itu lebih dulu dibaca oleh kakek Theo. Dia sudah hapal dengan kerajaan yang suka curang.


Theo tidak akan termakan jebakan lagi. Jadi, sebelum menyuruh Zeva membubuhkan tanda tangan kerja sama mereka, Theo juga menyuruh Zevanya memahami isi dari kontrak perpindahan wakil kerja sama itu.


Zevanya tidak terlalu mengerti, dia hanya menurut sesuai dengan yang kakeknya perintahkan. Namun, Zevanya dapat mengetahui, bahwa sebagian besar pengeluaran bangsa Zevanya ini ditanggung keluarga Walcott.


Pantas saja orang beramai-ramai mendekatinya dan pura-pura baik. Ternyata mereka bermaksud lain. Zevanya tidak tahu tepatnya mengapa ada 3 kerajaan yang bisa dibiayi oleh keluarga Walcott.


Zevanya juga tidak tahu pendapatan keluarga Walcott yang sesungguhnya darimana. Zevanya hanya bisa menghirup napas. Selagi masih bisa bernapas di tengah kebingungan, benar?


“Sudah, ya?” tanya Tuan Theo yang diangguki manusia utusan raja itu.


“Terima kasih Tuan, Ratu.”

__ADS_1


Jika saat ulang tahun kemarin dipanggil putri, maka saat pangkatnya naik menjadi kepala keluarga, otomatis dia dipanggil ratu, bukan nona, apalagi nyonya.


“Baiklah. Bilang pada tuanmu, jangan berbuat kebohongan yang bisa membuatnya terjebak.” Kakek Zevanya itu terkekeh.


__ADS_2