
“Ayo, Nona!” seru Miya. Dia sangat gembira dan bersemangat. Zevanya yang ulang tahun saja, sedari pagi tidak ricuh.
Entah apa yang ada dan berterbangan di pikiran Zevanya. Namun, melihatnya diam, membuat Reyhan yang menatapinya dari jauh merasa aneh. Ada apa dengan kekasih tak direstuinya itu?
Kemarin Reyhan sempat datang mengunjungi kamar Zevanya. Mereka berdua bertemu diam-diam dengan Reyhan yang berada di atas pagar. Secara tidak romantis dan tidak bertele-tele, Reyhan mengajak Zevanya untuk berpacaran.
Namun, belum sempat Zevanya menjawab ajakan Reyhan, pintu kamarnya terbuka, ini membuat keduanya terkejut, tapi hanya Reyhan seorang yang paling terkejut, sebab dialah penyusupnya.
Ya, kakek tua yang dipanggil Zeva itu masuk dengan tiba-tiba, tanpa mengetuk pintu atau apapun itu. Dia mengintrogasi Zeva sama seperti Miya. Namun, kali ini lebih santai. Sebab katanya Zeva ialah anak kandungnya.
Seperti hari ini, ketika Zeva sedang bersiap-siap dan sedang didandan, Tuan Theo masuk secara tiba-tiba. Dia mengejutkan semua orang di ruangan itu. Mereka seketika menahan napas ketika tahu Tuan Besar itu datang melihat cucunya. Mereka memberi salam, tapi tidak dengan sang perias. Dia harus fokus agar make upnya tidak gagal.
Jaman yang berbeda dengan kehidupan Zevanya yang serba modern. Kini, semuanya bercampur, masih berbau kerajaan, tetapi sudah lebih canggih. Ini tampak seperti perpaduan antara dua dimensi yang bersatu, kira-kira begitu.
“Selamat, ya, Putri.” Rulesnya adalah harus memanggil Zevanya sebagai putri. Maka, semua tamu undangan di sini sangat menghormati Zevanya.
Mereka tahu, Zevanya adalah cucu yang akan naik tahta menjadi kepala keluarga Walcott yang baru. Mereka segan dan sungkan dengan Zevanya, tak sedikit juga orang yang menyapa Zevanya, dan memakai topeng kebaikan mereka.
Zevanya sendiri tidak memusingkan hal itu, dia hanya ingin fokus ke hidup yang dia jalani di dunia yang baru ini. Kemarin malam, dia mendapatkan sebuah pesan dalam mimpinya, maka, bisa dilihat perubahan yang sudah terjadi kepada Zevanya itu.
“Terima kasih, Tuan.” Jawab Zevanya dengan memberikan penghormatan seperti putri-putri kerajaan. Dia benar-benar berubah, kan? Bukan lagi anak lugu yang tidak mau ini dan itu.
__ADS_1
“Anak pintar.” Puji seorang Nyonya, dan Zevanya kembali mengucapkan terima kasih.
“Baiklah para hadirin sekalian, untuk mempersingkat waktu, marilah kita saksikan! Pemotongan kue ulang tahun, Putri Zevanya Laureen C. Walcott.” Sorak sorai ramai terdengar bersama dengan bibir Zevanya yang kedua sudut bibirnya selalu tertarik ke atas. Dia sangat cantik, dan membuat kekasih tak direstuinya itu cemburu.
Sedari tadi Reyhan memandangi Zevanya dari kejauhan, dia tidak berani mendekat sebab takut mempermalukan dirinya. Dia yang memang pangeran kerajaan harus dipermalukan keluarga Zevanya? Mimpi saja! Reyhan memang lebih mementingkan logika dan martabatnya.
“Kalo emang rindu, samperin.” Bisikan-bisikan yang menghantui Reyhan sedari itu muncul kembali. Reyhan melihat ke arah kiri dan kanan, nihil. Tak ada siapapun, apakah Reyhan berhalusinasi? Ah, tapi tidak mungkin.
Dalam hati Reyhan yang terdalam, hatinya berkecamuk, pikiran-pikiran liar itu membuatnya tak tenang. Dia ingin sekali mendekati Zevanya, tetapi dia tidak mau. Terlebih, Tuan Besar Walcott itu terus menatap dirinya, seperti orang yang memiliki dosa besar. Reyhan sendiri saja tidak mengerti. Apakah salah dia mendekati cucunya?
“Kamu lihatin apa sih daritadi, Zeo?” tanya seorang pria yang merupakan ayahnya itu.
Kembali pada acara Zevanya yang mewah, heboh, dan sangat menggembirakan itu. Kini, Zevanya sedang memotong kue ulang tahun, didampingi Tuan Theo, Tante Asha, dan keluarganya yang lain.
Keluarga Walcott tampak seperti keluarga yang sangat harmonis. Tak ada seorang pun yang menyadari jika keluarga itu bukanlah keluarga yang ramah dan murah senyum. Namun, topeng keluarga Walcott sangatlah hebat, tak terciduk satupun anggotanya yang rendah daripada yang lain.
“Ini buat kakek.” Orang yang paling berjasa di hidup Zevanya semenjak dia sadar. Dia tentu akan memberikan kue itu untuk orang yang sudah menjaganya selama ini. Terlepas dari perlakuan nakal yang sering Zevanya tunjukkan.
Tiba-tiba saja, dengan gerakan yang sangat cepat. Reyhan atau Zeo itu sudah berada di depan Zevanya. Pekikan heboh perempuan muda yang berada di aula itu sangat berisik.
Mereka bergumam tak jelas, kaget, tak terima, dan berbagai ekspresi lainnya yang bercampur di muka mereka. Zevanya yang kaget juga memundurkan kakinya beberapa langkah ke belakang. Dia tak ingin mencari gara-gara, hatinya juga berkedut kencang, entah apa artinya.
__ADS_1
“Zevanya, maukah kamu menikah denganku?” tanya Zeo yang masih dikenal sebagai Reyhan oleh Zevanya.
“Reyhan, apa maksud kamu?” Zevanya berpura-pura bodoh, Zeo tahu itu. Sebab Zevanya bukanlah orang yang seperti ini sebenarnya.
“Aku ingin kita bersatu dalam ikatan suci di depan sang pemilik semesta, maka dari itu maukah kamu menerimaku sebagai teman hidupmu?” tanya Zeo lagi, tak ada kalimat permohonan atau apapun itu, dia tampak sangat memaksa.
Sedangkan, di ujung sana, kakek tua alias Tuan Theo Walcott sedang melotot kepada cucu perempuannya. Jika cucunya itu menerima tawaran Zeo, maka, bersiaplah, Theo berjanji akan memisahkan mereka, dan menyembunyikan Zeva agar jauh-jauh dari Zeo.
Zeva menelan salivanya susah payah. Ulang tahun yang dia inginkan tadi pagi menjadi kacau karena permintaan Reyhan. Namun, Zeva berpikir. Dia tidak bisa menyalahkan siapapun, keputusan ada di tangannya. Kemudian, saat menyadari lirikan sinis yang menghantamnya, Zeva semakin bingung dibuatnya.
Banyak orang, terlebih para orang tua bersorak meriah untuk Zeva. Mereka pun berteriak-teriak, berharap Zeva menerimanya. Sementara, keluarga Fredrick dan keluarga Walcott sudah harap-harap cemas. Pasalnya mereka tahu, jika keduanya sudah terpilih menjadi calon, dan jika keduanya bersatu, maka semuanya akan sirna. Berbeda cerita jika nanti saat mereka sudah memegang kendali sesungguhnya dan ingin menikah.
“Aku nggak bisa terima kamu, Reyhan.” Sesaat semuanya kaget, tapi lebih kaget mendengar panggilan Zevanya kepada Zeo. Bukankah namanya Zeo, kenapa Zeva memanggilnya Reyhan? Mungkin itulah yang ada di pikiran orang-orang.
“Kenapa, Zeva? Apakah selama ini aku kurang baik?” tidak tahu saja Reyhan jika Zeva dituntut untuk sempurna. Bahkan Zeva tengan diintimidasi saat ini.
“Kamu baik. Aku yang nggak pantes.” Kekeh Zeva.
“Baiklah, Tuan dan Nyonya, kita lanjutkan acara ini, ya.” Seru Zeva. Dia melepaskan genggaman tangan Zio secara paksa. Wajah Zio berubah masam, dia tidak suka dipermalukan seperti ini.
“Tuan Reyhan, silakan kembali ke meja, ya.” Zevanya tersenyum begitu manis. Zeo semakin tak suka, dia tak rela menampilkan bagian tubuh kekasih tak direstuinya itu, terlebih senyumannya yang manis, lelaki mana yang tidak meleleh? Merepotkan memang.
__ADS_1