
“Zeva, Kakak masuk ya?” tanya Miya.
Semenjak dirinya menikah dengan Reza, baru kali ini dia kembali menginjakkan kakinya di kamar Zevanya, dan itupun masih dalam perintah Theo Walcott.
Masih? Ya, memang selama Zevanya disibukkan dengan urusan keluarga Walcott, Theo memberikan tiket bulan madu ala-ala pasangan ideal pada keduanya.
Tentunya dengan maksud agar keduanya lebih dekat dan membuat Zevanya lebih mandiri. Otaknya memang licik, sekali berlayar dua tiga pulau terlabuhi. Namun, dia tidak merasa salah, sebab menurutnya ini adalah pilihan yang terbaik.
Miya masih setia di posisi awalnya. Menunggu Zevanya mengizinkan dia masuk. Sebab dia ingat posisinya sekarang yang bukan lagi asisten Zevanya, alias tidak bebas keluar masuk seperti sebelum dia menikah.
Dia juga harus bisa menghargai keputusan Zevanya, ya, memang. Dia sudah dipecat menjadi asisten Zevanya, sebab dia sudah menikah dengan Reza. Tidak etis kan jika sudah menikah malah tetap menjadi asisten dari keponakan Reza, yakni Zevanya. Apa maksudnya, coba?
Namun, karena tidak ada sahutan apa-apa dari dalam, Miya membuka pintu tersebut secara paksa. Tentunya dengan skill yang dimiliki Miya, dia dengan cepat membuka pintu itu.
Bisa dilihat bahwa Zevanya tengah duduk melamun, Miya melihatnya dan dapat menghela napas lega. Beruntung sekali dia dapat menemukan Zevanya di kamar, meski tak dalam kondisi yang bisa dikatakan baik-baik saja.
“Zevanya. Kakak sudah datang lagi. Kamu nggak mau peluk kakak?” Miya menepuk pundaknya yang tengah merenung dalam damai. Miya bertanya begitu, sebab saat kemarin dia menghilang, Zeva sempat mencarinya, dia tahu informasi ini dari pelayan yang kini dekat dengan Zevanya.
“Eh, Kakak,” ucap Zevanya kaget. Bagaimana bisa Miya berada di belakangnya tanpa dia sadari sama sekali? Itu berarti, dia terlalu nyaman merenung hingga tak tahu apapun?
“Iya, ini kakak. Kamu nggak mau peluk Kakak?” tanya Miya. Dia terkekeh, tetapi terlihat begitu manis.
Zevanya langsung lari ke pelukan kakaknya. Dia sangat-sangat rindu dengan kakaknya ini. Kakak yang bukan kakak kandungnya. Namun, Zevanya dapat merasakan hangatnya seorang kakak jika bersama Miya.
__ADS_1
Keduanya berpelukan cukup lama, sampai Miya menyadari tujuannya datang kemari. Yakni, memberitahukan kondisi Zeo. Miya tidak terlalu paham hubungan keduanya bagaimana, tetapi jika memang mereka memutuskan untuk bersama, Miya harap itu jalan terbaik yang dipilih mereka berdua, terlebih keduanya sudah dewasa dan dihadapkan dengan tanggung jawabnya masing-masing.
Miya melepas pelukan mereka. Keduanya sudah memiliki jarak, meskipun tidak jauh, tetapi mereka dapat melihat manik satu sama lain. Miya mengelus surai Zevanya, dia juga sudah menganggap Zevanya sebagai adiknya. Sebab dia merasa nyaman juga.
“Kakak punya kabar buruk buat adek. Sejujurnya juga kakak bingung dengan status dia di hati adek. Tapi apapun yang bikin adek bahagia, pasti kakak juga ikut seneng. Sayangnya bukan kabar bahagia yang bisa kakak bawa, kakak Cuma mau nyampein, dia sakit.” Miya menarik napas dalam.
“Dia?” tanya Zevanya. Pikirannya sudah berkeliling ke mana-mana. Namun, satu hal yang pasti, Zeonard Leonardo Zurick. Pangeran berkuda yang berhasil merebut hatinya.
“Adek pasti udah tau, siapa yang kakak maksud. Cuma, kakak mau kasih tahu. Perbaiki hubungan kalian sebelum kalian sama-sama menyesal.” Miya menghela napas. Dia tidak perlu menjelaskan terlalu detail, ‘kan?
“Maksudnya, Zeo, bukan, Kak?” tanya Zeva hati-hati.
“Tanpa aku kasih tahu, kamu bakal tahu sendiri kok.” Miya terbahak-bahak. Tolong, Zevanya yang sudah bingung malah dibuat semakin bingung.
Zevanya menatap ragu bangunan besar dan megah di depannya. Ya, Zevanya telah sampai di kerajaan setelah meimang-nimang waktu dan ragu akan sesuatu. Namun, Miya selalu bisa meyakinkan Zevanya, dan akhirnya bisa dilihat sendiri.
“Nggak pa-pa, saya hanya bingung cara membelokkan kudanya aja kok.” Elak Zevanya. Semua orang juga tahu bahwa dia sedang berbohong!
Namun, penjaga itu tetap ramah. Dia mempersilakan Zeva masuk setelah memeriksa bahwa Zevanya memakai kalung yang merupakan identitas dirinya itu.
Zevanya berjalan agak tergesa. Sebenarnya, malu dan panik. Kedua rasa itu bercampur menjadi satu, tetapi Zevanya tidak mungkin memperlihatkan rasa itu pada siapapun, dirinya hanya ingin sampai ke kamar Zeo.
Tak butuh waktu yang lama, Zeva masuk dengan tergesa. Zevanya sama sekali tidak mengetuk pintu. Syukurnya tabib kerajaan sudah pergi beberapa menit yang lalu. Lalu, tidak ada siapa-siapa di dalam sini.
__ADS_1
Bukan hanya Zeva yang menghela napas lega, tapi Zeo juga! Bisa mati mereka berdua jika ketahuan seperti ini. Secara logis, mereka tidak mungkin tahu bahwa keduanya kekasih.
Namun, dari perlakuan dan sikap yang ditunjukkan Zevanya tadi. Apakah dirinya mencerminkan sikap seorang ratu? Apakah julukan itu pantas tersemat di namanya?
“Kenapa ke sini?” meskipun bahagia, Zeo tidak mungkin menunjukkannya atau Zeva akan menginjak harga dirinya lebih daripada ini.
“Jadi kamu udah ga butuh aku?” tanya Zeva mengangkat sebelah alisnya. Peduli tapi masih sok angkuh! Keduanya sama-sama diliputi gengsi besar. Kini keduanya malah membuang pandangannya masing-masing, sangat mirip seperti bocil.
“Nggak. Aku butuhnya Zevanya, bukan AKU.” Perjelas Zeo. Benar kan? Dia tidak salah. Memangnya kapan Zeo pernah salah?
Baiklah-baiklah, Zeva akui dia kalah telak dengan Zeo yang memiliki seribu pesona. Zeva luluh, dia mengambil posisi di samping Zeo dan mengelus surai rambutnya.
“Zeo kenapa bisa sakit?” tanya Zeva mulai romantis, bukan aku–kamu, tetapi keduanya sudah saling memanggil nama.
“Soalnya Zeva berduaan sama Wollfi. Nggak ajak-ajak Zeo.” Cemberut Zeo, bak anak yang sedang disidak oleh ibunya.
“Kan Zeo sibuk. Jadi Zeva pikir Zeo gabakal mau ikut. Maafin Zeva ya.” Masih sempat saja Zeva meminta maaf.
Keduanya sangat romantis dan membuat orang yang melihatnya sangat mual. Sampai akhirnya, terdengar suara dengkuran halus yang berasal dari Zeo.
Zeo dan Zevanya tidur dengan posisi duduk yang saling berpelukan. Jika dilihat dari arah belakang, Zevanya seperti seorang kekasih yang tengah mencium pacarnya..
Namun, semua itu takkan terjadi, kala salah seorang pelayan mengintip dan malah disadari serta diberi tatapan intimidasi dari Zeo. Pelayan itu jelas akan kabur.
__ADS_1
Nampaknya, Zeo tak benar-benar tidur saat memeluk kekasihnya ini. Dia hanya berpura-pura dan menikmati napas teratur milik Zeva yang benar-benar terasa di lehernya.
Perpaduan antara panas dan geli yang kemudian membuat Zeo merasa nikmat. Zeva sudah sangat terlelap. Bahkan dia dengan berani menenggelamkan wajahnya di leher Zeo.