
Zevanya duduk terdiam. Dia merenung dalam diamnya. Entah apa yang harus Zevanya lakukan, dia sungguh bingung. Zevanya benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan.
“Bosen.” Zevanya mendengus. Dia ingin berjalan-jalan, tapi dia merasa lelah.
Zevanya tidak bodoh untuk menyadari dia di mana. Terlebih saat tempo hari dia sudah tahu tentang misteri jam itu. Ya, Zevanya sudah sadar, dia terjebak dalam ruang waktu antara dua dimensi yang berbeda.
Meskipun Zevanya tidak tahu dimensi apa yang ada di depannya, tapi Zevanya tahu dia sedang terjebak dan tengah menunggu sesuatu yang mengejutkan. Waktunya sudah habis, dan tidak ada lagi pertolongan yang bisa dilakukan oleh Wollfi maupun orang lain untuk membantu Zevanya.
Di sini, di ruang dimensi yang memutar waktu manusia. Zevanya ada di sini, memang sudah waktunya Zevanya untuk kembali ke dunia yang sebenarnya. Jadi, Zevanya tidak akan menolak.
Zevanya juga sadar diri, dia tidak bisa menolak hal itu, Zevanya sudah tahu semuanya. Namun, banyak hal yang masih tidak diketahui oleh Zevanya.
Misteri sewaktu itu dapat terbongkar karena Zevanya merangkai runtutan kejadian yang menjadi misteri. Zevanya menguap beberapa kali, setelah dia tertidur, tubuhnya memang langsung tersedot ke sini. Jadi, tak ada upaya apapun yang bisa Zevanya lakukan untuk keluar kecuali menunggu.
“Woah, saya pikir saya sendiri.”
Sungguh sambutan yang membuat Zevanya sangat amat terkejut dengan hal itu. Namun, Zevanya hanya terkekeh sinis. Dia pikir Zevanya apaan? Memangnya Zevanya mau bertemu dia di sini? Huh, naif.
“Sepertinya takdir selalu mempertemukan kita berdua, benar, Tuan Petrus?” tanya Zevanya. Dia sedang menyusun strategi secepatnya.
“Ahaha, benar juga. Tapi sih, asal anda tau, saya lah yang menyusun ini semua. Harusnya malah anda tidak usah ada di sini, sebab Zeo yang harusnya di sini. Malah ketemu kamu? Entah saya sedang sial atau sedang termakan jebakan. Haha.” Tuan Petrus cekikikan sendiri. Bisa-bisanya mereka seperti itu, tapi benar juga. Dia yang meminta agar semua ini dipercepat. Dia tahu ajal sudah menantinya, biarlah dia yang mendatangi ajal itu sendiri.
__ADS_1
Tuan Petrus sendiri cukup sadar diri. Dia tidak boleh terus-terusan menyimpan dendam seperti ini. Semua kesalahpahaman yang ada harus diluruskan. Sebab, jika diteliti lebih lanjut, ini bukanlah tentang permasalahannya dengan Zevanya saja. Namun, banyak masalah lain yang harus diselesaikan juga. Jadilah, dia memiliki dan menggunakan kesempatan ini untuk bertemu Zevanya, sekaligus menjemput ajal untuk dirinya sendiri.
Tuan Petrus sudah sangat berpasrah saja. Lima hari berturut-turut dikelilingi oleh malaikat maut yang mengganggu harinya siang dan malam, nyatanya membuat dia tidak bisa tenang. Terlebih, banyak hal yang tidak bisa diungkapkan hanya dengan perkataan.
“Pelayan!” panggil Zeo. Kata Sang Pelayan, Zevanya masih ada di kamarnya, tapi mengapa tidak ada? Ke mana Zevanya? Di kamar mandi dan seluruh ruangan yang memungkinkan kehadiran Zevanya juga tidak ada. Zevanya ke mana? Zeo frustasi!
“Ya, Pangeran. Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?” tanya Pelayan itu menunduk hormat. Meskipun sempat datang tergesa-gesa dengan setengah berlari, Pelayan itu masih dapat mengontrol napasnya, dan berbicara dengan lancar tanpa tersengal-sengal.
“Di mana Zevanya?” tanya Zeo langsung ke pada intinya.
“Sesaat sebelum saya meninggalkan ruangan kamar ini, Nona Zevanya sudah tertidur dengan kondisinya yang sudah bersih.” Pelayan itu menjelaskan dengan hormat. Memangnya Zevanya hilang? Tidak mungkin kan? Semua penjaga saja tidak memberikannya informasi bahwa Zevanya sudah dijemput.
“Ah, masa sih. Mungkin saja dia terbangun dan ke toilet, sebab ini sudah terhitung satu jam dari waktu saya keluar dari kamar ini.” Pelayan itu masih tidak percaya. Perlukah Zeo membawanya untuk mencari Zevanya ulang di setiap sudut kamar kerajaan?
“Tapi dia nggak ada di mana-mana.” Pelayan itu masih mempertahankan argumennya di depan Sang Pangeran Mahkota.
Zeo, selaku Pangeran Mahkota mendelik. Sepertinya dia memang harus membawa Pelayan itu berkeliling untuk membuktikan bahwa ucapannya tentang Zevanya yang hilang adalah benar.
Akhirnya, dengan satu dan lain pertimbangan dua insan itu menyusuri kamar tamu di kerajaan ini. Mereka berdua sama-sama mencari Zevanya di setiap sudut kamar. Namun, apa yang mereka ingin temukan ternyata tidak mereka dapatkan. Alhasil, keduanya harus kembali ke posisi awal dengan tangan kosong.
“Benar kan apa yang saya katakan tadi?” Zeo melirik Pelayan di sampingnya, mereka terdiam berdiri di depan ranjang Zevanya yang sangat luas.
__ADS_1
“Ya, Pangeran. Informasi ini sangat penting, kita harus mengumumkannya ke seluruh penjuru kerajaan.” Pelayan itu berucap dengan mengusulkan ide yang tertanam di otaknya.
“Jangan. Jika pada akhirnya Nona Zevanya tidak ditemukan. Yang menjadi bahaya adalah kerajaan ini sendiri. Lebih baik kita berdua yang mencari saja.” Zeo tidak setuju dengan argumen yang dikeluarkan oleh Pelayan itu.
Lagi, mereka mencari dengan berpencar, lalu kembali ke titik yang sama seperti di awal. Namun, Zevanya sudah dimakan oleh ruang waktu yang akan membawa dia ke dunia sesungguhnya. Zeo sudah tidak tahan dan dia mencari Wollfi, tentunya untuk meminta bantuan.
Sayang seribu sayang, perjalanan Zeo ke bukit untuk mencari Wollfi adalah gagal. Zeo lupa jika Wollfi juga sudah menghilang sejak dia belum pergi berperang dan masih menghilang sampai saat ini. Apakah Wollfi hibernasi menjadi beruang kutub? Ah, sudahlah, Zeo tidak mau memikirkan hal itu.
Zevanya dan Zevanya, otak Zeo selalu dipenuhi Zevanya. Entah di mana Zevanya. Padahal, sebenarnya Zevanya cukup dekat dengan Zeo. Hanya saja, Zeo tidak menyadari ketidakhadiran ayahnya juga.
Barulah saat, “ayah kamu ke mana, Ze?” tanya sang mama.
“Urusan negara kali, Ma. Emangnya mama ga dikasih tau sama ayah?” tanya Zeo. Dia cukup penasaran, terlebih, mereka kan sangat mesra.
“Nggak. Tadi siang, saat Mama sedang mendatangi ruangan Ayah kamu. Mama nggak menemukan Ayah. Mama kira dia ada sama kamu, tapi dia nggak kumpul makan malam. Tapi kayaknya kamu juga nggak tahu Ayah pergi ke mana ya?” tanya Ibunda Zeo.
“Tentu saja tidak Ibu. Aku nggak berpikir bahwa Ayah tidak ada. Terlebih siang tadi aku baru pulang dari peperangan.” Zeo menjelaskan saja, tidak ada ruginya juga.
Menurut Zeo, ini cukup aneh. Zevanya tidak ada, begitupun Ayahnya. Apakah mereka berdua bertengkar dan berperang darah lagi? Tapi di mana? Zeo bahkan tidak menemukan satupun dari mereka di mana-mana.
Terlebih, kehilangan atau ketidakadaan mereka hampir sama. Di detik-detik yang sama. Jadi, ada kemungkinan bahwa kedua orang itu tengah bersiap untuk berperang kan? Begitulah pemikiran Zeonard Leonardo Zurick saat ini.
__ADS_1