Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 48


__ADS_3

Zeo sedang bersiap-siap, dia akan menjalankan tugas negara saat ini. Dengan baju bajanya dan beberapa prajurit yang mengikutinya, Zeo pergi ke medan perang.


Memang benar, kemarin dia sempat bermimpi dan ingin menemani dan membantu Zevanya untuk pembersihan diri dan kembali ke rumah. Namun, tugas dari kerajaan yang ini sudah tidak bisa ditunda, ataupun dihindari. Sebab, bangsa Rayon bisa dianggap bangsa yang bermain-main dan tidak pantas untuk hal itu.


Zeo harus bisa membawa nama baik Bangsa Rayon, hal itu sudah dituntut sejak dirinya menjadi Pangeran Mahkota dan juga Pimpinan Jenderal. Zeo memang sudah dituntut dengan tugas itu sejak dini.


Zeo sudah tidak menganggap itu sebagai beban lagi, tapi konsekuensi dari jabatan yang diembannya. Zeo bahkan sudah pasrah. Seperti saat ini, dia memimpin pasukannya untuk maju ke medan perang dengan kuda sebagai alat transportasi mereka.


“Bangsa Rayon?” teriak Zeo.


“MAJUUUU!” Para pengawal berseru dengan penuh semangat, jika kemarin-kemarin mereka selalu menang, maka kali ini mereka juga harus mendapatkan kemenangan.


Maju, maju, dan maju, tanpa kemunduran yang bisa membuat orang kesal dan harga diri tercoreng. Lebih-lebih, perang kali ini dipimpin oleh Zeo sendiri, jadinya, mereka harus menang! Mereka harus membuktikan pada orang-orang bahwa mereka adalah pasukan terhebat, dan mereka yang paling dipercaya oleh Zeo. Meskipun kenyataannya tidak begitu.


Di sisi lain.


“Nona, silakan berdiri.” Dia jijik menyentuh Zevanya, entah apa yang Zevanya lakukan selama mendekam di penjara ini.


Namun, untuk sekadar berdiri saja Zevanya tidak mampu. Dia mencoba, dan terjatuh pada ubin yang keras itu. Berulang kali sampai pelayan itu sendiri membantunya dengan rasa keprimanusiaan.


“Nona, mari saya bantu.” Ucapnya. Kemudian, dia mendudukkan Zevanya di atas closet. Lalu dia membantu Zevanya untuk mandi.


Dia sangat terkejut, mengapa di tubuh Nona Zevanya banyak memar dan luka-luka yang tidak terhitung? Jika di bokong, mungkin iya. Sebab tadi dia memaksa Nonanya, Zeva yang bertubuh ringkih. Dia cukup sadar diri.

__ADS_1


Dia memandikan Zevanya. Mengobati luka-luka yang ada di seluruh tubuhnya. Memberikan Zevanya makan sebagai asupan nutrisi, dan juga menyuruh Zevanya beristirahat di kamar tamu sebelum Kakek Theo sendiri yang menjemputnya pulang.


“Aku masih tidak percaya aku bisa keluar.” Zevanya berdecak.


Memang, meskipun Zevanya tahu ada kemungkinan dia selamat dari penjara itu. Namun, lebih banyak presentase ketidakmungkinan. Akan tetapi, ingatlah. Ini Zeo. Zeonard Leonardo Zurick, Pangeran Mahkota Kebanggaan Bangsa Rayon.


“Harusnya, Zeo di sini juga kan? Cuma kenapa dia belum ketemu sama aku? Dia ada urusan atau malas?”


Berbagai pemikiran tentang Zeo bersarang di otak Zevanya. Bahkan, Zevanya seringkali berpikir yang tidak-tidak tentang Zeo saat ini.


“Halo, Nona Syera yang terhormat.” Zeo berdecih. Katanya ingin berperang besar-besaran, tapi mengapa lawannya hanya membawa diri sendiri? Ke mana pasukannya yang dia ucapkan paling hebat itu? Sungguh, Zeo sangat ingin menagih janjinya sekarang.


“Haha. Saya ini hebat, tidak seperti kamu! Masa iya tidak berani datang sendiri, sungguh pecundang, sama seperti ayahmu.” Dia meremehkan Zeo. Sementara kesepakatan yang tertera di undangan peperangan tidaklah seperti apa yang dia ucapkan barusan.


“Sepertinya Nona Syera yang terhormat lupa dengan isi dari undangan anda sendiri ya? Apakah perlu saya bacakan kembali? Kebetulan saya membawakan ini, khusus untuk anda. Saya juga rela untuk membacakannya loh.”


Zeo tidak sebodoh itu. Dia sudah tahu, Bangsa Traco adalah Bangsa yang licik. Terlebih, pemimpinnya adalah Shera, atau nama aslinya Sherina Andani Alsheva Barox.


Seseorang yang dikenal sebagai Shera, pemimpin Bangsa Traco, atau disebut sebagai Bangsa Iblis karena kelakuannya yang sangat licik dan biadab. Namun, meskipun begitu, tak seorangpun bisa mengelabui dan bersikap lebih licik darinya kecuali Bangsa Walcott yang sebelumnya dipimpin oleh Petrus sendiri.


“Anda!” Shera, Putri Mahkota yang sudah benar-benar mewarisi kekayaan ayahnya dan memimpin Bangsa Traco itu menggeram. Bisa-bisanya musuhnya itu seperti itu. Selama ini, belum ada yang benar-benar berani padanya.


Bahkan calon suaminya saja tidak berani. Ya, calon suami yang dipilih sendiri oleh Shera agar dia bisa naik jabatan sebagai Ratu Traco. Memang benar, statusnya masih terhambat karena belum memiliki pasangan.

__ADS_1


Benar juga, jika Bangsa Traco sangat mementingkan pernikahan, terbukti dari status Shera yang hanya bisa naik jika dia memiliki suami, agar nantinya jika punya anak, mereka bisa meneruskan panggilan itu.


“Anda tidak akan bisa menyerang saya, Putri.” Kekeh Zeo. Dia sudah terbang dan menari-nari tanpa menapak ke tanah.


Sedari tadi, Putri Mahkota, Shera, sudah berusaha untuk melumpuhkan Zeo. Sayangnya, serangan demi serangan yang dia lakukan sama sekali tidak mengenai Zeo. Serangan itu hanya melayang dan pergi jauh, entah ke mana. Zeo sendiri hanya berharap kekuatan-kekuatan itu bertemu dengan batu.


Kenapa? Tentunya agar tidak ada seorangpun yang harus terluka karena menerima serangan itu. Meskipun sedikit kemungkinan yang terjadi. Sebab, padang gurun ini sangat luas dan sudah pasti tidak ada orang kecuali pasukannya, Zeo, dan Shera sendiri.


Namun, pasukannya itu sudah memilih untuk bersembunyi di belakang pohon, ataupun di atas pohon. Jadi, sedikit kemungkinan juga bahwa mereka akan terkena serangan itu.


Zeo mendengus. Kenapa para perempuan lebih mengandalkan emosi daripada otaknya? Apakah memang mereka ditakdirkan hanya intuk memiliki emosi yang berlebih saja?


Serangan demi serangan terus Shera lakukan. Sampai Zeo sendiri merasa pusing melihatnya. Tidak adakah serangan lain yang membuat adrenalin Zeo lebih teradu dan terpancing? Cara-cara ini sangatlah kuno.


Zeo terus berpikir dan membayangkan hal-hal yang tidak mungkin, sampai Shera sendiri bisa menemukan titik lengah lelaki itu dan membuatnya jatuh di pasir.


“Jadi cewek kok jahat banget sih.” Zeo mendengus. Bisa-bisanya awan yang dia buat susah payah agar bisa duduk dihancurkan oleh orang seperti Shera.


Zeo tidak terima. Dia melakukan penyerangan pada Shera. Dengan kecepatan Zeo yang tinggi dan Shera yang sudah lelah, tentu saja Shera kalah telak.


Ya, pada akhirnya, Zeo memenangkan pertarungan ini. Dia mencemooh Shera sampai perempuan itu menghilang ke Bangsanya sendiri karena merasa malu. Siapa yang tidak malu jika Zeo selalu mengoloknya? Mulut pedas milik Zeo sangatlah berbahaya dan beracun.


“Baiklah, kalian boleh keluar!’ Zeo berseru. Dia ingin cepat-cepat kembali ke Bangsanya sendiri, Bangsa Rayon. Agar dia bisa bertemu dan melepas rindu dengan Zevanya. Semoga saja dia masih memiliki kesempatan untuk bertemu.

__ADS_1


__ADS_2