
“Selamat ya, ngab!” seru Kevin. Dia merangkul bahu Zeo selayaknya saudara yang sudah lama tidak bertemu.
“Wah broo, thank you udah datang.”
Zeo memang memberikan undangan juga untuk Kevin. Namun, dia tidak berpikir bahwa Kevin akan mendatangi acara pernikahannya. Apalagi setelah lamaran yang mereka lakukan di cafe.
Sebab Zeo berpikir bahwa Kevin sakit hati. Namun, apa yang ada di depan kepalanya kembali membuat Zeo berspekulasi. Entahlah, tetapi Zeo memiliki banyak dugaan terhadap Kevin.
Ya, sampai sekarang Zeo belum menyadari keterkaitan antara mereka berdua. Zeo tidak paham dengan hubungan-hubungan yang sebenarnya nyata. Meskipun dalam setiap malamnya, Zeo selalu didatangi oleh mimpi-mimpi.
Hari ini adalah hari yang paling spesial. Hari di mana dia resmi menikahi Zevanya, dan sekarang mereka tengah mengadakan resepsi. Keduanya telah mengadakan ijab qobul tadi pagi.
Ya, setelah serangkaian prosesi adat yang mereka jalani, keduanya dipersatukan kembali dalam sebuah hubungan resmi di mata Tuhan. Hubungan yang membuat mereka terikat satu sama lain dalam sebuah buku, yakni buku nikah.
Namun, keduanya nampak sangat bahagia hari ini. Senyum yang menghiasi wajah mereka seakan tidak pernah pudar seiring tamu yang menyapa dan memberikan ucapan selamat untuk mereka.
“Kamu capek, nggak?” tanya Zeo. Dia khawatir Zevanya kacapekan, sebab setelah ini, mereka masih harus menjalani misi.
“Nggak kok. Kenapa emangnya?” tanya Zeva, dia menelisik Zeo curiga.
“Kalau capek, duduk aja.” Zeo tak menjelaskan ataupun sekadar mengode. Dia hanya memberikan ultimatum dan perhatian saja.
Meskipun acara resepsi sudah berakhir. Namun, itu tidak menyurutkan semangat tentang kebersamaan mereka. Ya, dulu Zeva dan Zeo pernah satu kelas saat di bangku SMP. Jadi, mereka berkumpul dengan alumni, atau bisa disebut teman lama mereka.
Waktu yang menunjukkan pukul 11 malam juga seperti sudah tidak berfungsi. Buktinya orang-orang itu berkumpul tanpa satu orangpun yang mengatakan kata keramatnya, yakni ngantuk. Namun, Zeo bersyukur, itu artinya, mereka nyaman berada di tempat resepsi Zeo.
__ADS_1
“Udah lama ga ketemu, makin cantik aja nih.” Goda teman-teman Zevanya. Mereka nampak senang sekali menggoda Zevanya yang hari ini terbalut baju kebaya.
Yap, selain tema hari ini yang menyoroti warna silver. Pakaian kedua mempelai itupun disorot dengan warna silver keemasan yang membuat mereka sangat bersinar di antara luasnya lautan manusia.
Hari semakin menjelang malam. Para tamu sudah pulang seiring dengan waktu yang terus berjalan. Begitupun dengan Kevin, di pukul 2 malam, dia menghampiri Zeo.
“Aura pengantin baru banget, ya. Btw, gue udah pesenin tiket buat lo berdua. Jangan lupa buatin gue ponakan yang lucu!” seru Kevin, dan terkekeh di akhir kalimat.
“Tiket? Ke mana?”
Bukan, bukan Zeo yang menjawab, melainkan Zevanya, perempuan cantik yang tengah bersanding dengan Zeo di atas pelaminan.
“Ke Maldives. Mau lah ya, masa ditolak.” Kevin terkekeh, meskipun dia tahu keduanya tidak akan menolak. Sebab keduanya tahu kalau mereka juga butuh bulan madu. Apalagi penerbangan yang Kevin ambil sudah di jam paling nyaman, yakni dua hari setelah ini. Mereka masih bisa membereskan barang bawaan sebelum pergi.
“Gila aja ditolak, tiket ke sana mahal, bro! Btw, lo ngambil paket apa?”
“Seru ya, hari ini bisa liat sunset.” Zeva tampak berbinar. Ya, Zeva suka sunset, sangat-sangat suka, bahkan tak seorangpun dapat menghalangi dia, jika sedang galau untuk tidak melihat sunset.
Zeo mengiyakan, “sunset itu ibarat kita yang bersama-sama sampai tua, ibarat sehidup semati, tapi sunset terjadi berulang kali. Sementara, hidup kita yang berdua ini akan hanya ada satu kali dalam seumur hidup.”
Zevanya mengangguk, dia tidak akan mengelak kalimat yang dilontarkan Zeo. Sungguh, jika Zevanya boleh meminta, dia ingin berada di sini terus menerus dan memandangi sunset.
Namun, waktu adalah waktu, jadinya sunset atau senja pun tenggelam. Namun, dia akan kembali lagi menjadi fajar di keesokan pagi.
Ya, mereka memandangi sunset di Maldives. Setelah kemarin berdiam satu harian di kamar, hari ini mereka menyempatkan waktu untuk berjalan-jalan, ya sekadar menyenangkan rengekan Zeva.
__ADS_1
“Masa iya kita nganu terus, aku juga pengen jalan-jalan!” ucapan Zeva setelah dia digempur habis-habisan oleh Zeo. Ya, memang, sedari kemarin Zeo menjanjikan akan keluar, tetapi nyatanya dia selalu beralasan. Hal itu tentunya membuat Zeva kesal.
Seperti hari ini, dari pagi sampai siang, Zeva dikurung di dalam kamar. Lalu, saat sunset terbit saja Zeva keluar, itupun bersama Zeo di bibir pantai.
“Sudahlah, Sayang. Jangan ngambek lagi, janji deh besok mainnya ga sampe siang.” Apakah janji Zeo bisa dipercaya?
“Sekarang ngomongnya gini, sampe besok-besok juga gitu terus. Tapi apa buktinya? Kamu juga selalu melanggarnya.” Zevanya mengomel.
Begitulah keseharian mereka selama di Maldives yang lebih banyak berdiam di kamar. Selain karena alasan tidur berdua, mereka juga sering merasa lelah sehabis melakukan itu.
Ternyata juga, tiket yang dipesankan oleh Kevin beberapa hari lalu adalah tiket kelas bisnis yang sudah pasti membuat tempat duduk mereka berdua nyaman, meskipun terpisah oleh jarak.
Selama di perjalanan itu juga, Zevanya lebih banyak tidur. Ya, memang untuk mempersiapkan tenaga. Jujur saja, di tubuh Zeva sangat banyak ruam merah yang disebabkan oleh brutalnya Zeo. Itu juga alasan yang membuat Zeva tidak mau melakukan snorkeling.
“Kita pulang satu minggu lagi kan Yank?”
Yup, sejak mereka saling memberikan cinta dan berbagi peluh satu sama lain, keduanya sudah sepakat untuk memanggil mereka dengan kata sayangnya masing-masing.
Pada akhirnya, liburan ke Maldives selama 10 hari membuat mereka sangat senang. Hari-hari yang dipenuhi dengan berbagai macam kejutan, kesenangan, dan juga keributan manis ala-ala pasutri baru.
Itu semua mereka rasakan, ya tentu saja sebelum menghadapi badai pernikahan yang sebentar lagi akan muncul. Meskipun begitu, keduanya masih bersenang-senang satu sama lain. Bahkan, keduanya berkomitmen, bahwa selama di sini tidak ada yang boleh memegang ponsel.
Kemudian, ada banyak lagi komitmen yang keduanya buat untuk saling mencukupi hasrat dan ego masing-masing. Namun, itu tidaklah benar, karena mereka juga sempat ribut di awal. Ya, setidaknya belajar berantem dulu.
Sementara, di belahan bumi yang lain, ada Miko yang merengek ingin bertemu dengan Zevanya. Ya, baru ditinggal beberapa hari, Miko sudah merindukan kakak keduanya.
__ADS_1
Hal itu membuat Vania selaku kakak pertama dan tulang punggung keluarga mereka meringis. Ini juga, kenapa Zeva tidak bisa dihubungi? Tidak tahukah dia adiknya sedang menangis-nangis manja dan tantrum ingin bertemu dia? Vania juga masih harus mengerjakan tugas kantor, tapi banyak waktunya yang terbuang hanya karena Miko.