
“Nona, segeralah ke ruang belajar.” Panggil pelayan di depan pintu.
Aku mengacak-acak rambutku. Ini terhitung sudah hari ketiga aku mengikuti belajar bersama kakek tua itu. Namun, aku sama sekali tidak dapat apa-apa. Yang ada, otakku semakin pusing!
“Iya, tunggu!” teriakku. Sementara, aku benar-benar tidak ingin melangkahkan kaki ke sana. Bersiap saja tidak. Aku lebih memilih untuk masuk ke dalam selimut.
Meringkuk, dan tidur. Namun, lagi dan lagi. Sayang seribu sayang. Aku harus mengurungkan niatku ini. Huh, dasar kakek tua pengancam. Aku lupa dia memiliki CCTV yang terhubung ke ruang tidurku ini. Aku merotasikan bola mataku.
“Cepatlah ke sini, atau kamu tidak akan bisa keluar rumah ini.”
Daripada tidak bisa keluar dengan bebas. Aku memilih untuk segera ke ruang belajar. Eh, bodoh sekali. Mau aku belajar atau tidak, sama-sama saja aku tidak diperbolehkan keluar rumah.
Semenjak tiga hari lalu. Kakek tua itu memaksaku untuk tinggal bersamanya, di salah satu rumah yang lebih besar dari rumahku sebelumnya. Dia bahkan mengabulkan semua keinginanku mengenai kamar tidur.
Hanya ada satu hal yang tidak membuatku bisa merengek. Kamera CCTV. Ya, aku tidak diperbolehkan untuk mendebat itu. Aneh? Ya, aneh. Namun untungnya, hanya ruang tidur. Bukan ruangan yang lainnya lagi. Lega sih.
Semenjak aku pindah ke mari. Aku juga sudah tidak bertemu Reyhan. Aku merasa hari-hariku semakin hampa tanpa dia. Namun, aku harus semangat. Ya, semangat!
“Jika kau begini terus, maka aku tidak akan tinggal diam. Lihat saja, kamu dipastikan tidak akan bisa menemui sahabat jadi-jadianmu itu.” Peringatnya. Dia memang berkata seperti biasa. Namun, aura dan pembawaannya terlihat seram.
“Sahabat jadi-jadian?” gumamku. Aku tak paham. Sahabat yang mana? Ngomong dengan kakek tua ini seringkali membuatku pusing. Dia terlalu banyak misteri.
Aku sempat bertanya, tentang kekayaan keluarga yang akan aku pimpin nanti. Namun, dia tidak memberitahu. Huh, katanya, aku belum cukup waktu untuk mengetahuinya.
Jika nanti perkembanganku sudah matang, maka dia baru akan memberitahunya. Dia juga memintaku untuk serius.
__ADS_1
Ah, apa aku protes ganti orang untuk dia latih ya? Supaya aku bebas. Jujur saja, hidupku saat ini sangat terkekang. Ke mana-mana ada pelayan pribadi. Ada mata-mata, penjaga bayangan, dan lainnya.
Aku pernah bertanya gaji mereka, tetapi semuanya tutup mulut. Mereka tidak memberitahu dan menyuruhku bertanya kepada kakek tua. Ya, aku memiliki julukan khusus untuknya. Si kakek tua. Atau, nama panjangnya, Kakek Tua Ribet Urusan Hidup. Nah, panggilan dariku.
Dilihat-lihat, sebenarnya aku seperti cucu durhaka. Namun, aku tak bohong. Aku menyadari perasaan sayangku terhadapnya.
“Heh! Malah bengong.” Seru kakek tua itu.
“Ish, sabarlah. Dari kemarin, belajar bisnis-bisnis, tapi aku aja nggak tahu apa yang bakal diurus nantinya.” Seruku sebal.
Dia berdecak, “kamu bakal ngurus perusahaan, bisnis, aset, dan semua hal yang menyangkut harta. Puas?” jika aku sebal, maka dia lebih sebal. Mungkin itu perumpamaan yang cocok.
Aku belajar. Ya, aku mulai serius. Meskipun aku tidak begitu mengerti, aku berusaha untuk memahami. Aku tidak ingin membuat semuanya semakin rumit. Aku lebih baik mengalah. Namun, aku masih ada keinginan untuk menyuruh seseorang menggantikan aku.
“Jangan pernah berpikir macam-macam.” Sentaknya.
Aku ke kamar. Membersihkan diri dan merebahkan tubuh. “Rey, apa kabarmu?” monologku. Aku tiba-tiba merindukannya.
Apakah rasa ini benar? Mungkin saja benar, sebab aku hanya merindukannya dengan status teman. Jujur saja, aku takut jika yang dimaksud kakek tua itu adalah Reyhan.
Aku tidak memiliki barang elektronik selain televisi. Sementara ini aku tidak diperbolehkan memiliki, atau kakek tua itu akan semakin menjadi-jadi.
Yah, setelah beberapa hari ini, aku lebih merasa memiliki daddy gula. Aku tidak mengerti sih, kenapa bisa begitu. Namun, aku harap, semuanya tetap baik.
Pelayan baru yang menjadi pelayan pribadi itu, sebenarnya adalah salah satu orang kepercayaan kakek tua. Perempuan bernama Miya ini sudah mengabdi kepada kakek tua itu sejak kecil.
__ADS_1
Hutang budi yang dilakukan kedua orang tua Miya terpaksa membuatnya harus menjalani hidup seperti ini. Miya juga berkata, dia senang, karena meskipun hari-harinya terasa padat, kakek tua itu akan memberikan izin cuti selama satu bulan dalam jangka waktu satu tahun.
Jika ini tidak dipakai, maka bisa disimpan untuk kemudian hari nanti. Miya bercerita, bekerja dengan kakek tua itu adalah pilihan terbaik. Dia juga menyuruhku untuk bersyukur, karena kakek tua memang sangat sayang kepadaku.
Meski terkadang tingkahnya cuek, sebenarnya kakek tua itu orang yang peduli. Dia juga hanya ingin yang terbaik untuk sang cucu, sekadar katanya.
Aku sih ya tidak percaya, tapi saat Miya menjelaskan, aku iya-iya saja. Aku takut Miya akan mengadu jika aku berkata yang tidak-tidak.
Sampai saat inipun aku tidak bisa mempercayai Miya. Dia memang pelayanku, tapi dia bekerja untuk kakek tua. Aku menghela napas. Sesaat kemudian, Miya kembali dengan satu piring nasi. Aku memang meminta Miya untuk mengambil sepiring lagi.
“Ayo, kita makan, Kak Ya.” Senyumku manis, berusaha mengajaknya baik-baik.
“Aduh, saya bisa dimarahi tuan besar, nona. Tolong jangan seperti ini.” Dia tampak sangat takut.
“Tidak apa, kamu tidak akan mati. Biarkan aku yang memberitahunya nanti. Ayo makan! Atau aku nggak makan sekalian?” ancamku. Sedikit banyak sifat kakek tua bergengsi itu menurun padaku.
Aku melihatnya, dia mengalah, karena akhirnya dia menghela napas dan mengangguk. Dia duduk di karpet berbuluku. Aku juga ikut pindah. Tidak lucu kan mengajak orang makan bersama, tetapi bergaya seolah langit dan bumi. Aku terkikik dalam hati.
Selesai makan, seperti biasa. Aku dan Miya mengobrol sejenak. Aku pikir besok aku akan belajar seperti tadi. Nyatanya aku salah. Sebab besok, pagi-pagi sekali aku harus sudah siap. Ya, katanya ini berkaitan dengan fisik.
Aku tidak begitu tahu, tapi aku cukup penasaran. Marilah kita lupakan misteri-misteri di rumah lama. Kemudian fokus pada hari esok.
“Besok orang tuamu juga akan datang. Jadi, kemungkinan besar latihannya tidak akan lama. Semangat ya.” Ucapnya lalu tersenyum, seolah-olah ada yang sedang dia sembunyikan dariku. Tapi apa?
Entahlah, semakin ke sini, semakin tidak jelas. Semuanya bermain rahasia. Memang keluarga yang aneh. Seharusnya mereka tak menyembunyikan apapun kepadaku kan? Tapi, kenapa aku semakin tak dianggap? Katanya aku pewaris nantinya.
__ADS_1
Aku menggerutu. Namun, hanya sebentar. Sebab aku tidak bisa lagi menahan kantukku setelah membersihkan wajah. Ya, selama tinggal di sini, aku selalu disuruh memoles wajah sebelum kelusr dari kamarku ini.