Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 37


__ADS_3

Gelap, itulah hal yang dapat diungkapkan. Zeva merasakan kegelapan di sini. Ya, saat dia menarik benang merah, dia seketika merasa gelap.


Ini sangat nyata, bukan lagi mimpi seperti yang kemarin-kemarin Zevanya alami. Kali ini, kejadian nyata, sebuah kisah yang dialami dengan membawa tubuh nyata Zevanya untuk berkelana pergi bebas.


Semakin jauh Zevanya pergi berjalan, suara bising itu semakin dekat dan nyaring bunyinya di telings Zevanya. Dia mempercepat langkahnya, Zevanya sudah sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


“Oh, astaga.” Pekik Zevanya dengan suara kecil. Dirinya cukup kaget dengan pemandangan yang ada di depannya.


Seorang monster atau lebih pantas disebut siluman berdiri di depan para peri dan menyerang mereka. Siluman itu tampak mengamuk tanpa seorangpun yang mengetahui jawabannya.


Zevanya mengambll langkah cepat. Zevanya menggosokkan dua bagian tangannya yang terasa dingin. Begitu terus sampai Zevanya merasa panas. Meskipun lama, Zevanya hanya berharap cara yang sedang dia usahakan ini nantinya akan berhasil menaklukkan monster itu.


DUARRRR!


Ledakkan yang disebabkan oleh Zeva membuat siluman itu kaget. Dirinya langsung menoleh ke arah kanan dan kiri. Siapa yang berani melemparkannya barang begituan? Pasti bukan orang biasa.


Zevanya mencari posisi lain yang lebih aman. Posisinya yang berada di dalam gua ini sedikit bahaya. Pasalnya jika monster siluman berbentuk ular itu menemukan keberadaannya, sudah pasti nanti membakar gua itu, dan ujung-ujungnya Zeva akan mati.


Zeva tidak mau hal itu terjadi, makanya, dia berusaha untuk menemukan posisi yang lebih aman dengan berpindah-pindah. Zeva hendak keluar gua sebenarnya tadi. Namun, entah mengapa, pintu gua itu seolah terkunci dan mengunci Zeva di dalam sana.


Alhasil, Zevanya hanya bisa membantu para peri dengan cara seperti itu. Zevanya juga tidak bodoh-bodoh banget dengan memaksa keluar dulu baru menyerang monster siluman itu.

__ADS_1


Menurut Zevanya, jika bisa dilakukan dari sini, mengapa harus memaksa untuk masuk ke lapangan yang jelas-jelas lebih berbahaya.


Entah bagaimana caranya, kini ketika monster siluman itu terperangkap dalam jaring-jaring yang diciptakan oleh para peri, Zevanya bisa keluar.


Tanpa pikir panjang, Zevanya melangkah dengan santainya ke perkumpulan ibu peri dan kawanannya. Sungguh, ibu peri tampak sangat terkejut dengan kehadiran Zevanya. Terlebih Zevanya yang santai datang ke tempatnya.


Bagaimana bisa Zevanya memasuki dunia peri dengan badan aslinya? Seharusnya raga asli Zevanya tidak boleh masuk ke dunia peri, sebab jika mengikuti peraturan yang ada, itu akan menimbulkan kekacauan di dunia peri.


Dia tidak memanggil Zevanya juga, lantas, mengapa Zevanya bisa terhubung ke dunia para peri? Sungguh, ibu peri sangat bingung dengan situasi yang sedang terjadi.


“Halo, ibu peri.” Zevanya menyapa dengan santai dan gamblang, dia seolah lupa bahwa mereka tidak menyadari kehadiran Zevanya sedari tadi, dan mereka tengah memegang atah tepatnya mengikat monster silumsn itu.


Para peri tidak dapat berkata-kata. Siapa Zevanya? Mengapa aura yang masuk ke sini berbeda? Ada apa dengan dunia peri? Mengapa mereka mengalami banyak keanehan? Jika mereka tidak paham, Zevanya juga tidak terlalu paham.


Namun, gelembung jeli yang dibuat Zevanya tak bisa bertahan lama. Monster itu lepas. Dia mengamuk dan memutar-mutar kepalanya.


***


“Nak, ksmu kok bisa masuk ke sini?” tanya Ibunda Ratu dalam dunia peri, atau disebut Ibu Peri. Dia sungguh penasaran sebenarnya, tapi dia harus menjaga sikapnya dalam bertanya kepada Zevanya, sebab, apa yang dilakukan Zevanya saat ini, semuanya bisa menjadi berbahaya, terlebih Zevanya masuk ke dunia peri dengan raga aslinya.


“Dari lemari.” Zevanya memilih untuk menjawab singkat. Lagipula, memang benar kan? Zevanya masuk ke dunia peri melalui lemari. Atau tepatnya, Zevanya juga bisa terjebak masuk ke dunia peri yang seharusnya tidak boleh dia injak dengan raga aslinya. Ya, memang benar, Zevanya masuk dunia peri lewat lemari dengan menarik benang merah.

__ADS_1


“Seharusnya kamu nggak boleh ada di sini. Peri-peri dari tempat lain bisa saja menghirup aroma tubuh kamu, dan kamu bisa dalam bahaya,” jelas Ibu Peri, tetapi hal itu tidak dapat dipahami oleh Zevanya sedikitpun.


“Tapi aku sudah terlanjur di sini, jadi aku harus bagaimana?” tanya Zeva yang memang membutuhkan solusi. Jika dia tak boleh di sini, bagaimana caranya agar dia kembali ke dunia aslinya? Namun, ibu peri menggeleng.


Dia tak tahu pasti bagaimana cara mengembalikan Zevanya ke dunia asalnya. Sebab, ini adalah kali pertama dalam dunia Peri kedatangan seorang manusia yang membawa raganya. Biasanya, mereka hanya masuk ke dunia peri lewat mimpi.


“Ibu tidak tahu. Ini pertama kalinya, dan kamu orang pertama yang berhasil membawa ragamu ke sini.” Ibu Peri lagi-lagi menggeleng.


“Jelaskan kenapa kamu bisa masuk ke sini.” Ibu Peri memerintah dengan datar, bahkan mukanya pun tetap datar ke depan. Ya, dia sedang fokus untuk menetralkan aroma manusia yang dibawa oleh Zevanya.


“Aku masuk ketika jam besar yang berada di lemari kamarku menunjukkan bahwa dunia peri sedang dalam masalah. Seketika, aku menarik saja benang merah yang ada di situ. Lalu, saat sampai, aku terjebak di gua sampai kalian sebagai para peri berhasil untuk mengurung monster itu dengan kekuatan kalian,” perjelas Zevanya. Tak ada satu rekaan kejadian yang dia tutupi. Jikapun ada, kemungkinan dia lupa.


“Seharusnya kamu tidak boleh menarik itu. Setersentuh apapun hatimu akan kami, kamu harusnya ga boleh melakukan itu. Karena kami, sebagai para peri, sebenarnya memiliki kekuatan di atas itu yang jauh lebih kuat. Malahan, kamu yang akan bahaya jika menolong seperti tadi. Apalagi kamu langsung melumpuhkan monster itu. Kemudian, monster itu bisa saja melaporkan kejadian tersebut pada tuannya. Memangnya kamu siap jika hal itu dilaporkan dan dia mencarimu di dunia asalmu?” tanya Ibu Ratu yang dijawab oleh gelengan kepala Zevanya Laureen.


“Meskipun dia monster, dia tetap memiliki raja di alamnya. Dia juga akan tetap mengetahui statusmu yang manusia, sebab kamu berjalan menapak di atas tanah, tidak seperti kami bangsa peri.” Ibu Peri kembali menghela napasnya. Dia sungguh tak bisa berbuat apapun.


“Mari kita temui Peri Natha.” Ibu Peri mengajak Zevanya untuk ke sana. Meskipun Peri Natha akan lelah dengan kejadian tadi, Zevanya harus dipulangkan terlebih dulu sebelum para peri di bangsa lain menyadarinya. Sebab, bisa jadi Zeva malah dikurung untuk santapan monster.


“Kamu harus pergi ke belakang Gunung ini untuk kembali menemukan benang merah itu. Ini petanya, saya mohon maaf tidak bisa membantumu lebih dari ini.” Peri Natha memberikan Zevanya solusi.


“Juga, kamu tidak boleh teleportasi ke tempatnya.” Peri Natha kembali memberikan peringatan saat dia melihat Zevanya yang sud

__ADS_1


__ADS_2