Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 43


__ADS_3

Zevanya melompat-lompat kecil bersama boneka kesayangannya. Wajahnya dihiasi dengan senyuman. Ah, rasanya Zevanya sangat bahagia hari ini.


Dia berlari-lari, melompat-lompat, berguling-guling, pokoknya dia bahagia! Bahkan Zevanya kecil sampai memekik kesenangan pada beberapa saat.


Ulang tahunnya kali ini sangat simpel, tapi Zevanya kecil sedang sangat berbahagia. Tubuh Zevanya kecil seolah tidak ada lelahnya. Dia berlarian ke sana dan ke mari, entah mengejar apaan.


Zevanya kecil bahagia bersama ayah dan ibunya saat ini. Ulang tahun ke-5 yang dirayakan oleh Zevanya kecil membuat hatinya terasa hangat.


Terlebih, keluarganya memberikan Zevanya kecil surprise dan banyak hadiah. Meskipun mereka hanya mampu membelikan barang kecil, Zevanya kecil tetap bahagia, dia menyukai dan memakainya. Namun, jangan salah, barang kecil yang Zevanya dapatkan ada beberapa yang limited edition, seperti yang diberikan kakeknya.


“Thank you kakek!” Zeva tersenyum sangat manis. Kakeknya yang gemas segera mencubit pipi mungil Zevanya kecil sampai membuatnya mengaduh kesakitan.


“Sayang kakek banyak-banyak!” Meskipun dicubit, hal itu tak urung membuat kakeknya meminta pelukan dan dilakukan oleh Zevanya. Sungguh, Zevanya kecil sangat-sangat menggemaskan saat ini.


“Kakek juga sayang kamu, Ze.” Dia mengusap surai Zevanya yang hitam pekat. Kakek Theo tampak menyayangi cucunya itu.


Kemudian, Zevanya terus bermain-main sendiri. Dia sangat tidak peduli lagi dengan lingkungan luar pada saat sudah main. Jadi, di saat dia main, kakek Theo memanggil ibu dan ayahnya, atau lebih tepat orang tua angkat Zevanya.


“Kalian tidak mau membawa Zevanya pergi berlibur?” tanya Kakek Theo.


“Tidak, sebenarnya kami mau, tapi kami belum punya waktu yang pas.” Alibi Kenzo, ayah angkat Zevanya.


“Ayah bisa membayar untuk itu, jika kalian mau pergi berlibur,” ucapnya. Namun, ayah dan ibu angkat Zevanya menolaknya. Sebab, mereka merasa tidak enak hati pada sang ayah.


“Tidak perlu, Yah.” Tolak Ibu Zevanya, Kia. Kia adalah anak dari kakek tua dan neneknya Zevanya. Itulah juga penyebab yang membuat keluarga angkat Zeva berbeda dengan keluarga lainnya. Mereka terlalu polos!

__ADS_1


Tentu saja keluarga Walcott yang lain tidak seperti itu, bahkan jika diterawang, semua anggota keluarga Walcott ialah manipulatif. Mereka berpura-pura baik, lalu setelahnya melakukan tindakan kejahatan yang bisa dibilang tidak sedikit.


“Kamu ini kayak sama siapa aja. Kamu juga kan anakku. Dan juga, emangnya kamu mau hidup seperti ini terus? Kamu ga mau survive dan bangun reputasi lagi?” tanya Theo Walcott.


“Nggak, Yah. Kami sudah bahagia dengan kehidupan kami yang jauh dari hiruk pikuk orang di sana. Juga, dengan tinggal di sini, kamipun masih tetap bertahan hidup sampai sekarang, kan?” Ibu Zeva sudah terlalu lelah dengan anggota keluarganya yang tidak macam manusia itu. Dia tidak mau lagi untuk bergabung dan bercampur dengan mereka.


“Ah, ya sudahlah jika itu mau kalian. Tapi kalau ada apa-apa, segera kasih tahu Ayah, ya. Biar nanti Ayah membantu kalian.”


Theo Walcott memang menyayangi putrinya itu, sayang saja dia sudah tidak bisa tinggal bersama putrinya itu. Sebab dia harus tetap menjalankan tugas dan putrinya memilih mengasingkan diri bersama suami dan anaknya.


Seandainya saja putrinya juga bisa menyeimbangkan mereka, pasti Theo masih tinggal bersama putrinya, Kiara Andani Walcott. Anak perempuan yang paling Theo sayangi terlepas dari kebodohan dan sifatnya yang terlalu baik pada semua orang itu.


“Yey!” Zevanya kecil berteriak-teriak. Dia senang karena hari ini dia akan berjumpa dengan kakek Theo dan saudaranya. Berbeda dengan kedua orang tua itu yang diam saja sedari tadi.


Mereka sedang menuruni perbukitan. Di jalan yang hanya memiliki jalan seluas lebar tubuh orang dewasa. Di kanan dan kiri jalan itupun ada perairan yang arusnya sangat deras dan sudah pasti bisa membuat orang hanyut.


“Masih. Nanti kita istirahat di tempat yang banyak bambunya, ya.”


Tak ayal, kedua orang tua itu juga merasakan lelah yang sama, apalagi semalam mereka begadang.


Perjalanan-perjalanan yang dipenuhi canda dan tawa menghiasi keluarga kecil itu. Gurau-gurau singkat pun menjadi topik bagi mereka.


“Kakekkk!” pekik Zeva saat melihat kakeknya sudah menunggu dia, ayah dan ibu di gerbang dengan senyuman terbaik yang dia tunjukkan.


Zeva lari masuk ke dalam pelukan sang kakek. Dia memang sedekat itu dengan kakeknya, bahkan Zeva tidak segan sama sekali. Berbeda dengan cucunya yang lain yang bahkan tidak dianggap oleh kakek itu jika mereka sedang menginap.

__ADS_1


“Kenapa, Sayang?” tanya kakek itu saat melihat lebam di sudut kiri pipi Zevanya.


“Tadi Zevanya ga hati-hati terus nabrak pohon, bruk, terus luka.” Zevanya jujur dan menahan tangisnya saat ini.


“Utututu, cucu kakek.” Gemasnya.


Zevanya menghabiskan seharian untuk bermain bersama kakeknya, dan pada saat Zeva lelah bermain lalu tertidur, kakeknya itu mengobrol dengan orang tua Zevanya. Namun, jawaban mereka tetap sama, “tidak, Ayah. Kami sudah memiliki kehidupan sendiri, penghasilan yang cukup, dan segalanya juga sudah bisa terpenuhi. Tolong jangan paksa kami, Ayah.” Kiara memohon.


“Ayah tidak memaksa anakku sayang, Ayah hanya menginginkan yang terbaik. Toh dengan kalian kembali survive, kehidupan Zeva pasti akan lebih mewah, lebih menyenangkan dan kalian juga tidak akan dipandang sebelah mata di sini.” Ayahnya itu menjelaskan, tetapi jelas saja di lubuk hati ayahnya itu ada rasa ingin memaksa. Terlebih, Kiara adalah putri kandungnya sendiri. Bahkan dia sudah hidup lebih lama dan duluan dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Namun, karena gendernya, dia tidak mendapatkan begitu banyak harta kekayaan.


Saat hari menjelang malam, Kiara pulang ke rumahnya yang ada di bukit, tentunya mereka juga membawa Zeva kembali. Karena, mereka tidak percaya dengan satupun orang yang ada di rumah besar Walcott itu.


“Ayo, Nak. Jalan sendiri, ya,” pinta Mama Zeva, Kiara.


Dengan malas dan mata yang masih ingin tidur, Zevanya menggandeng tangan mamanya. Mereka berpamitan dengan Theo. Meski sebelum itu Theo Walcott meminta mereka menginap, Kiara sebagai anaknya sendiri sudah menolaknya.


Mereka kembali melewati jalan yang mereka pakai saat pergi tadi, sebab ini satu-satunya jalan menuju rumah mereka yang berada di perbukitan.


“Mama, aku mau berenang di bawah sana,” ucap Zeva. Tidak tahukah Zeva bahwa air itu sangat deras?


“Mau mama, mau!” Huh, Zeva sangat mendramatisir keadaan sekali.


“Iya, nanti di rumah, Sayang.” Namun, Zeva menolak, dia malah menarik-narik lengan mamanya itu. Mamanya tetap dengan sabar meng-iyakan saja. Bisa bahaya jika dia menolak saat ini, mereka bisa kenapa-napa.


Namun nyatanya tetap begitu, Zeva terus menarik-narik tubuh mamanya dan tiba-tiba mamanya terjatuh ke sungai yang deras. Namun, seperti sudah tau keadaan, dengan cepat mamanya itu melepaskan genggamannya dan membiarkan Zeva tetap di atas.

__ADS_1


“Mama!” teriak Zeva. Dia bangun dari tidurnya, “untung saja!”


__ADS_2