Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 31


__ADS_3

Kamu serius mau temenin aku kan, Ze?” tanya Zevanya.


“Iya, Sayang. Tapi aku boleh minta sesuatu nggak sih?” tanya Zeo.


“Kenapa?” tanya Zeva tak peka. Zeo berdecak. Kenapa sih dia harus jatuh hati pada manusia paling tak peka seperti Zeva? Huh, menyebalkan saja.


“Aku pengen kamu panggil aku kayak aku manggil kamu lohhhh.” Seru Zeo kesal.


“Hah, gimana-gimana?” tanya Zeva, entah memang tidak mengerti atau hanya berniat menggoda Zeo saja. Dasar, Zevanya.


“Ish. Aku pengen kamu manggil aku sayang, S-A-Y-A-N-G.” Zeo mengeja satu persatu huruf dari sayang. Mereka sangat berlagak, ya.


“Iya, Sayangg.” Zevanya lagi-lagi membuat Zeo merasa melayang, tetapi hanya sekejap. Sebab sehabis ini, Zevanya tidak mau lagi memanggil Zeo seperti itu.


“Zevanya.” Geram Zeo. Cukup, Zeo sepertinya marah. Namun, mereka berdua juga sudah sampai di rumah lama Zevanya.


Tepatnya rumah penyiksaan, sebelum Zevanya koma. Kini, Zevanya kembali lagi ke rumah itu. Dia sangat ingin menunjukkan sesuatu, dan Zeopun langsung menyetejui Zeva. Jadilah keduanya berada di sini, di rumah yang tak pantas disebut rumah.


Saat ingin masuk, Zeo menggenggam erat tangan Zevanya. Tanpa perlu dijelaskan seperti apa muka Zevanya saat ini, tapi semua orang akan tahu. Zevanya tengah takut dan mencoba baik-baik saja.


Zevanya melirik ke arah Zeo. Namun, lelaki itu hanya memasang senyum seolah mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meskipun keduanya belum tahu kondisi di dalam rumah itu.


Keduanya masuk dengan percaya diri. Namun, baru juga melangkahkan kaki di pintu utama, paman dan bibi Zevanya datang. Hal itu membuat Zevanya mendelik sekaligus mengeratkan tangannya pada Zeo.


Perasaan Zeo yang sedari tadi tidak karuan pun semakin tidak teratur. Entah ingin senang atau sedih, akhirnya Zeo hanya menunjukkan wajah datarnya pada paman dan bibi Zeva.


“Halo, anak pungut.” Sambut sang bibi yang sudah ada sejak pemberitaan dari pengawalnya bahwa Zeva kembali ke sini.

__ADS_1


“Halo juga bibi.” Cemooh Zeva di akhir kalimat. Bisa dilihat dari mata Zeva bibinya itu sudah menggeram tertahan.


Baru begini saja dia sudah mendesis, lalu bagaimana selanjutnya jika Zeva meneruskan perkataannya. Zeva tampak lelah sekali dengan kondisi seperti ini.


“Kau mau apa ke sini?” tanya paman Zeva to the point, meskipun dia sayang Zeva, tapi hatinya selalu sakit ketika melihat Zeva.


Dia memilih buta untuk tidak tahu kejadian sebenarnya. Dia terlalu takut mencari tahu, sebab dia takut dia akan semakin kecewa dengan Zeva. Apalagi karena Zeva, adik yang dia banggakan sudah meninggal. Mengingat itu dia semakin kesal, kenapa Zeva tidak ikut saja dengan mereka supaya dia tidak perlu seperti ini.


“Untuk memastikan sesuatu yang merupakan inti dari semua masalah.” Zeva memikih untuk tersenyum saja. Namun, bukannya terlihat lucu, senyuman Zeva itu pantas disebut menyeringai.


Tentunya hal itu membuat orang yang melihat Zeva takut. Zeva kemudian terkekeh. Tanpa pamit, dia membawa Zeo yang terdiam kaku untuk naik ke lantai dua, tepat kamarnya berada.


Kamar Zeva sudah mewah sebenarnya. Namun, dilihat dari lingkungan di sini, kamar Zeva terhitung biasa saja. Kali ini, Zeva baru sadar, kasih sayang kakeknya yang luar biasa dan itu membuat Zeva menjadi tak enak.


“Sayang, kamar kamu di mana? Kita kan udah jalan jauh banget.” Zeo bertanya, sebab sedari tadi berjalan, Zevanya dan Zeo sudah melewati hampir 3 kamar. Sebenarnya, di mana kamar Zevanya?


Tak butuh waktu yang begitu lama, Zeva dengan hati yang sedikit gusar membuka pintu kamarnya. Diapun meminta Zeo untuk duduk di kursi yang berada di depan meja, entah meja apa itu. Zeva kemudian membuka pintu lemari.


“Apa itu?” Zeo bertanya kaget. Baru kali ini dia melihat ada jam besar yang tertaruh di dinding dan tertutup lemari.


“Aku juga nggak tau. Semenjak aku bangun dan melihat ini, aku mencarinya di internet. Ternyata, setelah aku perhatikan, jam ini memiliki kesamaan dengan jam di salah satu negara. Aku lupa nama negaranya. Namun, yang aneh adalah, mengapa bisa ada jam sebesar ini di sini.” Pendapat Zeva seraya menatap terus jam di depannya.


“Menurutku, jam ini memiliki misteri. Dan akupun punya pertanyaan yang sama seperti kamu. Tentang jam ini, kamu kok bisa mencarinya di internet?” tanya Zeo semakin aneh. Bukankah di dunianya belum ada internet?


“Ah, e-eum itu. Ya pokoknya ada lah,” gagap Zeva. Benar juga. Lantas kenapa waktu itu dia sudah memiliki barang elektronik ya? Zeva merasa hidupnya aneh.


“Aneh. Kamu aneh. Aku tahu kamu belum siap cerita, yaudah, aku tungguin aja ya.” Zeo tidak tersinggung sama sekali. Dia hanya tersenyum dan berniat menunggu kekasihnya, Zevanya untuk bercerita dengannya.

__ADS_1


“Nah, balik lagi ke topik awal. Kenapa jam ini di sini? Menurut kamu?” Zevanya memerlukan pendapat orang lain saat ini, makanya dia bertanya pada Zeo.


“Menurutku, ini ada hubungannya dengan cerita silsilah keluarga kamu. Terlebih, saat kamu koma. Aku juga mendengar bahwa kamar ini sudah lama tidak dipakai, dan sebelumnya adalah gudang, benar?”


“Iya, memang begitu. Tapi setelah itu dirombak dan akhirnya ini menjadi kamarku.” Zeva mengklaim kebenarannya.


“Apa mungkin jam ini merupakan barang curian?” Zeo bertanya-tanya lagi. Jika Zeva yang tahu ini darilama saja bingung, apalagi dia yang baru ada di hidup Zeva semenjak Zeva bangun.


“Oh iya, aku inget. Pada saat aku ke sini dengan wujud ularku, apakah ini yang kamu tutupin dari aku?”


Bisa-bisanya Zeo ingat. Zeva kan semakin tidak tahu mau menjawab apa. Manik Zeva ke sana ke mari mencari jawaban yang pas untuk tunangannya ini.


“Jujur aja, kamu jangan takut, aku kan gabakal makan kamu.” Kekeh Zeo.


“Eum, iya,” ucap Zeva.


“Tapi kan itu kita belum kenal!” bantah Zeva melanjutkan ucapannya.


“Haha, baiklah, belum kenal. Oke.” Pikiran Zeo sendiri sudah melayang akan rahasianya. Apakah Zeo juga harus jujur dengan Zeva tentang rahasianya? Namun, ini bukan saat yang tepat, menurut Zeo.


“Kita banyak rahasia, ya.” Ucap Zeva. Dia terkekeh tanpa Zeo tahu apa maksudnya.


“Iya banyak, sampe-sampe kita sendiri pusing.” Timpal Zeo. Dia mengakui hal itu.


Zeo berjalan, dia memperhatikan dengan saksama jam itu. Dilihat-lihat tak ada baut atau apapun yang membuatnya menempel di dinding. Sebenarnya, jam apa sih ini?


“Balik ke topik awal lagi. Nah, apakah mungkin itu juga perputaran dimensi?” tanya Zeo. Ini bisa saja masuk ke pikiran Zeo, entah bagaimana ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2