Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 54


__ADS_3

“Aku dulu!”


“Nggak, aku!”


Ribut seperti anak kecil adalah hobi bagi mereka berdua. Ya, dua orang itu adalah Zeovan Azkara dan Kevin Sanjaya. Dua orang yang memiliki daya saing dan pesona yang sangat-sangat memikat.


Namun, ada yang berbeda hari ini. Kedua orang itu tampak membawa bunga mawar masing-masing dan jangan lupakan penampilan mereka yang membuat semua orang klepek-klepek.


“Ih, aku dulu!” Terus saja bertengkar seperti itu, bocah. Kedua manusia yang berusia sekitar 22 tahun itu masing-masing merotasikan mata. Mereka bertengkar dan saling membelakangi.


“Pokoknya dia bakalan terima aku, sih.” Zeo tersenyum sinis. Kevin mendelik. Ini orang kenapa sih, meskipun Kevin juga menyadari bahwa dia hanyalah pemantik, sebab apapun nanti, Zeo lah yang harus dipilih oleh Zeva.


Namun, melihat tingkah Zeo yang seperti ini membuatnya tak yakin untuk melepaskan Zevanya. Apakah benar Zeo sudah bisa menjadi pendamping laki-laki Zevanya sekarang? Melihat tingkahnya yang masih bocah, itu membuat Kevin tak yakin.


***


“Zevanya, maukah kau hidup bersamaku? Seumur hidup kita bersama-sama.” Zeo berlutut di depan Zevanya. Bahkan, perlakuannya mendapatkan teriakan terkejut dari orang-orang yang berada di sana. Para mahasiswa dan mahasiswi yang ingin lewat, serentak menghentikan langkahnya, mereka mengintip dari depan toko.


Saat mereka melihat dua orang lelaki melamar satu orang secara bersamaan. Mereka jujur saja penasaran dengan kelanjutannya. Apakah Zevanya selaku pihak perempuan akan menerimanya, lalu siapa yang diterima, atau malah ditolak. Kan mereka penasaran.


“Ze, apakah kamu mau menerimaku?” tanya Zeo lagi. Sementara Kevin hanya diam. Sudah dibilang, Kevin itu hanya berpura-pura melamar Zevanya. Supaya Zeo gercep dan tidak ditinggal Zeva karena cowok lain.


Sebab, Kevin sudah memiliki targetnya sendiri. Kevin adalah orang yang paling banyak membantu hubungan keduanya, entah di dunia lama yang punya banyak Bangsa-bangsa ataupun dunia modern yang sudah punya rumah-rumah mewah.


Kevin adalah Wollfi. Dia bisa ada di dunia modern ini berkat bantuan Zevanya dan Para Peri. Bayangkan saja, jika Zevanya jadi menikah dengan Wollfi kemarin, mereka tidak mungkin ada di sini.

__ADS_1


Meskipun Zeo belum menyadari kebenaran tentang dia yang pernah menjadi Pangeran Mahkota dan perasaannya, Kevin sendiri sudah tahu dan paham semuanya. Bahkan, Kevin sudah memprediksi bahwasannya jika Zeo tidak bergerak cepat, maka Zeo akan kesusahan. Sebab garis takdir sangat mudah berubah.


Apalagi, diikuti dengan hawa nafsu seorang manusia, jadi takdir bisa berubah-ubah. Jadinya jika sudah tahu takdir yang akan menghampiri seperti apa, kita harus bergerak cepat untuk mengambil peluang. Sama seperti yang sering Zeo lalui, takdir seringkali mempermainkan orang-orang yang tidak tahu apa-apa.


Namun, bukanlah salah takdir yang tidak memberitahu manusia. Akan tetapi kendali manusia terhadap dirinya sendiri masihlah sangat minim. Alhasil, jika mereka sudah terjebak hawa nafsu, mereka akan saling tertarik dan memiliki keterikatan.


Manusia memang sama-sama manusia. Namun, satu dan lain manusia dapat menjadi berbeda. Ya, begitulah juga dengan kisah yang terkait dengan Zeo, Zevanya, dan Kevin.


Zevanya bingung sendiri dengan keputusannya. Dia harus ngapain? Supaya kedua manusia yang tengah bersujud itu tidak tersinggung. Sungguh, Zevanya sangat takut dengan kejadian seperti ini. Ketika dua orang manusia melamarnya, siapa yang harus Zevanya terima? Terlebih, Zevanya baru mengenal keduanya beberapa hari ini di era ini.


Jika di era dinasti, Zevanya mah sudah kenal sekali. Namun, bisa saja hal yang Zevanya anggap sama itu malah berbeda. Bahkan, sebenarnya Zevanya tidak ada niat untuk memiliki hubungan yang serius dengan manusia. Tapi, sungguh. Huh. Zevanya bingung sekali.


“Kalian pulang dulu, jawabannya bakal aku jawab kapan-kapan.” Zevanya menurunkan titahnya setengah bercanda. Dia tidak ingin serius sekali, tetapi sepertinya kedua orang itu malah menganggap serius.


“Terima dulu bungaku,” ucap Zeo. Dia terlihat memohon sekali dan mengeluarkan muka yang paling membuat Zevanya merasa kasihan.


Namun, sayang demi sayang, inilah Zevanya. Dia malu ketika disoraki untuk menjawab. Masalahnya, yang jadi pertimbangan adalah hati dari salah satu cowok.


“Kamu mau menerima bungaku juga nggak?” tanya Kevin. Dia juga malu. Apa-apaan berlutut begini, ah, sepertinya julukan sad boy akan segera didapatkan oleh Kevin. Menjelang setelah Zeo diterima oleh Zevanya. Kevin mendengus melihat itu.


“Langsung jalan ke pelaminan aja gimana kak?” Memang sih, sedari awal, Zevanya sudah kepincut sama pesona Kevin.


“Kamu menerimaku?” Kevin memastikan. Sebab, harusnya Zevanya tahu bahwa Zevanya nggak boleh menerima lamaran darinya. Ini Zevanya serius atau hanya sedang menggodanya?


“Nggak sih, soalnya aku bingung.” Lalu, Zevanya terkekeh. Sementara Zeo menghela napasnya, sudah salah tadi dia ketar-ketir bahwa Zevanya akan menolaknya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Zevanya langsung pergi menuju kamar atas dan masuk. Dia sama sekali tidak menyapa kakak dan adiknya yang sedang berkumpul di sofa. Hal itu membuat keduanya bingung.


“Kakak kenapa?” tanya Miko heran, tidak biasanya Kak Zevanya pulang dengan wajah muram dan tidak menyapanya sama sekali. Sebenarnya Miko sedih, sih.


“Putus cinta,” kekeh Vania. Dia hanya bercanda sih.


“Kakak diputusin siapa?” tanya Miko. Meskipun masih kecil, Miko sudah paham dengan pacar-pacaran. Jadi, tidak heran dia bertanya begitu.


Keduanya lantas asik membicarakan Zevanya, tapi itu hanya candaan keduanya. Namun, naas sekali saat mereka masih membicarakan Zevanya, orangnya turun dan duduk di karpet bulu itu. Huh.


Mereka ketar-ketir, Zevanya dengar atau tidak ya. Tapi dilihat dari interaksi Zevanya yang sama sekali tidak marah pada keduanya, sepertinya Zevanya tidak mendengarnya kan?


“Kakak sama adek tadi ngomongin aku?” tanya Zevanya meneliksik. Meski matanya menatap layar ipadnya, dia menujukan pertanyaan itu untuk Vania dan Miko.


Sudah sedikit tenang, eh malah ditambah ketar-ketir. Wajah mereka berubah pias, mereka takut Zevanya ngambek. Soalnya ngambeknya cewek bisa mengurung diri di kamar.


“Hanya gurauan sayangkuh.” Diiringi dengan kekehan Vania.


Dia menguyel-uyel pipi Zevanya membuat Zevanya sendiri mendengus. Apa-apaan kakaknya ini.


“Gatau ah, kesel sama kakak!” Zevanya memilih merajuk saja. Dia pergi ke kamarnya lagi dan diam di sana.


Zevanya membuka ponselnya, terdapat pesan dari Kevin, entah Kevin dapat nomornya dari mana.


Kevin: “Zevanya, kamu tahu perjanjian yang pernah kita buat kan? Apakah kamu mau mengingkarinya?”

__ADS_1


Singkat memang pesannya, tetapi itu membuat Zevanya yakin. Dia harus segera menjawab pernyataan bodoh Zeo.


“Halo, Zeo. Apakah tawaran kamu masih berlaku? Aku sudah siap untuk kamu bawa ke pelaminan.”


__ADS_2