
“Ihh, Zeo di mana, ya.” Gerutu Zeva. Dia uring-uringan beberapa jam ini.
Zeva memutari kamarnya, membuka segala sesuatu yang bisa dibukanya. Mengacak-acak isi lemarinya. Membuat kain yang tertempel di ranjangnya terbuka. Kamar Zeva persis kapal pecah.
Tidak ada Miya, atau siapapun. Zeva kesepian. Rasanya semenjak dia hidup, baru kali ini dia merasa kesepian. Oh, astaga, Zeva bisa gila jika begini.
Zeva bahkan dengan gabutnya mengecat dinding, tentunya bukan dengan cat dinding. Namun, Zeva dengan ide kreatifnya mewarnai seluruh dinding di kamarnya. Sangat bocah. Entah apa yang akan dikatakan orang jika melihat kamarnya. Namun, ingatlah. Zeva tidak akan peduli dengan segala halnya.
Menurut Zevanya Laureen ini adalah kamarnya dan dia bebas untuk melakukan apa saja. Tanpa larangan, peringatan, atau apapun yang bisa mengganggu ketentraman hidupnya.
Ketika dia sudah menjadi Ratu Walcott juga, dia tampak tak ada bedanya seperti ini. Masih sangat kekanak-kanakan dan absurd. Zevanya tampaknya tak tahu jika pekerjaan Walcott sudah banyak menantinya.
Zeva berguling-guling di kasurnya. Dia tidak tahan dengan situasi seperti ini, tetapi dia tidak bisa berbuat apapun juga. Zeva benar-benar frustasi.
“Aku pengen ketemu Zeoooooo.” Teriak Zeva kesal. Oh, Zeo. Kamu telah membuat anak orang menjadi sangat-sangat kehilangan karena kamu tidak ada.
Perlahan-lahan, Zevanya terlelap dalam indahnya dunia tidur. Yap, benar, Zevanya tertidur di tengah-tengah serakan kamarnya. Oh tidak, tepatnya kapal pecah.
Entah kapan pastinya, kakek Theo masuk dan mengelus surai Zeva. Dia tidak tega sebenarnya, tetapi mau bagaimana lagi? Dia sudah terikat janji sebelum Zevanya terbangun dari komanya.
Ya, terikat janji dari mana-mana. Tentunya itu semua berhubungan dengan Zevanya. Terkadang, kakek Theo merasa kasihan, tapi dialah dalangnya yang membuat ikatan janji itu. Jadi, Theo Walcott bisa apa? Menyesali? Tidak mungkin! Theo tidak akan pernah menyesal akan keputusannya yang sudah dibuatnya.
Setelah itu, Theo Walcott keluar dari kamar cucunya dan bertemu dengan sepasang kekasih yang hendak menikah. Entah siapa kekasih yang dimaksud itu.
__ADS_1
“Aku di mana?” tanya Zevanya pada dirinya sendiri.
Zevanya tidak tahu dirinya ada di mana, dia ingin tahu tapi tak tahu. Jadilah, dia hanya berjalan-jalan sesuai dengan kata hatinya. Zevanya tidak tahu mana yang dia tuju, ataupun tujuannya. Benar sekali, dia hanya mengikuti kata hatinya.
Zevanya terus berjalan-jalan. Suasana di sini sangat menyejukkan. Pepohonan yang rindang, bunga-bunga bermekaran dengan berbagai warna. Kupu-kupu dan lebah yang saling membantu. Asri, menyenangkan, dan juga membahagiakan hati.
Zevanya merasa ingin terus berada di sini. Berada di tempat yang membuatnya tak menemukan siapapun, tetapi merasa senang. Lihatlah, pemandangan di sekitar saja sudah membuat Zevanya terbuai, apalagi jika Zevanya tinggal di sini, pikirnya.
Zevanya, dirinya kembali melangkahkan kaki di atas rerumputan hijau. Dia melangkah sampai lelah dan berteduh di bawah pohon.
Jika biasa ketika Zevanya lelah dirinya akan merasa kepanasan. Maka, disinilah dia hanya merasakan capek. Seterik apapun sinar matahari yang menyinari dunia ini, Zevanya tidak merasa kepanasan.
Padahal, jika dilihat-lihat, lebih panas di sini, tetapi semuanya berbanding terbalik dengan panas yang biasa dirasakan Zevanya. Eh, kok malah bahas matahari? Aneh.
Namun, sedari tadi, sejauh apapun mata Zeva memandang dunia peri ini. Yup, ini dunia peri, dunia di mana manusia baik yang sudah meninggal akan ada di sini.
Benar, Zeva tidak menyadari kehadiran peri-peri yang selalu duduk di atas pohon. Entah ngumpet atau ingin menampakkan dirinya, mereka sepakat duduk di atas pohon.
Tak ada satupun peri yang bekerja seperti biasa, semua peri itu kompak dan membuat Zeva tidak sadar kehadirannya. Bahkan, peri-peri itu hanya berkomunikasi lewat tatapan.
Mereka tidak sesabar itu menunggu Zeva sadar kehadiran mereka. Waktu Zeva untuk berada di dunia peri sangatlah sedikit, bahkan, terhitung 30 menit dari sekarang, Zeva sudah harus kembali ke alamnya.
Demi melancarkan aksi mereka, ibu peri alias malaikat yang bertugas menjaga alam peri turun untuk menyambut Zeva yang duduk.
__ADS_1
Awalnya Zeva terkejut, sebab ibu peri muncul dari atas pohon dan berpakaian sangat cantik, jangan lupakan kedua sayapnya yang berkepak dan kaki yang tak menyentuh lantai.
Zevanya menatap ke pohon, dia menatap peri-peri yang tertawa garing itu yang juga sedang menatap ke arahnya. Zevanya kaget, berarti dia diperhatikan sejak tadi? Oh gosh, bagaimana bisa Zevanya tidak sadar?
“Zevanya, anakku sayang, bisakah kamu mengikuti aku?” tanya ibu peri. Dia tidak bisa menyentuh Zevanya, sebab jika dia menyentuh Zevanya, itu artinya sudah kewajiban Zevanya untuk kembali ke dunia asalnya.
“Baik, ibu.” Reflek Zevanya yang kemudian memukul mulutnya sendiri. Ibu peri sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Waktunya semakin berkurang.
“Sudah, ayo.” Mereka duduk di dalam ruangan yang merupakan ruangan para peri beristirahat.
“Ibu ingin menyampaikan sesuatu untuk kamu. Ibu tahu kamu manusia biasa, tetapi kamu bukanlah manusia yang berada di dimensi ini. Salah satu upaya untuk mencegah keterjebakkan kamu, ialah dengan cara memproteksi diri kamu, terutama hati kamu.” Ujarnya masih dengan penuh teka-teki.
“Ya, ibu tahu kamu sudah jatuh cinta dengan pangeran istana itu, benar kan?” ucap ibu peri membuat Zevanya mengangguk.
“Ibu hanya meminta kamu untuk memproteksi diri kamu. Kamu sudah terjebak di dunia lain, jika kamu juga terjebak dalam perasaannya, kamu tidak akan bisa kembali dan terus mengulangi kehidupan yang sama. Bukan berarti kamu harus menghilangkan perasaan itu. Namun, kamu harus menjaga jarak agar perasaan itu tak semakin dalam.” Jelasnya.
Dalam benak Zevanya bertanya-tanya, tapi Zevanya tak berani mengeluarkan pertanyaannya secara blak-blakan.
“Ibu sebenarnya mau menberitahu, jika niatmu untuk bersamanya dipaksakan, kedepannya juga tidak akan baik. Kamu harus membantu untuk segala halnya terjadi dengan niat awal atau tepatnya kamu bisa meraih tujuanmu. Kamu bisa membuat dia sebagai jalan yang membantumu untuk menyelesaikan misi, juga bisa untuk kekasih, tapi bukan di dunia ini. Dengarkan ibu, kamu tidak boleh menikah dengan pangeran itu di dunia ini. Atau dunia yang menguasaimu saat ini akan hancur.” Peringat ibu peri.
“Ibu, gawat! Kita harus kembalikan dia.” Ucapnya terengah-engah. Zevanya tidak mengerti. Sementara ibu peri itu menghela napas panjang, dia tidak rela sebenarnya.
“Baiklah, nak. Mungkin saat yang lain kita akan bertemu lagi.”
__ADS_1
Dia mengusap surai rambutku dan Zevanya baru menyadari, bahwa itu mimpi. Namun, mengapa semua terasa seperti nyata? Apakah Zevanya mengalami halusinasi?