
“Kenapa aku ada di sini lagi?” tanya Zeva, dirinya masih sedih dan teringat dengan kejadian sewaktu itu. Iya, benar. Sewaktu Zeva harus mencari benang merah kembali.
Flashback on.
“Kamu harus mencarinya dengan usahamu sendiri, saya hanya bisa membantu kamu dengan melindungi kamu dari sini. Jika kamu bisa kembali, berarti kamu adalah orang terpilih.” Ucap Peri Natha.
“Tapi kalau aku gak bisa kembali?” tanya Zeva, dia juga takut harus pergi sendiri.
“Kamu akan terjebak di sana selamanya sampai ada yang menjemput kamu. Kamu nggak akan bisa kembali ke sini dan juga kamu nggak akan bisa kembali ke dunia, itu sampai mereka, tepatnya manusia lain pergi ke sana juga.” Peri Natha kembali menjelaskan dengan saksama.
Peri Natha harus memastikan bahwa Zevanya akan menyelesaikan tantangan tersebut dan tidak terjebak keindahan yang ada di sana. Sebab, bisa saja Zevanya mati ketika terjebak di sana. Perbedaan suhu yang tinggi membuat orang-orang tersesat di sana.
Bayangkan saja, di belakang Gunung itu adalah kawah bersalju. Seharusnya jika bersalju kawah-kawah itu, beku juga, benar? Namun, nyatanya tidak seperti itu. Meskipun biasa kawah-kawah yang ada di bumi adalah kawah panas, di sini, adalah kawah bersalju dengan dingin yang melebihi rata-rata. Bahkan, konon katanya, manusia ataupun peri yang termakan kawah di sana akan mengalami kehidupan berulang selama 10000 tahun. Entah benar atau tidak, tetapi seorangpun tidak pernah membuktikkannya, mereka hanya percaya dengan mitos-mitos yang beredar.
“Oke, aku Cuma bisa membekali kamu dengan pengetahuanku. Maafkan aku lagi, sebab aku tidak bisa ikut menemani kamu.” Ya, konsekuensi yang harus diterima Zevanya karena sudah tidak hati-hati. Bayangkan saja, sudah pasti nantinya Zevanya akan kelelahan, tetapi untuk kembali ke dunia dia yang sebenarnya, mengapa tidak?
Zevanya dengan niat, tekad, semangat, dan kepercayaan dirinya mulai keluar dari tempat Peri Natha. Ditemani Ibu Peri sampai sebuah papan jalan yang menunjukkan bahwa tidak boleh ada yang masuk. Namun, ini demi kelancaran misi itu, jadi mau tidak mau Zevanya harus tetap masuk dan mengabaikan larangan itu.
__ADS_1
“Lancar, ya, anakku.” Ibu Peri itu tampak seperti akan kehilangan Zevanya dalam kurun waktu yang lama.
Mereka berdadah-dadah ria sebelum Zevanya memutuskan pergi untuk melanjutkan perjalanannya ke dunia asalnya. “Zeva pamit ya, doakan Zeva selamat dalam perjalanan agar nanti bisa berkunjung kemari lagi.” Semakin lama di sini, sejujurnya Zeva semakin betah dan tidak ingin kembali ke bumi. Namun, jika kehilangan dia, apa kabar dengan kehidupannya di bumi yang belum selesai? Juga, Para Peri di sini tampak tidak mau menampung keberadaan Zevanya.
Zevanya terus menyusuri jalanan bersalju itu dengan keberaniannya. Meskipun berkelok-kelok dan Zevanya harus merasakan tergelincir beberapa kali, tetapi itu tak mnegurungkan niat Zevanya. Ya, Zevanya berjalan-jalan sembari melihat ke arah kiri dan kanan jalanan itu.
Dia kembali mengingat Peri Natha “benang merah itu akan muncul saat kamu sedang berjalan. Terus berjalan saja, sebab di Gunung itu, kamu tidak akan menemukan jalan keluar, selain benang merah yang sangat tipis itu. Kamu harus selalu melihat-lihat sekelilingmu, ya.” Itu pesan dari Peri Natha. Tentu saja Zevanya akan ikuti, dia percaya dengan Peri Natha, mana mungkin peri sebaik dirinya akan berbohong.
Berhasil, setelah berjalan sangat lama dan tergelincir hampir 20 kali, Zevanya berhasil menemukan benang merah yang sangat tipis itu.
Namun, Zevanya lupa. Dia lupa bertanya kepada Peri Natha, apa yang harus dia lakukan jika sudah bertemu dengan benang merah seperti ini. Dilanda kebingungan, benang merah bergoyang seperti tertiup angin. Namun, jika dipikir-pikir, apakah ada angin di negeri bersalju ini?
Zevanya mengusap pinggangnya yang sakit. Kenapa ada naga seputih itu di sini? Oh, astaga, apa dia yang berusaha jahil pada Zevanya barusan. Sebab, Zevanya dapat melihat bahwa naga itu tertawa terpingkal-pingkal.
Flashback off.
Seperti yang pernah Zevanya ucapkan, tanpa peringatan, dan segala sesuatu yang dipersiapkan, Zevanya kembali ke rumah lamanya dan menarik benang merah di dalam sana. Namun, karena kali ini Zevanya lebih mahir, dia segera beranjak ke rumah Ibu Peri. Entahlah, tapi sepertinya dia sedang merindukan Ibu Peri. Ibu yang seperti ibu kandung Zevanya sendiri.
__ADS_1
Saat melihat peri lain, tanpa aba-aba Zevanya beringsut dan menuju ke kamar Ibu Peri, dan hasilnya kosong, biasanya Ibu Peri berada di ruang obat-obatannya, jadi Zevanya langsung ke sana saja.
Dari luar, Zevanya dapat mendengarkan dengan jelas percakapan Ibu Peri dengan seseorang yang terasa tidak asing bagi Zevanya. Bukannya masuk, Zevanya memilih untuk mendengarkan percakapan itu dari balik pintu sembari memastikan orang yang mengunjungi Ibu Peri itu.
“Iya, Bu, saya hanya mau minta obat kejujuran.” Ucap seseorang yang tidak tahu siapa, dan apa jenisnya.
“Kamu serius? Obat itu sangat langka, loh. Juga efek sampingnya tidak main-main.” Beritahu Ibu Peri. Ya, Zevanya sudah pasti hapal suara ini, dari awal ke sini juga, suara itulah yang membisikkan dan menghidupi telinganya yang kosong di sini.
“Zeo tahu, Bu. Tapi Zeo yakin, kalau Zeo nggak pake itu, dia nggak akan bisa jujur.”
Ternyata, orang itu adalah Zeo. Namun, untuk apa Zeo meminta obat kejujuran? Apa fungsinya? Untuk siapa? Dan juga, tadi mereka membahas efek samping, ya? Zeva jadi semakin tertarik untuk mendengarkan pembahasaan kali ini.
“Ibu tahu, Zeo. Dia juga sering kemari, tapi Ibu yakin, untuk setiap masalahnya, dia pasti punya caranya sendiri, dan dia tidak semudah yang kamu pikirkan. Coba, sudah berapa kali ibu bilang ini? Kamu hanya perlu menunggu sampai semuanya baik-baik saja, atau keributan yang terjadi sangat besar. Di antara kedua itu, barulah dia akan jujur. Ayo, tunggulah, akan ada saatnya dia bercerita dengan kamu kok.”
Siapa arti dia? Mereka sedang membahas apa? Sungguh, Zeva ingin sekali membuka pintu itu dan bertanya ini dan itu. Namun, Zeva sadar ranahnya bukan untuk itu. Zeva datang ke sini bukan untuk bertemu dengan Zeo, jadilah mati-matian Zeva menahan rasa ini.
“Sampai kapan Bu? Ibu sudah berucap seperti ini untuk kehidupanku yang ketiga kalinya. Mau sampai kapan aku tidak tenang? Apakah aku harus mati, lalu menjadi arwah penasaran yang kemudian kembali lagi hanya untuk misteri yang dia sembunyikan secara rapat itu?”
__ADS_1
“Iya, itu adalah salah satu penebusan kesalahan kalian di masa dulu sekali. Ibu beritahu kamu, ini semua ada hubungannya dengan Zevanya, tunangan kamu,” ucapnya.