
“Turun! Turun! Turun!” Warga Bangsa Rayon berkumpul di luar gerbang keluarga Walcott. Mereka terus menyoraki agar keluarga Walcott turun menemui mereka.
Namun, apa yang mereka lakukan urung mendapatkan respon dari keluarga Walcott. Mereka masih sibuk dengan kesiapannya diri mereka sendiri. Tentu saja begitu, sebab saat ini jam masih menunjukkan pukul lima pagi.
Bangsa Rayon sangat rajin, bukan? Jika biasanya jam lima pagi orang-orang masih tertidur, bangsa Rayon sudah berkumpul dan meneriakkan keluarga Walcott.
Sejujurnya, Bangsa Rayon tidak sadar diri. Selama ini yang membiarkan mereka tetap hidup dan berkumpul dengan tenang adalah keluarga Walcott. Namun, di saat seperti ini, mereka malah membela dan bahkan siap dengan seluruh caci maki yang sudah mereka keluarkan sedari tadi.
“Huh, siapa yang bertengkar dan membuat berisik sih, Bi?” tanya Zeva pada pelayannya. Sungguh telinganya sudah sangat gatal. Teriakan mereka berhasil menembus lantai dua rumsh keluarga Walcott dan membuat Zeva mengaduh tentang teriakan-teriakan itu.
“Orang-orang di Bangsa ini, Ratu.” Pelayan pribadi Zeva menjawab dengan sangat hormat. Kemudian, hanya dibalas deheman. Baiklah, Zeva mengerti, tetapi memangnya ada masalah apa yang terjadi di sini?
Mengenai pelayan pribadi, Miya sudah resmi tidak bekerja dan menjadi tante dari Zevanya. Namun, dengan status barunya yang seperti itu, membuat hubungan mereka tidak sebebas dulu, juga Miya yang saat ini mengandung menyulitkan Zevanya untuk berkomunikasi, mengingat suami Miya sangatlah over protektif.
Zevanya mendengus kembali mengingat hal itu, karena keberadaan suami Miya membuatnya tak bisa bercerita apa saja terhadap Miya. Miya yang dulu Zevanya anggap sebagai kakaknya sudah hilang, berganti status.
“Ada apa ini?” tanya Zevanya saat turun.
“Ratu, anda jangan turun dan jangan menemui mereka,” ucap salah seorang pengawal. Dia berucap dengan sedikit terbata dan takut-takut. Hal itu membuat Zevanya semakin heran dengan tingkah lakunya.
Zevanya menghentikan langkahnya saat sampai di ujung tangga, “kenapa?” tanya Zevanya.
__ADS_1
“Kami mohon, jangan keluar, Ratu.” Mereka terus menghalangi Zeva tanpa memberitahu alasannya. Sementara, Zevanya sendiri sudah gemas dan sangat penasaran tentang apa yang sedang terjadi di luar sana. Zevanya merasa gerah sebab dari pagi namanya dipanggil-panggil.
“Ratu, kami mohon di dalam saja.”
Semua pengawal dan prajurit keluarga Walcott tetap setia menghalangi Nona mereka alias Ratu Walcott. Mereka bekerja sama agar Ratu mereka tidak keluar. Sebab, di luar sana sudah banyak keributan yang terjadi. Bisa-bisa Zevanya shock parah jika melihatnya.
Para pengawal itu tidak mau Ratu mereka kenapa-kenapa, meskipun mereka sudah kurang percaya dengan Ratu saat ini, mereka tetap harus setia dengan Walcott apapun yang terjadi, itu ada dalam kontrak kerja mereka yang terikat sampai mereka berumur 50 tahun.
Namun, angan tetaplah menjadi angan. Zevanya adalah Zevanya. Semua yang dia inginkan harus berhasil apapun dan bagaimanapun caranya. Alhasil, dengan mengelabui para penjaga yang menghalanginya, Zevanya berhasil keluar dan dia bisa melihat seluruh penduduk Walcott berkumpul dan menggedor-gedor gerbang rumah Keluarga Besar Theo Walcott.
Zevanya tidak dapat berkata-kata saat manik matanya melihat ke bawah dan berhasil menemukan kertas yang bertuliskan, “Penjahat Berkedok Raja” disertai beberapa foto yang menampilkan diri Zevanya sendiri.
Sungguh mengerikan! Untung saja jarak dari tempat Zevanya berdiri dan gerbang itu sangat jauh. Jadi, Zevanya tidak terkena lemparan itu, hanya halaman saja yang cukup kotor.
“Mohon maaf sebelumnya, tetapi anda harus ikut kami.” Ucap seseorang yang merupakan utusan dari kerajaan. Ya, isu tersebut sudah meluas dan terdengar sampai ke kerajaan, entah siapa yang berani menyenggol Zevanya.
Namun, jika berita itu tidak benar, pasti nantinya orang itulah yang menggantikan posisi Zevanya saat ini. Ya, Zevanya dibawa dan dikurung di penjara bawah tanah milik kerajaan. Meskipun belum pasti rumor itu benar atau tidak, tetapi Raja yang merupakan musuh bebuyutan Zevanya malah mengeluarkan hukuman seperti itu.
Sementara, para warga masih saja mengalami shock, berarti praduga mereka sedari semalam adalah benar? Namun, beberapa warga lain juga bersikap acuh tak acuh, tetapi otak mereka adalah sebaliknya, mereka kaget dan merasa tidak berguna. Apakah benar Ratu mereka terlibat perdagangan haram?
Sungguh tak bisa dikata, bisa-bisanya Sang Ratu mengalami hal seperti itu. Mereka pikir Ratu baru ini adalah orang baik-baik. Namun, nyatanya itu hanyalah sebatas dari pemikiran mereka saja.
__ADS_1
“Ayah, mana mungkin tunanganku melakukan hal seperti itu?” Zeo mati-matian membela Zevanya. Dia tidak percaya dengan rumor itu, meskipun otaknya beberapa kali mencari kebenaran, tetapi hatinya tahu, Zevanya tidak seperti itu.
“Mantan! Mantan tunangan! Ayah sudah membuang status tunangan kamu dengannya! Jangan macam-macam! Ayah sudah pasti tahu apa yang menurut ayah adalah yang terbaik.” Seru Tuan Petrus selaku Raja dari Bangsa yang dipimpinnya.
“Tapi Ayah, Zevanya–“
“Apa yang kamu pikirkan pasti salah. Lebih baik kamu diam, pikirkan pertarunganmubyang sebentar lagi, bukan membela dia yang bukan siapa-siapa! Jabatan bukan berarti sifat sesungguhnya.” Ucap Sang Raja.
“Huh, Ayah. Baik-baik. TAPI AKU AKAN MENCARI TAHU SENDIRI!” teriak Zeo di akhir kalimatnya. Dia percaya Zevanya tidak seperti itu.
“Matamu mencari tahu. Ayah bahkan sudah menutup semuanya.” Gumam Sang Raja yang merupakan ayah dari Zeo itu. Dia janji akan membiarkan kesalahpahaman ini terus berlanjut dan membuat Zevanya mendekam sampai ajal menjemputnya di penjara itu.
Penjara yang sangat sunyi, gelap, bau amis, dan bahkan tidak layak disebut penjara, sebab di sana terdapat seorang buaya yang siap menerkam mangsanya ketika dia lapar.
Zevanya sudah menangis ketakutan sedari tadi, satu ruangan dengan seorang buaya alias laki-laki yang berperawakan seram membuat Zevanya takut, sangat-sangat takut. Badannya gemetar, bahkan matanya sudah sangat sembab. Mau bagaimanapun dia meyakinkan diri sendiri, hawa takut itu tetap menyerangnya.
Jabatannya sebagai ratu dan tunangan pangeran mahkota kandas begitu saja. Yang ada, dia harus merasakan dinginnya penjara bersama seorang lelaki, dan juga lapar yang bertubi-tubi. Badannya bahkan memar-memar.
Meskipun faktanya masih belum jelas selama 4 hari ini, tetapi Zeo terus berusaha dan mengusahakan mencari kebenarannya. Bahkan, selama Zeo mencari, diapun juga belum tidur dengan nyenyak. Sungguh perjuangan yang sangat berarti bagi Zeo.
Sementara, sudah beberapa kali Zeo mengintrogasi Tuan Petrus dan beberapa anak buahnya, tetapi hasilnya nihil. Mereka semua tutup mulut yang membuat Zeo curiga, bahwa itu adalah kerjaan ayahnya sendiri. Mengingat mereka berdua pernah berantem di saat itu, saat mereka ada di padang pasir. Tidak menutup kemungkinan, benar bukan?a
__ADS_1