Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain
Bab 33


__ADS_3

“Ayo kita bertarung!” Ayahanda Zeo sekaligus pelaku pembunuhan orang tua angkat Zevanya.


“Ayo. Memangnya siapa yang akan takut melawan pecundang seperti dirimu?” tanya Zevanya, dia bermaksud meremehkan lawan di depannya ini. Namun, bukannya kesal, orang itu malah terkekeh.


Menurut dia, tingkah Zevanya ini sangat lucu. Padahal kekuasaan dia masih lebih tinggi daripada Zeva, tapi orang ini lebih memilih untuk tetap ikut campur.


Mereka berdua sepakat untuk bertarung di Padang gurun. Dengan senjata yang dimiliki Zeva saat ini, yakni pedang, Zeva setuju saja untuk bertarung.


Dia sudah terlanjur kesal, pikiran Zeva sudah tertutup oleh api kekesalan yang membutakannya. Zeva tidak sadar akan resiko yang besar, terlebih orang yang mengaku sebagai ayahanda Zeo ialah orang yang memiliki ilmu spiritual sangat tinggi. Namun, itu tak membuat Zeva mundur, dia semakin tertantang untuk melawannya.


Kini, keduanya sudah berada di padang gurun, atau padang pasir tepatnya. Tempat luas yang dipenuhi pasir tanpa air yang bisa dilihat. Semuanya tampak jelas dengan pasir.


Gersang dan panas sudah pasti, mataharipun tampak sangat menyinari tempat yang dipenuhi pasir. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat kedua orang yang hendak bertarung.


“Kau benar-benar mau melawanku?” tanya Ayahanda Zeo berdesis. Dia masih tidak percaya dan ingin bermain-main dulu dengan orang ini.


“Tentu saja, Tuan Petrus.”


Zeva membuka telapak tangannya, dan muncullah pedang dari sana. Hal itu membuat Tuan Petrus alias ayahanda Zeo tersenyum miring. Ternyata kemampuan Zeva sudah sangat meningkat dari dulu.


“Baguslah. Jadi mungkin kamu tidak akan mati seperti kedua orang yang sangat buta denganmu. Bahkan, mereka rela mempermalukan diri mereka di hadapan orang-orang untukmu. Mereka juga rela mati demi kamu, sungguh anak yang tidak tahu diuntung,” cemooh Tuan Petrus.


“Haha. Gila aja, anda, Tuan. Saya ini hanya anak yang tidak tahu apa-apa. Layakkah anda menyalahkan saya?” tanya Zeva. Meskipun sudut hatinya sudah teriris. Apakah benar ini salahnya?

__ADS_1


“Apa yang saya katakan pastinya benar. Kamu nggak mungkin nggak tahu bahwa saya jujur, terlebih dengan kemampuanmu yang sudah di tingkat master itu kan?” tanya Tuan Petrus lagi. Kali ini lebih membuat otak Zeva kacau. Zevanya tidak sekuat itu. Baru seperti ini saja Zevanya sudah kalah mental.


Zevanya sejujurnya sangat kaget. Bagaimana Tuan Petrus tahu tingkat kemampuan yang dia miliki? Sejauh mana Tuan Petrus memiliki kekuatan? Apakah sudah di tingkat tertinggi? Zevanya mulai terkecoh.


Sedari tadi, Tuan Petrus sama sekali tidak mengeluarkan senjatanya. Dia hanya mengatakan sesuatu yang membuat pikiran Zevanya kacau. Nampaknya dia mengetahui dengan jelas kemampuan dan kelemahan Zevanya.


“Kau sudah pasti ingat dengan jelas kejadian di tahun itu. Namun, kau juga tidak tahu dengan jelas kejadian sebenarnya. Jadi, siapa yang perlu disalahkan? Aku atau orang tuamu?” tanya Tian Petrus. Dirinya kembali memantik api kemarahan yang ada di dalam diri Zevanya Laureen.


Api kemarahan sudah berkobar-kobar di dada Zevanya. Dia dengan cepat memegang pedangnya dengan benar. Mata Zevanya juga dapat dikatakan sudah memerah dengan sempurna saat ini.


Zevanya maju menyerang Tuan Petrus dengan kemarahan di dadanya. Dia sudah muak dengan basa-basi yang dilontarkan Tuan Petrus selaku ayahanda Zeo.


Zevanya sudah tidak peduli lagi dengan siapa dirinya akan bertarung. Zevanya hanya ingin meluapkan kemarahannya. Selain itu, Zevanya juga tidak terima keluarganya, yakni orang tua angkat Zevanya itu disalahkan dalam kejadian ini.


Zevanya kembali menyerang Tuan Petrus. Bukannya kena, Tuan Petrus dengan mudahnya berpindah tempat. Bukannya sadar dengan trik yang dimainkan Tuan Petrus, Zevanya selaku Ratu Walcott itu malah semakin marah.


Berkali-kali Zevanya menyerang Tuan Petrus. Namun, tidak ada satupun yang berhasil. Akhirnya, Zevanya berdiri kembali dengan pedang itu sebagai tumpuannya. Muka Zevanya sudah tak berbentuk alias tertutup hampir seluruhnya dengan pasir.


Muka Zevanya juga termasuk kulit yang sensitif, alhasil, ruam kemerahan juga sudah mulai tampak, mulai dari pipinya yang paling banyak pasir itu. Zevanya menatap Tuan Petrus tajam.


Lagi dan lagi, bukannya takut, Tuan Petrus hanya terkekeh geli. Dia merasa sangat-sangat lucu dengan tingkah Zevanya saat ini. Apakah Zevanya tengah berniat untuk melakukan hal konyol dengan pasir yang banyak di wajahnya itu? Ada-ada saja. Tuan Petrus terkekeh, dia membayangkan seluruh tubuh Zevanya yang akan memerah.


“Sudah? Sudah lelah?” tanya Tuan Petrus. Dia terkekeh menyeramkan, bahkan Zeva mengakui bahwa diapun turut takut dengan kekehannya yang mirip dengan seringaian itu.

__ADS_1


“Tentu tidak. Kau lah yang pecundang, Tuan. Hanya menghindar tanpa berani menyerangku.” Provokasi Zevanya. Ulahnya itu berhasil membuat Tuan Petrus kesal.


Tuan Petrus mengumpulkan sejumlah kekuatan di kedua tangannya kemudian menyerang Zevanya. Sebelum Zevanya kena dan sempat menghindar, sebuah pelindung terbentuk di depan Zevanya.


Tuan Petrus terkejut, tapi dia berusaha menampakkan wajah datarnya agar dirinya tak terlihat kaget. Namun, di sini, bukan hanya Tuan Petrus saja yang kaget, melainkan Zevanya juga. Darimana perisai pelindung itu? Begitulah kira-kira yang menjadi pertanyaan Zevanya.


Tuan Petrus tidak menyerah. Dia kembali mengumpulkan kekuatannya. Berhasil. Pelindung alias perisai itu berhasil ditembusnya dengan Zeva yang kembali terjatuh ke pasir.


Serangan darinya tidak main-main. Dia berhasil membuat Zevanya terbatuk darah. Hal itu seharusnya tidak boleh terjadi alias diharamkan di pertarungan seperti itu. Namun, mengapa Tuan Petrus melanggarnya?


Dia sengaja atau tidak? Hal itu masih menjadi tanya tanya bagi Zeo. Iya, Zeo. Sedari tadi Zeo-lah yang memperhatikan Zevanya. Dia yang membantu Zevanya. Namun, dia juga yang tertawa akan kebodohan Zevanya. Entahlah, hal itu menjadi sedikit hiburan baginya.


Zeo hendak turun, tetapi Wollfi, menahannya. Zeo bukannya datang sendiri, tapi dia bersama Wollfi. Sebab, karena dirinya meminta bantuan Wollfi, akhirnya hewan itu mengikut dengan Zeo.


Wollfi menyuruh Zeo diam, untuk tetap memperhatikan. Wollfi penasaran, setinggi apa memangnya kekuatan yang dimiliki Tuan Petrus? Meskipun ada nyawa yang mungkin akan dikorbankan, Wollfi harus tahu dulu seberapa kuat Tuan Petrus.


“Akhhhh!” Zevanya kembali tersungkur di tanah. Bagaimanapun juga dia harus tetap kuat.


Baru saja Zevanya meringkuk, Tuan Petrus melancarkan serangannya kembali. Bukan lagi dengan kekuatan dalam, sebab dia sudah menyadari bahwa ada mata-mata di sekitar sini.


Tuan Petrus yang tidak punya hati melukai wajah Zevanya yang sudah memerah. Namun, belum sepenuhnya dibuat luka. Zevanya sudah menghilang. Dua bayangan yang dia ketahui bahwa salah satunya adalah Zevanya.


Inilah yang dia takutkan sedari tadi, benar, mata-mata. Tuan Petrus takut bahwa ada mata-mata yang sengaja ingin mengambil kekuatan dalamnya itu, padahal tidak begitu.

__ADS_1


__ADS_2