
Hari ulang tahun itu apa?” tiba-tiba saja, tanpa aba-aba, pertanyaan inilah yang keluar dari mulutku.
“Hari perayaan di mana salah seorang manusia merayakan kelahirannya.” Jelas Kak Miya.
“Kenapa harus dirayakan?” aku yang tidak mengerti sontak bertanya-tanya kembali pada Kak Miya.
“Tidak ada alasan khusus, tetapi banyak orang berpikiran bahwa, jika masih bisa dirayakan, kenapa tidak. Maka rata-rata semua manusia memilih untuk merayakannya.” Ujar Kak Miya kembali menjelaskan.
“Kak Miya pernah merayakannya?” tanyaku.
“Pernah, tapi itu sudah lama sekali.” Dia merenung.
“Dulu ketika saya masih kecil, kedua orang tua saya masih lengkap, anak Tuan Theo juga sering bermain dengan saya, kami beda beberapa tahun, lebih muda saya. Namun, ada kehadiran seorang pengkhianat yang membunuh kedua orang tua saya. Mereka juga hampir membunuh saya jika saja saya tidak mau ikut dengan anak Tuan Theo. Kejadian ini, mungkin sekitar 14 tahun yang lalu, tepat di hari kelahiran saya, akhirnya, dari sana, saya nggak pernah merayakan ulang tahun lagi. Untuk apa? Jika hanya menimbulkan kecelakaan dan kesempatan bagi orang lain berbuat dosa?” ujar Miya.
Hatiku tersayat-sayat, kukira hidup Miya mudah, dibesarkan di dalam kasih sayang, lalu kedua orang tuanya meninggal dengan tenang. Namun, ternyata dia memiliki banyak kisah yang tidak bisa diperjelas.
Mataku pasti sudah berkaca-kaca sekarang! Mau bagaimana lagi, hatiku ikut terharu mendengar cerita Kak Miya.
“Jadi, kamu mau gimana sekarang? Mau dirayakan gimana?” tanya Kak Miya.
“Nggak usah dirayakan aja, aku takut bakal kayak Kak Miya.” Suaraku serak, semua suara yang ingin kukeluarkan rasanya sulit sekali dikeluarkan.
“Kakak hanya berbagi cerita saja, kamu jangan takut begitu. Lagipula, kakak hanya bertanya, kamu semisal dirayakan mau pesta yang kayak gimana.” Ucap Miya lagi.
“Aku nggak mau ada pesta, kak.” Ucapku.
__ADS_1
“Harus ada. Ini kan juga termasuk dalam pelajaran kamu, supaya nggak kaget buat acara yang besar gitu. Jadi, kamu harus menentukan, jika kamu punya acara kamu mau yang bagaimana.” Jelas Kak Miya.
“Gak ribet tapi bagus.” Ujarku. Ya, aku memang menyukai yang bagus tapi nggak ribet. Kak Miya tampak berpikir sangat keras, sebelum kemudian dia menolehkan kepalanya padaku.
“Kamu suka warna apa?” tanya Kak Miya.
“Pink, biru, semua warna!” seruku.
“Paling suka pink berarti?” tanyanya.
“Yup, bener.”
Kak Miya lantas mengajakku untuk beres-beres. Sebab hari sudah hampir terik kembali, dan tugas-tugasku sudah selesai di malam kemarin. Jadi, untuk mempersingkat waktu dan melakukan tugas selanjutnya, Kak Miya membereskan barang kami berdua.
Tugas terakhir adalah mencari jalan keluar. Kak Miya berkata tidak akan membantuku dan hanya mengikutiku. Jika tersesat juga tidak mengapa, sebab dia bilang, dia sudah mahir dengan lenggak-lenggok jalan di sini. Aku percaya saja, toh bukan satu tahun atau dua tahun dia menjadi kepercayaan kakek tua.
“Baik, kak.” Aku tersenyum manis, tapi aku tidak tahu apakah ini akan terlihat manis di matanya, atau malah menyebalkan.
Kurang dari satu jam Kak Miya sudah menyelesaikan bawaannya. Dia menyuruh aku untuk menunjukkan jalannya. Aku bingung untuk memilih yang mana. Aku bimbang, sebab aku ingin sampai di rumah dengan lebih cepat.
“Lurus, aja, Kak.” Aku berjalan duluan dengan Kak Miya di belakangku.
“Oke. Jadi, jelasin lah, ke Kakak, kamu kalo dirayain mau yang kayak gimana?” tanyanya lagi. Entah sudah berapa kali dia mengulang kalimat yang sama.
“Ya biasa aja, nggak yang mewah ngundang sana-sini, ngerepotin banyak orang.” Jawabanku masih sama juga seperti sebelum-sebelumnya.
__ADS_1
Erangan frustasi keluar dari bibirnya dan terdengar di telingaku. Aku terkekeh geli, sementara di depanku sudah di hadapkan oleh pilihan jalan kanan dan jalan kiri. “Kak, kita harus lewat mana?” tanyaku dengan bodoh, sudah tau ini tugas, dan Kak Miya tidak mau memberitahu, seharusnya aku tidak mengharapkan jawaban darinya.
“Ya nggak tau, jangan tanya Kakak. Tanya hatimu, mau jalan lewat mana.”
Benar saja, dia tutup mulut dan sama sekali tidak ingin memberitahu aku. Aku mendesah frustasi. Bagaimana aku mengambil langkah. Perlu di catat, jalanan di hutan ini memiliki jalanan yang tidak seperti hutan liar pada umumnya. Namun, hutan ini sudah dilarang untuk dimasuki.
Aneh, kan? Dilarang dimasuki tapi jalanannya ada yang berbatu dan memiliki arah seperti ini. Harusnya, ini tertutupi rumput kan? Entahlah, atau mungkin hanya bohongan saja kata-kata terlarang itu? Bisa juga hutan ini punya kakek tua, terlebih Kak Miya sangat mengetahui jalanan hutan ini. Tapi aku tak memiliki asumsi apapun jika memang benar.
“Nona. Anda lebih suka ruangan terbuka atau ruangan tertutup? Kalau ruangan terbuka kayak di pantai dan semacamnya yang langsung terkena sinar matahari, sementara ruangan tertutup contohnya tempat penginapan, restoran, dan lainnya yang berada di tempat teduh dan tertutup.” Ujar Kak Miya sekaligus menjelaskan.
Bagus juga Kak Miya langsung menjelaskan, sebab aku memang merasa asing dengan kata-kata itu. Perlu diingatkan, otakku bekerja lebih keras berkali-kali lipat dari biasanya.
Selain mencerna perkataan Kak Miya, aku juga harus memikirkan arah mana yang harus kuambil menuju jalan pulang, tidak lucu kalau tersesat di sini sampai sore, kan? Ditambah aku juga lelah, jadi aku memang harus menggunakan otakku dengan sangat amat pintar.
“Kayaknya ruangan tertutup deh kak. Soalnya aku nggak mau kepanasan, kehujanan, aku suka yang anggun-anggun.” Otakku berkeliaran ke sana dan ke mari. Bayangan menjadi putri dalam sehari itu, mungkin adalah bayangan ketika melakukan perayaan ini.
Dan, ya, menurutku pertanyaan Kak Miya sangat aneh. Jika ingin menjadi putri dalam sehari, kenapa harus memilih di ruangan terbuka? Bukankah itu sama saja mematikan diri sendiri? Dengan gaun yang tebal dan panjang, harus panas-panasan? Aku tidak mau!
“Kayaknya aku mengerti maumu yang tidak jelas sedari tadi itu deh.” Kekeh Kak Miya. Aku curiga dia punya kemampuan lain!
“Emang apaan?” tanyaku menutupi kecurigaanku.
“Ya gitu deh... Kamu nggak perlu tahu.” Dia terkekeh kecil.
“Baiklah-baiklah.” Aku menyerah. Kak Miya memang sangat sulit dikorek informasinya.
__ADS_1
Sekitar dua kali kita berputar-putar. Saat aku lelah, Miya tidak ikut lelah. Dia dengan santai mengikuti aku tanpa menggerutu sedikit saja.
Akhirnya, aku bisa melihat rumah warga setelah mengerti alur berkelok-kelok di sini. Yang artinya, jika memilih kanan, selanjutnya memilih kiri, lalu kanan, dan kiri lagi. Begitu seterusnya, sampai aku dan Kak Miya sampai di halaman rumah warga. Kami mampir ke salah satu rumah untuk meminta minum.